Home / Romansa / Gelora Berbahaya Dokter Tampan / Bab 6 Apakah Aku Begitu Menjijikan?

Share

Bab 6 Apakah Aku Begitu Menjijikan?

last update Last Updated: 2025-12-17 11:11:39

Setibanya di depan pintu rumah, Airin masih sedikit tegang mengingat kejadian tadi bersama dengan Dokter Raditya yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Namun sebisa mungkin, ia berusaha menghilangkan rasa gelisah nya, melihat jarum jam di tangan menunjukkan pukul empat sore membuatnya bernafas lega, karena masih ada dua jam lagi saat Adrian pulang kantor.

Baru saja Airin memasuki rumah dengan pintu yang sudah terbuka, kehadiran Adrian sudah duduk santai sembari membaca koran membuatnya terhenyak kaget. “Ma-mas Adrian sudah pulang?” Tanyanya bergetar dan gugup.

Adrian melirik tajam, saat mendengar suara lembut istrinya yang berasal dari arah samping.

“Iya, aku sengaja pulang lebih awal, malam nanti berangkat, sekarang aku ingin istirahat sebentar,” Balas Adrian datar, pandangannya membidik ke arah tangan Airin tengah menggenggam map coklat dan juga paper bag transparan berisi obat-obatan.

Pria itu beranjak dari tempat duduk, lalu berjalan dengan langkah lebarnya menghampiri Airin. “Apa ini?” cecarnya mengintrogasi. “Kau sudah mencoba berobat lagi?”

Airin terkesiap, lalu mencoba tenang dan mengulum senyum tipis. “I—iya mas, aku baru pulang dari rumah sakit dan baru saja berkonsultasi dengan Dokter baru,” jawabnya tak berani menatap wajah sang suami karena bingung apa lagi Dokter tadi adalah Raditya.

Kedua alis Adrian mengerut, dia penasaran segera meraih map coklat itu dan melihat serta membaca hasil diagnosa kesehatan istrinya. “Aku mau melihat, sebenarnya kau sakit apa?”

Pertanyaan Adrian bernada interogasi itu, membuat Airin tegang sampai menelan ludah beberapa kali karena entah dari mana harus menjelaskannya.

“Kau! Sakit kencing serius Airin? tidak ada yang lain?” Adrian menatap sinis, setelah membaca semua itu.

“I-iya mas, tapi kata Dokter tadi aku bisa sembuh kalau rutin kontrol." Airin membalas ragu, wajah cantiknya terunduk sampai mengeluarkan keringat dingin.

Adrian merespon datar, rasanya dia sudah muak mendengar kata-kata itu.

“Aku tidak butuh janji, buktikan semuanya dan sebelum sembuh jangan harap aku menyentuh mu bisa-bisa aku nanti tertular lagi, siapkan makan siang ku lalu antarkan ke atas nanti.” Titah Adrian berjalan melewati Airin ke arah tangga.

Dada Airin terasa sangat sesak, kata-kata Adrian tadi membuatnya merasa sangat insecure dan segitu tidak berarti dirinya saat ini.

“Tertular? Semenjijik itu aku di mata mu mas?" Lirih Airin masih menatap punggung suaminya, seraya mengusap air mata yang tanpa terasa menetes karena terlalu menyakitkan mendengarnya. Lalu segera memungut berkas hasil pemeriksaannya yang berserakan di bawah lantai.

Nyonya Rosa dari tadi diam-diam mendengar obrolan putra dan menantunya pun menghampiri.

“Airin! Kau sudah dengarkan apa kata Adrian? Jangan sampai penyakit mu menular, sudah untung putra ku memberikan kesempatan untuk sembuh dan tidak membuang mu langsung.”

Kedua mata Airin mengerjap, kedua tangannya terkepal kuat. Kata-kata sang ibu mertua yang terus menusuk dan menekan terkadang menyulut emosinya, tapi bagaimana pun juga wanita yang ada di depannya adalah ibu mertua sendiri, mau tidak mau ia harus tetap sabar demi keutuhan rumah tangannya dengan Adrian.

“Iya bu, aku tahu. Mas Adrian belum makan aku masak dulu.” Airin pamit, selain melakukan kewajibannya, ia juga sengaja tidak mau banyak bicara karena ujungnya pasti berdebat.

“Dasar menantu tak tahu diri, belum selesai bicara sudah pergi saja.” Umpat Nyonya Rosa memutar kedua bola mata malasnya sembari berkacak pinggang penuh emosi.

