LOGINBlair Firenze rela menjadi simpanan seorang mafia kejam berhati dingin, demi menyelamatkan kekasihnya yang mengalami kecelakaan hebat dan membutuhkan banyak uang.
View MoreDimitri Oliver duduk di belakang meja kerjanya yang besar dari kayu mahoni gelap, di dalam kantor pribadi di lantai tertinggi Vespera Tower.Di balik jendela kaca setebal sepuluh sentimeter, pemandangan kota terbentang tanpa batas.Tapi, matanya tak tertarik pada kilau lampu malam atau lalu lintas yang menggeliat seperti ular. Pandangannya tertuju pada berkas di tangannya.Sepotong foto terjepit di sudut halaman.Blair Firenze.Rambut cokelat gelap, mata sendu yang tak pernah sepenuhnya menatap kamera, dan senyum yang dipaksakan dalam potret hitam putih.“Anak tunggal. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat ia masih sekolah. Tinggal di panti asuhan dua tahun sebelum keluar dan mulai bekerja. Dua pekerjaan, dua dunia.” Alex berdiri di hadapan Dimitri, suaranya datar.Dimitri tidak mengangkat wajah. Tangannya membalik halaman berikutnya, membaca setiap detail. Tempat kerja, alamat rumah sewa, beberapa hal tentangnya.“Kau yakin ini lengkap?” tanya Dimitri pelan.“Ya, Tuan.”“Tida
Di setiap langkah, rasa perih masih terasa di antara paha.Sakitnya tak seberapa dibandingkan gemuruh di kepala—suara Dimitri, napas, tatapan gelap, dan bunyi detak jam di lounge yang beradu dengan detak jantungnya sendiri.Semua terasa menempel di kulit, menolak luruh meski hujan membasahi rambutnya di perjalanan.Hujan sisa malam masih menempel di ujung rambut Blair ketika ia menata gelas kopi di meja bar. Suara gerimis di luar jendela kafe berpadu dengan denting sendok, aroma kopi robusta, dan bisik tawa tamu di sudut ruangan."Kopi," pinta salah satu pelanggan mengingatkan.Blair tersenyum pahit, tetap bersikap professional.Di balik apron hitam, pundaknya terasa berat seolah hujan semalam tidak hanya membasahi rambut, tapi juga hati yang belum kering.Angeline, rekan kerjanya, berdiri di belakang mesin espresso. Gadis itu sesekali mencuri pandang ke arah Blair yang berdiri terpaku di ujung meja kasir.“Wajahmu sangat pucat. Kau yakin mau tetap kerja hari ini?” tanya Angeline pela
Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa panas, menyesakkan dada Blair. Dari jarak ini, Blair bisa mencium aroma parfum maskulin pria di hadapannya, membuat ia menahan napas tanpa sadar.Tangan pria itu yang terasa kasar di pipi Blair yang halus terasa mengekang, seakan tidak berniat melepaskan Blair dalam waktu dekat.Blair terjebak di sana.Tangan Blair mencengkeram dompet yang masih ada di tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. “Maafkan … maafkan saya, Tuan. Kemarin saya sungguh tidak bermaksud–”“Diam.”Takut. Itu yang ia rasakan sekarang setelah mengetahui ia telah mengganggu pria ini kemarin dan kini sedang menanggung akibatnya. Kini, bahkan Blair sendiri tidak yakin Dimitri akan membayarnya. Pria itu bisa saja memang dengan sengaja ingin menjebak Blair seperti ini.Tanpa sadar, satu bulir air mata mengalir di pipi Blair saat mengingat kekasih yang mungkin sedang menunggu biaya operasi tersebut.‘Mateo,’ batin Blair. ‘Maafkan aku.’Mereka tetap dalam posisi itu sela
Sepasang mata Blair yang penuh harap itu melebar. Tidak menyangka pertanyaan itu ditanyakan secara frontal oleh rekan kerjanya tersebut.“Nia–”“Dengar dulu,” potong Nia. Wajahnya serius. “Aku dengar ada permintaan dari tamu VVIP. Pria itu minta dicarikan seorang gadis untuk menemaninya semalam saja. Tapi syaratnya … itu. Gadis perawan.”Dada Blair seketika sesak. “Maksudmu … tidur dengannya?”Nia menatap Blair tanpa berkedip.“Iya. Kamu tidak seperti gadis-gadis lain di sana. Kamu hanya bekerja. Kamu tidak pernah menjual diri, dan dia suka yang seperti itu. Sekali saja, Blair. Kamu bisa dapat tiga ratus juta, bahkan lebih.”“Aku tidak bisa,” bisik Blair.Napasnya tercekat di tenggorokan.“Aku bukan perempuan seperti itu, Nia.”“Aku tahu,” potong Nia cepat. “Tapi memangnya kamu mau melihat kekasihmu pergi hanya karena kamu menolak satu malam?”Blair menunduk. Matanya panas. Bayangan Mateo di ranjang besi muncul lagi di kepala, wajah pucat, tangan dingin, janji pernikahan yang tak pern
“Aahh–jangan khawatir, Tuan. Aku akan memuaskanmu malam ini.”Langkah Blair terhenti saat mendengar suara tersebut. Desahan penuh kenikmatan, disertai kalimat menggoda itu membuat matanya tak tahan untuk melirik ke kiri. Pintu ruangan itu terbuka sedikit—tidak lebar, hanya beberapa sentimeter. Tapi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews