LOGINAirin tersentak, lamunannya buyar seketika.
“Ti-tidak mas, tunggu sebentar ya aku buatkan dulu.” “Jangan lama!” Adrian menggelengkan kepala, dia melempar jasnya ke sembarang arah, lalu duduk bersandar di atas sofa. Sesampainya di dapur, Airin terlihat begitu lesu. Ia mulai menakar beberapa sendok kopi dan gula yang sudah dicampurkan dalam satu gelas. Lalu ia seduh sembari mengaduk-ngaduk dengan tatapan kosongnya. Ia terus berpikir, entah ke mana lagi nanti akan mencoba berobat. Padahal hampir semua dokter spesialis sudah Airin coba, namun hasilnya tetap nihil. Tapi dia tidak ingin menyerah. Setelah selesai membuat kopi, Airin segera kembali ke kamar. Namun tidak sengaja melihat ibu mertuanya terlihat berbincang melalui panggilan telepon. Langkah Airin terhenti sejenak, karena tak sengaja mendengar namanya disebut, bahkan dicemooh oleh ibu mertuanya. Airin menggigit bibir, merasa kecewa karena selalu saja ibu mertuanya menceritakan masalah rumah tangganya pada teman-teman arisannya. Tapi jika dihampiri atau diingatkan, hanya akan menambah masalah baru. Airin memutuskan untuk melanjutkan langkah ke kamar. Di sana, Adrian masih fokus dengan laptopnya. Airin menghampirinya. “Mas, ini kopinya sudah aku buatkan,” ucapnya lalu duduk di samping suaminya itu. Adrian hanya berdehem, tanpa menghiraukan. Mengingat Adrian kemarin malam pergi, membuat Airin penasaran dan memberanikan diri untuk bertanya. “Ma-mas aku mau tanya sesuatu boleh?” Adrian menjeda aktivitas, lalu melirik tajam. “Apa kau buta? Aku sedang bekerja!” ketusnya, lalu kembali menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard. “Katakan.” Airin menelan ludah gugup. “Mas kemarin malam ke mana?” tanyanya takut-takut. Lelaki itu tengah mencoba mencicipi kopi dan…. “Cuih! Kopi ini terlalu manis, kau mau membuat aku diabetes?!” Adrian menyemburkan kopinya, lalu melempar cangkirnya hingga pecah berserakan di lantai. Airin kaget, padahal tadi takarannya sudah pas dan tidak mungkin salah. “Ta-tapi mas, aku bikinnya seperti biasa, mana mungkin terlalu manis,” jelas Airin berusaha membela diri. Namun Adrian tidak peduli, dia beranjak dari tempat duduknya. “Terserah, kau coba saja sendiri. Aku mau tidur, besok lusa aku akan pergi dinas keluar kota, jika sampai aku pulang kau masih belum sembuh, jangan harap aku bisa maafkan!” Tanpa menunggu respon Airin, pria itu berbaring di atas ranjang sambil membelakanginya. Airin hanya menghela nafas panjang, tidak punya tenaga lagi untuk berdebat. Ia memilih untuk membersihkan kekacauan itu. “Kau dengar tidak, Airin?!” Suara Adrian kembali meninggi menusuk gendang telinga, membuat wanita berparas cantik itu pun terhenyak kaget sampai jarinya tertusuk pecahan gelas. “Aah, sakit…” Airin meringis seraya menghisap darah di ujung jarinya, lalu melirik ke arah suara Adrian yang ada di belakangnya, sebelum menjawab jika ia mendengar semua perkataan sang suami. Adrian hanya berdecak. “Kau ini selalu tidak becus melakukan apapun!” hardiknya, kembali menarik selimut, lalu memejamkan mata tanpa rasa bersalah. Airin menatap nanar Adrian, dadanya semakin terasa sesak. Semenjak aktivitas ranjang mereka terganggu, sikap Adrian semakin cuek dan kasar. Padahal dulu begitu romantis dan juga perhatian. Kalau ada luka sedikit di tangannya, ia langsung sigap mengobati. Sangat berbanding terbalik dengan sekarang. Tapi Airin tidak ingin membuat hubungan mereka semakin merenggang. Yang jelas, dia harus memberikan keturunan bagaimana pun caranya, meskipun harus berobat ke beberapa rumah sakit sekaligus, Airin akan lakukan. Setelah membereskan pecahan gelas tadi, Airin pun perlahan membuka laci meja riasnya. Lalu mengambil beberapa dokumen rekam medisnya. Masih teringat jelas perkataan dokter kemarin dalam benaknya. ‘Nyonya Airin, sepertinya sakit yang anda alami bukan disuria biasa.’ ‘Apa? Maksud dokter?’ tanya Airin, tak dapat menyembunyikan rasa terkejut. ‘Ada beberapa faktor lain, bisa saja sakit Anda disebabkan oleh penyakit menular seksual dari pasangan, atau iritasi dari pemakaian produk bahan kimia pada bagian sensitif.’ Airin menggeleng kepala, ia menepis semua penjelasan dokter kemarin. Perlahan melirik ke arah suaminya yang sudah tidur. “Mana mungkin sakit aku disebabkan oleh mas Adrian? Sudahlah lebih baik aku cari dokter lain saja nanti.” Airin segera bangkit dari kursi riasnya, tidak ingin berpikir macam-macam pada suaminya. Melihat jarum jam yang bergerak sudah larut malam, membuat wanita cantik itu pun naik ke atas ranjang. Baru saja Airin merebahkan diri di samping Adrian, terdengar suara dering pesan dari arah ponsel suaminya. Saat Airin akan mengambilnya, tidak sengaja menyentuh lengan Adrian, hingga kedua mata lelaki itu pun reflek terbuka. “Kamu mau apa?” tanya Adrian menatap tajam penuh selidik. Wajah Airin terlihat memerah dan gugup. “A-aku hanya ingin membantu, sepertinya ada pesan masuk dari ponsel mas,” jawabnya pelan. Adrian mendelik, segera ia mengambil ponselnya lalu melihat serius layar benda pipih itu. Dia berdecak karena orang kantor mengirimkan beberapa laporan meeting tadi. “Aku sangat ngantuk, sekarang jangan ganggu aku.” Adrian kemudian menatap penampilan Airin yang berbeda malam ini, seolah baru sadar. “Tunggu, kau ingin menggodaku, Airin?” “A-aku hanya—” Belum sempat Airin menjawab, Adrian lebih dulu mendengus. “Sebelum sakitmu sembuh, kau tidak boleh tidur satu ranjang denganku. Aku tidak mau seperti kemarin.” Kata-kata Adrian membuat Airin tidak mengerti. “Lalu aku harus tidur di mana, mas?” Suara Airin terdengar parau, tatapannya berubah nanar. Tanpa sungkan Adrian mengarahkan jari telunjuknya ke arah sofa. “Malam ini kamu tidur sana, besok perlihatkan hasil pengobatanmu padaku,” titahnya dengan rahang yang mengeras. Airin tidak punya tenaga lagi untuk sekadar membela diri. Perlahan ia turun dari atas tempat tidur berukuran king size itu. “Kau harus ingat satu hal lagi Airin, jika dalam waktu satu tahun ini kau tidak bisa melahirkan anak untukku, aku pastikan investasi di perusahaan ayahmu akan aku tarik lagi.”Airin sangat dilema, tapi karena sudah terlanjur hadir membuatnya terpaksa melanjutkan challenge itu, toh dalam pemikirannya mungkin hanya sekedar dansa biasa. "Kalian semua apa sudah siap?" Tanya sang MC, kembali memandu setelah semua orang mendapatkan pasangan masing-masing dalam permainan itu. Beberapa dari mereka pun menyahut antusias dan berkata siap, namun tidak dengan Airin masih terlihat bimbang. Tasya dan teman-temannya ikut cemas juga, karena sudah tahu Airin pasti tidak nyaman dengan itu. "Gimana dengan Airin, kenapa malah bersama tuan Radit lagi ya?" Bisik Monica. "Entahlah, aku juga merasa khawatir takutnya nanti ada yang menyalah pahami." Timpal Tasya, seraya menatap ke arah Airin yang berada cukup jauh darinya. Senyum miring terpancar di wajah Radit, sungguh ini kali pertama dia menatap mantan kekasihnya yang sudah lama tak jumpa begitu dekat. "Kenapa kau tegang seperti itu Airin? Keberatan?" Bisik Raditya, tepat di daun telinga wanita yang ada di depannya saat i
Andre tanpa ragu menegaskan jika permainan tanya jawab untuk Airin itu sudah selesai. Tentu saja awalnya orang-orang di sana sempat protes karena merasa tidak puas dengan jawaban Airin. Sebagai seorang teman tentu saja Monica merasa sangat bersalah, karena pertanyaan malah menjadi sebuah kegaduhan. "Astaga sya, aku merasa bersalah sama Airin karena bertanya seperti itu," sesal Monica berbisik. "Aku ga bisa komentar lagi Monic." Balas Tasya sedikit kecewa. Melihat raut wajah tampan Raditya yang terlihat muram, dia juga menantang semua orang di sana yang ingin tidak patuh dalam aturan permainan itu boleh pergi dari sana. Sontak tidak ada satu orang pun yang berani menentang seorang Radit, karena dulu saat kuliah lelaki itu cukup populer dan punya pengaruh besar akan kharismanya yang membuat semua orang seolah tidak bisa membantahnya. "Okey, tidak ada yang protes lagi ya. Sekarang adalah acara paling special dari reuni ini, yaitu berdansa dan harus berciu-man dengan pasangan yang a