Langkah Airin tampak lesu saat memasuki dapur mewah itu, perlahan ia melepas tas selempang dan beberapa barangnya di atas meja makan. Rasa sedih dan kecewa masih menyelimuti dirinya tapi ia masih bersyukur karena suaminya tidak terlalu bertanya siapa Dokter barunya saat ini.

Hari ini bagi Airin sangat melelahkan, selain kaget bertemu lagi Raditya, suami dan mertuanya selalu saja menyudutkan padahal ia juga tidak ingin sakit aneh seperti itu.

“Aku pasti bisa mengatasi semua ini dan pasti bisa sembuh.” Tegasnya meskipun sangat ragu. Lalu berdiri dan melipat lengannya sebelum membuka lemari es untuk mengambil bahan-bahan yang akan di masak.

Airin terlihat begitu bersemangat membuat makanan special buat suaminya. “Aku masakin mas Adrian, iga asam manis saja.” Gumamnya semangat.

Baru saja Airin mencuci sayuran di wastafel, terdengar suara pesan masuk di ponselnya. Membuatnya terpaksa menjeda aktivitas dan membuka pesan itu dan terlihat id Tasya pengirimnya.

“Airin, aku sudah menutup butiknya. Bagaimana apakah sudah konsultasi dengan Dokter baru? Oh iya, kita berdua dapat undangan reuni kampus harus datang katanya, mengajak suami mu juga boleh loh.” Kata Tasya memberitahukan di iringi emot candaan.

“Reuni kampus? Mas Adrian mana bisa ikut, apa nanti aku izin padanya buat ikut?” Airin ragu, tapi ia ingin mencobanya.

Selain ingin bertemu teman lamanya, Airin berharap salah satu sahabat wanitanya nanti ada yang berprofesi sebagai Dokter, agar nanti ia tidak berurusan lagi dengan Raditya.

“Aku coba bujuk mas Adrian, sekarang masakin yang enak buat nya dulu.”

.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 19 Pesan Anonim

    Airin berjalan setengah berlari, lalu dia menghentikan taksi dan masuk meminta pak supir mengantarnya ke alamat rumahnya. Disepanjang jalan, wanita cantik itu terlihat sangat gelisah dan merasa sangat bersalah karena apa yang telah terjadi tadi. "Astaga! Kenapa aku datang ke sana? Kalau mas Adrian tahu bisa habis aku." Batin Airin merutuki diri sendiri seraya meremas ujung dress-nya. Suara nada pesan di ponsel terdengar beberapa kali, namun Airin masih fokus dengan jalanan yang tampak macet membuat hatinya semakin cemas. Terlebih lagi hari sudah mulai sore sedikit khawatir karena mungkin nanti sampai ke rumah lebih dari jam pulang dari butik seperti biasanya. Beruntung pak supir bisa memotong ke arah lain, sampai akhirnya setelah kurang lebih satu jam kini Airin telah sampai di rumah. Setelah turun dari taksi, wajah Airin terlihat masih sangat pucat dan tegang apa lagi setelah insiden permainan ciuman tanpa status tadi. "Airin! tenanglah, jangan membuat ibu curiga." Tegasnya mer

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 18 Ciu-man Panas Sang Mantan Part 2

    Airin sangat dilema, tapi karena sudah terlanjur hadir membuatnya terpaksa melanjutkan challenge itu, toh dalam pemikirannya mungkin hanya sekedar dansa biasa. "Kalian semua apa sudah siap?" Tanya sang MC, kembali memandu setelah semua orang mendapatkan pasangan masing-masing dalam permainan itu. Beberapa dari mereka pun menyahut antusias dan berkata siap, namun tidak dengan Airin masih terlihat bimbang. Tasya dan teman-temannya ikut cemas juga, karena sudah tahu Airin pasti tidak nyaman dengan itu. "Gimana dengan Airin, kenapa malah bersama tuan Radit lagi ya?" Bisik Monica. "Entahlah, aku juga merasa khawatir takutnya nanti ada yang menyalah pahami." Timpal Tasya, seraya menatap ke arah Airin yang berada cukup jauh darinya. Senyum miring terpancar di wajah Radit, sungguh ini kali pertama dia menatap mantan kekasihnya yang sudah lama tak jumpa begitu dekat. "Kenapa kau tegang seperti itu Airin? Keberatan?" Bisik Raditya, tepat di daun telinga wanita yang ada di de

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 17 Ciuman Panas Sang Mantan Part 1

