LOGINJantung Airin berdegup sangat kencang saat suster membantunya membaringkan diri tepat di atas brankar, dalam kondisi tubuh bagian bawahnya hanya ditutupi sebuah selimut tipis.
Ia berusaha menenangkan diri, dengan mengingat tujuan utamanya datang ke sini. Airin ingin sembuh agar tak terus menerus mengecewakan suami, agar ibu mertuanya tidak mencemooh dirinya lagi yang selalu dicap tak mampu memuaskan suami. “Buka kedua kakimu,” kata sang Dokter, suara khas beratnya kembali menggema, sikapnya terlihat jelas sangat datar dan dingin. “A-apa?” sahut Airin, kedua bola matanya membulat sempurna. Lagi-lagi dia dibuat canggung dan bingung. Tapi tidak punya pilihan lain lagi selain patuh. Tanpa mengulur waktu lagi, dokter pun mulai fokus pada tugasnya, yaitu memeriksa bagian intim Airin di bawah sana. Bahkan perlahan mulai menyentuh bagian sensitifnya untuk memastikan. “Aaah…!” Airin terhenyak kaget, sampai terduduk dan reflek dia memegangi tangan lelaki berjas putih itu. Tatapan mereka berdua saling bertemu satu sama lain dengan penuh kecanggungan. “Saya sedang memeriksa uretra Anda, legal dan sesuai prosedur. Jika merasa dilecehkan silahkan melapor,” tukas sang Dokter menatap tajam dengan aura yang dominan. “Lebay sekali, ini kan hal biasa untuk dokter,” cibir suster itu, merasa kesal karena dari tadi Airin terus saja protes. Wajah Airin memerah padam, apalagi saat mendengar perkataan suster. Berpikir mungkin dirinya lah yang terlalu takut berlebihan. “Hanya hal biasa, mungkin aku terlalu berlebihan.” Airin merutuki diri sendiri dalam hati, lalu kembali berbaring lagi. Setelah Airin rileks, Dokter Raditya pun mulai fokus kembali memastikan bagian sensitif itu dengan teliti, dia juga mengajukan beberapa pertanyaan. Selain bertanya kapan terakhir merasa sakit atau berdarah ketika buang air kecil, lelaki bertubuh tegap itu juga bertanya apakah Airin sudah menikah dan apakah ia juga aktif dalam urusan ranjang. Airin menjawab satu persatu pertanyaan itu dengan jujur. Bahwa aktivitas ranjang bersama suaminya sangatlah terganggu dan membuatnya merasa tidak nyaman. Dokter Raditya terdiam. Setelah selesai memeriksa, dia melepaskan sarung tangan dan memutar badan, lalu menuliskan beberapa hasil diagnosisnya. Airin bernafas lega. Setelah dibantu suster turun dari brankar dan kembali memakai rok dressnya, ia perlahan berjalan mendekati dokter itu. Baru saja Airin ingin melontarkan pertanyaan, namun Dokter Raditya lebih dulu membalikan badan. Mereka berdua berdiri sejajar dan saling menatap. “Urinari Anda terganggu, butuh waktu untuk sembuh dan butuh beberapa kali kontrol, aku akan memberikan resep obatnya,” jelas lelaki berjas putih itu sembari memberikan kembali berkas medis Airin. “Te-terima kasih, Dokter,” balas Airin meraih berkas rekam medisnya, namun tiba-tiba saja dokter itu menahannya sejenak. Airin menatap penuh keheranan, entah kenapa merasa sikap dokter ini sedikit aneh padanya. “Jangan lupa minum obatnya, Nona Airin, agar cepat sembuh,” kata sang dokter, lalu melepaskan masker yang dari tadi menyembunyikan parasnya yang rupawan. Jantung Airin seperti berhenti berdetak, kedua pupil indahnya terbelalak saat melihat jelas sosok dokter muda yang baru memeriksanya ternyata adalah orang di masa lalunya. Mendadak, Airin