Home / Romansa / Gelora Berbahaya Dokter Tampan / Bab 4 Dokter Terkenal

Share

Bab 4 Dokter Terkenal

last update Last Updated: 2025-12-16 23:37:51

Jam sembilan pagi, Airin sudah melayani beberapa pengunjung di butik yang sudah cukup ramai. Ditemani oleh Tasya, sahabat sekaligus karyawan kepercayaannya.

Tasya dari tadi juga tak kalah sibuk, ia tidak sengaja melihat Airin tidak bersemangat seperti sedang memikirkan banyak hal, hingga perlahan memberanikan diri menghampirinya.

“Airin, kamu sedang memikirkan apa?” tanya Tasya seraya menepuk bahunya pelan.

Airin terkesiap, lalu melirik ke sahabatnya itu. “Ah, tidak, aku hanya…” Airin terlihat ragu saat akan menjawab.

Namun, Tasya begitu paham dengan sifat Airin. “Rin, kamu tahu aku bisa dipercaya kan? Kamu boleh cerita apapun, jangan dipendam sendiri, nanti jadi penyakit.”

Airin terdiam. Ia menghela napas panjang, lalu mulai menceritakan masalah yang dihadapinya. Tentang suami dan ibu mertua yang selalu menekan dan mengeluhkan dirinya yang belum juga memberikan anak. Ia juga menceritakan masalah kesehatannya.

Mendengar hal itu, Tasya tak tega. Kemudian ia teringat salah satu saudaranya yang berobat di sebuah rumah sakit bagus.

“Airin, aku baru dapat info kalau Pramedika Hospital itu bagus, banyak pasien cepat sembuh, apalagi di sana para dokternya lulusan luar negeri,” katanya. “Ini ambil, di sana ada saudaraku yang bekerja sebagai resepsionis.” Tasya mengusulkan dan memberikan sebuah kartu.

“Benarkah? Aku ingin mencobanya,” kata Airin penuh harap.

“Iya, lebih baik dicoba, ini masih pagi biar aku yang jaga butik. Kamu pergilah ke sana.”

Airin mengangguk, tidak ingin menunda lagi karena tidak ingin mengecewakan Adrian untuk yang kesekian kali.

“Terima kasih, Sya. Aku pergi ya, nanti kamu saja yang bawa kuncinya biar besok tidak menunggu aku lagi.”

“Iya, pergilah.”

Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit yang dituju, Airin mendapat beberapa runtutan pesan dari sang suami. Adrian memintanya untuk pulang lebih awal dan menyiapkan beberapa barang, karena Adrian akan pergi dinas selama seminggu.

Wanita berparas cantik itu pun menatap arah jarum jam yang menunjukkan pukul sepuluh pagi.

Segera Airin membalas pesan, akan melakukan perintah Adrian setelah pulang nanti.

Setibanya di rumah sakit, Airin menatap takjub gedung berlantaikan dua puluh itu. Baru kali ini tahu jika ada rumah sakit baru terlihat begitu mewah dan berbeda dengan beberapa rumah sakit yang pernah dikunjunginya.

Setelah memberikan ongkos pada pak supir, Airin melangkah pelan memasuki gedung rumah sakit itu.

Ketika sampai di pintu utama, Airin disambut hangat oleh dua resepsionis.

“Selamat datang, Nona, apa ada yang bisa kami bantu?” sapa salah satu wanita berseragam serba putih.

Wajah Airin tampak pucat, rasanya sangat ragu tapi sudah kepalang tanggung sampai di sana.

“Iya, suster, aku mau memeriksa kesehatanku. Dengar-dengar di sini ada dokter spesialis dalam. Bisakah tahu kapan jadwal prakteknya? Kebetulan aku tahu rumah sakit ini dari temanku,” jelas Airin, sambil menyerahkan kartu nama yang diberikan Tasya.

