Share

Bab 56

Author: Ipak Munthe
last update Last Updated: 2026-01-05 09:28:00

Lalu Aran menarik tengkuk Lala perlahan dan melumat bibirnya.

Lala membalas. Tanpa ragu. Tanpa pikir panjang. Ia menikmatinya—bahkan menyadari betapa ia mendambakan sentuhan itu. Seolah seluruh penolakannya sejak tadi runtuh hanya oleh satu kecupan.

Namun belum sempat napas mereka benar-benar menyatu, suara ponsel Aran berdering.

Getarannya terasa nyata di antara mereka.

Aran membuka mata lebih dulu. Tangannya terhenti. Bibirnya menjauh.

Lala ikut melirik layar yang menyala.

Istriku.

Nama itu terpampang jelas.

Dada Lala seketika terasa sesak. Ada rasa nyeri yang menjalar cepat, menampar kesadarannya dengan kejam. Sakit—tapi ia tak bisa menyangkal kebenarannya.

Wanita itu memang pemiliknya.

Pemilik Aran.

Lelaki yang barusan berkata mencintainya.

Aran menatap layar itu beberapa detik terlalu lama. Ekspresinya berubah, antara ragu dan bersalah. Lala bisa merasakannya, bahkan tanpa perlu menatap wajahnya.

“Angkat aja,” ucap Lala pelan, suaranya nyaris tak terdeng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 60

    “Padahal aku udah siap, lho, Mas,” kata Sarah sambil tersenyum malu. Gaun tidur yang tipis sudah menjelaskan seharusnya apa yang akan terjadi diantara mereka berdua. Lala menahan napas. Dadanya terasa sesak. Ternyata benar—ia hanya figuran, berdiri nyata di antara dua orang yang sudah punya masa depan masing-masing. “Kamu mau aku buatkan?” tanya Aran pada Sarah. “Mau dong,” jawab Sarah cepat. Tawaran itu terdengar sederhana, tapi terasa sangat berharga. Sarah meraih lengan Aran dan memeluknya manja. Aran perlahan melepaskan diri, masih menjaga sikap. “Kamu duduk di sini, aku buatkan,” katanya sambil bangkit. “Iya,” sahut Sarah ringan. Aran melirik ke arah Lala. Saat mengambil mi instan, ia masih sempat mengecup dahi Lala singkat—terlalu singkat untuk disebut perhatian, terlalu dalam untuk diabaikan. Lalu ia melangkah ke arah kompor. Namun Sarah ikut mendekat. Tanpa ragu, ia memeluk Aran dari samping. “Mas, kita nggak nunda punya anak, kan?” tanyanya lembut, manja.

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 59

    “Maafin aku, ya,” kata Aran lagi. Ada sesuatu yang terasa berbeda dari Lala malam itu. Hatinya menangkap kejanggalan itu, tapi Aran tak tahu apa penyebabnya—dan ia tak berani menebak terlalu jauh. “Kamu mau dipeluk?” tanya Aran kemudian, teringat permintaan Lala sebelumnya. Nadanya kini lebih hati-hati. Lala hanya diam, menatap Aran beberapa detik terlalu lama. Ada kebingungan di wajahnya sendiri. Ia pun tak mengerti kenapa bisa meminta hal yang terdengar begitu kekanak-kanakan. “Enggak, Kak,” ucapnya akhirnya sambil memalingkan wajah. “Tadi Lala nggak serius kok.” Itu bohong. Dan Aran merasakannya—tapi memilih tak membongkar kebohongan kecil itu. Malam kembali sunyi, menyisakan dua orang yang sama-sama menyimpan sesuatu di dalam hati, dengan cara yang berbeda. Aran bingung tapi menahan diri untuk bertanya, dan Lala bingung dengan ucapan sendiri, dengan keinginannya yang mungkin terasa konyol. “Kamu yakin?” tanya Aran, memastikan. “Maksud Kakak, aku bohong?” balas

