تسجيل الدخولPagi harinya, seperti biasa Yasmin di sibukan dengan rutinitas paginya menyiapkan sarapan dan memastikan ketiga orang tersayangnya sudah bersiap dengan rapi.
Di meja makan sudah tersaji semangkuk besar nasi goreng dan tak lupa telor ceplok kesukaan semua orang. Yasmin tengah mengaduk kopi hitam milik suaminya ketika Angga datang, lalu duduk di kursi biasanya. Wajahnya seperti biasa ... Datar. "Kopinya, Mas." Yasmin menaruh cangkir kopi di hadapan Angga, lalu mengisi piring pria yang hampir berkepala empat itu dengan nasi goreng. "Cukup." ucap Angga, sambil mengangkat tangannya ke udara. "Ooh, oke." Yasmin kembali menyimpan sutil ke mangkuk nasi, lalu melepas apron pink yang sejak tadi melekat di tubuhnya. "Aku lihat anak-anak dulu," "Hemmmm." gumam Angga sambil menyeruput kopinya. Yasmin berusaha menarik sudut bibirnya, lalu memilih beranjak pergi dari sana untuk mengecek putra-putri kesayangannya. Yasmin menaiki anak tangga satu persatu, lalu menuju ke kamar Bianca terlebih dahulu. Ceklek. Yasmin perlahan mendorong pintu kamar putrinya, senyumnya langsung membentuk sempurna ketika melihat Bianca sudah siap dengan seragam sekolahnya. "Sudah siap, sayang?" tanya Yasmin, seraya mendekat. Gadis kecil manis itu menoleh, lalu tersenyum menampakan gigi gingsulnya. "Udah, Bun. Lagi siapin buku," "Uhhh ... Rajinnya anak Bunda," dengan sayang, Yasmin membelai rambut halus Bianca yang sudah tersisir rapih. "Turun yuuk, sarapan. Ayah udah nunggu," Bianca mengangguk, lalu mencangkol tasnya di punggung. "Yuuk!" "Kakak duluan, Bunda mau panggil dulu adek." ucap Yasmin, yang di angguki Bianca. Gadis kecil itu berlalu melewati Yasmin, keluar dari kamarnya. Sementara Yasmin ke kemar putranya terlebih dahulu–Brayan. Dan seperti dugaannya, jagoannya juga sudah siap sengan seragam sekolahnya dan tas yang sudah terpasang rapi di punggungnya. "Kita sarapan ke bawah, yuuk!" ajak Yasmin, tersenyum hangat menulurkan tangannya kepada sang putra. "Iya, Bun." Brayan mengangguk, menghampiri Yasmin, lalu meraih tangan Yasmin. Keduanya pun berjalan bersama meninggalkan kamar Brayan, menuju ruang makan yang sudah di tunggu sang kepada keluarga. Ke empatnya makan dalam diam, hanya suara sendok dan garpu yang menjadi pemecah keheningan di ruang makan yang tak terlalu luas itu. "Kalian sudah selesai?" tanya Angga, menatap putra-putrinya bergantian. Keduanya mengangguk bersamaan, lalu turun dari kursinya Masing-masing. "Bunda, kami pamit dulu." pamit Bianca lalu di ikuti sang adik di belakang. "Iyaa, sayaang ... Hati-hati, belajar yang benar supaya pintar," Pesan Yasmin, lalu mencium pipi keduanya bergantian. Yasmin mengantar kepergian mereka hingga ke teras depan, suaminya sudah berada di balik kemudi. Lalu anak-anaknya masuk di kursi belakang. "Mas, nanti siang mau di masakin apa?" tanya Yasmin, sedikit membungkukkan tubuhnya. Menatap Angga lewat jendela mobil. "Seperti biasa saja." balasnya datar. "Iyaa," meski kecewa, Yasmin tetap mengulas senyum terbaiknya. "Mamah, kita berangkat!!" teriak anak-anaknya, sambil melambaikan tangan. "Iyaa, Hati-hati sayang. Nanti Mamah jemput," Yasmin mundur satu langkah saat melihat Angga menarik persneling. Bruum. Mobil sedan hitam itu berlahan melaju meninggalkan pekarangan rumah dua lantai itu, meninggalkan Yasmin yang tengah memeluk dirinya sendiri. "Entah kapan, aku bisa menerima kecupan dari kamu, Mas ..." gumamnya, air matanya jatuh tanpa bisa di tahan. "Apa pengorbanan aku selama ini belum cukup meluluhkan hati kamu ...?" "Aku lelah ...." "Aku harus menyerah atau terus berjuang?" Yasmin menunduk, menghapus air matanya dengan kasar. Menarik napas sejenak, setelah di rasa sesaknya berkurang, ia pun berbalik masuk kedalam rumahnya yang selalu sunyi. *** Setelah mengantar kepergian suami dan anaknya, yasmin melanjutkan pekerjaan rumah yang belum ia kerjakan. Memang ... rumah lumayan hanya ia yang mengerjakannya, sebab Angga tidak terlalu suka ada orang asing di rumahnya. Setelah selesai dengan pekerjaan rumah, yasmin beranjak menuju ke arah dapur. Menyiapkan makan siang untuk suaminya. "Oke, kita masak masakan kesukaan mas Angga dulu." Ayam kecap dan sayur lodeh, menjadi menunya hari ini, tak lupa ... Rempeyek kesukaan Angga jangan sampai terlewat. Tak berselang lama, Yasmin menatap puas hasil masakannya. "Akhirnya selesai juga," "Mandi dulu kali yaa, ahh gerahnya ..." ujarnya, sambil menyeka keringat di pelipisnya. Ia pun beranjak menuju kamarnya, untuk mandi sekaligus bersiap mengantarkan makan siang untuk Angga. Mengambil handuk yang tergantung di lemari wardrobenya lalu menuju ke arah kamar mandi. Yasmin mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya. Kemudian berjalan menuju ke arah cermin besar yang terpajang di kamar mandi. Ia memandang tubuh polosnya dibalik cermin tersebut. Kulitnya yang putih ibarat batu pualam, sangat kontras dengan ruangan kamar mandi yang bercat hijau tosca. Tubuhnya yang mulus ibarat poselen, ditunjang dengan aset bagian atas yang membusung dengan indah seperti gunung. Walaupun Yasmin sudah memiliki anak, tapi aset bagian atasnya tetap kencang seperti ABeGe. Bolehkah ia merasa bangga? "Kamu sangat cantik, Yasmin ... Namun sayang, semuanya tak ada artinya di mata suamimu," ucapnya dengan nada getir. Setelah puas memandangi dan mengagumi bentuk tubuhnya, Yasmin berjalan menuju ke arah shower. Setelah mengatur suhunya menjadi hangat, Yasmin mendekatkan tubuhnya tepat dibawah guyuran air hangat yang keluar dari shower. Rambutnya yang hitam dan panjang langsung basah seketika, Yasmin merasakan tubuhnya menjadi rileks. mengambil sabun cair dan mulai menggosok seluruh tubuhnya dengan bantuan spoon. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba hasratnya mulai bangkit akibat gesekan spoon dengan permukaan kulit mulusnya. Tubuhnya beberapa kali menggeliat seiring dengan intensnya ia menggosok tubuhnya, apalagi ketika ia menggosok tepat dibagian sensitifnya. Memang selama ini ia berusaha menahan hasrat itu sendirian, lantaran sang suami sudah tidak pernah memberikan nafkah bathin kepadanya. Entah apa yang kurang dari dirinya, ia belum bisa membuat mata suaminya tertuju padanya. Hangatnya air shower membuat Yasmin semakin dibakar api Ga!rah, Yasmin semakin intens menggosok bagian sensitifnya. Er4ngan dan r!nt!han lolos dari bibir tipisnya, spoonnya sudah terjatuh sedari tadi. Namun, gerakan tangan Yasmin malah semakin aktif menjelajahi tubuhnya sendiri. Mulai dari menggosok, mer3mas, mencubit bagiannya yang sensitif, Yasmin semakin kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Hingga tanpa sadar ia memainkan area intimnya, memasukan dua jarinya sambil menyebut nama sang suami dengan lirih. "Aahhhh, mas Angga ...." Perasaan yang selama ini ia rindukan mulai ia rasakan