MasukGea sudah pasrah dengan semua nya, demi uang Gea akan rela melakukan apapun.
Tangan kekar Jonathan mulai menarik tali lingerie Gea, mulai melepaskan pakaian tipis itu dari sang pemilik tubuh.
Sementara Gea dibawah kungkungan Jonathan menelan ludahnya kasar, saat melihat tubuh kokoh Jonathan di atasnya.
“Saya akan mencoba kamu malam ini, jika saya merasa puas dengan permainan kamu, maka saya akan terus melanjutkannya! Namun jika permainan kamu buruk, saya akan segera mendepak kamu dari hadapan saya Gea.”
Ucap Jonathan suaranya berat dan serak, tapi matanya tak lepas dari tubuh Gea yang berada dibawah kungkungan.
Gea mengalunkan tangannya pada leher Jonathan, wajahnya tersenyum penuh godaan.
“Main saja dulu pak, baru bapak bisa menilai permainan saya.” bisik Gea lembut tepat di telinga Jonathan.
“Kebetulan punya saya memang sudah menegang.”
Tangan kekar mengusap lembut punggung belakang Gea, sementara lidah panjangnya membasahi cuping telinga Gea. Dengan penuh godaan.
Gea mendesah ketika telinganya dijilat oleh Jonathan.
Gea tak tinggal diam, tangannya terulur melucuti kancing kemeja Jonathan, dan juga membuka resleting celana pria itu.
Kedua nya saling melucuti pakaian satu sama lainnya, sehingga mereka kini sudah tidak memakai apa-apa, tak ada sehelai benang pun di tubuh mereka.
“Saya akan bermain kasar dengan kamu Gea, jadi kamu akan menjerit dibawah kungkungan saya.” suara Jonathan berat dan serak.
“Silahkan saja bapak bermain kasar, lagipula hal-hal kasar sudah sering saya rasakan.” jawab Gea menantang
“Saya tidak akan bertanggung jawab jika milikmu robek.”
“Anda terlalu berlebihan Pak Jonathan! Sudah masukan saja, saya tidak akan masalah jika anda mau bermain kasar ataupun lembut..”
“Oke, kamu lihat ini!”
Jleb!
Tanpa banyak kata—Jonathan langsung segera memasukkan miliknya kedalam milik Gea, Tanpa memberikan kesempatan untuk Gea merilekskan tubuhnya.
Sementara Gea langsung mengerang tertahan ketika benda panjang dan besar itu memenuhi inti tubuhnya dalam satu kali hentakan.
Jonathan memejamkan matanya erat, merasakan milik Gea yang hangat sekaligus menjepit miliknya kuat dari dalam.
Gerangan mereka bersamaan suaranya memenuhi kamar hotel yang sepi itu.
“Rasakan ini Gea! Kamu yang menggoda saya terus untuk bermain dengan kamu, jadi jangan salahkan saya jika saya bermain kasar, karena saya memang tidak pernah suka kelembutan jika bermain ranjang panas.” diucap Jonathan suaranya tajam dan menusuk.
Gea berusaha menahan sakit pada area miliknya, namun walaupun begitu ada rasa nikmat yang baru Gea rasakan kembali, setelah sekian lama Gea tak pernah berhubungan dengan suaminya.
“Permainan anda kurang mahir Pak, lebih cepat,.... ini terlalu pelan temponya.” Ucap Gea seakan menantang kembali Jonathan..Gea sengaja mengatakan hal itu, agar Jonathan merasa diremehkan oleh Gea.
Satu hal. Jonathan paling tidak suka ada orang lain yang meremehkan permainan ranjangnya.
“Sialan kamu Gea—Fuck!” Jonathan tak tinggal diam, ia menambahkan tempo gerakan pinggulnya lebih cepat.
Jonathan tidak terima jika Gea merendahkan permainan ranjangnya ini, apalagi Jonathan dijuluki sebagai penguasa ranjang panas.
Kepala milik Jonathan sudah masuk dengan sempurna—menggesekan sebentar sebelum tempo maju mundur bertambah lebih cepat.
“Sialan! Pak Jonathan sangat kuat, ternyata dia tidak pernah bermain-main dengan ucapan nya, ini sakit—Ta-tapi juga nikmat.” Gea meracau di dalam hatinya. Ingin sekali tangan Gea mencengkram seprai kasur hotel ini dengan kencang, tapi hal itu tidak bisa Gea lakukan.
