Share

Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam
Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam
Author: Jule

Bab 1

Author: Jule
Ruang kelas seketika senyap tanpa suara.

Hanya terdengar teguran dari guru BK melalui pengeras suara.

Beberapa detik kemudian, sorakan dan jeritan yang lebih riuh membahana, hampir merobohkan atap ruang kelas.

Yesika mendadak membanting pulpennya dan berdiri. Dengan wajah tegang, dia berjalan ke hadapan Vivian.

"Vivian, kamu sudah lama banget bucin Dirly, masa nggak bisa ngelarang? Nyatain cinta pakai mic begitu, kekanak-kanakan sekali!"

Namun, Vivian jelas melihat binar kepuasan di mata Yesika.

Bisik-bisik bernada ejekan dari teman-teman sekelas bagaikan percikan api kecil yang membakar wajahnya.

Vivian mengepalkan telapak tangannya erat-erat. Tepat saat dia hendak berbicara, guru BK datang dengan raut wajah serius dan memanggil Yesika pergi.

Sepanjang jam pelajaran berikutnya, Yesika dan Dirly tidak kembali ke kelas.

Pikiran Vivian kosong. Begitu bel istirahat akhirnya berbunyi, dialah orang pertama yang melesat keluar kelas.

Dia ingin menemui Dirly untuk meminta penjelasan.

Namun, saat berlari ke lapangan olahraga, dia melihat Dirly sedang menjalani hukuman berdiri sambil menaruh buku di atas kepala, sekaligus tersenyum sembari menceritakan lelucon kepada Yesika yang juga sedang dihukum di sampingnya.

Pemuda itu mendongak, menyambut tatapannya.

Tidak ada rasa bersalah atau panik sedikit pun. Dirly bahkan seolah mendapat inspirasi mendadak. Dia menunduk lagi dan menatap Yesika.

"Kamu tahu kenapa Vivian jadi gadis humoris? Karena ... kalau nggak bisa dapat pacar yang benar, dia cuma bisa jadi bahan lelucon."

Pfft!

Yesika tertawa terbahak-bahak.

Sementara itu, Vivian merasa seolah disiram air dingin dari ujung kepala sampai kaki.

Tiga tahun lalu, setelah menyaksikan ibunya sendiri tewas melompat dari gedung, Dirly mengidap depresi berat.

Setelah mencegah tindakan nekatnya untuk kelima kali, Vivian memeluk Dirly yang bermata kuyu sambil menangis histeris.

"Dirly, aku akan menemanimu. Aku akan menjadi penghiburmu. Percayalah padaku, aku akan membantumu sembuh!"

Vivian berhasil melakukannya.

Selama tiga tahun penuh, dia memaksa dirinya sendiri. Dia bertransformasi dari kembang sekolah yang dingin menjadi gadis humoris yang selalu melontarkan lelucon.

Dia memeras otak, menceritakan ribuan lelucon, bahkan menjadikan dirinya sendiri bahan olokan. Hingga akhirnya senyuman di wajah Dirly makin sering terlihat.

Namun, dia tidak menyangka bahwa pada akhirnya, di mulut Dirly, dirinya justru berubah menjadi sebuah lelucon!

Kalimat "nggak bisa dapat pacar yang benar" itu bahkan seolah membenarkan rumor jahat yang disebarkan Yesika sebelumnya tentang dirinya!

Vivian berjalan mendekat dengan tubuh kaku. Suaranya terdengar serak dan kering.

"Kamu nggak berniat menjelaskan apa pun?"

Raut wajah Dirly menunjukkan rasa tidak sabar. "Menjelaskan apa?"

"Yang membantumu sembuh dari depresi itu jelas-jelas aku, kamu juga pernah menciumku ...."

"Jangan kepedeaan!"

Dirly menyela dengan suara dingin dan nada mencemooh.

"Kamu berakting gila tiap hari, apa kamu benar-benar menganggap dirimu sebagai pahlawan?"

"Soal ciuman waktu itu, aku cuma main-main saja. Kamu juga bukan gadis alim, kenapa harus berlebihan?"

Sambil berkata demikian, dia berbalik ke arah Yesika dan bersumpah. "Yesika, orang yang kusuka itu cuma kamu."

Vivian menggigit bibirnya erat-erat, sudut matanya memerah.

Namun, Dirly tidak memberinya kesempatan untuk bertanya lagi.

Dengan sangat alami, Dirly menggandeng tangan Yesika, dan tidak marah sedikit pun saat tangannya ditepis.

Melihat punggung mereka berdua yang menjauh, Vivian berdiri di bawah terik matahari, tetapi seluruh tubuhnya terasa dingin membeku.