kembali, darahnya berdesir ketika tangannya mulai bergerak maju mundur. Walaupun hanya dengan tangannya sendiri, Yasmin menemukan kenyamanan yang selama ini tidak diberikan oleh suaminya. Bibir tipisnya kembali meracau, menyebut nama suami yang sudah tidak bisa memanjakannya di ranjang. Hingga beberapa waktu berlalu, tubuh Yasmin bergetar hebat, ia tersentak ketika Cairan cintanya menyembur begitu banyak. Lembahnya berkedut, nafasnya terengah-engah seperti habis lari marathon. Namun wajah cantik Yasmin terlihat begitu berbinar, hasrat yang selama ini ia pendam akhirnya tersalurkan. Yasmin tiba-tiba tersadar, ia segera mempercepat kegiatannya di kamar mandi. Ia harus segera pergi ke kantor Angga sebelum jam makan siang tiba, sambil mengerutu merutuki kebodohannya barusan. "Astagaaa ... Sepertinya gue sudah gila!"Tergoda papah teman anakku. Bab 90Satrio mengantarkan Kayla hingga gerbang sekolah, ketika hendak berbalik menuju mobilnya kembali. Terdengar seseorang memanggilnya dari dalam sekolah. “Om Satrio tunggu!” Satrio kembali menoleh, dan mendapati Bianca tengah berlari kecil ke arahnya. Ia pun kembali berbalik menunggu gadis itu menghampirinya. “Kenapa, Bi?” tanya Satrio begitu Bianca ada tiba dihadapannya. “Aku mau bicara sebentar, bisa?” Bianca balik bertanya dengan nafasnya yang masih terengah. “Boleh, mau tanya apa?” tanya Satrio dengan kening mengkerut. “Tapi sebentar lagi jam masukkan?” ucapnya sembari melirik jam tangannya. Bianca mengangguk pelan. “Iya, aku bentar aja kok.” “Kenapa, ada yang penting banget?” tanya Satrio menatap Bianca penasaran. Dalam hatinya takut terjadi sesuatu dengan Yasmin. Namu Bianca kembali menggeleng. “Aku gak tau ini penting atau tidak, aku mau ketemu Om nanti pas jam makan siang, bisa?” Kening Satrio mengerut dalam. “Ketemu pas jam makan sia
Bianca menatap kosong ke arah lapangan basket yang terbentang di hadapannya. Pikirannya melayang jauh, dipenuhi segala peristiwa yang belakangan ini bergemuruh di hidupnya.Orang tuanya berselingkuh, bercerai, dan kini... masing-masing berusaha mencari kebahagiaannya sendiri.Bianca sedikit terlonjak kaget saat hawa dingin menyentuh pipinya. Ia mendongak dan mendapati Niko berdiri di depannya, menutupi pandangannya ke arah lapangan."Jangan melamun terus. Nanti yang lewat bisa terserap," sindir Niko lembut, disertai senyum hangat yang tersungging."Aku tidak melamun," bantah Bianca, tangannya terulur menerima minuman dingin yang disodorkan Niko."Namanya saja tidak melamun. Aku berdiri di depanmu saja tak sadar," Niko memutar bola matanya, lalu duduk di sisi Bianca.Bianca menghela napas panjang, lalu meneguk minuman yang tutupnya sudah dibukakan Niko."Rasanya aku ingin menghilang saja, Nik," ucap Bianca setelah menelan minumannya."Masuk saja ke lubang buaya, pasti langsung lenyap t
Yasmin menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak sempurna ketika melihat Satrio tiba-tiba berlutut tepat di hadapannya. Di tengah ruangan yang telah disulap begitu indah dan memukau, pemandangan itu membuat napasnya tercekat."Maas..." Bibir Yasmin bergetar hebat, tak mampu merangkai kata-kata lagi. "Ini... apa maksudnya..."Tatapan mata Satrio yang lembut dan penuh cinta yang tulus, membuat jantung Yasmin berpacu semakin kencang seolah ingin melompat keluar."Yasmin..." panggil Satrio lembut, mendongak menatap lurus ke manik mata wanita itu."Iy–iya..." Yasmin mundur selangkah dengan tubuh yang sedikit gemetar."Aku sadar, mungkin ini bukan momen yang paling tepat untuk melakukan hal seperti ini. Tapi aku tak tahu lagi harus menundanya sampai kapan lagi," ucap Satrio dengan nada yang begitu tulus, membuat kening Yasmin berkerut penuh haru."Mas...""Yas... Sejak awal pertemuan kita, hati ini selalu bergetar menahan gejolak yang seharusnya tak kurasakan. Namun bukannya
