Share

Chapter>02.

last update Last Updated: 2025-09-25 16:45:43

Gea terhenyak. Wanita yang ada di hadapannya seperti angin lalu. Bayang-bayang wajah Nina terlintas di pikirannya.

Gadis yang biasanya aktif, murah senyum, apalagi dengan gingsul kiri yang manis itu, kini terbaring lemah tidak berdaya. Entah bagaimana rambut hitam lurusnya itu, sudah dua hari dia terbaring. Mungkin rambut Nina sudah kusut.

Terlebih, wajahnya yang selalu ceria, sekarang berubah pucat.

Gea tidak bisa membayangkan itu. “Dok, tapi dia tidak apa-apa, kan?”

“kita harus menyuntikkan vitamin dan protein ke dalam infus agar penyakit gerd dan mualnya sembuh.”

“Tolong, Dok, tolong beri dia infus. Saya janji, besok saya lunasi semua biayanya! Saya sudah bekerja dan saya akan mendapat gaji besok pagi. Setelah kerja, saya janji datang dan mengurus semua admininstrasi anak saya!”

“Mohon maaf sebelumnya, Ibu, kita memiliki peraturan yang harus ditaati. Ibu harus melunasi biaya rawat inap agar kita bisa menjalankan penanganan!”

“Pliss, Dok, saya benar-benar tidak memiliki uang sama sekali. Saya mohon…”

“Sekali lagi kami ingatkan, Bu Gea, kita tidak akan melakukan perawatan sebelum Ibu Gea melunasi semua biayanya. Kami akan memberi Bu Gea waktu sampai besok malam. Apabila…”

“Kalian dokter, tapi tingkah laku kalian seperti pembunuh!” Gea tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia meluapkan itu semua.

Pandangan orang-orang di lobby perusahaan terfokus ke Gea.

Entah, dia seperti kehilangan akal. Dia tidak peduli cacian atau tatapan hina para pegawai yang lalu-lalang di lobby utama. Yang dia mau hanyalah, Nina segera mendapat perawatan. Itu saja.

“Ibu Gea, kami tegaskan lagi. Sampai besok malam Ibu Gea tidak membayar biayanya, kami akan memindahkan Nina ke puskesmas terdekat. Terima kasih!”

Tut!

Telepon ditutup.

Gea masih terpaku, sedangkan Rena, wanita di hadapannya berjalan menghampiri.

Rena coba menenangkan Gea, tapi Gea sudah kehilangan dunianya. Sampai mulut Rena terbuka dan Gea menyimak dengan seksama.

“Ada satu cara yang bisa Bu Gea lakukan, tapi saya hanya memberi opsi. Saya tidak menyarankan Ibu Gea mengambilnya. Yang pasti, hanya ini satu-satunya cara agar Ibu Gea dapat melunasi biaya pengobatan Nina.”

Gea menggoyang-goyangkan pundak Rena. Emosinya terguncang dan pikirannya sudah gelap. “Katakan! Katakan apa yang harus aku lakukan! Aku siap melakukan apapun demi Nina, meski aku harus terluka bertubi-tubi!”

Rena kemudian mendekat dan berbisik.

Gea awalnya menyimak solusi dari Rena, tapi tak berselang lama, wajahnya berubah pucat. “Hanya itu solusinya? Apa tidak ada solusi lain yang lebih masuk akal?”

“Saya hanya memberi opsi, Bu Gea. Terlepas Ibu mau melakukannya atau tidak, semua terserah Ibu.” Rena memberikan cek senilai lima juta dan kartu akses masuk Hotel Viceroy. Tak lupa, dia juga meninggalkan beberapa kontak mucikari yang bisa dihubungi Gea untuk menyewa wanita malam.

Tanpa basa-basi, dia coba mengontak satu per satu mucikari yang ada di kertas yang diberikan Rena tadi.

Gea kemudian menyeleksi wanita malam yang dijadikan satu dalam booklet, dikirim melalui surel. Dia terkejut, ternyata dunia sekretaris terlalu gelap untuknya!

Wanita diperjualbelikan seperti menu makanan.

“Sial, mereka semua cantik!” gerutu Gea. Dia tidak menyerah karena dia ingat, Jonathan ingin wanita dengan ciri-ciri tertentu. “Panas dan jago di ranjang”, lirih Gea, sembari menirukan ucapan Jonathan.

Dari semua yang diseleksi Gea, umur mereka rata-rata di bawah 25 tahun. Kalaupun ada yang di atas 25, wajah mereka penuh make-up dan kecantikannya tidak natural sama sekali.

Gea masih bimbang, ada dua pilihan wanita malam. Satu usia 24, bernama Rasya, satunya 26 bernama Midova. Rasya adalah gadis lokal yang perawakannya sangat bagus, sintal, kemudian dadanya bulat-padat. Berbeda dengan Midova, gadis blasteran Rusia dengan rambut pirang-blonde khas Barat.