    Andre tanpa ragu menegaskan jika permainan tanya jawab untuk Airin itu sudah selesai. Tentu saja awalnya orang-orang di sana sempat protes karena merasa tidak puas dengan jawaban Airin. Sebagai seorang teman tentu saja Monica merasa sangat bersalah, karena pertanyaan malah menjadi sebuah kegaduhan. "Astaga sya, aku merasa bersalah sama Airin karena bertanya seperti itu," sesal Monica berbisik. "Aku ga bisa komentar lagi Monic." Balas Tasya sedikit kecewa. Melihat raut wajah tampan Raditya yang terlihat muram, dia juga menantang semua orang di sana yang ingin tidak patuh dalam aturan permainan itu boleh pergi dari sana. Sontak tidak ada satu orang pun yang berani menentang seorang Radit, karena dulu saat kuliah lelaki itu cukup populer dan punya pengaruh besar akan kharismanya yang membuat semua orang seolah tidak bisa membantahnya. "Okey, tidak ada yang protes lagi ya. Sekarang adalah acara paling special dari reuni ini, yaitu berdansa dan harus berciu-man dengan pasangan yang a

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 16 Apa Dia Masih Peduli?

    "Bagaimana Airin, kamu sudah siap menjawab pertanyaan dari kami?" Andre memastikan terlebih dahulu. Seketika Airin terkesiap, perasaannya cukup gelisah tapi dia tidak mau terlihat takut terlihat lagi jika sampai di cemooh para temannya. Raditya memancarkan senyum smrik sembari menghisap filter rokoknya, dia tidak yakin wanita yang berdiri tak jauh darinya itu mau mengikuti permainan itu. "Airin bagaimana siap tidak?" Andre memastikan untuk yang kedua kalinya. Airin menarik nafas dalam-dalam lalu perlahan mengeluarkannya pelan dan mengangkat wajahnya. "Oke, aku siap." Jawab Airin tegas. Semua orang menatap ke arahnya, dan Andre pun tanpa membuang waktu lagi mempersilahkan Airin duduk dengan tenang agar bisa menyiapkan jawaban yang harus dia berikan.Airin pun hanya bisa patuh, ia dan keempat temannya duduk bersama begitu juga yang lain. Berharap tidak ada pertanyaan yang sulit untuknya. "Gaes! Kalian siap memberikan satu pertanyaan pada Airin?" Seru Andre menggema di sana. "Siap

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 15 Permainan Panas

    Suara music mengalun menusuk gendang telinga, di iringi cahaya lampu disco terlihat kerlap-kerlip. Suasana dalam acara reuni itu semakin seru bahkan mereka pun ikut menari tidak terkecuali dengan Airin. Airin di buat bingung oleh Raditya, gimana bisa meminta barang miliknya malah di suruh pergi menemuinya besok. "Hay Rin, kenapa bengong ayo ikut gabung, jangan bilang karena ada Raditya kamu canggung seperti itu?" Seloroh Monica. Wajah Airin memerah, sampai dia terlihat begitu salah tingkah namun sebisa mungkin menepis pemikiran sahabat-sahabatnya."Ti-tidak juga, kalian terlalu banyak berpikir." Tegas Airin. Lalu tanpa sungkan ikut merayakan party, sejenak melupakan rasa takut akan semua rahasianya yang saat ini sudah Raditya ketahui. Tanpa Airin sadari, Raditya diam-diam menatapnya dari jauh. Lelaki itu terlihat masih sangat kesal ketika mengingat perkataan tadi. Terlihat begitu mencintai suaminya sampai marah padanya, dan begitu yakin jika jam tangan itu adalah milik nya. "CK

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 14 Cemburu

    Airin mengerjapkan kedua mata seraya mengigit bibir atasnya, lalu perlahan mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Raditya lalu menjawab. "Tentu saja aku akan menghadiri acara ini sampai selesai," ucapnya dengan kedua tangan terkepal, meskipun dalam hati sedikit meragu. "Bagus!" Raditya menyeringai penuh kemenangan. Tatapan mereka berdua saling bertemu, di selimuti rasa canggung. Airin tidak punya pilihan lain selain masih tetap tinggal karena masih penasaran dengan jam tangan itu. Kenapa bisa ada pada Raditya?Semua orang di sana seolah ikut larut dalam situasi mereka berdua, yang dulunya di kenal sebagai pasangan couple favorit namun sekarang yang ada menjadi dua orang asing terhalang oleh batasan status yang tidak bisa di pungkiri. "Karena acara sudah di mulai, sebelum kita memasuki sebuah challenge seru, semuanya Alumni Swiss German University mari kita semua ambil segelas anggur merah lalu bersulang bersama." Suara seorang MC menggema memecahkan keheningan. Mereka terlihat b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status