Share

Godaan Papa Teman Anakku
Godaan Papa Teman Anakku
Author: Neng_gemoyy

Bab 1 Awal

Author: Neng_gemoyy
last update publish date: 2025-11-18 10:16:58

Di sebuah rumah sederhana berlantai dua, seorang wanita tengah berias di dalam kamarnya. ia adalah Yasmin yang tengah menunggu sang suami pulang.

Yasmin menatap pantulan dirinya di cermin meja rias, jemarinya dengan lembut menyisir rambut sehalus sutra. Ia mengambil lip serum, lalu mengoleskannya perlahan di bibir ranum yang tampak semakin memikat.

Setelah selesai, Yasmin bangkit dari duduknya dan berputar pelan. Lingerie hitam yang membalut tubuhnya tampak kontras dengan kulit putih bersihnya.

“Heeemmm, wangi…” gumamnya puas, menghirup aroma parfum mahal yang baru saja ia semprotkan di titik-titik sensitif tubuhnya.

Matanya terarah pada jam di atas nakas dekat tempat tidur. Senyum terbit di bibirnya ketika jarum panjang hampir menyentuh angka dua belas.

“Sebentar lagi Mas Angga pulang… mending aku tunggu di bawah,” ujarnya pelan, sambil meraih jubah satin dan membungkus tubuh indahnya.

Dengan langkah ringan, Yasmin meninggalkan kamarnya untuk menyambut suami tercinta. Sebelum turun, ia menyempatkan diri memastikan kedua anaknya sudah tertidur. Ia berbelok ke lorong tempat kamar mereka berada.

Ceklek.

Yasmin membuka pintu bercat putih bertuliskan nama Bianca. Senyum lembut menghiasi wajahnya melihat gadis sepuluh tahun itu tertidur pulas memeluk boneka beruang kesayangannya.

“Tidur yang nyenyak, sayang .…” bisiknya, lalu menutup pintu perlahan.

Ia menyeberang ke kamar di seberang. Pintu bercat coklat bertuliskan Brayan.

Yasmin membuka sedikit, cukup untuk mengintip. Bocah delapan tahun itu tampak lelap dengan posisi tidur khasnya.

“Uhhh … jagoan Bunda juga udah nyenyak, hihihi .…” bisiknya sambil menahan tawa kecil.

Bolehkah ia bangga memiliki putra-putri yang pintar dan mandiri sejak dini? Tentu saja.

Ia menutup pintu dengan hati-hati lalu berjalan menuruni tangga. Kaki jenjangnya melangkah perlahan, sementara jubah satinnya berkibar lembut mengikuti gerakan tubuhnya—membuat sosoknya tampak begitu anggun di bawah cahaya temaram lampu dinding.

Rumah sudah dalam keadaan gelap, hanya diterangi lampu kecil di sepanjang anak tangga yang menciptakan suasana malam begitu syahdu.

Saat Yasmin menapaki anak tangga terakhir, suara deru mesin mobil terdengar dari arah depan, disusul suara gerbang terbuka.

“Mas Angga sudah pulang!” serunya girang, sebelum berlari kecil ke arah pintu depan.

Tiba di depan pintu, Yasmin langsung memutar anak kunci lalu menariknya hingga setengah terbuka. Seketika ia merapatkan jubah satin tipisnya saat hembusan angin malam menyentuh kulitnya.

Dari tempatnya berdiri, ia melihat sang suami tengah memarkirkan mobil di carport. Begitu pintu mobil terbuka, wajah lelah itu langsung terlihat. Tatapan sekilas Angga padanya terasa dingin, datar, seolah sekadar formalitas.

Biib.

Angga menekan tombol kunci mobil, memastikan semuanya terkunci sempurna. Ia kemudian menutup dan mengunci gerbang dengan cermat sebelum akhirnya melangkah ke arah istrinya yang menunggu di depan pintu.

“Kamu belum tidur?” tanya Angga tanpa ekspresi, ketika sudah berdiri di hadapan Yasmine.

Yasmine menggeleng pelan. “Belum, nungguin kamu.”

“Kenapa mesti nunggun saya?” nada dingin Angga membuat dada Yasmine terasa mengerut, tapi ia menahan diri.

“Mau aku siapkan makan malam, Mas?” tanyanya lembut, berusaha mengabaikan sikap acuh itu.

“Saya sudah makan di kantor,” jawab Angga singkat sambil membuka kancing lengan kemejanya.

Yasmine hanya mengangguk kecil, lalu mengikuti langkah suaminya menuju kamar.