Gea meringis kecil, namun setelah itu kembali terlihat biasa..
”Aku harus bisa mengendalikan ekspresi wajahku, jika aku terlihat kesakitan, pak Jonathan akan meremehkan aku.” gumamnya dalam hati.
“Ahhhhh—Gea kamu cukup nikmat—Shhhh” Jonathan tak hanya bermain maju mundur, tetapi tangan nya juga bermain, menjambak rambut panjang Gea.
“Sakit?” tanya Jonathan sambil tersenyum miring kepada Gea.
“Tidak sama sekali! Jika ini sakit mungkin saja saya sudah menangis Pak. Bukan kah ini nikmat? Saya suka permainan bapak.” celetuk Gea berusaha terus mempertahankan wajah seksi nya dan tatapan menggoda itu kepada Jonathan.
“Saya akan menambahkan tempo buat kamu Gea, kalau ini belum juga menembus relung jantung kamu..” ucap Jonathan horor.
Gea menggigit bibir nya nakal, matanya menggulir ke atas seakan merasa keenakan. Padahal jauh dari kata itu, milik Gea rasanya ingin robek oleh milik Jonathan yang cukup besar dan padat ini.
.
Hentakan kedua jauh lebih dalam dan begitu cepat maju mundur gerakan pinggul Jonathan.
“Ahh—sshhh!!” di kamar kedap suara hotel ini. Jonathan terdengar terus mengerang nikmat penuh rasa nafsu.
“Nikmat sekali bukan. Pak? Saya ini kuat, permainan ini sudah biasa buat saya.”
Mulut Gea berkata seperti itu, tangannya Gea tak tinggal diam, mencakar punggung besar Jonathan dengan kuku-kukunya yang tajam.
Punggung belakang Jonathan seketika menjadi merah-merah oleh kuku tajam Gea.
“Cium saya dan sebut nama saya Gea—Ahhhh!” erangan kuat Jonathan memangkas di setiap sisi kamar hotel, barang yang ada di kamar hotel ini, menjadi saksi permainan panas mereka berdua.
Gea cepat melakukan perintah Jonathan, kepalanya condong ke depan dan mencium bibir pria itu.
“Pak Jonathan!” desah Gea kenikmatan.
“Jangan panggil saya dengan sebutan formal, gea. Panggil saya Jonathan!”
“Jonathan ini sangat lah nikmat—tambah lagi kecepatannya, Pak sa-saya hampir sampai, sudah mau keluar.”
Jonathan menyeringai miring mendengar permintaan nakal Gea.
“Jangan keluarkan sekarang Gea. Sebelum saya sampai!”
Jonathan menunduk, dan menyatukan bibirnya dengan bibir Gea. Ia melumat bibir Gea dengan sangat kasar. Begitu juga sebaliknya.
Tangan Jonathan yang kekar dan penuh bisep otot yang besar, mencengkram leher Gea. Untuk memperdalam ciuman brutal ini.
Gea memeluk pinggang Jonathan, agar penyatuan mereka semakin dalam.
“Pak jangan berhenti..” bisik Gea suaranya serak, mata nya mengerling Keenakan.
“Tidak ada kata berhenti, sebelum saya menyudahi permainan ini Gea!”
“Gea—Fuckk!! Aaaahhhhh!!—Brengseng ini begitu nikmat Gea!”
Di tengah hentakan pinggul yang semakin dalam dan menusuk, desahan kasar dan deru nafas keduanya memenuhi ruangan kamar hotel ini. Decikan permainan mereka terdengar berisik dan memenuhi setiap sudut kamar hotel.
Dua tubuh itu menyatu, semakin liar dan semakin memabukkan.
Kasur hotel bergoyang seirama dengan permainan panas dan gila mereka.
PRANG!!
Permainan ranjang panas mereka berdua sangat lah gila. Bahkan gelas kaca yang berada di meja nakas, sampai tertendang oleh kaki keduanya yang sudah kemana saja.
Tetapi pecahan gelas kaca itu tidak mereka pedulikan, kini mereka terus bermain tanpa henti.