Mempertimbangkan kriteria yang diberikan Jonathan, sekaligus terpikir tentang wajah anaknya yang kembali terlintas di pikirannya, Gea diam cukup lama.

Dia mengambil keputusan; keputusan yang sesuai dengan solusi yang diberikan Rena.

“Saya sudah menemukan wanita malam yang cocok untuk Pak Jonathan. Saya sudah memintanya datang ke lokasi, sesuai yang Bapak minta. Saya yakin sekali, Bapak pasti cocok dengan wanita itu. Saya juga pastikan, wanita ini cantik, sintal, menggairahkan, dan tentunya, mahir bermain di ranjang, sesuai keinginan Bapak.”

Gea menjelaskan panjang lebar melalui pesan yang dia kirim langsung ke Jonathan. Di bagian akhir, Gea menyelipkan tiga kata. “Jangan terkejut melihatnya!”

Tepat pukul delapan, Jonathan baru membuka ponselnya. Dia tersenyum puas dan tidak mengira, Gea bisa membuatnya penasaran seperti ini. Setelah turun, pria itu meminta Rasya, sopir pribadinya, untuk mengantarnya ke hotel Viceroy.

“Pasti tuan akan melakukan tabiat nya seperti biasa, mencari kepuasan.” gumam Rasya di dalam hatinya.

Drrtt.

Ponsel Jonathan kembali berdering pesan masuk dari sekretaris barunya.

[Pesanan sudah sesuai permintaan, Tuan. Kamar 1205 sudah siap.]

Begitu dia tiba di hotel Viceroy, Jonathan bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam gedung hotel. Langkahnya tegas dan penuh wibawa.

Tangannya terulur membuka pintu kamar hotel itu dengan cardlock yang tadi sudah diberikan resepsionis hotel padanya. Tapi, begitu dia masuk …

Jonathan dibuat terjengkang.

Wanita malam itu berdiri dengan wajah pucat dan tubuh bergetar. Dia mengenakan pakaian seksi, sebuah lingerie tipis berwarna merah, menampilkan belahan dada 36C miliknya yang terbuka. Sembari tersenyum, wanita itu mengangguk ke arah Jonathan.

Jonathan menatapnya dengan kening mengkerut. “Ge-Gea? Kenapa kamu ada di sini?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Rysea
Semangat y Gea..... meski begitu, kamu tetap hebat menjadi seorang ibu yg sangat baik karena rela melakukan apa pun untuk anak perempuan kesayangan mu...
goodnovel comment avatar
rendymhmmd047
wanita akan melakukan apapun demi putrinya ...
goodnovel comment avatar
Tiara
semangat yah gea
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Chapter>90.

    Hening kembali menguasai ruangan itu, hanya menyisakan bunyi bip statis dari monitor jantung yang seolah mengejek keputusasaan Jonathan. Namun, tepat saat Jonathan hendak melepaskan genggamannya untuk membasuh wajah, ia merasakan sesuatu.Sesuatu yang sangat halus. Hampir tidak terasa.Ujung jari manis Gea bergerak sedikit—sebuah kedutan kecil yang nyaris tak kasat mata—menyentuh telapak tangan Jonathan.Jonathan membeku. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. "Gea?" bisiknya, nyaris tak terdengar. "Gea, kamu dengar saya?"Ia tidak berani berkedip. Matanya terpaku pada kelopak mata Gea yang mulai bergetar hebat. Di layar monitor, grafik aktivitas otak yang tadinya landai mulai menunjukkan lonjakan-lonjakan tajam. Suara alarm alat medis mulai berbunyi nyaring, menandakan adanya perubahan mendadak pada ritme tubuh pasien."Dokter! Dr. Sanjaya!" teriak Jonathan tanpa melepaskan tangan Gea.Dr. Sanjaya yang baru saja mencapai pintu segera berlari kembali

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Chapter>89.

    BRENGSEK! LEPASIN GUE SIALAN!" Raungan Selly memecah kesunyian lorong, suaranya serak karena terus memberontak. Tiga pasang tangan kekar mengunci pergelangan dan lengannya, menyeret paksa tubuhnya yang melawan ke tengah ruangan. "JANGAN MAIN-MAIN YA SAMA GUE SETAN! LEPASKAN! LEPASKAN!" Setiap kata terlempar dengan getar kebencian yang murni.Cengkeraman pada lengannya mengeras, seolah berusaha meremukkan tulangnya. Selly meludah, matanya liar mencari celah untuk meloloskan diri, namun sia-sia. Para penjaga itu seolah patung batu tak tergerak.PLAK!Suara tamparan itu begitu nyaring, memantul dari dinding semen yang dingin. Kepala Selly terlempar ke samping, rasa panas dan denyutan seketika menjalar di pipinya. Bintang-bintang kecil seakan meletup di retinanya, dan rasa logam darah memenuhi mulutnya."ANJING!" Selly sontak menjerit, kata umpatan yang tajam itu keluar tanpa sempat ia tahan.Andre, pria bertubuh paling besar dengan rahang persegi, menarik tangannya yang memerah. Matanya

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Chapter>88.

