Mag-log inClara marah-marah di dalam mobil. Kabar Agus mau nikah sama Nyonya Rosa sudah bikin otaknya meledak. Dikhianati, digeser, diperlakukan kayak barang bekas. Amarahnya menutup semua akal. Dia tidak sanggup lawan Agus sendirian. Satu nama langsung muncul, yaitu Ben. Mantan yang masih menyimpan dendam ke Agus.Mobil berhenti di depan kontrakan sempit di pinggir kota. Clara turun, napasnya kacau. Pintu terbuka sebelum dia sempat ketuk.“Clara? Malam-malam begini ngapain?” Ben menyilangkan tangan, wajahnya datar.“Agus mau nikah sama Rosa,” kata Clara tanpa basa-basi. “Aku butuh bantuanmu.”Ben tertawa pendek. “Akhirnya datang juga. Aku kira kamu lupa aku masih hidup.”“Aku tidak lupa. Kamu juga enggak lupa Agus hancurin kita dulu, kan?” Clara masuk tanpa diundang. “Aku mau dia merasakan apa yang kita rasakan.”Ben menutup pintu. Senyumnya berubah. “Kamu serius? Atau cuma cemburu biasa?”“Serius. Rencana sudah di kepala. Kamu ikut atau aku cari orang lain.”Ben duduk di sofa usang, menatap C
Agus nikmati hari-hari tenang di rumah gedong. Dia luangkan waktu supaya bisa temani Rosa mempersiapkan pernikahan.Ruang tengah rumah gedong mendadak heboh mirip pasar kaget. Rosa yang perut mulusnya membuncit karena hamil tujuh bulan dipasangi gaun pengantin putih yang amat anggun. Di sampingnya, desainer pria bergaya centil sibuk mengukur jas elegan punya Agus sambil melirik-lirik nakal.Pyarrr!"Aduh, maafkan Eike, Mister Agus!" Panik si desainer sengaja menumpahkan segelas air es tepat ke dada kemeja Agus.Malas ambil pusing, Agus langsung melepas kemeja basahnya. Dada bidang berotot dan perut sixpack milik sang pawang terlihat polos begitu saja."Kyaaa! Dada perkasanya... Eike enggak kuat, booook!" jerit si desainer yang heboh sendiri sambil menutup muka, tapi mata centilnya tetap mengintip lewat celah jari."Heh, bencong gatel! Tutup matamu!" sembur Rosa yang kesal setengah mati.Calon Nyonya ini langsung memukulkan gulungan meteran kain ke kepala si desainer.“Sakit, cynn. Amp
Bagian 281 Tanah kuburan Tuan Hendro yang masih merah perlahan sepi dari rombongan pelayat. Paman Broto bersama kerabat serakah beriringan pergi dengan raut muka cemberut, pulang tanpa membawa sepeser pun harta warisan. Rosa berdiri disangga Maya, sementara Agus mengawasi perimeter pemakaman bersama benteng hidupnya. "Gus, awasi terus itu cecurut-cecurut!" geram Cak Kumis sambil memelintir ujung kumis tebalnya. "Kulihat lirikan mata mereka masih gatal mau menggerogoti aset Nyonya Rosa. Kalau kau kasih celah sedikit saja, langsung diterkam mereka itu!" Agus terkekeh rendah, jemarinya membenahi kerah kemeja hitam yang membalut dada bidangnya. Sorot matanya yang tenang menebar pesona percaya diri khas penguasa baru rumah gedong. "Enggak usah repot-repot kotorin tangan, Cak. Mereka itu udah kalah duluan sebelum bertanding," ujar Agus santai, senyum miring tersimpul di bibirnya. "Semua surat saham
Paman Broto dan rombongan kerabat serakah langsung kicep, mukanya pias mirip kertas kena air. Gertakan mutlak saham 51% plus pengakuan janin di perut Rosa sukses bikin mereka mundur teratur, jangankan membantah, bersuara juga mereka ogah."Masuk saja sekarang, Bu Rosa, Pak Agus. Kondisi Tuan Hendro makin menurun," kata si dokter yang membuka pintu ruang ICU.Suasana ruangan terasa begitu dingin dan mencekam. Bau obat-obatan menyengat hidung, diiringi irama heart monitor yang makin lambat dan lemah.Bip... bip... bip...Tuan Hendro terbaring pasrah di atas kasur, penuh selang dan alat medis menempel di tubuhnya."Mas Hendro..." Bicara Rosa pelan, kakinya gemetaran saat melangkah dekati suami sahnya.Agus tetap pasang badan di samping Rosa, merangkul pinggul mulus cewek bening itu kencang-kencang demi memberi ketenangan. Sorot mata Agus tertuju tajam ke arah majikannya yang dulu begitu congkak, tapi kini lemah d
