ANMELDENUdara malam masih dingin setelah hujan reda. Di sana, di depan rumah besar yang dulunya pernah diharapkannya menjadi rumah ternyaman. Hana berdiri memandangi teras yang terang, pertanda penghuninya belum tidur. Karena mungkin mereka sedang menunggunya.
Di sampingnya, Adam berdiri dengan kedua tangan diselipkan di saku celana, bersandar di mobilnya. Wajahnya tenang, tapi matanya memperhatikan Hana dengan cermat.
“Kamu yakin mau masuk sendiri?” tanyanya pelan, suaranya
Sudah tiga bulan sejak Mona resmi menjadi Nyonya Wijaya. Dan sampai hari ini... Mona masih merasa dirinya sedang menjalani hukuman sosial tingkat nasional. Pagi itu pukul enam lewat lima menit. Mona berdiri di dapur dengan rambut berantakan, mata setengah terbuka, dan celemek bergambar stroberi yang dipilihkan mertuanya. Di hadapannya... Sebiji telur gosong. Dan satu panci yang entah bagaimana bisa mengeluarkan asap. "Ya Tuhan..." Mona memegang kepalanya. "Aku cuma mau bikin sarapan." Pintu dapur terbuka. Arsen masuk sambil menggulung lengan kemejanya. Pria itu berhenti beberapa detik. Menatap telur, menatap panci, lalu menatap Mona. Kemudian berkata tenang, "Masih nyala?" Mona langsung menunjuk kompor, "Aku nggak tahu kenapa dia meledak." "Itu telur." "Aku tahu itu telur!" "Kelihatannya tidak." Mona langsung mendelik. Arsen malah tertawa kecil. Sangat kecil. Tapi cukup membuat Mona semakin kesal. "Jangan ketawa!" "Aku nggak ketawa." "Kamu ketawa!" "Aku c
Kalau ada satu hal yang tidak pernah bisa diterima Shila Putri dalam hidupnya, itu adalah kenyataan bahwa Hana selalu lebih beruntung darinya. Dulu... Hana lebih pintar, lebih disayang orang, lebih berhasil, dan sekarang... bahkan suaminya pun adalah Adam Mahendra. Pria yang menurut Shila seharusnya menjadi miliknya. Maka ketika keluarga besar berkumpul beberapa minggu setelah resepsi keluarga Mahendra, pikiran kotor itu kembali muncul. Satu kesempatan. Hanya butuh satu kesempatan. Kalau Adam jatuh ke pelukannya, semuanya bisa berubah, atau setidaknya... rumah tangga Hana bisa hancur, dan itu sudah cukup membuat Shila puas. Malam itu sebuah kamar hotel telah disiapkan, atas nama Hana Mahendra. Persis seperti yang direncanakannya. Shila bahkan sudah mengatur berbagai skenario di kepalanya. Begitu Adam masuk... ia tinggal membuat situasi terlihat ambigu. Alat perekam video sudah disiapkan untuk skandal yang akan menghancurkan Hana. Dan sisanya akan berjalan sendiri sesua
Beberapa hari setelah konferensi pers yang mengguncang jagat maya, kehidupan perlahan kembali tenang. Berita tentang Hana dan Adam yang sempat memenuhi layar televisi, portal berita, dan media sosial mulai tergeser oleh isu-isu baru. Seperti biasa, dunia bergerak terlalu cepat untuk terus memikirkan satu orang. Namun, satu kabar tetap sempat beredar di kalangan tertentu. Terutama di lingkungan para pengusaha. Kabar tentang putri tunggal pemilik Virel Media yang akan menikah dengan pewaris keluarga Wijaya. Dan tentu saja, kabar itu akhirnya sampai juga ke telinga Adam. Pagi itu, Adam sedang duduk di ruang kerja rumah mereka sambil memeriksa beberapa dokumen ketika sebuah nama menarik perhatiannya. Arsen Wijaya. Adam mengangkat sebelah alis, "Hm." Hana yang sedang duduk di sofa sambil mengecek daftar tamu menoleh, "Ada apa?" Adam memutar layar tabletnya sedikit, "Katanya Mona akan menikah dengan Arsen Wijaya." Hana langsung terdiam beberapa detik, "Oh..." Hanya i
