LOGIN“Lala, kamu periksa keadaan Sarah ya. Ibu benar-benar khawatir sama dia,” ucap Bu Nining. “Iya, Bu.” Lala perlahan bangkit dari duduknya, meski tubuhnya terasa berat. Gemetar itu belum sepenuhnya reda—bekas ulah Aran yang masih tersisa di nadinya. “Kamu kenapa? Masih lemas?” tanya Sarah heran. Lala hanya tersenyum tipis. Sekilas pandangannya melirik Aran. Pria itu tampak biasa saja, seolah tak pernah melakukan apa pun. Wajahnya tenang, terlalu tenang. “Kita periksa di kamar saja,” kata Lala akhirnya. “Ibu bantu ya,” sahut Bu Nining sambil menggenggam tangan Sarah dan membawanya ke kamar. Lala berniat segera menyusul, tapi tiba-tiba lengannya ditahan. Seketika napasnya tercekat. Sebelum sempat bereaksi, Aran sudah mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di atas meja. “Kak?!” Lala terkejut, suaranya nyaris tak keluar. “Nanti di puskesmas, jangan dekat-dekat dengan Kala,” ucap Aran tegas. “Itu urusan aku,” balas Lala, menahan gemetar. “Berani kamu sama aku?” nada
“Ya ampun, aku lupa bawa baju lagi. Gimana dong? Kalau aku keluar begini,” Lala memperhatikan dirinya yang hanya berbalut handuk. “Bisa-bisa ketemu Kak Aran, bisa berabe,” gumamnya bingung. Tapi ia tak mungkin terus berada di kamar mandi lebih lama. Tubuhnya sudah terlalu lemah untuk berdiri lama. Akhirnya, Lala membuka pintu perlahan dan mengintip lewat celahnya. “Lala,” panggil Bu Nining yang kebetulan melihatnya. “Bu, Lala lupa bawa pakaian,” katanya sambil tersenyum kecut. “Aduh, pasti karena kamu sudah biasa pakai kamar mandi sendiri, ya? Ya sudah, sekarang kamu langsung saja ke kamar sana, nggak apa-apa,” ujar Bu Nining. “Nggak enak, Bu, kalau ada Kak Aran,” kata Lala ragu. “Nggak akan. Dia lagi di kamar, ngompres istrinya yang sakit,” jawab Bu Nining santai. Bles. Hati Lala terasa perih. Cemburu itu nyata, dan menyakitkan. Bagaimanapun juga, Aran bukan miliknya. Meski ada calon Aran kecil yang kini tumbuh di rahimnya. “Ya sudah, Lala ke kamar dulu ya, Bu
Pagi harinya, Lala terbangun dengan tubuh terasa lebih baik. “Han, bukain infus aku ya. Nanti antibiotiknya bisa disuntik aja,” kata Lala. “Iya,” jawab Hani sambil langsung melepaskannya. Tak lama kemudian, Bu Nining masuk untuk melihat keadaan Lala. “Lala, Hani,” panggilnya lembut. “Kok infusnya dibuka?” tanyanya heran. “Lala udah enakan, Bu,” jawab Lala. “Syukurlah. Ibu sudah masak, mau ibu antarin ke sini?” tawar Bu Nining. “Enggak usah, Bu. Lala makannya di meja makan aja. Kita sarapan sama-sama. Lala juga mau mandi dulu,” ucap Lala tak enak hati selalu merepotkan Bu Nining yang sangat baik. “Baiklah,” kata Bu Nining sambil tersenyum. “Ibu mau bangunin Sarah dulu. Dia juga lagi kurang enak badan. Ibu berharap dia hamil.” Deg. Lala hanya bisa tersenyum mendengarnya. Padahal hatinya sesak, tapi sesaat kemudian ia sadar bahwa Sarah adalah istri Aran. Tapi hatinya terasa sakit saat memikirkan Aran menyentuhnya dengan cinta. “Atau kamu bisa periksa dia?” tanya
Aran pergi ke kota untuk mengurus penerimaan warisan keluarga. Bu Nining, ibunya, adalah putri tunggal yang dulu terpaksa terusir akibat kekejaman ibu tirinya. Bertahun-tahun hidup terbuang dari haknya sendiri, hingga akhirnya kebenaran itu kembali terbuka. Setelah sepupunya menuntut pengembalian aset yang telah dirampas. Kini, sebagai satu-satunya anak kandung, Bu Nining berhak penuh atas warisan tersebut. Namun karena usianya dan kondisi kesehatannya, semua pengurusan itu jatuh ke tangan Aran. Setelah urusannya selesai, Aran segera kembali ke kampung. Ia tak peduli betapa melelahkannya perjalanan yang memakan waktu berjam-jam itu. Di sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi oleh satu nama. Lala. Bahkan ketika mobil melaju di tengah gelap malam, bayangan wajah pucat Lala tak kunjung pergi dari benaknya. Infus. Tatapan kosong. Tubuh rapuh yang tetap berusaha terlihat kuat. Ia mengepalkan tangannya di atas paha. Perasaan bersalah, posesif, dan takut kehilangan berca
“Nanti malam aku temani tidur. Sekarang aku harus ke Jakarta, aku ada urusan,” ucap Aran, lalu turun dari ranjang. Lala hanya diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bahkan untuk menatap Aran saja ia sudah malas. Namun gilanya, ada bagian dalam dirinya yang justru menginginkan tangan Aran kembali menyentuh perutnya. Ini gila. Tiba-tiba Aran berjongkok, membuat posisinya sejajar dengan Lala. “Kamu mau aku bawakan apa?” tanyanya lembut. Lala menggeleng pelan. “Nanti aku bawakan makanan kesukaan kamu,” kata Aran lagi. Cupp. Ia mengecup kening Lala, lalu pergi meninggalkan kamar. Hani segera melangkah mendekat. Ia duduk di sisi ranjang, meraih botol air mineral di atas meja, lalu meneguknya sampai habis. “Dari tadi aku hampir mati, tau nggak?” keluh Hani. “Aku udah nggak kuat berdiri.” “Lho, kenapa begitu?” tanya Bu Nining yang tiba-tiba masuk dan mendengar ucapan Hani. Hani terkejut. Seketika ia gugup, bingung harus menjawab apa. Tak mungkin ia mengatakan ap
Gagang pintu tiba-tiba bergerak, dan dalam sekejap Aran meloncat keluar lewat jendela. “Lala, kamu kenapa?” tanya Bu Nining yang mendadak masuk ke kamar. Lala terkejut. Pandangannya refleks mengarah ke jendela. Ia bingung bagaimana Aran bisa tahu kedatangan Bu Nining dan melarikan diri secepat itu. Namun di balik keterkejutannya, ada rasa lega karena Bu Nining tidak melihat keberadaan Aran di kamar ini. Meski begitu, tatapan penasaran Bu Nining tak bisa ditepis. “Ini kenapa? Kenapa kamar ini berantakan?” tanyanya sambil melangkah mendekati Lala. Lala bingung harus menjawab apa. Mustahil baginya mengatakan bahwa Aranlah penyebab semua ini. “Lala?” panggil Bu Nining lagi. Lala tetap diam, pikirannya kosong. “Tadi ibu dengar kamu bicara. Sama siapa?” Bu Nining terus bertanya. Jantung Lala berdegup kencang, dadanya sesak. Ia benar-benar tak tahu harus menjawab apa. “Tadi ada kucing masuk lewat jendela, Bu. Kucingnya ngamuk,” sahut Aran tiba-tiba dari arah pintu.