Agus melangkah tegap memasuki ruang tengah rumah gedong. Di atas sofa empuk, Nyonya Rosa dan Maya sedang duduk santai dengan gaun tidur tipis. Tanpa tahu Agus baru saja meratakan komplotan Ben, mata kedua cewek bening itu langsung berbinar gatal."Aduh, sibuk banget sih Mas Agus-ku ini!" Maya mau menggoda sambil busungkan dadanya yang kenyal tumpah-tumpah. "Baru pegang proyek triliunan, keluyuran malamnya ihh jadi semakin bergaya!""Heh May, sana jauh-jauh jangan deket si Agus.” Rosa dorong Maya sampai pembantu semok itu maju jatuh.“Gaya kamu sok sibuk bener. Ingat ya, sibuk bisnis boleh, tapi 'dinas malam' jangan sampai kendor!"Rosa sambil sengaja sedikit membuka celah paha mulusnya.Agus ngakak keras suaranya sampai matanya liar menikmati pemandangan bening. "Tenang aja, Nyonya Cantik. Mau sibuk urus uang triliunan juga, senjata utamaku selalu tegang dan siap menghantam kalian berdua!"Mendengar itu, Maya makin belingsatan. Cewek semok itu merayap naik ke atas sofa, berniat mem
Gudang besi tua di pinggiran kota itu sepi dan remang-remang. Berkat kepungan licik dari anak buah Cak Kumis, konvoi motor matik yang ditumpangi para remaja labil itu berhasil digiring masuk tanpa sadar. Begitu Ben dan kroco-kroconya berada di dalam, pintu besi raksasa langsung dikunci rapat dari luar.Brak! Cklek!Anak buah Ben kaget bukan main. Melihat sekitar sudah terkepung."Bah! Mau lari ke mana lagi kalian, cecurut-cecurut keparat!" seru Cak Kumis bersemangat dari balik celah pintu. "Sudah pasrah saja kalian di dalam! Biar diacak-acak si bos!""Ajg Kita dijebak!" maki Ben, mukanya pucat pasi.Langkah kaki tegap menggemeretak menapak tanah. Agus melangkah keluar dari balik tumpukan besi, tampil gagah dengan kemeja rapi pres badan yang mencetak dada bidangnya. Pandangan mata tajamnya mirip serigala lapar, siap memangsa."Piye, Ben? Udah puas ngintip-ngintip rumah gedongku?" Agus santai. "Perkutut kalian gatal mau dicopot, hah?"Ben yang ogah kehilang muka di depan anak buah
“Percuma punya suami banyak duit, tapi cepet loyo,” gerutu seorang wanita dari dalam kamar. Tak lama, suara desahan terdengar. “Ahh, terus lebih dalam. Ini lebih enak dari punyanya si tua bangka.” Agus sengaja berjalan mengendap-endap sepulang kuliah malam ini karena tidak mau mengganggu penghuni
“Waduh, mampus,” batin Agus. Ia langsung refleks menepis tangan Maya dengan kuat. Dia juga menjauh beberapa langkah dari si wanita semok ini. Tangannya bahaya benar, karena remasan Maya tadi menyetrum sampai ke semua saraf tubuh Agus, membuatnya merinding ngeri sekaligus nikmat.Maya tertawa sambil
“Apaan sih? Mulai rese kamu!” Rosa kelihatan kesal, kulit beningnya jadi kemerahan.Tapi si gadis genit ini semakin menggosok tangannya di dada Agus yang basah karena keringat. Berada di antara dua makhluk cantik yang memiliki perabotan premium tentulah membuat juniornya tegang terus dan menuntut p
“Uh, panas,” keluh Siska, dan tiba-tiba dia melepas jaket kulitnya, melemparnya ke bawah kaki Rosa.Tapi Rosa diam saja, memperhatikan gerak-gerik adiknya. Dia tidak tertarik untuk mengomeli Siska karena masih ada Agus di lemari; bahaya kalau sampai ketahuan.“Biasa aja kali ngelihatnya, Mbak. Engg







