เข้าสู่ระบบArdan menuruni anak tangga dengan langkah pelan sambil merapikan kerah kaos polo yang dikenakan. Wajahnya tampak sudah segar setelah mandi. Sorot matanya memancarkan kebahagiaan. Bukan karena kepulangan Reihan, melainkan karena hubungannya dengan Lastri berjalan sesuai harapan. Namun kali ini, kehadiran Reihan di rumah harus membuatnya menahan diri untuk leluasa berduaan dengan Lastri.Begitu tiba di lantai bawah, aroma masakan langsung menyambut begitu ia mendekati ruang makan. Namun meja makan masih belum sepenuhnya terisi. Baru ada nasi hangat, semangkuk sayur, dan beberapa piring kosong yang tersusun rapi. Sementara dari arah dapur terdengar suara minyak mendesis pelan.Ardan melirik sekilas ke arah tangga dan lantai atas. Sepi.“Reihan belum turun?” tanyanya sambil berjalan mendekati dapur.Lastri yang sedang membalik lauk di atas penggorengan spontan menoleh. Ia memakai celemek sederhana dengan beberapa helai rambut yang terlepas di dekat pipi karena kesibukan memasak.“Belum, T
Lastri membuang napas pelan."Itu karena... saya menghormati Tuan Ardan," jawabnya, berusaha tenang dan meyakinkan.Reihan mengusap dagunya dengan tatapan sedikit menyelidik. "Emmm... menghormati, ya?"“Udah cukup, Reihan,” pungkas Ardan. Nada suaranya kali ini lebih berat.Ruangan langsung hening sesaat.Lastri makin salah tingkah. Ia buru-buru mengambil kembali ember pelnya. “Saya lanjut bersih-bersih dulu…”Namun saat ia hendak pergi, Ardan tiba-tiba berkata tanpa melihatnya,“Setelah ini siapkan makan malam.”"Baik, Tuan."Ardan kembali menatap putranya dengan serius."Sudah menemui ibumu?" tanyanya datar, namun dengan tatapan yang sulit dibaca. Seolah paham dengan kebiasaan bokapnya, Reihan langsung mengangguk cepat."Aku menemuinya sekarang."Reihan melangkah menaiki tangga dengan satu tangannya masih berada di saku jaketnya. Langkahnya tenang, tatapannya menelisik ke seluruh penjuru, seolah memastikan tidak ada yang berubah, kecuali asisten rumah.Sementara Ardan masih berdiri
Ardan menarik pinggang Lastri lebih dekat tanpa melepas lumatannya. Matanya ikut terpejam, merasakan kelembutan dan kekenyalan bibir Lastri yang berlapis lipstick tipis. Manis. Bagai madu yang membuatnya candu.Ia menjulurkan lidah, mendorongnya masuk ke rongga mulut Lastri. Lidah mereka saling beradu, menyesap lembut, sesekali saling menggigit tanpa benar-benar membuatnya sakit.Lastri mulai terengah. Tangannya terangkat cepat menyentuh dada Tuan Ardan. Lalu dengan sedikit paksaan, ia mendorong dada Tuan Ardan hingga ciuman itu akhirnya terlepas."Tuan..."Napas Lastri terengah. Dadanya naik turun seirama tarikan napasnya. Matanya berkedip cepat, seolah menyadarkan diri dari apa yang baru saja ia lakukan bersama majikannya.Ardan kembali mendekat, bukan untuk memulai lagi, tapi menyentuh bibir Lastri dan mengusapnya lembut untuk membersihkan sisa-sisa jejak percintaan mereka.Lastri terdiam. Ia tahu ini salah. Ia tahu ini tidak seharusnya terjadi—terlebih di rumah yang sama, di bawah
Malam itu terasa berbeda setelah semuanya benar-benar terjadi. Hujan di luar masih turun, meski tidak sederas sebelumnya. Suaranya kini lebih pelan, seperti sisa-sisa badai yang belum sepenuhnya pergi.Di dalam kamar, hanya ada cahaya redup dari lampu tidur yang menyisakan bayangan lembut di dinding. Lastri duduk di tepi ranjang. Diam. Kedua tangannya saling menggenggam di pangkuannya, jemarinya sesekali bergerak gelisah tanpa arah. Napasnya sudah mulai teratur, tetapi dadanya masih terasa penuh oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.Ia menunduk. Pikirannya kosong… sekaligus terlalu penuh.Baru beberapa menit lalu, ia masih berada dalam dekapan Tuan Ardan. Terhanyut dalam sesuatu yang selama ini hanya berani ia bayangkan dalam batas yang samar. Namun kini semuanya nyata. Terlalu nyata.Lastri menelan ludah. Perlahan, ia mengangkat tangannya dan menyentuh bibirnya sendiri, seolah masih bisa merasakan sisa kehangatan yang tertinggal. Lalu, tanpa sadar, tangannya turun ke dadanya. Jan
Sedikit demi sedikit, pusaka itu berhasil masuk ke dalam lembah surgawi milik Lastri. Tenggelam dalam kehangatan sempit yang begitu menjepit."Ouhh... " Lastri kembali tersentak hebat saat merasakan pusaka itu mulai memenuhi lembah miliknya. Tubuhnya menegang, punggungnya melengkung ke atas, terangkat dari ranjang.Bukan rasa sakit, melainkan sengatan aneh yang begitu kuat pada inti lembah surgawinya, namun sengatan itu menjalar langsung ke seluruh saraf di tubuhnya.Ia belum pernah merasakannya, bahkan dengan Arman, suaminya. Rasa ini lebih dalam, lebih menekan, dan lebih membuatnya tak ingin berhenti untuk terus merasakan. Seperti zat adiktif yang terus membuatnya ketagihan.Ardan berhenti sejenak, tidak memaksakan lebih jauh untuk saat itu. Ia menatap Lastri lebih lama, ada ketegangan samar di balik sorot matanya. Namun, Ardan tak ingin menarik pusakanya keluar, justru membiarkan Lastri merasakannya lebih dulu sebelum pusaka itu benar-benar menghantam lebih dalam."Coba rasakan dul
Masih dengan posisi Ardan menggendong tubuh Lastri sambil berpagutan, udara kamar tamu yang semula terasa pengap, kini berubah hangat. Ardan membawa tubuh Lastri ke ranjang. Dengan perlahan dan hati-hati, ia membaringkan Lastri tanpa melepas ciuman. Kemudian menindihnya lembut, seolah tanpa tekanan.Ciuman itu terus berlanjut—lembut, tapi jelas menuntut. Turun perlahan ke rahang Lastri... leher... lalu kembali mengusai dadanya.Lastri menggelinjang. Tubuhnya menggeliat gelisah. Tangannya meremas rambut Tuan Ardan—bukan lagi penolakan, tapi sebuah pegangan untuk bertahan. Kadang ia menekan, seolah tak ingin Tuan Ardan menghentikan hisapan atau jilatan yang memabukkan.Beberapa saat ciuman itu menjadi semakin tak terkendali. Tak hanya bagian dada, Ardan menggeser bibirnya memberi kecupan-kecupan mesra di permukaan kulit perut Lastri. Setiap kecupan itu bagai sengatan-sengatan llistrik kecil—mengejutkan, tapi juga membuatnya terus menginginkan.Saat ciuman itu akhirnya tiba di bawah pusa







