Se connecterBagian 281 Tanah kuburan Tuan Hendro yang masih merah perlahan sepi dari rombongan pelayat. Paman Broto bersama kerabat serakah beriringan pergi dengan raut muka cemberut, pulang tanpa membawa sepeser pun harta warisan. Rosa berdiri disangga Maya, sementara Agus mengawasi perimeter pemakaman bersama benteng hidupnya. "Gus, awasi terus itu cecurut-cecurut!" geram Cak Kumis sambil memelintir ujung kumis tebalnya. "Kulihat lirikan mata mereka masih gatal mau menggerogoti aset Nyonya Rosa. Kalau kau kasih celah sedikit saja, langsung diterkam mereka itu!" Agus terkekeh rendah, jemarinya membenahi kerah kemeja hitam yang membalut dada bidangnya. Sorot matanya yang tenang menebar pesona percaya diri khas penguasa baru rumah gedong. "Enggak usah repot-repot kotorin tangan, Cak. Mereka itu udah kalah duluan sebelum bertanding," ujar Agus santai, senyum miring tersimpul di bibirnya. "Semua surat saham
Paman Broto dan rombongan kerabat serakah langsung kicep, mukanya pias mirip kertas kena air. Gertakan mutlak saham 51% plus pengakuan janin di perut Rosa sukses bikin mereka mundur teratur, jangankan membantah, bersuara juga mereka ogah."Masuk saja sekarang, Bu Rosa, Pak Agus. Kondisi Tuan Hendro makin menurun," kata si dokter yang membuka pintu ruang ICU.Suasana ruangan terasa begitu dingin dan mencekam. Bau obat-obatan menyengat hidung, diiringi irama heart monitor yang makin lambat dan lemah.Bip... bip... bip...Tuan Hendro terbaring pasrah di atas kasur, penuh selang dan alat medis menempel di tubuhnya."Mas Hendro..." Bicara Rosa pelan, kakinya gemetaran saat melangkah dekati suami sahnya.Agus tetap pasang badan di samping Rosa, merangkul pinggul mulus cewek bening itu kencang-kencang demi memberi ketenangan. Sorot mata Agus tertuju tajam ke arah majikannya yang dulu begitu congkak, tapi kini lemah d
Agus melangkah tegap memasuki ruang tengah rumah gedong. Di atas sofa empuk, Nyonya Rosa dan Maya sedang duduk santai dengan gaun tidur tipis. Tanpa tahu Agus baru saja meratakan komplotan Ben, mata kedua cewek bening itu langsung berbinar gatal."Aduh, sibuk banget sih Mas Agus-ku ini!" Maya mau menggoda sambil busungkan dadanya yang kenyal tumpah-tumpah. "Baru pegang proyek triliunan, keluyuran malamnya ihh jadi semakin bergaya!""Heh May, sana jauh-jauh jangan deket si Agus.” Rosa dorong Maya sampai pembantu semok itu maju jatuh.“Gaya kamu sok sibuk bener. Ingat ya, sibuk bisnis boleh, tapi 'dinas malam' jangan sampai kendor!"Rosa sambil sengaja sedikit membuka celah paha mulusnya.Agus ngakak keras suaranya sampai matanya liar menikmati pemandangan bening. "Tenang aja, Nyonya Cantik. Mau sibuk urus uang triliunan juga, senjata utamaku selalu tegang dan siap menghantam kalian berdua!"Mendengar itu, Maya makin belingsatan. Cewek semok itu merayap naik ke atas sofa, berniat mem
Gudang besi tua di pinggiran kota itu sepi dan remang-remang. Berkat kepungan licik dari anak buah Cak Kumis, konvoi motor matik yang ditumpangi para remaja labil itu berhasil digiring masuk tanpa sadar. Begitu Ben dan kroco-kroconya berada di dalam, pintu besi raksasa langsung dikunci rapat dari luar.Brak! Cklek!Anak buah Ben kaget bukan main. Melihat sekitar sudah terkepung."Bah! Mau lari ke mana lagi kalian, cecurut-cecurut keparat!" seru Cak Kumis bersemangat dari balik celah pintu. "Sudah pasrah saja kalian di dalam! Biar diacak-acak si bos!""Ajg Kita dijebak!" maki Ben, mukanya pucat pasi.Langkah kaki tegap menggemeretak menapak tanah. Agus melangkah keluar dari balik tumpukan besi, tampil gagah dengan kemeja rapi pres badan yang mencetak dada bidangnya. Pandangan mata tajamnya mirip serigala lapar, siap memangsa."Piye, Ben? Udah puas ngintip-ngintip rumah gedongku?" Agus santai. "Perkutut kalian gatal mau dicopot, hah?"Ben yang ogah kehilang muka di depan anak buah