Dua hari kemudian. Mona duduk di kursi mobil dengan wajah muram sambil menatap keluar jendela.Sejak berangkat tadi, bibirnya hampir tidak berhenti komat-kamit sendiri."Semoga nggak botak...""Ya Tuhan...""Jangan gendut...""Jangan kumisan kayak bapak-bapak pengusaha minyak...""Dan jangan senyum genit..."Semakin dipikirkan, wajah Mona malah makin meringis ngeri sendiri.Di sampingnya, Mamanya beberapa kali melirik sambil memijat pelipis."Mona.""Hm?""Mukamu kayak orang mau dihukum gantung.""Memangnya beda?" gumam Mona pelan.Tak lama kemudian mobil memasuki halaman rumah keluarga calon mempelai.Dan Mona langsung terdiam. Rumahnya besar. Sangat besar.Tapi anehnya tidak terasa seperti rumah orang yang sengaja memamerkan kekayaan.Halaman dipenuhi tanaman hijau yang terawat rapi. Ada taman kecil. Bahkan ada ayunan kayu di dekat pohon besar.Hangat, dan auranya bukan mewah yang menusuk mata.Mona turun perlahan. Namun wajahnya masih waspada."Biasanya yang begini justru pemilikny
Bangkrut atau Menikahi DudaMona masih terduduk di lantai kamarnya dengan wajah basah penuh air mata. Sementara sang papa yang sebelumnya pergi dari kamar Mona dengan kemarahan, kembali dengan napas berat.Sedangkan Mama Mona yang masih shock karena baru sadar dirinya dipermainkan anak sendiri, kembali dikagetkan oleh kemarahan susulan suaminya.Brak!!!Papanya melempar map yang baru saja dibawanya dari sang asisten yang datan gtergesa tadi.“Apa lagi, Pa...” suara Mona bergetar.“Lihat sendiri! Kamu pikir masalahnya selesai di keluarga Mahendra?”Mona menoleh bingung. Dan saat membuka lembar pertama, wajahnya perlahan kehilangan darah. Karena itu laporan kerja sama, puluhan kontrak, puluhan investor, dan di hampir semua halaman tertulis... PEMBATALAN KERJA SAMA.Tangannya langsung gemetar, “P-pa... ini apa?”Papanya tertawa getir. Kumpulan senyum menyakitkan orang yang sudah terlalu marah.“Keluarga Mahendra memang nggak menyerang kita. Mereka nggak ancam Papa. Mereka juga nggak paka
Ruang pertemuan kembali gaduh dengan gemuruh bisik-bisik para pemburu berita. Hingga sampai suara Adam kembali memecah kegemparan tersebut.“Dan perlu kalian ketahui juga....”Kerumunan mulai membuka mata dan telinga mereka lagi.“Jika saja saya tidak bertemu Hana, mungkin saja... Sampai detik ini saya ataupun Ayah saya tidak akan bertemu dengan Ibu kandung saya.”Gemuruh suara mulai pecah kembali, tapi Adam tidak peduli. Ia kembali menceritakan hubungan Bunga dan Hana dengan jelas.Membuat setiap pikiran kotor tentang Hana sebelumnya memudar bersih, hingga kini mulai beropini.“Jadi, jika ada tuduhan tentang sihir atau semacamnya yang telah dituduhkan kepada istri saya, saya tidak sepenuhnya menyangkal. Karena itu bersifat gaib dan tidak bisa dicerna secara logika.”“Tapi bisa saya katakan, jika sihir itu memang ada. Ya, saya rasa saya sudah terkena sihir oleh Tuhan, sehingga bisa jatuh cinta pada wanita tepat, yang ternyata menjadi jembatan kebahagiaan saya dan orang tua saya.”“Set
Pagi itu... Jagat maya Jakarta mendadak heboh.Satu video pendek berdurasi tiga puluh detik tiba-tiba menyebar liar di media sosial. Video yang memperlihatkan Hana sedang bersandar nyaman di dada Adam di lounge hotel mewah.Ditambah potongan lain saat Adam membukakan pintu mobil untuk Hana. Tatapan
Wajah Mona langsung pucat, akan tetapi Surya jelas belum memulai apapun.Tatapannya kembali jatuh pada kotak kalung di tangan Mona sebelum akhirnya berbicara santai pada manajer butik.“Mr. Daniel.”“Y-Yes, Sir?”“Why is my daughter-in-law being disturbed inside her own store?”Deg... Senyap kembal
Pelayan butik tampak serba salah, “Maaf, Nona Mona…” ucapnya hati-hati. “Kalung itu sedang dipilih oleh Mbak Hana.”Namun Mona bahkan tidak menoleh. Matanya masih sibuk memperhatikan liontin lily kecil itu sambil tersenyum tipis penuh kepuasan.“Terus kenapa?” jawabnya santai. “Dia kan belum bayar.
Siang itu, Hana benar-benar tidak menyangka dirinya akan “diculik” mendadak oleh Surya.Awalnya pria itu hanya datang santai ke kantor cabang Aegis tempat Hana sedang membantu beberapa laporan desain interior hotel.Namun baru lima menit mengobrol, Surya tiba-tiba berkata, “Temenin Papa sebentar.”