merasa sangat malu. “Ra-Raditya….” Airin menggelengkan kepala, rautnya tampak terkejut sekaligus tidak percaya. Bagaimana bisa mereka bertemu lagi? Dokter Raditya tersenyum getir saat melihat ekspresi wajah Airin tampak memerah bahkan terlihat salah tingkah. “Nona Airin, lama tidak berjumpa. Tidakkah kau ingin menjelaskan sesuatu padaku?” Satu pertanyaan bernada sindiran dari Raditya membuat Airin membeku, lidahnya seolah kelu bahkan bibirnya pun seperti terkunci. Tapi saat ini statusnya sebagai seorang istri membuatnya berpikir tak perlu menjawab pertanyaan atau pun merasa berhutang penjelasan. Suster yang ada di sana tampak bingung melihat keduanya saling menatap tajam. “Radit, maksud saya Dokter Radit… terima kasih, sepertinya tidak ada hal yang perlu aku jelaskan,” ujar Airin setelah menenangkan diri. “Sebagai pasien, saya hanya meminta tolong untuk menjaga privasi saya atas apa yang terjadi hari ini. Permisi.” Airin bergegas pergi, langkahnya terburu-buru karena tidak ingin berada lebih lama lagi di sana. Sementara Raditya masih berdiri di sana, menatap punggung Airin yang sudah menjauh dari pandangannya. Rasa marah dan sedih bercampur aduk dalam hatinya saat ini. “Airin, kali ini kamu boleh menghindar, tapi nanti kau sendiri yang akan datang padaku,” desisnya setengah berbisik, tangannya mengepal di sisi tubuh tegapnya. Setelah keluar, Airin menghela nafas panjang seraya menyandarkan diri di pintu. Sungguh hari ini membuatnya kaget setengah mati. Bagaimana bisa ia bertemu dengan seseorang yang ingin dia lupakan dan dia hindari? “Astaga! Ternyata dokter terkenal itu adalah Raditya? Kalau mas Adrian tahu aku ditangani dokter pria, dia pasti akan marah, lebih baik di masa depan tidak bertemu dengannya lagi.” Airin kembali melanjutkan langkahnya, segera pergi dari rumah sakit itu setelah menebus resep yang diberikan. Raditya berdiri di jendela ruangannya, tampak jelas dia melihat Airin masuk ke dalam taksi, membuat hatinya kembali meradang. Karena penasaran, dia meraih dan membaca ulang beberapa informasi tentang Airin. Ia juga menelusuri akun media sosialnya, terlihat jelas Airin memposting beberapa foto pernikahannya dengan sang suami. “Kamu hebat sekali Airin, menikahi pria lain tanpa rasa bersalah.” Sementara itu, Airin masih duduk di dalam taksi menuju rumah. Perasaannya dari tadi terus gelisah, terlebih lagi bayangan saat di ruangan pemeriksaan masih terputar jelas di ingatannya. “Apakah Anda sudah menikah Nona? Apakah Anda aktif secara seksual?” Suara Raditya masih mengiang di telinga membuat Airin merasa kikuk. Tubuhnya panas dingin mengingat sentuhan pria itu di bagian paling intim tubuhnya. “Astaga! Kenapa aku bodoh sekali tidak mengenali Raditya?” Airin menghela napas panjang, juga menggelengkan kepala, berusaha melupakan kejadian tadi. Ia malu sekali, sekarang pria itu sudah tahu semua aib pernikahannya. Airin merutuki diri sendiri. Dia merasa bersalah pada Adrian karena secara tidak langsung membiarkan marwahnya sebagai istri tersentuh oleh pria lain, meskipun profesinya sebagai seorang dokter. Satu pesan masuk dari Adrian, membuat Airin semakin panik. Suaminya memastikan apakah ia sudah menyiapkan keperluan untuk dinas. Pria itu juga bertanya tentang pengobatannya. Airin berusaha tenang, dia tidak