Sedan hitam milik Agus meluncur mirip orang kesetrum, melaju sangat cepat di jalanan sepi menuju rumah gedongnya. Sorot lampu tembak mewahnya membelah kegelapan kompleks perumahan mewah. Agus pegang kemudi kencang-kencang, matanya seperti serigala lapar yang siap mencabik-cabik pengganggu wilayahnya.Tepat mobil Agus berbelok di persimpangan jalan menuju pagar utama, raungan mesinnya menggelegar. Tiga motor matik yang ditumpangi para cecurut anak buah si Ben mendadak panik. Mereka melihat kedatangan mobil sang pawang plus tatanan penjagaan anak buah Cak Kumis yang berdiri sambil memegang balok kayu di dekat gerbang.Brumm! Srekk!"Ajg! Orangnya datang, cabut!" jerit salah satu bocah pengemudi matik.Para cecurut itu langsung putar balik secara brutal, menggas motor mereka sampai knalpotnya menjerit-jerit, ngibrit kabur. Agus tidak diam. Dia membanting setir, mencoba memotong jalur escape mereka. Namun, karena mereka masuk gang kompleks yang cukup sempit, rombongan motor matik it
Gairah di dalam mobil super mewah yang pengap itu sudah meledak total. Agus tidak sanggup lagi menahan gejolak liarnya melayani godaan Clara yang mengalahkan godaan uang. Agus siap bercinta habis-habisan dan nikamti tubuh semok si anak pengusaha itu.“Mas Agus… cepetan dong ah… aku mau… perkututnya!” erang Clara yang belingsatan di atas pangkuan Agus, tubuhnya sudah kedut-kedut menanti.Ogah buang waktu, Agus mencengkeram pinggul mulus Clara kencang-kencang sampai hampir meninggalkan bekas. Dalam sekali hentakan brutal, dia menghujamkan batangnya masuk sempurna, menembus sampai ke ujung terdalam.“Aghhh! Mas Agus! Dalam banget… ih ampun!” Clara jerit tertahan takut digrebek orang-orang. Dia mendadak merem-melek, tapi tangannya cengkeram kemeja Agus yang sudah basah keringat, malah kuku-kukunya sedikit lagi merobek kain.Agus sangat bangga, karena dari pedagang pasar, anak pengusaha dan anak pejabat takluk padanya. Tanpa memberi celah napas sedikit, dia langsung memompa pinggulnya
“Percuma punya suami banyak duit, tapi cepet loyo,” gerutu seorang wanita dari dalam kamar. Tak lama, suara desahan terdengar. “Ahh, terus lebih dalam. Ini lebih enak dari punyanya si tua bangka.” Agus sengaja berjalan mengendap-endap sepulang kuliah malam ini karena tidak mau mengganggu penghuni
“Waduh, mampus,” batin Agus. Ia langsung refleks menepis tangan Maya dengan kuat. Dia juga menjauh beberapa langkah dari si wanita semok ini. Tangannya bahaya benar, karena remasan Maya tadi menyetrum sampai ke semua saraf tubuh Agus, membuatnya merinding ngeri sekaligus nikmat.Maya tertawa sambil
“Apaan sih? Mulai rese kamu!” Rosa kelihatan kesal, kulit beningnya jadi kemerahan.Tapi si gadis genit ini semakin menggosok tangannya di dada Agus yang basah karena keringat. Berada di antara dua makhluk cantik yang memiliki perabotan premium tentulah membuat juniornya tegang terus dan menuntut p
“Cepat masuk. Jangan banyak protes!” perintah Rosa dengan cara pandang tak biasa. Agus mendadak lupa cara bernapas. “Masuk? Apanya yang masuk?” pikirnya. Sebelum sempat Agus bertanya apa maksud istri majikannya ini, tiba-tiba sang Nyonya malah menarik kerah kemejanya yang lusuh. Menyeretnya masu







