Share

Bagian 2

Author: Antariksa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-01 18:33:35

“Cepat masuk. Jangan banyak protes!” perintah Rosa dengan cara pandang tak biasa.

Agus mendadak lupa cara bernapas. “Masuk? Apanya yang masuk?” pikirnya.

Sebelum sempat Agus bertanya apa maksud istri majikannya ini, tiba-tiba sang Nyonya malah menarik kerah kemejanya yang lusuh. Menyeretnya masuk ke kamar, dan menutup pintu.

“Kelamaan mikir kamu, Gus!” kesal Rosa, yang membuat Agus tidak habis pikir karena tenaganya sangat kuat, meski tadi sudah enak-enak pakai dildo.

“Jangan masuk kamar, Nyonya. Kalau Tuan tahu, saya bisa dimarahi.” Agus tidak mau Tuan Hendro sampai salah sangka. Napasnya malah ngos-ngosan. Rasanya lelah sekali meladeni Nyonya Rumah ini.

Malah yang lebih bingung adalah Agus tidak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan si Nyonya ini. Matanya bergerak turun memperhatikan bokong Rosa yang bergoyang di balik daster tipis putih itu.

“Pasti empuk,” pikir Agus lagi. “Ampun Gusti. Jangan Gus. Sadar, ini Nyonyamu!” Dia sekuat tenaga menahan gairah melihat daging segar di depannya.

Saat Agus masih sibuk dengan perang batinnya sendiri, Rosa langsung mendorong tubuh pemuda itu ke atas kasur yang wanginya memabukkan. Jauh beda dari bau asem keringatnya.

Ancaman dan kekuasaan Tuan Hendro selalu dia ingat, dan dia sadar diri apa posisinya di rumah gedung ini. Bisa-bisa bukan cuma pekerjaan dan nyawanya yang melayang, tapi kehidupan Emak serta adik-adik pasti jadi taruhan di kampung.

“Jangan, Nyonya. Saya harus balik ke kamar belakang. Ini bukan tempat saya.” Agus menyikut spring bed mahal itu, berusaha menegakkan punggung untuk bangkit.

Dalam keadaan setengah duduk ini, Agus langsung berkeringat dingin karena Rosa menekan dadanya.

“Baring aja. Biar aku yang goyang!” perintah Rosa dengan suara menekan.

Baru Agus mangap mau bilang sesuatu, mendadak Nyonya bening yang tidak menua ini malah melepas baju tidur tipisnya. Kain selembut sutra itu merosot halus di kulit selicin porselen hingga jatuh ke lantai.

Kini Rosa percaya diri menampilkan tubuh polosnya secara langsung di depan mata sang pelayan. Nyonya satu ini beneran nakal.

Mulut Agus tetap terbuka. Dia juga menahan napas melihat milik Nyonya yang membusung depan mata, bergoyang pelan seiring napas Rosa yang memburu. Ujungnya yang berwarna merah muda kecokelatan tampak tegang dan mengeras. Ini menantang tangan kasar Agus untuk menyentuhnya.

Pandangan Agus juga meluncur turun tanpa ampun, melewati perut rata sang Nyonya yang masih kencang, hingga dia berhenti pada lembah yang begitu bersih, terawat, ranum, dan menggoda.

Ini memicu aliran panas yang meledak-ledak di bawah ritsleting celana jeans belelnya. Bau minyak wangi mawar dari tubuh polos Rosa melumpuhkan kemampuan berpikirnya. Agus benar-benar lupa dirinya, dia bukan pelayan, tapi pria yang sedang kelaparan melihat hidangan paling lezat di hadapannya.

“Ini beneran nyata? Punya Nyonya Rosa sesempurna ini,” gumam Agus tidak sadar.

“Tentu aja aku sempurna. Punyaku beda dari perempuan lain. Kamu beruntung!” sahut Rosa, suara kental akan keberanian.

Mendengar itu, Agus tahu dia telah salah ucap. “Anu… Nyonya, saya—”

“Sssst, jangan berisik!” tekan Rosa.

Dengan senyum mematikannya, Rosa merangkak naik ke perut Agus, lututnya menindih paha Agus hingga pemuda itu bisa merasakan panas tubuh sang majikan menembus celana jeans-nya. Jari-jari Rosa yang lentik berkuku merah menyala bergerak lincah, membuka satu per satu kancing kemeja flanel.