Di sisa jam pelajaran, tak ada satu kata pun yang masuk ke otaknya. Pandangannya terus-menerus teralih ke arah Dirly.

Namun, pandangan Dirly justru tertuju pada Yesika yang tertidur telungkup di meja.

Satu kali pun, Dirly tidak pernah mendongak menatapnya.

Hingga saat istirahat makan siang, Vivian menahan sakit perut dan tertelungkup di meja tanpa pergi ke kantin.

Dirly mendadak berjalan ke kursi di depan mejanya, lalu duduk menghadapnya.

Seolah tak terjadi apa-apa, Dirly mengambil satu sendok bubur yang dibungkusnya, lalu meniupnya pelan.

"Sakit perut?"

"Makan bubur sedikit akan membuatmu mendingan. Aku suapi."

Vivian menatap linglung pada bubur yang disodorkan ke bibirnya.

Ini adalah kali kedua Dirly menyuapinya.

Kali pertama adalah saat dia menerjang hujan lebat demi menari untuk memberi semangat kepada Dirly. Keesokan harinya, demamnya mencapai 40 derajat hingga hampir kehilangan kesadaran.

Dirly membolos sekolah dan berlari ke rumahnya. Walaupun Dirly marah-marah bahwa Vivian menanggung akibat dari perbuatannya sendiri, sudut mata Dirly memerah sembari menyuapinya lebih dari setengah mangkuk bubur, sendok demi sendok.

Air mata jatuh tanpa peringatan ke dalam bubur. Vivian berkata dengan suara gemetar,

"Dirly, kamu ...."

"Habiskan dulu buburnya."

Dirly menyela, nadanya jarang-jarang terdengar agak lembut.

Pelupuk mata Vivian terasa panas, tetapi dia tetap menahan rasa sakit hatinya dan menurut dengan patuh.

Ketika mangkuk bubur hampir kosong dan dia benar-benar tidak sanggup makan lagi, barulah Dirly meletakkan sendoknya.

"Vivian, di dalam bubur ini, aku menambahkan sesuatu."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 17

    Vivian selalu merasa akhir-akhir ini ada sepasang mata yang terus menempel pada tubuhnya, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.Hingga pada suatu hari, saat sedang menghadiri pesta ulang tahun teman sekelasnya, Vivian menerima telepon dari Profesor John yang memintanya segera kembali ke laboratorium.Setelah meminta maaf pada pemilik acara, dia pulang lebih awal.Namun saat berjalan di jalanan yang tinggal berjarak satu blok dari kampus, Vivian mendadak diseret paksa ke dalam sebuah mobil pribadi yang tiba-tiba berhenti di sampingnya.Di dalam mobil itu, terdapat dua pria berbadan tinggi dan kekar.Di hadapan Vivian, kedua pria itu secara terang-terangan berdiskusi tentang bagaimana cara membuatnya menangis memohon ampun nanti.Dia gemetaran ketakutan dari kepala hingga kaki, tetapi karena melihat senjata api di tangan mereka, wanita itu tidak berani bertindak gegabah.Mobil melaju makin jauh ke daerah terpencil, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah gubuk kayu tua yang lapuk di te

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 16

    Dirly melangkah maju, hendak memaksakan buket bunga itu ke dalam pelukan Vivian.Namun, Vivian langsung mundur satu langkah ke belakang.Gerakan refleks itu menusuk tepat di ulu hati Dirly.Meskipun begitu, dia memaksakan diri menyunggingkan senyum tegar."Nggak apa-apa, aku bakal nunggu sampai kamu mau memberiku kesempatan lagi."Sejak hari itu, Dirly selalu muncul di jalan yang pasti dilalui Vivian setiap hari. Kadang dia membawa sebuket bunga matahari, kadang membawa tumpukan kue-kue manis yang lezat.Setiap Senin malam, langit di atas kampus akan dihiasi oleh pesta kembang api selama beberapa jam.Dirly teringat, Vivian dulu sering berkata bahwa hari Senin adalah hari favoritnya. Karena hari itu menandai mulainya minggu baru dan dia bisa menempel pada Dirly selama seminggu penuh.Demi bisa bebas keluar masuk area kampus, Dirly meminta keluarganya untuk mengurus status mahasiswa exchange untuknya.Pria itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk berbuat baik pada Vivian, meskipun dia