mau jika sampai Adrian tahu pertemuannya dengan Raditya. [Mas Adrian, sebentar lagi aku sampai rumah dan akan menyiapkan semua keperluanmu. Jangan khawatir, aku juga sudah mencoba berobat ke rumah sakit baru.] Balasan Adrian datang tak lama kemudian. [Bagus, kali ini aku tidak mau mendengar pengobatanmu gagal lagi.] [Baik, mas.] Airin menutup obrolan singkatnya dengan Adrian, helaan nafas berat pun mengiringi rasa khawatirnya. “Semoga saja Raditya mau mengabulkan permintaanku, menjaga privasiku sebagai pasiennya,” gumam Airin. Meski dalam hati, ia tidak yakin.Airin sangat dilema, tapi karena sudah terlanjur hadir membuatnya terpaksa melanjutkan challenge itu, toh dalam pemikirannya mungkin hanya sekedar dansa biasa. "Kalian semua apa sudah siap?" Tanya sang MC, kembali memandu setelah semua orang mendapatkan pasangan masing-masing dalam permainan itu. Beberapa dari mereka pun menyahut antusias dan berkata siap, namun tidak dengan Airin masih terlihat bimbang. Tasya dan teman-temannya ikut cemas juga, karena sudah tahu Airin pasti tidak nyaman dengan itu. "Gimana dengan Airin, kenapa malah bersama tuan Radit lagi ya?" Bisik Monica. "Entahlah, aku juga merasa khawatir takutnya nanti ada yang menyalah pahami." Timpal Tasya, seraya menatap ke arah Airin yang berada cukup jauh darinya. Senyum miring terpancar di wajah Radit, sungguh ini kali pertama dia menatap mantan kekasihnya yang sudah lama tak jumpa begitu dekat. "Kenapa kau tegang seperti itu Airin? Keberatan?" Bisik Raditya, tepat di daun telinga wanita yang ada di depannya saat i
Andre tanpa ragu menegaskan jika permainan tanya jawab untuk Airin itu sudah selesai. Tentu saja awalnya orang-orang di sana sempat protes karena merasa tidak puas dengan jawaban Airin. Sebagai seorang teman tentu saja Monica merasa sangat bersalah, karena pertanyaan malah menjadi sebuah kegaduhan. "Astaga sya, aku merasa bersalah sama Airin karena bertanya seperti itu," sesal Monica berbisik. "Aku ga bisa komentar lagi Monic." Balas Tasya sedikit kecewa. Melihat raut wajah tampan Raditya yang terlihat muram, dia juga menantang semua orang di sana yang ingin tidak patuh dalam aturan permainan itu boleh pergi dari sana. Sontak tidak ada satu orang pun yang berani menentang seorang Radit, karena dulu saat kuliah lelaki itu cukup populer dan punya pengaruh besar akan kharismanya yang membuat semua orang seolah tidak bisa membantahnya. "Okey, tidak ada yang protes lagi ya. Sekarang adalah acara paling special dari reuni ini, yaitu berdansa dan harus berciu-man dengan pasangan yang a
"Bagaimana Airin, kamu sudah siap menjawab pertanyaan dari kami?" Andre memastikan terlebih dahulu. Seketika Airin terkesiap, perasaannya cukup gelisah tapi dia tidak mau terlihat takut terlihat lagi jika sampai di cemooh para temannya. Raditya memancarkan senyum smrik sembari menghisap filter rokoknya, dia tidak yakin wanita yang berdiri tak jauh darinya itu mau mengikuti permainan itu. "Airin bagaimana siap tidak?" Andre memastikan untuk yang kedua kalinya. Airin menarik nafas dalam-dalam lalu perlahan mengeluarkannya pelan dan mengangkat wajahnya. "Oke, aku siap." Jawab Airin tegas. Semua orang menatap ke arahnya, dan Andre pun tanpa membuang waktu lagi mempersilahkan Airin duduk dengan tenang agar bisa menyiapkan jawaban yang harus dia berikan.Airin pun hanya bisa patuh, ia dan keempat temannya duduk bersama begitu juga yang lain. Berharap tidak ada pertanyaan yang sulit untuknya. "Gaes! Kalian siap memberikan satu pertanyaan pada Airin?" Seru Andre menggema di sana. "Siap
Suara music mengalun menusuk gendang telinga, di iringi cahaya lampu disco terlihat kerlap-kerlip. Suasana dalam acara reuni itu semakin seru bahkan mereka pun ikut menari tidak terkecuali dengan Airin. Airin di buat bingung oleh Raditya, gimana bisa meminta barang miliknya malah di suruh pergi menemuinya besok. "Hay Rin, kenapa bengong ayo ikut gabung, jangan bilang karena ada Raditya kamu canggung seperti itu?" Seloroh Monica. Wajah Airin memerah, sampai dia terlihat begitu salah tingkah namun sebisa mungkin menepis pemikiran sahabat-sahabatnya."Ti-tidak juga, kalian terlalu banyak berpikir." Tegas Airin. Lalu tanpa sungkan ikut merayakan party, sejenak melupakan rasa takut akan semua rahasianya yang saat ini sudah Raditya ketahui. Tanpa Airin sadari, Raditya diam-diam menatapnya dari jauh. Lelaki itu terlihat masih sangat kesal ketika mengingat perkataan tadi. Terlihat begitu mencintai suaminya sampai marah padanya, dan begitu yakin jika jam tangan itu adalah milik nya. "CK
Airin mengerjapkan kedua mata seraya mengigit bibir atasnya, lalu perlahan mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Raditya lalu menjawab. "Tentu saja aku akan menghadiri acara ini sampai selesai," ucapnya dengan kedua tangan terkepal, meskipun dalam hati sedikit meragu. "Bagus!" Raditya menyeringai penuh kemenangan. Tatapan mereka berdua saling bertemu, di selimuti rasa canggung. Airin tidak punya pilihan lain selain masih tetap tinggal karena masih penasaran dengan jam tangan itu. Kenapa bisa ada pada Raditya?Semua orang di sana seolah ikut larut dalam situasi mereka berdua, yang dulunya di kenal sebagai pasangan couple favorit namun sekarang yang ada menjadi dua orang asing terhalang oleh batasan status yang tidak bisa di pungkiri. "Karena acara sudah di mulai, sebelum kita memasuki sebuah challenge seru, semuanya Alumni Swiss German University mari kita semua ambil segelas anggur merah lalu bersulang bersama." Suara seorang MC menggema memecahkan keheningan. Mereka terlihat b
“Wanita mana pun yang menyukai mas Raditya sudah bukan lagi urusan ku." Airin menepis rasa penasaran akan perasaan Carol, lalu berusaha bangun dan kembali menemui para temannya. Bahkan ia menegaskan pada diri sendiri niat menghadiri reuni ini, untuk mencari info kali ada teman lain berprofesi Dokter atau punya kenalan lebih bagus dari Raditya. Suara riuh terdengar menggema di ruangan besar Cafe bernuansa romantis itu, langkah Airin sempat terhenti saat tak sengaja melihat Raditya yang tengah duduk di sebrang sana tampak di kerumuni pada wanita-wanita di sana. Tasya dan ke tiga teman lainnya memanggil Airin yang baru saja kembali. "Rin, kamu kenapa lama sekali di dalam apa tidak apa-apa?"Perhatian Airin pun seketika teralihkan pada suara Tasya, perlahan berbalik dan menyahut. "A-aku tidak apa Sya, tadi di toiletnya hanya sempat antri saja," Jawab Airin terpaksa berbohong. "Syukurlah tadi aku sangat cemas dan mau menyusul mu, ayo kita ikutan challenge bersama teman lainnya." Ajak M