“Lihat aku baik-baik, Gus.” Rosa sengaja merendahkan tubuhnya hingga puncak gunung kembarnya yang tegang menyentuh dada Agus, membuat pemuda itu merinding bukan main.

“Saya tidak tahu harus bagaimana, Nyonya.” Agus hanya bisa diam, tubuhnya tidak kuasa menolak rezeki nomplok ini.

Tangan Rosa kini mengelus perut rata Agus yang tegang. “Gimana? Mau lagi, Gus?”

Meski baru pertama Agus rasakan, tapi sentuhan ini sangat menagih, dan seperti sentrum yang membuat lumpuh pikirannya sendiri. Benar, persetan dengan semuanya, siapa juga yang sanggup menolak bidadari ini?

Agus mengangguk tapi kemudian menggeleng. “Anu itu enak tapi enggak, Nyonya.”

Sentuhan Nyonya mampu membuat segala pikiran mumet setelah kuliah malah langsung hilang. Agus malah berusaha menggapai pucuk Rosa yang kini menjauh. Dia yakin rasanya pasti manis sekali.

Tapi Rosa sengaja menjauh, dan tangannya sekarang turun menuju kepala ritsleting celana jeans. “Uh, di bawah sini sepertinya sudah enggak sabar mau main.”

Agus sampai tidak berkedip saat memperhatikan ritsletingnya dibuka dan tangan Rosa hendak membelainya. Namun, suara ketukan pintu kamar yang keras membuat mereka serempak melihat ke arah pintu.

“Gusti, itu pasti Tuan Besar.” Agus mulai panik, napasnya semakin memburu hebat.

Rosa juga melotot. “Gawat, suamiku pulang lagi. Ganggu kesenangan orang aja, hih! Tadi bilangnya mau ke luar kota, kenapa enggak jadi sih?”

“Saya harus keluar sekarang, Nyonya!” Agus turun dari ranjang. Dia kira Tuan Besar tidur, ternyata lagi di laur rumah dan sekarang pulang.

Namun Rosa langsung menarik tangannya. “Jangan keluar! Kalau kamu lewat pintu itu, sudah pasti kamu dicekik sama suamiku.”

Agus langsung memegangi lehernya sendiri.

“Saya enggak mau mati muda Nyonya. Saya belum nikah, belum kaya, belum coba itu…” Matanya mengarah ke paha sang majikan.

“Sekarang kamu sembunyi!” geram Rosa sambil membuka pintu lemari. “Di sini!” Dia langsung mendorong tubuh Agus masuk ke lemari pakaian kayu. “Diam, bila perlu tahan napas!”

Rosa menutup rapat pintunya, tidak memberikan celah.

Pemuda ini harus menahan napas sampai dadanya mau meledak. Lemari ini gelap juga sempit sekali, dan hidung Agus mulai gatal karena bau pewangi yang menempel di baju-baju yang menggantung.

Lebih apes lagi, ada benda kecil berbahan renda jatuh tepat di atas wajah Agus.

"Aduh, ini bra Nyonya? Gusti... aku pengin menghilang aja," batin Agus merana.

“Ya nasib. Ini bukan rezeki, tapi ketiban sial,” bisik Agus, dan dia menegang saat langkah Rosa menjauh.

Rosa merapikan baju tidurnya lagi, dan membuka pintu. Dia memasang senyum paling manis sedunia.

Namun saat pintu terbuka, Rosa kaget.

“Siska, kok kamu ke sini?” tanya Rosa melihat siapa sosok yang mengganggu kenikmatannya. Ternyata itu adik kandungnya. “Ih, kamu mabuk lagi, hah?” Dia menutup hidung.

“Minggir, ah. Aku ngantuk, Mbak. Hhoam.” Siska mendorong Rosa ke dinding, dan dia langsung masuk ke kamar.

Langkah Siska sempoyongan dan bukannya langsung tidur, dia malah menunjuk lemari membuat Rosa panik luar biasa.