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 15

    Vivian tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap Dirly dengan pandangan datar.Tidak ada gejolak emosi sedikit pun di matanya, seolah-olah dia sedang menatap orang asing yang tak sengaja berpapasan di jalan.Jakun Dirly naik turun, binar di matanya meredup.Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Suasana kamar rawat inap seketika hening mencekam bagaikan kuburan, bahkan suara jarum jatuh pun bisa terdengar jelas.Setelah lama terdiam, Vivian akhirnya berbicara pelan. Nadanya terdengar tenang, tetapi menyimpan rasa asing yang tak pernah didengar Dirly sebelumnya."Gimana kamu bisa tahu aku ada di sini?""Aku ...."Baru saja Dirly hendak menjawab, Vivian kembali menyela."Lupakan saja, aku juga nggak mau tahu urusanmu.""Keluar sana, aku mau istirahat."Nadanya sangat dingin dan hampa, begitu hampa hingga membuat dada Dirly mendadak terasa sangat sesak dan perih.Mereka tumbuh bersama sejak kecil, selalu bertemu setiap hari sejak masih bisa mengingat.Selama tiga tahun di SM

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 14

    Vivian dan Mateo saling berpandangan.Mereka segera meletakkan semua barang di tangan dan berlari ke arah pintu keluar.Bagaimanapun juga, di dalam laboratorium terdapat terlalu banyak bahan yang mudah terbakar dan meledak. Potensi terjadinya ledakan susulan yang lebih besar bisa terjadi kapan saja.Benar saja, tepat saat mereka hampir mencapai pintu keluar, ledakan kedua menghantam."Vivian, awas!"Tanpa sempat berpikir, Mateo melompat dan menerjang Vivian untuk melindunginya.Duar!Cairan kimia bertemperatur tinggi dan pecahan kaca menyembur ke segala arah.Mateo menggeram menahan sakit sambil menggertakkan gigi, darah segar mengucur deras dari punggungnya.Vivian dilindungi dengan sangat rapat di bawah tubuhnya tanpa luka sedikit pun, tetapi telinga wanita itu berdenging hebat.Setelah lama terdiam, Vivian menyadari bahwa orang di atas tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Baru saat itulah, dia menyadari sesuatu, matanya membelalak panik."Kak Mateo!"Bereaksinya berbagai zat kimia,

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 13

    Menyadari suasana yang berubah aneh, Vivian baru tersadar. Demi menyembuhkan depresi Dirly, dia menjadi gadis humoris selama tiga tahun, hingga beberapa kebiasaan sulit dihilangkan dalam waktu singkat.Dan Mateo, kemungkinan besar tidak menyukai hal-hal seperti itu.Namun, tepat saat dia hendak meminta maaf, Mateo yang biasanya dingin dan irit bicara, justru terkekeh pelan setelah terdiam beberapa detik.Pada saat itu, seluruh isi laboratorium dibuat terperanjat."Mataku yang kemasukan zat kimia atau gimana ya? Masa aku lihat kulkas 10 pintu tersenyum?""Aku juga lihat! Apa otakku rusak gara-gara kebanyakan eksperimen?""Kak Mateo kalau tersenyum ... benar-benar bikin melayang! Kalau sampai dilihat fans rahasianya yang agresif seperti serigala di luar sana, apa laboratorium ini bakal nggak dikepung?"Vivian dibuat tertawa geli sampai perutnya sakit melihat tingkah berlebihan teman-temannya.Setelah hari itu, setiap dia melontarkan lelucon garing, seberapa aneh pun itu, atau bahkan ket

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 12

    Demi mencegah Yesika melarikan diri, Dirly langsung menelepon polisi dan menyerahkan bukti-bukti di tangannya untuk mengurung wanita itu lebih dulu.Saat borgol dikunci di pergelangan tangannya, Yesika akhirnya panik setengah mati.Dia memohon ampun dengan panik.Ketika tidak mendapatkan respons, dia mulai mengumpat pada Dirly seperti orang gila."Ibuku akan segera menikah dengan ayahku, mereka pasti akan menyelamatkanku!""Dirly! Kamu pikir kalau memasukkanku ke penjara, Vivian bakal memaafkanmu? Mimpi kamu!""Dia sudah tahu kalau kamu pernah tidur denganku! Kamu kasih dia obat pencahar demi aku, menghinanya berkali-kali, dan membuat video-video menjijikkan itu pakai tanganmu sendiri! Sebenarnya kamu juga punya tanggung jawab atas kematian ibunya! Vivian nggak akan pernah memaafkanmu selamanya!"Kepalan tangan Dirly mendadak terkunci erat, buku-buku jarinya memutih.Ya, atas kematian ibu Vivian, dia juga memiliki tanggung jawab.Kalau saja dia tidak dibutakan oleh kebohongan Yesika hi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status