Mag-log inDua hari telah berlalu. Namun, tak ada yang berubah dari sikap Tuan Ardan—aura dingin yang dominan, tatapan tajam, dan sikapnya yang seolah tak memedulikan.Hal itu membuat Lastri semakin tak tenang dan terus kepikiran. Padahal harusnya ia merasa senang karena Tuan Ardan tak lagi mendekatinya, atau menginginkan melakukan hal terlarang bersamanya. Namun, kenyataannya tidak demikian.Lastri justru mulai merasa hampa. Bahkan diam-diam ia mulai merindukan semua tentang majikannya itu—perhatian, sikap lembutnya, caranya memanjakan dan mendamba. Serta yang paling tidak ingin ia akui adalah bahwa ia juga merindukan setiap sentuhan yang pernah Tuan Ardan berikan padanya.Dan sayangnya, pagi ini masih tetap sama. Tuan Ardan tidak sarapan sebelum berangkat kerja. Hanya pamit singkat tanpa sedikit pun menatapnya. Lastri mendesah lelah. Ia berdiri menatap sarapan di meja makan yang masih utuh—sama sekali tak tersentuh. Jika biasanya ia memilih menghabiskan sarapan itu karena sayang jika harus dib
Pagi datang lebih lambat dari biasanya bagi Tuan Ardan. Semalam ia sulit tidur meski telah mencoba mengusir bayangan Lastri dari benaknya. Berkali-kali ia terjaga dan membolak-balik posisinya. Namun setiap kali mencoba memejamkan mata lagi, bayangan Lastri hadir kembali. Hingga baru bukul dua dini hari ia akhirnya benar-benar lelap dalam tidurnya. Tepat pukul lima pagi ia kembali terjaga. Meski masih mengantuk, ia memaksakan diri untuk bangkit dan langsung menuju kamar mandi. Sampai-sampai ia tak menyadari bahwa Ratih sudah bangun sejak tadi dan sedang memperhatikannya saat ini. Di dalam kamar mandi, Tuan Ardan berdiri di bawah shower. Alih-alih menyalakan kran air hangat, ia memilih mandi dengan air dingin. Menurutnya mandi air dingin di pagi hari cukup menyehatkan. Namun lebih dari itu, sejujurnya ia berharap bahwa air dingin itu akan mampu mendinginkan panasnya gairah yang masih membara di dalam tubuhnya. Beberapa menit kemudian, Tuan Ardan akhirnya keluar dari kamar mandi denga
Tuan Ardan berdiri tenang dengan seulas senyum hangat yang terukir di bibirnya. Tubuhnya sudah dibalut dengan piyama hitam yang terlihat mahal dan berkelas, membuat sosoknya tampak semakin tinggi dan tegap.Rambutnya sedikit berantakan, memberi kesan santai yang jarang terlihat saat ia mengenakan setelan kerja. Dan justru dalam penampilan yang lebih kasual itu, Ardan memancarkan pesona yang lebih hangat sekaligus berbahaya—seorang pria dewasa yang tenang, percaya diri, dan tahu betul pengaruh tatapannya terhadap orang yang sedang ia pandang.Di bawah cahaya temaram koridor, kehadirannya terasa begitu dominan hingga membuat jantung Lastri berdebar. Bahkan sebelum pria itu mengucapkan sepatah kata pun."Aku mengganggu?"Lastri buru-buru menggeleng. "Bukan begitu, Tuan. Saya hanya kaget.""Kaget?"Lastri menatap ke kanan dan kiri koridor dengan gugup."Sudah malam, Tuan."Senyuman tipis muncul di sudut bibir Ardan."Jadi aku tidak boleh datang?""Bukan begitu juga..."Ardan tampak menikm
Lastri baru saja tiba di rumah Tuan Ardan dan langsung melangkah cepat menuju arah kamarnya. Kedua tangannya penuh dengan paper bag berbagai ukuran. Beberapa bahkan harus ia selipkan di lengan karena tidak cukup digenggam sekaligus.Sepanjang perjalanan pulang, jantungnya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berkali-kali memikirkan alasan apa yang harus diberikan jika ada yang bertanya. Namun ternyata saat benar-benar menginjakkan kaki di rumah itu, kepanikannya justru semakin menjadi-jadi.Lastri menoleh ke kanan dan kiri. Koridor tampak sepi. Ia menghembuskan napas lega lalu berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang."Wah..."Tubuh Lastri langsung menegang. Ia menoleh cepat.Mang Jojo berdiri beberapa meter di belakangnya sambil membawa sapu lidi. Pria itu menatap paper bag di tangan Lastri dengan mata membulat."Banyak amat belanjaannya, Mbak."Lastri langsung merasakan tengkuknya menegang