“Pintu sudah kamu kunci lagi belum?” tanya Angga tanpa menoleh, menaiki anak tangga satu per satu.

“Sudah, Mas. Aku kunci,” jawabnya pelan.

“Anak-anak sudah tidur?”

“Sudah, mereka udah pulas pas aku cek tadi.”

“Heeemmm .…” gumam Angga datar, lalu membuka pintu kamar mereka.

Begitu masuk, Angga melempar jas dan tas kerjanya ke atas ranjang, lalu berlalu menuju kamar mandi tanpa sepatah kata.

Dengan tangan bergetar menahan sesak di dada, Yasmin memungut jas dan tas suaminya. Ia menatanya kembali di tempat semestinya, mencoba menenangkan diri.

“Sabar, Yasmin .…” bisiknya lirih — mantra kecil yang sudah terlalu sering ia ulang hanya untuk tetap kuat.

Sambil menunggu Angga, Yasmin menyiapkan baju ganti dan meletakkannya rapi di atas ranjang. Ia lalu menatap cermin, merapikan rambut yang sedikit berantakan karena angin malam.

Tak lama kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka. Angga keluar dengan hanya berbalut handuk kecil di pinggang. Ia melirik sekilas ke arah Yasmine, lalu berjalan menuju meja tanpa sepatah kata pun, sambil mengusap rambutnya yang basah.

Yasmin mendekat, lalu membantu mengeringkan rambut Angga dengan hairdryer.

“Kenapa keramas malam-malam?” tanyanya lembut sambil mengusap rambut Angga dengan handuk kecil.

“Gerah,” jawab Angga singkat.

“Oh iya, hari ini memang panas banget. Brayan aja tadi sampai kena ruam saking panasnya.”

“Heeemmm. Jangan lupa kasih salep ya, sama sunscreen besok pagi.”

“Iya, Mas,” sahut Yasmine pelan.

Begitu rambut suaminya terasa kering, Yasmine mematikan hairdryer lalu mencabut colokannya. Ia menatap punggung Angga yang kini tengah mengenakan baju tidur yang tadi disiapkannya.

Saat Angga hendak merapikan kancing bajunya, Yasmin tiba-tiba memeluknya dari belakang.

“Mas … aku kangen,” bisiknya lirih.

Angga berhenti sejenak, lalu menatap pantulan mereka di cermin di hadapannya.

“Awas dulu, Yas. Bajunya belum dikancing semua.”

Yasmin hanya tersenyum kecil. “Gak usah di kancing sekalian, Mas .…” suaranya terdengar setengah manja.

“Yas, saya capek. Mau istirahat.”

Yasmin terdiam beberapa detik. Ia tahu nada itu—dingin, tegas, dan membuat hatinya menyesak. Tapi rasa rindunya lebih kuat dari logika.

Ia menunduk, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku cuma kangen sama kamu, Mas …”

"Kangen gimana? Setiap hari kita bertemu!"

"Bukan seperti ituuuu ...." rengek Yasmine manja, sambil menggoyangkan tubuhnya.

"Yas. awas dulu."

"Gak mau .... "

"Yasmin." ucap Angga dengan tegas.

Tapi yasmin belum menyerah, ia semakin berani menggerakkan tangannya di perut Angga dengan lembut, berusaha membangkitkan g4irah suaminya.

Angga menghela napas panjang, lalu melepaskan tautan tangan Yasmin dengan hati-hati.

“Udah malam. Tidur, ya.”

Yasmin menyerah, meski lembut ucapan Angga mampu menggores luka di hatinya, akhirnya ia mengangguk perlahan, meski matanya terasa panas. Ia melangkah mundur dan menatap punggung suaminya yang kini melangkah menuju ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di sana sudah berbaring membelakangi dirinya.

Sunyi.

Hanya suara detak jam di dinding yang menemani malam mereka—dua orang yang berada di ruangan sama, tapi seolah di dunia yang berbeda.

Yasmin menggigit bibir bawahnya, lalu perlahan ikut berbaring di samping Angga, memunggungi tubuh suaminya yang kini sudah diam tak bergerak.

Air mata menetes pelan dari sudut matanya. Ini bukan kali pertama ia merasakan penolakan seperti ini — dan setiap kali terjadi, hatinya tetap terasa perih.

Apakah ia sudah tidak lagi menarik di mata suaminya?

Pertanyaan itu terus bergema di kepalanya, membuat dadanya terasa sesak.

Dengan gerakan lemah, Yasmine menarik selimut hingga menutup dadanya. Di sampingnya, terdengar dengkuran halus, tanda Angga sudah terlelap, seolah tak ada apa pun yang salah di antara mereka.