Siska tertawa sambil bersandar di pintu lemari tempat Agus bersembunyi.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 300

    Empat tahun berlalu membawa kedamaian dan kejayaan yang mengakar di vila mewah milik Agus. Halaman belakang yang membentang luas kini disulap menjadi area piknik keluarga yang asri dan mewah. Rumput hijau tertata rapi di bawah naungan pohon-pohon rindang, menyajikan panorama sore yang hangat bertabur gelak tawa.Tawa renyah membahana karena anak-anak berlarian mengejar bola di atas hamparan karpet sutra. Di antara hiruk-pikuk itu, Rosa duduk anggun di atas kursi rotan berukir, memangku putra bungsunya, Perwira dan mengawasi dua putra tertuanya, Perkasa dan Gagah yang sibuk bermain.Tiga persalinan putra-putra pilar keluarga tidak melucuti pesonanya. Sebaliknya, aura Rosa memancar semakin matang, elegan, dan menawan. Busana kasual premium yang melekat di tubuh moleknya menegaskan statusnya sebagai matron utama yang disegani, memancarkan kecantikan abadi seorang wanita yang dicintai seutuhnya."Mas, lihat anak-anakmu. Tambah hari kelakuannya mirip sekali dengan ayahnya, enggak bisa diam

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 299

    Satu tahun berjalan, deretan karangan bunga memenuhi pelataran gedung berarsitektur modern di pusat kota. Hari ini menjadi saksi pemotongan pita peresmian cabang ke-20 Pusat Terapi & Kesehatan Eksklusif, menandai kejayaan ekspansi gurita bisnis kesehatan yang dibangun dengan fondasi kokoh.Tari berdiri anggun di samping pita merah. Dibalut busana kerja formal yang menonjolkan lekuk tubuhnya, aura kepemimpinan sang Kepala Operasional sekaligus Instruktur Utama memancar sempurna. Senyum menawannya menyapa para investor dan awak media yang sibuk mengambil gambar."Terima kasih atas kepercayaan seluruh mitra. Cabang ke-20 ini adalah bukti nyata bahwa metode terapi yang kami kembangkan tidak hanya menjual kenyamanan, tetapi juga kualitas pemulihan fisik yang nyata," kata Tari dengan suara tenang dan penuh percaya diri.Keberhasilan luar biasa ini tidak lepas dari dinginnya tangan Tari dalam menggembleng para terapis muda. Setiap standar pelayanan, teknik pemijatan, hingga simulasi tekanan

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 298

    Malam harinya, ruang kerja rumah mewah kebanggan Agus diselimuti ketegangan dingin. Agus duduk mengangkasa di balik meja kayu jati, menatap marah ke arah lembaran kertas yang dibawa Cak Kumis. Di sudut ruangan, Rosa dan Sari menyimak rapat-rapat, sementara Tari menunduk pasrah memilin ujung bajunya."Gua udah usut semua sampai ke akar-akarnya, Bos," buka Cak Kumis tegas yang meletakkan sebuah map hitam dan flashdisk di atas meja.Cak Kumis membongkar bukti faktual tanpa keraguan. "Ini rekaman CCTV klinik terapi tempat Mbak Tari kerja dulu, lengkap sama berkas audit keuangan dari pemilik klinik langsung. Kagak ada uang sejengkal pun yang dicuri Mbak Tari."Mata Rosa menyipit tajam. "Terus tuduhan si Rian itu dari mana, Cak?"Cak Kumis meludah pelan ke samping. "Bangsat itu cuma sakit hati berat gara-gara diputusin Mbak Tari. Dia ngutang judi online ratusan juta ke lintah darat, terus sengaja manfaatin momen pernikahan ini buat m

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 297

    Pagi menyingsing megah di halaman rumah gedong. Dekorasi bernuansa putih-emas garapan Sari berdiri kokoh, menyulap pelataran menjadi arena pesta penguasa yang elegan. Seluruh dokumen legalitas dan berkas KUA arahan Rosa telah tersusun rapi di meja akad di ruang utama.Agus tampil gahar dan gagah. Kemeja batik sutra eksklusif membungkus ketat tubuh kekarnya, menyamarkan balutan jahitan di pinggang yang masih terasa menyengat. Di sampingnya, Tari duduk gemetar dalam balutan kebaya pengantin putih. Jemari perawat muda itu dingin, napasnya memburu menahan ketegangan dahsyat."Tenang, Tar. Kamu udah jadi milik Mas Agus," bisik Agus yang meremas tangan Tari dengan dominasi mutlak yang menenangkan saraf wanita itu.Penghulu membetulkan letak kacamata, mengulurkan tangan tepat ke genggaman kekar Agus. Suasana ruang utama mendadak hening, menyisakan aura wibawa Sang Penguasa yang memenuhi ruangan.Tanpa sedikitpun keraguan, Agus me