    Di luar ruang perawatan intensif tempat Gea terbaring, Rasya berdiri terpaku di koridor yang sedikit lengang. Udara malam yang sejuk menusuk kulitnya, membawa aroma antiseptik rumah sakit yang kental. Matanya, yang biasanya tajam dan penuh perhitungan, kini memancarkan kecemasan yang tersembunyi. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, cahaya layarnya memantul tipis di wajahnya yang tegang. Ia sedang berbicara dengan salah satu anak buah terpercaya Jonathan."Oke, sekarang nona Selly ada di mana?" desis Rasya, suaranya pelan namun penuh otoritas, khawatir suaranya akan menembus pintu ruang rawat Gea yang kedap."Selly ada sama Andre sekarang, dia sudah diamankan," jawab suara di seberang, nadanya lega bercampur kepastian.Alis Rasya terangkat sedikit. Ini adalah kabar baik yang sudah lama ditunggu tuannya. "Jaga nona Selly! Jangan sampai dia lepas... Tuan sudah benar-benar menunggu hal ini." Ada penekanan kuat pada kata 'lepas', karena Selly adalah kunci dari segala kekacauan yang terjadi

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Chapter>87.

    Dinding putih ruang perawatan VIP itu menjadi saksi bisu atas penantian yang menyiksa. Sudah dua hari sejak insiden mencekam itu, namun Gea masih terperangkap dalam alam bawah sadarnya. Tubuhnya yang biasanya memancarkan aura ceria dan penuh kehidupan, kini terbaring kaku, dikelilingi oleh detak ritmis alat-alat medis yang menjadi penanda rapuh bahwa nyawanya masih ada. Selang infus terpasang di pergelangan tangannya, sementara monitor menampilkan garis-garis elektrokardiogram yang naik turun, menggambarkan perjuangan sunyi di dalam diri gadis itu.Jonathan, sang penguasa yang biasanya dingin dan tak tersentuh, telah berubah menjadi penjaga yang setia dan gelisah. Sejak kemarin, ia praktis menjadikan lorong di depan ruang perawatan Gea sebagai singgasananya. Pakaiannya tampak kusut, dan matanya memerah karena kurang tidur, namun ia tak beranjak. Dokter belum mengizinkannya masuk; larangan itu terasa seperti hukuman yang semakin menggerogoti kesabarannya.Tiba-tiba saja Rasya asiste

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Chapter>86.

    Luka-luka yang menggerogoti sekujur tubuh Gea bukan hanya sekadar cedera fisik; mereka adalah peta penderitaan yang kini membawanya ke jurang kritis. Tiap helai kulitnya, kini diselimuti oleh warna lebam keunguan dan goresan-goresan merah, memancarkan kegetiran yang seolah merasuk ke dalam jiwanya. Nafas Gea, yang sejak tadi tersendat-sendat seakan berjuang melawan hantu yang mencekik, kini tiba-tiba berhenti. Alarm mesin monitor jantung yang semula berdetak stabil berubah menjadi garis lurus nan memekakkan, memicu kepanikan senyap di ruang perawatan intensif itu.Dokter dan perawat sigap bergerak cepat, seolah tersengat listrik. Dengan gerakan terampil, sebuah alat bantu nafas, yang bentuknya dingin dan impersonal, langsung dipasang, menopang paru-paru yang kini terlalu lelah untuk berfungsi. Kini, Gea terbaring di tengah gugusan selang, kabel, dan jarum infus—sebuah patung hidup yang sepenuhnya bergantung pada teknologi medis. Wajahnya pucat pasi, hanya bisa dihiasi oleh kepulan uap

  • CEO AROGAN MENGEMIS CINTAKU    Chapter>85.

    Jonathan merasakan dinginnya tubuh Gea menembus kain tipis kemejanya, dingin yang menyesakkan, jauh lebih menusuk daripada angin malam yang menerpa jendela mobil. Setiap langkahnya, mulai dari ambang pintu gedung tua yang berbau debu dan pengkhianatan, hingga ia memosisikan Gea dengan hati-hati di kursi belakang mobil, terasa seperti mengangkat beban duka yang tak terperikan. Ia tidak lagi peduli pada rasa sakit di punggungnya atau lumpur yang mengotori celananya; satu-satunya fokusnya adalah detak jantung rapuh di dekapannya.Gea. Wajahnya yang biasa cerah kini pucat pasi, seperti porselen yang retak. Di balik kotoran dan noda darah yang samar, kulitnya terlihat transparan. Rambutnya yang seharusnya berkilauan kini lepek dan kusam, menutupi sebagian dari mata yang terpejam damai—kedamaian yang mematikan.Ia memangku tubuh Gea. Posisinya canggung dan menyakitkan, tapi ia tidak akan melepaskannya. Tangan kirinya memeluk pinggang Gea, menopang agar tubuh itu tidak tergelincir, sementara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status