Suster itu tampak terkejut. “Oh iya, ini Nona Airin kan? Kebetulan tadi Kak Tasya sudah mengirim pesan padaku,” katanya. “Ditunggu ya, saya akan memastikan jadwal dokter pada suster pendampingnya.”

“Baik, suster, terima kasih.” Airin terlihat sangat gugup.

Setelah suster berbincang cukup lama di sambungan telepon, akhirnya wanita itu mengatakan pada Airin jika hari ini jadwal dokter spesialis masih ada satu jam lagi.

Airin pun terlihat lega, karena beberapa bulan ini dia nyaris menyerah.

“Nona, silahkan datang ke lantai lima belas dan ini nomor antreannya,” ujar sang suster memberikan selembar kertas, dia juga tak lupa meminta agar Airin mengisi formulir sebagai pasien.

“Baik, terima kasih suster.” Airin kembali melanjutkan langkahnya lagi, lalu masuk ke dalam lift menekan angka lima belas.

Tak lama, pintu lift terbuka lebar. Hanya beberapa langkah sudah terlihat pintu ruangan dokter spesialis penyakit dalam. Di depan ruangan, tampak beberapa pasien masih menunggu.

Mau tidak mau Airin duduk di kursi, menunggu gilirannya dipanggil nanti setelah seorang suster meminta berkas identitas dan beberapa informasi lainnya tentangnya.

Satu jam berlalu, Airin masih terlihat gugup sampai tangannya gemetar dan mengeluarkan keringat dingin. Hingga akhirnya terlihat seorang suster membuka pintu dan memanggilnya.

“Nona Airin! Silahkan masuk.”

Airin melirik, lalu beranjak dari tempat duduk dan masuk ke dalam ruangan sesuai perintah.

“Dokter! Saat saya pipis rasanya sangat sak—” Airin terlihat bersemangat mengutarakan keluhan kesehatan yang sedang ia alami.

Namun seketika ia terkejut sampai tak mampu menuntaskan perkataannya saat melihat tatapan tajam dan dingin sang dokter di balik kacamata dan masker putihnya.

Langkah kaki Airin pun terhenti di depan pintu, karena merasa sangat familiar dengan tatapan itu. Tapi ia tak ingat di mana pernah melihatnya.

“Nona Airin, silahkan duduk dulu. Dokter akan memeriksa rekaman medis Anda,” ujar suster menginterupsi.

“Ah, iya.” Airin terhenyak kaget menepis pemikirannya yang ambigu, lalu duduk sesuai arahan suster itu. Wajah cantiknya tampak pucat karena tegang.

Dokter pria itu membaca serius semua riwayat kesehatan Airin dengan begitu teliti dan….

“Silakan buka celana dalam.”

Satu perintah dengan nada suara khas bariton berat menggema di gendang telinga Airin, membuat jantungnya pun seperti berhenti berdetak.

“A–apa?! Buka celana dalam?” pekik Airin, memastikan ia tak salah mendengar.

“Ya. Jika tidak, bagaimana aku bisa memeriksa?” ujar sang dokter dengan dingin.

Airin masih duduk mematung, terlihat kebingungan dan merasa sangat canggung.

“A–aku, bisakah yang memeriksa Dokter perempuan?” Satu pertanyaan lolos di bibir merah Airin, suara lembutnya terdengar bergetar. Ia tertunduk karena merasa tidak enak hati.

Suasana di ruangan itu seketika hening, tatapan tajam sang dokter di balik maskernya memindai tepat ke wajah Airin. Kedua alis tebalnya pun mengerut rapat penuh keheranan.

“Nona Airin, Dokter Radit adalah dokter spesialis paling kompeten dan juga profesional, jadi jangan terlalu berlebihan seperti itu,” ujar sang suster terdengar ketus. “Lagipula, ini hanya sebuah pemeriksaan di bagian kecil tubuh Anda.”

“Dokter Radit?” Airin tertegun. Nama itu sangat tidak asing baginya, tapi ia berusaha menepisnya karena ada begitu banyak orang yang memiliki nama serupa.

