Mag-log inEmpat tahun berlalu membawa kedamaian dan kejayaan yang mengakar di vila mewah milik Agus. Halaman belakang yang membentang luas kini disulap menjadi area piknik keluarga yang asri dan mewah. Rumput hijau tertata rapi di bawah naungan pohon-pohon rindang, menyajikan panorama sore yang hangat bertabur gelak tawa.Tawa renyah membahana karena anak-anak berlarian mengejar bola di atas hamparan karpet sutra. Di antara hiruk-pikuk itu, Rosa duduk anggun di atas kursi rotan berukir, memangku putra bungsunya, Perwira dan mengawasi dua putra tertuanya, Perkasa dan Gagah yang sibuk bermain.Tiga persalinan putra-putra pilar keluarga tidak melucuti pesonanya. Sebaliknya, aura Rosa memancar semakin matang, elegan, dan menawan. Busana kasual premium yang melekat di tubuh moleknya menegaskan statusnya sebagai matron utama yang disegani, memancarkan kecantikan abadi seorang wanita yang dicintai seutuhnya."Mas, lihat anak-anakmu. Tambah hari kelakuannya mirip sekali dengan ayahnya, enggak bisa diam
Satu tahun berjalan, deretan karangan bunga memenuhi pelataran gedung berarsitektur modern di pusat kota. Hari ini menjadi saksi pemotongan pita peresmian cabang ke-20 Pusat Terapi & Kesehatan Eksklusif, menandai kejayaan ekspansi gurita bisnis kesehatan yang dibangun dengan fondasi kokoh.Tari berdiri anggun di samping pita merah. Dibalut busana kerja formal yang menonjolkan lekuk tubuhnya, aura kepemimpinan sang Kepala Operasional sekaligus Instruktur Utama memancar sempurna. Senyum menawannya menyapa para investor dan awak media yang sibuk mengambil gambar."Terima kasih atas kepercayaan seluruh mitra. Cabang ke-20 ini adalah bukti nyata bahwa metode terapi yang kami kembangkan tidak hanya menjual kenyamanan, tetapi juga kualitas pemulihan fisik yang nyata," kata Tari dengan suara tenang dan penuh percaya diri.Keberhasilan luar biasa ini tidak lepas dari dinginnya tangan Tari dalam menggembleng para terapis muda. Setiap standar pelayanan, teknik pemijatan, hingga simulasi tekanan
Malam harinya, ruang kerja rumah mewah kebanggan Agus diselimuti ketegangan dingin. Agus duduk mengangkasa di balik meja kayu jati, menatap marah ke arah lembaran kertas yang dibawa Cak Kumis. Di sudut ruangan, Rosa dan Sari menyimak rapat-rapat, sementara Tari menunduk pasrah memilin ujung bajunya."Gua udah usut semua sampai ke akar-akarnya, Bos," buka Cak Kumis tegas yang meletakkan sebuah map hitam dan flashdisk di atas meja.Cak Kumis membongkar bukti faktual tanpa keraguan. "Ini rekaman CCTV klinik terapi tempat Mbak Tari kerja dulu, lengkap sama berkas audit keuangan dari pemilik klinik langsung. Kagak ada uang sejengkal pun yang dicuri Mbak Tari."Mata Rosa menyipit tajam. "Terus tuduhan si Rian itu dari mana, Cak?"Cak Kumis meludah pelan ke samping. "Bangsat itu cuma sakit hati berat gara-gara diputusin Mbak Tari. Dia ngutang judi online ratusan juta ke lintah darat, terus sengaja manfaatin momen pernikahan ini buat m
Pagi menyingsing megah di halaman rumah gedong. Dekorasi bernuansa putih-emas garapan Sari berdiri kokoh, menyulap pelataran menjadi arena pesta penguasa yang elegan. Seluruh dokumen legalitas dan berkas KUA arahan Rosa telah tersusun rapi di meja akad di ruang utama.Agus tampil gahar dan gagah. Kemeja batik sutra eksklusif membungkus ketat tubuh kekarnya, menyamarkan balutan jahitan di pinggang yang masih terasa menyengat. Di sampingnya, Tari duduk gemetar dalam balutan kebaya pengantin putih. Jemari perawat muda itu dingin, napasnya memburu menahan ketegangan dahsyat."Tenang, Tar. Kamu udah jadi milik Mas Agus," bisik Agus yang meremas tangan Tari dengan dominasi mutlak yang menenangkan saraf wanita itu.Penghulu membetulkan letak kacamata, mengulurkan tangan tepat ke genggaman kekar Agus. Suasana ruang utama mendadak hening, menyisakan aura wibawa Sang Penguasa yang memenuhi ruangan.Tanpa sedikitpun keraguan, Agus me