Mobil melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang. Ardan seolah sengaja menjadikan kesempatan itu untuk bisa berlama-lama di luar rumah bersama Lastri. Bahkan sejak tadi, wajah Ardan dipenuhi raut bahagia, hal itu terlihat dari senyum tipis yang terus menghiasi wajahnya.Sementara Lastri yang duduk di samping Tuan Ardan, menatap lurus ke depan dengan jantung berdebar kencang. Tangannya bertaut di atas pangkuan dengan sedikit gemetar. Tubuhnya menegang. Ia terus merasa khawatir jika majikannya itu akan melakukan sesuatu yang tak seharusnya mereka lakukan.Ardan melirik Lastri sekilas. Senyumnya semakin merekah saat menyadari Lastri begitu tegang saat bersamanya."Kamu sudah sarapan?" tanya Ardan tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka.Lastri mengangguk. "Sudah, Tuan.""Kebetulan saya belum sarapan. Kamu temani saya cari makan, ya?""Ta-tapi, Tuan....""Kenapa? Nggak mau?""Bu-bukan begitu, Tuan. Saya cuma khawatir kalau Nyonya dibiarkan sendirian terlalu lama di rumah."Ardan
Dua hari kemudian, Arman benar-benar sudah diperbolehkan pulang. Hal itu tentu sesuatu yang membahagiakan. Namun ternyata tidak bagi Lastri, karena dengan pulangnya Arman ke rumah, maka ia pun harus kembali pulang ke rumah Tuan Ardan untuk bekerja.Bagi Lastri, hari-harinya yang dihabiskan bersama Arman di rumah sakit terasa sangat singkat. Ia merasa belum puas merawat dan memanjakan suaminya. Bahkan sedikit pun tak cukup untuk menebus rasa bersalahnya.Begitu taksi yang ditumpangi mereka tiba di depan rumah, Darma langsung mendekat dan membantu Arman turun ke kursi roda. Ningsih juga langsung mendekat dan membantu membawa barang-barang. Sementara Yudha masih belajar di sekolah, sehingga belum tahu jika ayahnya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.Tak berapa lama kemudian, beberapa tetangga yang belum sempat menjenguk ke rumah sakit, datang dan menyambut Arman dengan perasaan lega. Mereka ikut bahagia melihat tetangganya sudah sembuh dari sakitnya."Wah, syukurlah kamu sudah p
Pada jemari yang menggenggam erat hendle pintu, ada hati yang sedang berperang dengan logika. Tentang niatnya. Tentang tujuannya. Dan tentang apa yang sebenarnya dilakukannya.Saat pikirannya belum sepenuhnya mencerna, pintu itu terbuka tiba-tiba.Ardan tersentak. Tangannya refleks terl
Satu kata itu adalah perintah yang tidak bisa dibantah. Lastri menurut. Ia duduk di kursi seberang meja kerja Tuan Ardan. Punggungnya tegak, namun tangannya saling bertaut di atas pangkuan."Bisa perkenalkan data diri kamu?" tanya Tuan Ardan datar, tapi tatapannya menunjukkan suatu keseriusa
Lastri berusaha tetap tenang meski kini ia menyadari ada sedikit ketegangan di antara dirinya dan Tuan Ardan. Tapi ia meyakinkan diri bahwa ia tidak membuat kesalahan fatal. Bahkan saat ia menghubungi putranya, Tuan Ardan sama sekali tidak marah atau melarang. Yang penting ia bertanggug jawab penuh
Lastri hampir menabrak tubuh Tuan Ardan jika kakinya tidak melangkah mundur dengan cepat. Namun, posisinya yang berada di tepi teras membuatnya hilang keseimbangan dan hampir jatuh ke belakang jika tidak ada tangan kekar yang menopang tubuhnya.Tuan Ardan dengan gerakan gesit menarik tubuh Lastri m







