Share

Bab 2

Author: Ariess_an
last update publish date: 2025-08-02 15:00:54

Deg!

Suara bariton itu membuat Ana terlonjak kaget. Tubuhnya secara reflek mengikuti perintah.

Ana berjalan mendekat dengan tubuh yang gemetar hebat. Berpikir keras bagaimana cara minta maaf agar dirinya tidak dilaporkan ke polisi karna sedikitpun dia tidak ikut menikmati uang korupsi, salahnya hanya tidak melaporkan perbuatan Pak Rudy.

Mengenai apakah dirinya akan disebut kaki tangan, Ana tidak pernah terpikir sama sekali. Pikirannya yang berkecamuk dan penuh itu membuatnya tidak memperhatikan sekeliling.

Tanpa tahu jika laki-laki di depannya sudah melepas satu persatu kancing kemeja yang melekat di tubuhnya.

Ana yang masih setia menunduk. Tidak berani menatap atasan dari atasanya itu. Air mata menjadi saksi bisu betapa takut dirinya saat ini. Buliran itu juga masih mengalir deras dengan sesekali Ana menghapus menggunakan punggung tangan.

Tiba-tiba Ana menjatuhkan diri, berlutut di hadapan Jeffreyan.

"Tuan jangan laporkan saya, sa-saya minta maaf."

Sebelah alis Jeffreyan naik mendengar pengakuan gadis tersebut. 

Kesalahan?

"Apa kesalahanmu?"

Ana menghentikan tangis yang kini menyisakan isakan. "Sa-saya tidak melaporkan perbuatan curang atasan saya."

Jeffreyan menatap gadis itu dengan pandangan dingin. "Siapa atasanmu?"

“Pak Rudy, Tuan.” Jawab Ana dengan terbata-bata. "Tolong maafkan saya, Tuan. Jangan laporkan saya ke polisi."

Ana tidak punya pilihan selain mengakui kecurangan Pak Rudy. Dirinya sangat membutuhkan pekerjaan ini demi biaya pengobatan sang ayah.

Sambil merendahkan diri dia mengatupkan tangan di depan dadanya, berlutut di hadapan Jeffreyan. Bagaimanapun Ana tidak boleh dipecat. Ana butuh uang untuk membayar pengobatan ayahnya.

Alih-alih memukul atau memaki Ana, justru Jeffreyan terkekeh pelan. 

“Saya tidak akan melakukan itu.” Pria itu berucap kemudian. Wajah pria itu tampak puas, seakan-akan baru saja menemukan undian berhadiah yang sangat menguntungkannya.

“Terima kasih, Pak–”

“Namun, kamu harus bersedia menjadi penghangat ranjang saya malam ini.”

Ana mendongak, sepasang matanya tampak terkejut saat melihat atasannya sudah bertelanjang dada.

“P-Pak?”

“Atau kamu lebih rela menghabiskan waktumu di penjara?”

Ana langsung menggeleng, yang langsung dilihat Jeffreyan bahwa gadis itu memilih opsi memuaskan dirinya.

Belum sempat Ana mengatakan apa pun, tubuh atletis itu sudah mengungkung tubuhnya. Sebelah tangannya menekan tengkuk Ana, memangut bibirnya dengan rakus dan kasar.

"Pak–mmph!"

Ana berontak dengan memalingkan wajahnya namun tekanan pada tengkuknya semakin kuat, pagutan pada bibirnya semakin dalam.

Ia menghirup rakus udara ketika Jeffreyan melepas pagutan mereka. Hanya sebentar karena tidak lama kemudian, Jeffreyan kembali menekan tengkuk dan mempertemukan bibir mereka. Kali ini Jeffrey mencecap dengan lebih rakus bibir mungil Ana.

Ana meringgis ketika bibirnya digigit Jeffreyan. Mulut yang membuka itu seolah memberi akses masuk, kesempatan itu diambil Jeffreyan untuk memperdalam pagutan mereka dan mengeksplore apa saja yang bisa lidahnya jangkau dari mulut wanita sialan itu.

"Rasamu manis." Racau Jeffreyan di sela pagutan nya yang liar. Tidak cukup hanya mulutnya, Jeffreyan pindah ke rahang dan mengecupi seluruh wajah Ana tak luput juga bagian ceruk leher. Disana Jeffreyan tinggalkan jejak-jejak kepemilikan.

Srekk! Suara robekan kemeja terdengar.