Airin berusaha mencerna semua perkataan sang suster yang ada benarnya juga, tidak ada hal yang perlu dicemaskan. Lagian di sana mereka tidak hanya berdua saja.

Wanita berparas cantik itu pun menghela nafas berat dan....

“Ba-baiklah...”

Airin memejamkan kedua matanya, lalu perlahan kedua jemari lentiknya melepaskan rok yang ia kenakan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 18 Ciuman Panas Sang Mantan Part 2

    Airin sangat dilema, tapi karena sudah terlanjur hadir membuatnya terpaksa melanjutkan challenge itu, toh dalam pemikirannya mungkin hanya sekedar dansa biasa. "Kalian semua apa sudah siap?" Tanya sang MC, kembali memandu setelah semua orang mendapatkan pasangan masing-masing dalam permainan itu. Beberapa dari mereka pun menyahut antusias dan berkata siap, namun tidak dengan Airin masih terlihat bimbang. Tasya dan teman-temannya ikut cemas juga, karena sudah tahu Airin pasti tidak nyaman dengan itu. "Gimana dengan Airin, kenapa malah bersama tuan Radit lagi ya?" Bisik Monica. "Entahlah, aku juga merasa khawatir takutnya nanti ada yang menyalah pahami." Timpal Tasya, seraya menatap ke arah Airin yang berada cukup jauh darinya. Senyum miring terpancar di wajah Radit, sungguh ini kali pertama dia menatap mantan kekasihnya yang sudah lama tak jumpa begitu dekat. "Kenapa kau tegang seperti itu Airin? Keberatan?" Bisik Raditya, tepat di daun telinga wanita yang ada di depannya saat i

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 17 Ciuman Panas Sang Mantan Part 1

    Andre tanpa ragu menegaskan jika permainan tanya jawab untuk Airin itu sudah selesai. Tentu saja awalnya orang-orang di sana sempat protes karena merasa tidak puas dengan jawaban Airin. Sebagai seorang teman tentu saja Monica merasa sangat bersalah, karena pertanyaan malah menjadi sebuah kegaduhan. "Astaga sya, aku merasa bersalah sama Airin karena bertanya seperti itu," sesal Monica berbisik. "Aku ga bisa komentar lagi Monic." Balas Tasya sedikit kecewa. Melihat raut wajah tampan Raditya yang terlihat muram, dia juga menantang semua orang di sana yang ingin tidak patuh dalam aturan permainan itu boleh pergi dari sana. Sontak tidak ada satu orang pun yang berani menentang seorang Radit, karena dulu saat kuliah lelaki itu cukup populer dan punya pengaruh besar akan kharismanya yang membuat semua orang seolah tidak bisa membantahnya. "Okey, tidak ada yang protes lagi ya. Sekarang adalah acara paling special dari reuni ini, yaitu berdansa dan harus berciu-man dengan pasangan yang a

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 16 Apa Dia Masih Peduli?

    "Bagaimana Airin, kamu sudah siap menjawab pertanyaan dari kami?" Andre memastikan terlebih dahulu. Seketika Airin terkesiap, perasaannya cukup gelisah tapi dia tidak mau terlihat takut terlihat lagi jika sampai di cemooh para temannya. Raditya memancarkan senyum smrik sembari menghisap filter rokoknya, dia tidak yakin wanita yang berdiri tak jauh darinya itu mau mengikuti permainan itu. "Airin bagaimana siap tidak?" Andre memastikan untuk yang kedua kalinya. Airin menarik nafas dalam-dalam lalu perlahan mengeluarkannya pelan dan mengangkat wajahnya. "Oke, aku siap." Jawab Airin tegas. Semua orang menatap ke arahnya, dan Andre pun tanpa membuang waktu lagi mempersilahkan Airin duduk dengan tenang agar bisa menyiapkan jawaban yang harus dia berikan.Airin pun hanya bisa patuh, ia dan keempat temannya duduk bersama begitu juga yang lain. Berharap tidak ada pertanyaan yang sulit untuknya. "Gaes! Kalian siap memberikan satu pertanyaan pada Airin?" Seru Andre menggema di sana. "Siap