“Pak saya ingin keluar!” bisik Gea merasa tak tahan, dan tangan Gea semakin membabi buta mencakar punggung belakang Jonathan.
“Tahan Gea…Kita akan keluar bersama!” jawab Jonathan semakin kencang maju mundurnya.
Keringat sudah membanjiri setiap inci tubuh keduanya.
“Ah!!!”
Lahar hangat itu mulai menyembur dari Jonathan, mengalir deras ke dalam tubuh Gea yang terbuka dan penuh gairah.
Suara desahan mereka memenuhi ruangan sempit kamar hotel Viceroy, bergema seperti irama liar yang tak bisa dihentikan.
Gea menggenggam sprei dengan erat, tubuhnya bergetar mengikuti hentakan Jonathan yang semakin dalam dan kuat. Matanya terpejam rapat, bibirnya terkepal menahan sensasi yang membakar hingga ke ujung saraf.
Jonathan pun tak kalah, wajahnya berubah menjadi penuh tekad dan nafsu, keringat membasahi dahinya saat ia terus menggenggam pinggang Gea, menyatu tanpa sisa.
Getaran di dalam tubuh mereka menyatu, menciptakan gelombang kenikmatan yang membuncah tanpa kendali.
Ruangan yang tadinya hening kini penuh oleh aroma gairah dan desahan yang beradu, tanda kedua jiwa yang saling melepaskan segala beban dan keraguan di momen pelepasan terakhir ini.
Hening kembali menguasai ruangan itu, hanya menyisakan bunyi bip statis dari monitor jantung yang seolah mengejek keputusasaan Jonathan. Namun, tepat saat Jonathan hendak melepaskan genggamannya untuk membasuh wajah, ia merasakan sesuatu.Sesuatu yang sangat halus. Hampir tidak terasa.Ujung jari manis Gea bergerak sedikit—sebuah kedutan kecil yang nyaris tak kasat mata—menyentuh telapak tangan Jonathan.Jonathan membeku. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. "Gea?" bisiknya, nyaris tak terdengar. "Gea, kamu dengar saya?"Ia tidak berani berkedip. Matanya terpaku pada kelopak mata Gea yang mulai bergetar hebat. Di layar monitor, grafik aktivitas otak yang tadinya landai mulai menunjukkan lonjakan-lonjakan tajam. Suara alarm alat medis mulai berbunyi nyaring, menandakan adanya perubahan mendadak pada ritme tubuh pasien."Dokter! Dr. Sanjaya!" teriak Jonathan tanpa melepaskan tangan Gea.Dr. Sanjaya yang baru saja mencapai pintu segera berlari kembali
BRENGSEK! LEPASIN GUE SIALAN!" Raungan Selly memecah kesunyian lorong, suaranya serak karena terus memberontak. Tiga pasang tangan kekar mengunci pergelangan dan lengannya, menyeret paksa tubuhnya yang melawan ke tengah ruangan. "JANGAN MAIN-MAIN YA SAMA GUE SETAN! LEPASKAN! LEPASKAN!" Setiap kata terlempar dengan getar kebencian yang murni.Cengkeraman pada lengannya mengeras, seolah berusaha meremukkan tulangnya. Selly meludah, matanya liar mencari celah untuk meloloskan diri, namun sia-sia. Para penjaga itu seolah patung batu tak tergerak.PLAK!Suara tamparan itu begitu nyaring, memantul dari dinding semen yang dingin. Kepala Selly terlempar ke samping, rasa panas dan denyutan seketika menjalar di pipinya. Bintang-bintang kecil seakan meletup di retinanya, dan rasa logam darah memenuhi mulutnya."ANJING!" Selly sontak menjerit, kata umpatan yang tajam itu keluar tanpa sempat ia tahan.Andre, pria bertubuh paling besar dengan rahang persegi, menarik tangannya yang memerah. Matanya