Setelah melemparkan bra hitam yang menutupi aset Ana, kini tangan kiri Jeffreyan mulai bermain di atas bongkahan yang ternyata begitu pas dalam genggaman. Tangan lainnya dia gunakan menahan kedua tangan Ana. Bibirnya tidak berhenti, kembali ia meninggalkan banyak tanda di sekitar leher jenjang Ana yang menguar aroma wangi dan membuatnya candu mengendus di sana.

Hanya setelah Jeffreyan mendapatkan pelepasan. Jeffreyan menjatuhkan tubuh disamping tubuh Ana. Matanya perlahan terpejam setelah puas bermain. 

Sementara Ana masih terisak, pedih dan perih dibawah sana tidak sebanding dengan sakit dihatinya.

Tidak pernah dia bayangkan bahwa atasan yang selalu dia hormati akan melakukan perbuatan gila pada dirinya.

Saat dirinya ingin menjauh, tangan Jeffreyan justru menariknya mendekat. Lalu melingkar di perutnya, mendekapnya dengan posesif sambil mengecupi bahu telanjangnya.

Entah sampai berapa lama sang atasan melakukannya, Ana tidak tahu karena kesadarannya sudah hilang.

***

"Enghh.." lenguhani kecil itu keluar dari bibir Ana.

Kelopak matanya terasa berat untuk membuka ketika silau cahaya masuk menembus celah tirai yang sedikit terbuka.

Ana meringis menyentuh kepalanya yang pening seolah dihantam baru besar. Belum lagi badannya yang terasa remuk dan sulit untuk dia gerakkan.

Tenggorokannya juga terasa kering. Namun, yang paling mengganggunya adalah sebuah tangan yang melingkar erat di perutnya.

Deg!

Ingatan tentang malam panas semalam kembali menghantam kepalanya, membuat Ana ketakutan dan dengan reflek dia melepaskan diri dari pelukan Jeffreyan. Untung saja, gerakan spontan itu tidak mengganggu tidur lelap Jeffreyan apalagi sampai membuat atasan-nya itu terbangun.

Dengan cepat Ana bergegas bangkit. Dia tidak punya waktu untuk meratapi nasib. Takut Jika Jeffreyan bangun dan kembali mengulang perlakuan menyakitkan semalam.

"Akhh.. " Ana meringis pelan. Ia ggigit bibirnya kuat menahan ringisan itu agar tidak keluar..

Ana memaksa bangun walau bagian intinya sangat perih. Perlahan ia turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi. Walau di percobaan pertama dia jatuh karena lutut nya lemas dan inti tubuhnya sangat perih.

"Tuhan bantu akuu. Jangan sampai Pak Jeffreyan terbangun. Aku takut." Batinnya. Dan dia berhasil bangkit walau tertatih-tatih.

Pelan-pelan Ana memungut kembali semua pakaian yang berserak dilantai. Kemejanya sudah tidak bisa digunakan. Dengan terpaksa dia ambil kemeja yang tergeletak tak jauh dari sofa lalu memakai kemeja navi milik Jeffreyan yang terlihat kebesaran pada tubuh mungilnya. Ana tidak peduli penampilannya yang acak acakan, yang terpenting adalah pergi jauh dari tempat ini.

Akhirnya, dirinya bisa mengenakan pakainya walaupun tidak lengkap setidaknya blazer bisa menutup tubuh polosnya saat keluar dari sini. Masih dengan langkah tertatih Ana berjalan meninggalkan Jeffreyan yang masih tertidur lelap.

Setelah melewati tatapan aneh beberapa petugas kebersihan yang tidak sengaja berpapasan, Ana berjalan lumayan jauh dari tempat itu. Ana yang sedari tadi memaksa diri untuk melangkah sembari menahan perih di antara pahanya terduduk sambil terisak-isak.

"Anaaaa!"

Teriak seseorang menyadarkan Ana dari tangisnya.

"Ya Tuhan! Ana, dari mana saja? Ayahmu drop lagi. Dari semalam ibumu menghubungiku menanyakan keberadaan mu. Tapi kamu tidak bisa dihubungi. "