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 15 Permainan Panas

    Suara music mengalun menusuk gendang telinga, di iringi cahaya lampu disco terlihat kerlap-kerlip. Suasana dalam acara reuni itu semakin seru bahkan mereka pun ikut menari tidak terkecuali dengan Airin. Airin di buat bingung oleh Raditya, gimana bisa meminta barang miliknya malah di suruh pergi menemuinya besok. "Hay Rin, kenapa bengong ayo ikut gabung, jangan bilang karena ada Raditya kamu canggung seperti itu?" Seloroh Monica. Wajah Airin memerah, sampai dia terlihat begitu salah tingkah namun sebisa mungkin menepis pemikiran sahabat-sahabatnya."Ti-tidak juga, kalian terlalu banyak berpikir." Tegas Airin. Lalu tanpa sungkan ikut merayakan party, sejenak melupakan rasa takut akan semua rahasianya yang saat ini sudah Raditya ketahui. Tanpa Airin sadari, Raditya diam-diam menatapnya dari jauh. Lelaki itu terlihat masih sangat kesal ketika mengingat perkataan tadi. Terlihat begitu mencintai suaminya sampai marah padanya, dan begitu yakin jika jam tangan itu adalah milik nya. "CK

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 14 Cemburu

    Airin mengerjapkan kedua mata seraya mengigit bibir atasnya, lalu perlahan mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Raditya lalu menjawab. "Tentu saja aku akan menghadiri acara ini sampai selesai," ucapnya dengan kedua tangan terkepal, meskipun dalam hati sedikit meragu. "Bagus!" Raditya menyeringai penuh kemenangan. Tatapan mereka berdua saling bertemu, di selimuti rasa canggung. Airin tidak punya pilihan lain selain masih tetap tinggal karena masih penasaran dengan jam tangan itu. Kenapa bisa ada pada Raditya?Semua orang di sana seolah ikut larut dalam situasi mereka berdua, yang dulunya di kenal sebagai pasangan couple favorit namun sekarang yang ada menjadi dua orang asing terhalang oleh batasan status yang tidak bisa di pungkiri. "Karena acara sudah di mulai, sebelum kita memasuki sebuah challenge seru, semuanya Alumni Swiss German University mari kita semua ambil segelas anggur merah lalu bersulang bersama." Suara seorang MC menggema memecahkan keheningan. Mereka terlihat b

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 13 Mantan Best Couple

    “Wanita mana pun yang menyukai mas Raditya sudah bukan lagi urusan ku." Airin menepis rasa penasaran akan perasaan Carol, lalu berusaha bangun dan kembali menemui para temannya. Bahkan ia menegaskan pada diri sendiri niat menghadiri reuni ini, untuk mencari info kali ada teman lain berprofesi Dokter atau punya kenalan lebih bagus dari Raditya. Suara riuh terdengar menggema di ruangan besar Cafe bernuansa romantis itu, langkah Airin sempat terhenti saat tak sengaja melihat Raditya yang tengah duduk di sebrang sana tampak di kerumuni pada wanita-wanita di sana. Tasya dan ke tiga teman lainnya memanggil Airin yang baru saja kembali. "Rin, kamu kenapa lama sekali di dalam apa tidak apa-apa?"Perhatian Airin pun seketika teralihkan pada suara Tasya, perlahan berbalik dan menyahut. "A-aku tidak apa Sya, tadi di toiletnya hanya sempat antri saja," Jawab Airin terpaksa berbohong. "Syukurlah tadi aku sangat cemas dan mau menyusul mu, ayo kita ikutan challenge bersama teman lainnya." Ajak M

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status