Agus menyandarkan punggung kekarnya di sofa kulit ruang kerja. Rasa perih di pinggangnya yang berbalut jahitan rapat tidak lagi dipedulikan. Di hadapannya, Rosa dan Sari duduk mendampingi dengan raut yang mulai tenang usai ketegangan semalam melamun."Mas nikahi Tari kagak cuma karena dia udah nambal nyawa Mas semalam," buka Agus tegas, suaranya berat dan sarat dominasi penguasa.Rosa mengangkat alisnya yang lentik, sementara Sari menyimak rapat-rapat."Tari punya keahlian medis klinis sekaligus paham seluk-beluk terapi pengobatan. Mas mau buka Pusat Terapi & Kesehatan Eksklusif di pusat kota. Tari yang bakal Mas pasang buat pegang operasional, ngerawat pasien, sampai ngelatih para terapis baru di sana."Mata Rosa mendadak berbinar. Sebagai mantan wanita karier berotak encer, dia langsung menangkap potensi ceruk pasar raksasa yang dibeberkan suaminya."Rencana yang tajam, Mas," puji Rosa dengan senyum kagum. "Bisnis Jasa Kesehatan eksklusif punya margin keuntungan luar biasa."Agus me
"Bawa Mas Agus ke ruang tindakan! Cepat!" jerit Tari, menepis kepanikan yang sempat melumpuhkan dadanya.Dengan sigap, Tari memimpin Adul dan Cak Kumis memindahkan tubuh kekar Agus ke atas ranjang periksa. Jarum jam seolah merambat lambat sewaktu Tari membersihkan goresan darah kental yang membanjiri pinggang sang penguasa. Perawat muda itu sampai bergetar hebat, namun keahlian klinisnya menuntun gerakan tangannya merawat dan menjahit robekan kulit Agus, benang demi benang dengan presisi tinggi. Sepanjang sisa malam sampai fajar menyingsing, Tari tidak pergi sedikit pun dari sisi ranjang, terus mengompres dahi Agus dan memantau denyut nadinya.Begitu tirai jendela tersingkap oleh sinar matahari pagi, kelopak mata Agus perlahan bergerak. Agu menggerang pelan, merasakan perih yang kini perlahan mereda."Mas ... Mas Agus udah sadar?" bisik Tari sangat lembut suaranya, matanya yang bengkak dan berkaca-kaca menatap pria kuat di hadapannya.Agus mengedipkan mata, menyesuaikan cahaya. "Tar
“Cepat masuk. Jangan banyak protes!” perintah Rosa dengan cara pandang tak biasa. Agus mendadak lupa cara bernapas. “Masuk? Apanya yang masuk?” pikirnya. Sebelum sempat Agus bertanya apa maksud istri majikannya ini, tiba-tiba sang Nyonya malah menarik kerah kemejanya yang lusuh. Menyeretnya masu
“Percuma punya suami banyak duit, tapi cepet loyo,” gerutu seorang wanita dari dalam kamar. Tak lama, suara desahan terdengar. “Ahh, terus lebih dalam. Ini lebih enak dari punyanya si tua bangka.” Agus sengaja berjalan mengendap-endap sepulang kuliah malam ini karena tidak mau mengganggu penghuni
“Waduh, mampus,” batin Agus. Ia langsung refleks menepis tangan Maya dengan kuat. Dia juga menjauh beberapa langkah dari si wanita semok ini. Tangannya bahaya benar, karena remasan Maya tadi menyetrum sampai ke semua saraf tubuh Agus, membuatnya merinding ngeri sekaligus nikmat.Maya tertawa sambil
“Uh, panas,” keluh Siska, dan tiba-tiba dia melepas jaket kulitnya, melemparnya ke bawah kaki Rosa.Tapi Rosa diam saja, memperhatikan gerak-gerik adiknya. Dia tidak tertarik untuk mengomeli Siska karena masih ada Agus di lemari; bahaya kalau sampai ketahuan.“Biasa aja kali ngelihatnya, Mbak. Engg