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 296

    Agus menyandarkan punggung kekarnya di sofa kulit ruang kerja. Rasa perih di pinggangnya yang berbalut jahitan rapat tidak lagi dipedulikan. Di hadapannya, Rosa dan Sari duduk mendampingi dengan raut yang mulai tenang usai ketegangan semalam melamun."Mas nikahi Tari kagak cuma karena dia udah nambal nyawa Mas semalam," buka Agus tegas, suaranya berat dan sarat dominasi penguasa.Rosa mengangkat alisnya yang lentik, sementara Sari menyimak rapat-rapat."Tari punya keahlian medis klinis sekaligus paham seluk-beluk terapi pengobatan. Mas mau buka Pusat Terapi & Kesehatan Eksklusif di pusat kota. Tari yang bakal Mas pasang buat pegang operasional, ngerawat pasien, sampai ngelatih para terapis baru di sana."Mata Rosa mendadak berbinar. Sebagai mantan wanita karier berotak encer, dia langsung menangkap potensi ceruk pasar raksasa yang dibeberkan suaminya."Rencana yang tajam, Mas," puji Rosa dengan senyum kagum. "Bisnis Jasa Kesehatan eksklusif punya margin keuntungan luar biasa."Agus me

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 295

    "Bawa Mas Agus ke ruang tindakan! Cepat!" jerit Tari, menepis kepanikan yang sempat melumpuhkan dadanya.Dengan sigap, Tari memimpin Adul dan Cak Kumis memindahkan tubuh kekar Agus ke atas ranjang periksa. Jarum jam seolah merambat lambat sewaktu Tari membersihkan goresan darah kental yang membanjiri pinggang sang penguasa. Perawat muda itu sampai bergetar hebat, namun keahlian klinisnya menuntun gerakan tangannya merawat dan menjahit robekan kulit Agus, benang demi benang dengan presisi tinggi. Sepanjang sisa malam sampai fajar menyingsing, Tari tidak pergi sedikit pun dari sisi ranjang, terus mengompres dahi Agus dan memantau denyut nadinya.Begitu tirai jendela tersingkap oleh sinar matahari pagi, kelopak mata Agus perlahan bergerak. Agu menggerang pelan, merasakan perih yang kini perlahan mereda."Mas ... Mas Agus udah sadar?" bisik Tari sangat lembut suaranya, matanya yang bengkak dan berkaca-kaca menatap pria kuat di hadapannya.Agus mengedipkan mata, menyesuaikan cahaya. "Tar

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 5

    “Waduh, mampus,” batin Agus. Ia langsung refleks menepis tangan Maya dengan kuat. Dia juga menjauh beberapa langkah dari si wanita semok ini. Tangannya bahaya benar, karena remasan Maya tadi menyetrum sampai ke semua saraf tubuh Agus, membuatnya merinding ngeri sekaligus nikmat.Maya tertawa sambil

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 4

    “Apaan sih? Mulai rese kamu!” Rosa kelihatan kesal, kulit beningnya jadi kemerahan.Tapi si gadis genit ini semakin menggosok tangannya di dada Agus yang basah karena keringat. Berada di antara dua makhluk cantik yang memiliki perabotan premium tentulah membuat juniornya tegang terus dan menuntut p

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 3

    “Uh, panas,” keluh Siska, dan tiba-tiba dia melepas jaket kulitnya, melemparnya ke bawah kaki Rosa.Tapi Rosa diam saja, memperhatikan gerak-gerik adiknya. Dia tidak tertarik untuk mengomeli Siska karena masih ada Agus di lemari; bahaya kalau sampai ketahuan.“Biasa aja kali ngelihatnya, Mbak. Engg

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 1

    “Percuma punya suami banyak duit, tapi cepet loyo,” gerutu seorang wanita dari dalam kamar. Tak lama, suara desahan terdengar. “Ahh, terus lebih dalam. Ini lebih enak dari punyanya si tua bangka.” Agus sengaja berjalan mengendap-endap sepulang kuliah malam ini karena tidak mau mengganggu penghuni

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status