Di luar ruang perawatan intensif tempat Gea terbaring, Rasya berdiri terpaku di koridor yang sedikit lengang. Udara malam yang sejuk menusuk kulitnya, membawa aroma antiseptik rumah sakit yang kental. Matanya, yang biasanya tajam dan penuh perhitungan, kini memancarkan kecemasan yang tersembunyi. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, cahaya layarnya memantul tipis di wajahnya yang tegang. Ia sedang berbicara dengan salah satu anak buah terpercaya Jonathan."Oke, sekarang nona Selly ada di mana?" desis Rasya, suaranya pelan namun penuh otoritas, khawatir suaranya akan menembus pintu ruang rawat Gea yang kedap."Selly ada sama Andre sekarang, dia sudah diamankan," jawab suara di seberang, nadanya lega bercampur kepastian.Alis Rasya terangkat sedikit. Ini adalah kabar baik yang sudah lama ditunggu tuannya. "Jaga nona Selly! Jangan sampai dia lepas... Tuan sudah benar-benar menunggu hal ini." Ada penekanan kuat pada kata 'lepas', karena Selly adalah kunci dari segala kekacauan yang terjadi
Dinding putih ruang perawatan VIP itu menjadi saksi bisu atas penantian yang menyiksa. Sudah dua hari sejak insiden mencekam itu, namun Gea masih terperangkap dalam alam bawah sadarnya. Tubuhnya yang biasanya memancarkan aura ceria dan penuh kehidupan, kini terbaring kaku, dikelilingi oleh detak ritmis alat-alat medis yang menjadi penanda rapuh bahwa nyawanya masih ada. Selang infus terpasang di pergelangan tangannya, sementara monitor menampilkan garis-garis elektrokardiogram yang naik turun, menggambarkan perjuangan sunyi di dalam diri gadis itu.Jonathan, sang penguasa yang biasanya dingin dan tak tersentuh, telah berubah menjadi penjaga yang setia dan gelisah. Sejak kemarin, ia praktis menjadikan lorong di depan ruang perawatan Gea sebagai singgasananya. Pakaiannya tampak kusut, dan matanya memerah karena kurang tidur, namun ia tak beranjak. Dokter belum mengizinkannya masuk; larangan itu terasa seperti hukuman yang semakin menggerogoti kesabarannya.Tiba-tiba saja Rasya asiste
Luka-luka yang menggerogoti sekujur tubuh Gea bukan hanya sekadar cedera fisik; mereka adalah peta penderitaan yang kini membawanya ke jurang kritis. Tiap helai kulitnya, kini diselimuti oleh warna lebam keunguan dan goresan-goresan merah, memancarkan kegetiran yang seolah merasuk ke dalam jiwanya. Nafas Gea, yang sejak tadi tersendat-sendat seakan berjuang melawan hantu yang mencekik, kini tiba-tiba berhenti. Alarm mesin monitor jantung yang semula berdetak stabil berubah menjadi garis lurus nan memekakkan, memicu kepanikan senyap di ruang perawatan intensif itu.Dokter dan perawat sigap bergerak cepat, seolah tersengat listrik. Dengan gerakan terampil, sebuah alat bantu nafas, yang bentuknya dingin dan impersonal, langsung dipasang, menopang paru-paru yang kini terlalu lelah untuk berfungsi. Kini, Gea terbaring di tengah gugusan selang, kabel, dan jarum infus—sebuah patung hidup yang sepenuhnya bergantung pada teknologi medis. Wajahnya pucat pasi, hanya bisa dihiasi oleh kepulan uap
Jonathan merasakan dinginnya tubuh Gea menembus kain tipis kemejanya, dingin yang menyesakkan, jauh lebih menusuk daripada angin malam yang menerpa jendela mobil. Setiap langkahnya, mulai dari ambang pintu gedung tua yang berbau debu dan pengkhianatan, hingga ia memosisikan Gea dengan hati-hati di kursi belakang mobil, terasa seperti mengangkat beban duka yang tak terperikan. Ia tidak lagi peduli pada rasa sakit di punggungnya atau lumpur yang mengotori celananya; satu-satunya fokusnya adalah detak jantung rapuh di dekapannya.Gea. Wajahnya yang biasa cerah kini pucat pasi, seperti porselen yang retak. Di balik kotoran dan noda darah yang samar, kulitnya terlihat transparan. Rambutnya yang seharusnya berkilauan kini lepek dan kusam, menutupi sebagian dari mata yang terpejam damai—kedamaian yang mematikan.Ia memangku tubuh Gea. Posisinya canggung dan menyakitkan, tapi ia tidak akan melepaskannya. Tangan kirinya memeluk pinggang Gea, menopang agar tubuh itu tidak tergelincir, sementara