Yasmin menutup mata rapat-rapat, menggigit ujung selimut untuk menahan isakan agar tidak lolos dari bibirnya.

Malam kembali sunyi, hanya tersisa suara napas dua insan yang tidur di ranjang yang sama … tapi hatinya terasa sangat jauh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Papa Teman Anakku   perceraian

    "Sayang... buka pintunya..." Angga mengetuk pelan pintu kamar mandi. Tangannya terkepal erat hingga urat-uratnya menonjol jelas.Sudah hampir lima belas menit Yasmin mengurung diri di dalam.Yang membuat dadanya semakin perih adalah suara isakan yang terdengar samar di sela gemericik air shower yang sengaja dinyalakan. Tangisan itu teredam, tapi justru terdengar lebih menyayat."Yasmin... sayang... buka, nanti kamu sakit..." bujuk Angga lagi, suaranya mulai bergetar.Tak ada jawaban. Hanya tangis yang semakin pecah."Yasmin... aku minta maaf, sayang... Tolong jangan siksa diri kamu seperti ini. Kamu mau marah? Pukul aku. Hina aku. Apa pun... asal jangan begini." Suaranya pecah. "Tolong, sayang... jangan siksa diri kamu...""Yasmin... jangan buat aku makin merasa bersalah..." Angga berbalik, menyandarkan punggungnya ke pintu kamar mandi. Perlahan tubuhnya meluruh ke lantai. Ia memeluk lututnya sendiri, napasnya tak teratur."Yasmin... maafkan aku..." jemarinya menjambak rambutnya frust

  • Godaan Papa Teman Anakku   kabar yang menyakitkan

    Angga melepas pelukannya, ia menunduk dalam di hadapan Yasmin. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan, tubuhnya terasa kaku seolah membawa beban berat yang tak bisa ditanggung lagi."Dia pacar gelap kamu?"Deg.Pertanyaan Yasmin mampu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Tubuhnya sedikit menggigil, tangan kanannya menggenggam ujung sprei dengan kuat. "Maaf..." dan akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutnya—suara yang hampir tak terdengar."Sejak kapan?" tanya Yasmin kembali, nada suaranya semakin dingin dan datar seperti es yang membeku. Matanya menatap Angga dengan pandangan yang menyakitkan, namun tak ada satu pun air mata yang keluar."Satu tahun terakhir..." jawab Angga dengan suara yang terengah-engah, membuat dada Yasmin sesak seperti di timpa beban berat yang tak tertahankan. Ia merasa dunia seolah runtuh di depannya—setahun lamanya dia merasa ada yang salah namun selalu membujuk diri sendiri bahwa itu hanya khayalan."Kalian... Sudah tidur bersama?" pe

  • Godaan Papa Teman Anakku   Yasmin pulang

    Satrio menepikan mobilnya di komplek perumahan Yasmin, hanya terhalang tiga rumah lagi dengan rumahnya. "Kamu yakin mau pulang, sayang?" Satrio menoleh, bertanya dengan nada lembut. Yasmin balas menatapnya, kemudian mengangguk mantap. "Iyaa, gak baik lari dari masalah." "Heemm," Satrio mengulurkan tangannya, mengusap wajah kekasihnya dengan lembut. "Pikirkan baik-baik tawaran aku sayang, aku sedang proses cerai kita bisa bersama nanti." Yasmin hanya terdiam menatapnya, bingung harus menjawab apa. "Pelan-pelan aja sayang... Aku pasti bakal nungguin kamu." ucap Satrio lagi, yang kini di balas anggukan oleh Yasmin."Iyaa, aku pulang dulu." Yasmin menurunkan tangan Satrio dari wajahnya, kemudian berbalik membuka pintu mobil di sampingnya. Satrio menatap kepergian Yasmin dengan kedua tangannya yang terkepal erat, ingin sekali rasanya ia menahan wanita itu. Tapi ia sadar... Yasmin harus nyelesaikan masalahnya bukannya lari dari masalah. Satrio berdiam dengan mesin dan lampu mobilnya