"Mas, kamu nggak salah mengajak aku makan malam di siang bolong begini?" Yasmin menatap Satrio dengan kening berkerut ragu.Sementara Satrio berusaha keras menahan tawa melihat wajah bingung itu. "Nggak salah kok. Aku cuma mau suasana yang beda, yang nggak dimiliki orang lain."Yasmin menghela napas panjang, tak tahu lagi harus berkata apa.Pasalnya, Satrio mengajaknya menikmati makan siang romantis di sebuah restoran mewah, namun disusun persis seperti makan malam. Bahkan ada lilin yang menyala di tengah meja—sungguh hal yang terasa ganjil dilakukan saat matahari masih tinggi.Dan yang lebih membuatnya heran, restoran itu tampak lengang, tak ada satu pun pengunjung lain selain mereka berdua. Apakah restoran ini sepi karena makanannya kurang enak? batinnya bertanya-tanya."Sudah, jangan dipikirkan soal waktu yang terasa tidak tepat itu. Yang penting kita bisa menghabiskan waktu bersama," Satrio menautkan jemarinya ke tangan Yasmin, membuat lamunan wanita itu seketika buyar. Ia pun men
"Bunda sekarang kita gak bisa tinggal lagi sama Ayah?" Hati Yasmin seketika terasa diremas, ketika mendapat pertanyaan seperti itu dari Brayan. Putranya itu memang masih belum terlalu mengerti dengan situasi sekarang, berbeda dengan Bianca yang sudah bisa mengerti. "Kata siapa? Adek sama kakak masih bisa kok kalo mau nginep dirumah ayah." jawab Yasmin lembut."Gak bisa bareng sama Bunda lagi?" tanya Brayan polos. Yasmin mengeleng pelan, tersenyum dipaksakan. "Enggak sayang, Bunda gak bisa tinggal sama ayah lagi. Maaf yaa.." "Iyaa, Bunda..." "Yasudah, sekarang Brayan tidur yaa. Besok masih harus sekolah." Yasmin menarik selimut Brayan, menyelimuti tubuh mungil itu sampai dada. Lalu mengecup keningnya dengan sayang. "Good night Bunda." "Goodnight sayangnya Bunda, mimpi yang indah hmm..." "Hu'um," Yasmin menepuk pelan dada Brayan, menunggu putranya itu memejamkan mata. Barulah ia bangkit dari duduknya di sisi ranjang Brayan. Yasmin berjalan ke arah pintu, setelah mematikan lam
“Oalah… sekarang kalian berani berterus‑terang begini, ya?”Sindiran tajam Angga nyaris membuat Satrio melangkah maju, jika saja Yasmin tidak segera menahan lengannya.“Mas, jangan,” Yasmin menggeleng lemah menatap Satrio.“Tapi Yasmin…”“Tolong…” mohonnya pelan. Bukan bermaksud membela Angga, ia hanya tak ingin keributan meletus di sini.Satrio mengembuskan napas kasar, lalu menuruti permintaan itu dan berdiri kembali di samping Yasmin.Yasmin berbalik menatap Angga dengan raut tenang namun dingin. “Ada apa, Mas?”Angga menyunggingkan senyum sinis. “Kamu tidak merasa malu, Yas?” tanyanya sarkas.“Malu?” kening Yasmin berkerut bingung. “Malu untuk apa?”“Kamu datang ke sini membawa orang lain,” ucap Angga sambil melirik tajam ke arah Satrio.Yasmin menahan tawa yang hampir pecah. “Kamu tidak bercermin dulu di rumah, Mas?” balasnya tak kalah tajam.“Apa maksudmu?”“Itu lihat sendiri.” Yasmin menunjuk dua wanita yang berdiri di belakang Angga. “Kamu malah membawa selingkuhanmu yang seda