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 58

    “Kak, boleh minta disuapin nggak?” tanya Lala pelan. Aran mengangkat sebelah alisnya, sedikit bingung. Selama ini, Lala tak pernah suka disuapi siapa pun. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Lala sudah lebih dulu menunduk, mengira Aran menolak. “Boleh ya, Kak,” ucap Lala lagi, kali ini dengan nada memohon. Aran mengangguk pelan. Ia membawa mi instan ke meja makan, lalu duduk bersebelahan dengan Lala. Dengan sabar, Aran menyuapinya—bahkan meniup setiap suapan terlebih dahulu, memastikan makanan itu tak terlalu panas sebelum masuk ke mulut Lala. Lala menikmati makanannya perlahan. Entah karena rasanya, atau karena cara Aran menyuapinya dengan penuh perhatian. Ada kehangatan yang menyelinap diam-diam, bukan hanya mengenyangkan perutnya, tapi juga hatinya. Ini bukan sekadar soal lapar, melainkan tentang keinginan untuk selalu bersama. Duduk di sisi Aran, Lala merasa lebih tenang—kehadiran itu membuatnya merasa ditemani, tidak lagi sendirian. “Kenapa kamu mau disuapin? Bukan

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 57

    Sarah teringat kejadian kemarin, saat ia pergi bersama Aran. Di tengah perjalanan, Aran tiba-tiba menepikan mobil karena bertemu teman lamanya. Aran turun dan tampak berbincang cukup lama. Sarah yang masih duduk di dalam mobil mulai merasa jenuh. Dengan iseng, tangannya membuka dasbor mobil Aran. Di sana ia menemukan sebuah kotak kecil. Sarah mengambilnya, lalu membukanya perlahan. Ternyata sebuah kotak musik. Bibirnya langsung tersenyum. Ia sangat menyukainya dan tanpa ragu yakin, Aran membelinya untuk dirinya. Dengan hati berbunga, Sarah mengembalikan kotak musik itu ke dalam dasbor. Ia berpura-pura tidak tahu, memilih menunggu momen romantis ketika Aran akan memberikannya sendiri. Namun sore ini, Sarah justru melihat kotak musik itu berada di tangan Lala. Dadanya seketika mengencang. Apakah Lala yang menemukannya lebih dulu? Atau ia menyukainya lalu memintanya pada Aran? Ataukah Aran… memang memberikannya untuk Lala? “Kotak musik itu memang punya Nona Lala. Ak

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 56

    Lalu Aran menarik tengkuk Lala perlahan dan melumat bibirnya. Lala membalas. Tanpa ragu. Tanpa pikir panjang. Ia menikmatinya—bahkan menyadari betapa ia mendambakan sentuhan itu. Seolah seluruh penolakannya sejak tadi runtuh hanya oleh satu kecupan. Namun belum sempat napas mereka benar-benar menyatu, suara ponsel Aran berdering. Getarannya terasa nyata di antara mereka. Aran membuka mata lebih dulu. Tangannya terhenti. Bibirnya menjauh. Lala ikut melirik layar yang menyala. Istriku. Nama itu terpampang jelas. Dada Lala seketika terasa sesak. Ada rasa nyeri yang menjalar cepat, menampar kesadarannya dengan kejam. Sakit—tapi ia tak bisa menyangkal kebenarannya. Wanita itu memang pemiliknya. Pemilik Aran. Lelaki yang barusan berkata mencintainya. Aran menatap layar itu beberapa detik terlalu lama. Ekspresinya berubah, antara ragu dan bersalah. Lala bisa merasakannya, bahkan tanpa perlu menatap wajahnya. “Angkat aja,” ucap Lala pelan, suaranya nyaris tak terdeng

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 55

    “Maaf,” kata Aran akhirnya, memilih mengalah. Apalagi wajah Lala terlihat semakin pucat. Lala pun bersandar di kursinya dan menatap ke luar jendela. Pemandangan alam begitu indah dan damai, bertolak belakang dengan hatinya yang kacau. Dalam hati, Lala bertanya-tanya. Kenapa mencintai harus sesakit ini? Kenapa ketika cinta itu bukan miliknya, ia justru dihadapkan pada kehadiran calon bayi di rahimnya? Haruskah ia bersedih atau justru bahagia? “Lala,” panggil Aran akhirnya. Namun Lala hanya diam. Bahkan setelah Aran merenggut kesuciannya, lelaki itu tak pernah benar-benar bertanggung jawab. Lalu bagaimana jika ia tahu tentang kehamilan ini? Pikiran-pikiran buruk terus menari di kepalanya. Hidupnya semakin kacau akibat keputusan nekat yang ia ciptakan sendiri. “Lala, aku janji nggak akan bentak kamu lagi. Tapi kamu nurut sama aku, ya,” pinta Aran. Kali ini Lala menoleh. Matanya berkaca-kaca, dan pemandangan itu entah kenapa membuat dada Aran terasa sesak. “Sayang, j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status