  • Godaan Papa Teman Anakku   penyesalan Angga

    Angga melangkah lebar masuk kedalam rumahnya, setelah tadi sore tidak menemukan Yasmin, Angga segera pulang kembali ke rumahnya tanpa memperdulikan Sabrina yang menahannya di rumah ibunya.Angga membuka pintu dengan kasar, pelat pintunya berdengung keras menyambut pukulan tangannya. Ia berlari cepat menaiki tangga yang berderak keras di bawah tapak kakinya, langsung ke arah kamarnya di lantai dua."Yasmin!" panggil Angga dengan napas memburu ketika membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa. Udara di kamar terasa sejuk dan sunyi, tidak ada satu pun bau parfum kesukaan Yasmin yang biasanya memenuhi ruangan itu.Kosong.Ranjangnya masih rapi seperti baru saja disusun, seprai putihnya rata tanpa sedikit pun kerutan. Tidak ada suara atau sosok sang istri di sana—tidak ada jejak bahwa ia pernah berada di kamar itu sejak pagi hari.Angga mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar dengan mata yang penuh kegelisahan. Ia melihat lemari pakaian masih tertutup rapat, meja riasnya rapi tanp

  • Godaan Papa Teman Anakku   pilihan Yasmin

    Satrio memarkirkan mobilnya asal di depan rumah yang biasa ia datangi bersama Yasmin. Pintu mobil bahkan tak ia tutup dengan benar. Ia melangkah lebar memasuki rumah yang dari luar tampak gelap dan sunyi, membuat dadanya semakin dipenuhi rasa cemas."Yasmin!" panggil Satrio dengan napas memburu, suaranya menggema di dalam rumah yang hening. Matanya menelisik ke segala penjuru, mencari keberadaan wanita yang begitu ia khawatirkan."Yasmin!"Tak ada sahutan. Keheningan itu justru terasa menyesakkan.Dengan tangan sedikit gemetar, Satrio menyalakan lampu ruang utama. Seketika cahaya menerangi ruangan—dan di sanalah Yasmin terlihat, duduk di lantai bersandar pada sofa, memeluk lututnya sendiri dalam gelap yang tadi menyelimutinya."Sayang..." Suara Satrio melembut seketika. Ia segera menghampiri, berlutut di hadapan Yasmin. "Yas... kamu kenapa?" tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran.Saat Yasmin mengangkat wajahnya, hati Satrio seperti diremas kuat. Wajah itu sembab, mata memerah, pipin

  • Godaan Papa Teman Anakku   telpon dari Yasmin

    Yasmin memandang dua sosok yang tengah tertawa bersama di ruang tamu rumah mertuanya, acara arisan sejak tadi sudah selesai, tapi wanita itu belum juga beranjak dari sana.Dan itu membuatnya semakin muak dan sesak."Yaampun... Tante juga aslinya dari sana," ucap Utari berseru heboh."Iyaa kah, Tante?" Sabrina pura-pura menutup mulutnya, terkaget-kaget. "Yaampun, ternyata kita satu daerah...""Heemmm," Utari mengangguk semangat. "Kayaknya nanti kalo mudik kita bisa barengan.""Boleh banget, Tente..." Sabrina tersenyum lembut.Namun yang terlihat oleh Yasmin, itu adalah senyum penuh kepalsuan.Tak tahan, Yasmin mengeluarkan ponselnya, lalu memotret momen dua orang itu. Mengirimkannya kepada Angga.Yasmin ingin tau reaksi Angga saat mengetahui kekasih gelapnya bersama ibunya, bahkan sangat terlihat akrab. Berbeda dengan dirinya... Yang hanya terlihat sebagai bayangan di sana."Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Sabrina?" gumamnya dengan menahan perih yang terus menggerogoti hatinya.Yasm

  • Godaan Papa Teman Anakku   Bab 12

    Yasmin mengerutkan keningnya, saat melihat Angga yang baru saja masuk kedapur sambil mendorong sebuah koper kecil di tangannya. "Kamu mau kemana, Mas?" tanya Yasmin. Angga menaruh kopernya di pojokan dapur, lalu duduk di kursinya. "Ada kerjaan di luar kota," jawabnya, lalu meraih kopi yang sudah

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Godaan Papa Teman Anakku   Bab 13

    Yasmin meraba bibirnya yang sedikit bengkak akibat ciumannya tadi bersama Satrio, entah ada di mana akal sehatnya saat itu, karena bukannya menghindar, Yasmin malah ikut terhanyut. Untung saja tidak ada yang memergoki mereka, karena anak-anak sibuk dengan permainannya sendiri. Keduanya tersadar sa

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Godaan Papa Teman Anakku   Bab 14

    Satrio mengusap lembut lengan polos Yasmin yang masih berada dalam pelukannya. Setelah pelepasannya di mobil tadi, Yasmin langsung terlelap, napasnya teratur, wajahnya tampak lelah namun tenang. Namun yang jelas ada rasa puas di raut wajahnya itu. Kasihan melihat Yasmin yang terlihat tidak nyama

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status