"Bagaimana Airin, kamu sudah siap menjawab pertanyaan dari kami?" Andre memastikan terlebih dahulu. Seketika Airin terkesiap, perasaannya cukup gelisah tapi dia tidak mau terlihat takut terlihat lagi jika sampai di cemooh para temannya. Raditya memancarkan senyum smrik sembari menghisap filter rokoknya, dia tidak yakin wanita yang berdiri tak jauh darinya itu mau mengikuti permainan itu. "Airin bagaimana siap tidak?" Andre memastikan untuk yang kedua kalinya. Airin menarik nafas dalam-dalam lalu perlahan mengeluarkannya pelan dan mengangkat wajahnya. "Oke, aku siap." Jawab Airin tegas. Semua orang menatap ke arahnya, dan Andre pun tanpa membuang waktu lagi mempersilahkan Airin duduk dengan tenang agar bisa menyiapkan jawaban yang harus dia berikan.Airin pun hanya bisa patuh, ia dan keempat temannya duduk bersama begitu juga yang lain. Berharap tidak ada pertanyaan yang sulit untuknya. "Gaes! Kalian siap memberikan satu pertanyaan pada Airin?" Seru Andre menggema di sana. "Siap
Suara music mengalun menusuk gendang telinga, di iringi cahaya lampu disco terlihat kerlap-kerlip. Suasana dalam acara reuni itu semakin seru bahkan mereka pun ikut menari tidak terkecuali dengan Airin. Airin di buat bingung oleh Raditya, gimana bisa meminta barang miliknya malah di suruh pergi menemuinya besok. "Hay Rin, kenapa bengong ayo ikut gabung, jangan bilang karena ada Raditya kamu canggung seperti itu?" Seloroh Monica. Wajah Airin memerah, sampai dia terlihat begitu salah tingkah namun sebisa mungkin menepis pemikiran sahabat-sahabatnya."Ti-tidak juga, kalian terlalu banyak berpikir." Tegas Airin. Lalu tanpa sungkan ikut merayakan party, sejenak melupakan rasa takut akan semua rahasianya yang saat ini sudah Raditya ketahui. Tanpa Airin sadari, Raditya diam-diam menatapnya dari jauh. Lelaki itu terlihat masih sangat kesal ketika mengingat perkataan tadi. Terlihat begitu mencintai suaminya sampai marah padanya, dan begitu yakin jika jam tangan itu adalah milik nya. "CK
Airin mengerjapkan kedua mata seraya mengigit bibir atasnya, lalu perlahan mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Raditya lalu menjawab. "Tentu saja aku akan menghadiri acara ini sampai selesai," ucapnya dengan kedua tangan terkepal, meskipun dalam hati sedikit meragu. "Bagus!" Raditya menyeringai penuh kemenangan. Tatapan mereka berdua saling bertemu, di selimuti rasa canggung. Airin tidak punya pilihan lain selain masih tetap tinggal karena masih penasaran dengan jam tangan itu. Kenapa bisa ada pada Raditya?Semua orang di sana seolah ikut larut dalam situasi mereka berdua, yang dulunya di kenal sebagai pasangan couple favorit namun sekarang yang ada menjadi dua orang asing terhalang oleh batasan status yang tidak bisa di pungkiri. "Karena acara sudah di mulai, sebelum kita memasuki sebuah challenge seru, semuanya Alumni Swiss German University mari kita semua ambil segelas anggur merah lalu bersulang bersama." Suara seorang MC menggema memecahkan keheningan. Mereka terlihat b
“Wanita mana pun yang menyukai mas Raditya sudah bukan lagi urusan ku." Airin menepis rasa penasaran akan perasaan Carol, lalu berusaha bangun dan kembali menemui para temannya. Bahkan ia menegaskan pada diri sendiri niat menghadiri reuni ini, untuk mencari info kali ada teman lain berprofesi Dokter atau punya kenalan lebih bagus dari Raditya. Suara riuh terdengar menggema di ruangan besar Cafe bernuansa romantis itu, langkah Airin sempat terhenti saat tak sengaja melihat Raditya yang tengah duduk di sebrang sana tampak di kerumuni pada wanita-wanita di sana. Tasya dan ke tiga teman lainnya memanggil Airin yang baru saja kembali. "Rin, kamu kenapa lama sekali di dalam apa tidak apa-apa?"Perhatian Airin pun seketika teralihkan pada suara Tasya, perlahan berbalik dan menyahut. "A-aku tidak apa Sya, tadi di toiletnya hanya sempat antri saja," Jawab Airin terpaksa berbohong. "Syukurlah tadi aku sangat cemas dan mau menyusul mu, ayo kita ikutan challenge bersama teman lainnya." Ajak M