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 131

    #tripel update😍😍 ditunggu respon dan komen komennya bunda bunda ~~~~~~~~~~~ Beberapa hari terakhir, Ana menikmati perhatian Buk Sri. Tidak sekalipun wanita itu meninggalkannya sendirian terlalu lama. Kalaupun harus pergi, Buk Sri selalu berpamitan lebih dulu lalu kembali seperti yang dijanjikan. Seperti hari ini. Dua jam lalu, Buk Sri meninggalkan ruangan untuk pulang sebentar mengganti pakaian dan mengambil beberapa camilan sehat untuk Ana. Ana tidak memprotes. Meski jauh di lubuk hatinya, masih ada rasa takut saat harus ditinggal sendiri. Di pangkuannya terletak sebuah buku tentang kehamilan. Ana menyukai bacaan seperti itu. Hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan selalu berhasil membuatnya sedikit lebih tenang. Usia kandungannya semakin mendekati hari perkiraan lahir. Membuat Ana mulai mempersiapkan diri. Namun, di balik semua itu, tetap ada ketakutan yang tak bisa ia abaikan. Berbagai kemungkinan buruk kerap melintas begitu saja di kepalanya. Bagaimana ji

  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 130

    #sebetulmya bab ini sama bab sebelumnya itu mau aku satuin, tapi karena beda pov jadinya aku buat dalam 2 bab yaa ~~~~~~~~~~~~~~ Di ruangan lain, Jeffreyan akhirnya membuka mata setelah tiga hari terjebak dalam ketidaksadaran. Pandangan pertamanya menangkap langit-langit putih rumah sakit yang terasa asing. Kepalanya berat. Tenggorokannya kering. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Namun sebelum sempat mencerna apa pun, pikirannya lebih dulu mencari satu nama. Bara. Kesadarannya terakhir hanya saat Ana menangis histeris begitu menyadari dirinya terkena tembakan. Jeffreyan sedikit memiringkan kepala. Di sisi ranjang, seorang wanita paruh baya duduk dengan wajah lelah. Arasya. Kantong mata ibunya tampak menggelap. Rambutnya sedikit berantakan. Wanita yang biasanya selalu tampil rapi itu kini terlihat kacau. Seolah sudah terlalu lama berjaga. Melihat putranya akhirnya sadar, Arasya mengembuskan napas panjang. Bahunya sedikit turun, seperti baru saja melepaskan beban besar. “Mama

  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 129

    Seperti biasa,, #update setelah lama libur Begitu Ana membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah wajah lelah seorang wanita paruh baya yang tengah menatapnya dengan cemas. Butuh beberapa detik bagi pandangannya untuk fokus. Langit-langit putih dan aroma antiseptik membuat kesadarannya terkumpul cepat. Suara samar alat monitor membuat ia sadar berada dirumah sakit. Ana mengerjapkan mata perlahan. Cahaya yang masuk membuatnya sedikit menyipit. Di samping ranjang, wanita itu segera mendekat. “Ana, kamu sudah sadar, Nak?” tanyanya pelan. Ana menatap wajah itu lebih lama. Buk Sri. Atau lebih tepatnya—ibunya. Ana mengangguk kecil. Ia mencoba bangkit, tetapi Buk Sri segera menahan bahunya dengan lembut. “Berbaring saja dulu, Nak.” Ana menurut. Tubuhnya masih terasa berat, walau jauh lebih ringan dibanding terakhir kali ia ingat. Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling diam. Ada sunyi yang terasa canggung diantara mereka. Ana sibuk memainkan jemarinya sendir

  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 128

    Sejak tiba dirumah sakit Ana hanya bisa berdiri sambil memandang lalu lalang orang yang sejak tadi begitu sibuk menangani pasien. Ana dilarang masuk lebih dalam. Sementara Jeffreyan langsung mendapat penanganan. Ia bisa mendengar bahwa Jeffreyan akan dipindah ke ruangan operasi. Ana membawa diri mengikuti brangkar Jeffreyan yang ditarik masuk ke ruang operasi. Namun begitu ingin ikut masuk dirinya dicegat. Ia disuruh menunggu di depan ruangan operasi. Tak punya pilihan selain menurut, Ana hanya bisa terpaku. Didepannya, tatapan tajam seorang pria menghujam tajam. Melihat itu membuat Ana perlahan menjauh. Memilih berdiri agak jauh sementara didepan ruangan Jeffreyan ada beberapa laki-laki yang Ana yakin anak buah pria itu yang berjaga. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tepatnya diruangan operasi sebelah dia orang wanita sedmag berpelukan dalam tangis. Melihat itu, Ana menghela nafas. Tatapannya kosong. Pikirannya penuh. Baik tentang Jeffreyan maupun ucapan terakhir Davin yang

  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 127

    update!!! Jangan lupa follow dan komen yang banyak yaaa semakin banyak komen semakin cepat update ################# " Tolong jangan sampai hilang kesadaran.. " Ana duduk di bangku belakang. Sementara di depan, Salah seorang anak buah Jeffreyan mengemudi dengan kecepatan tinggi, membelah jalan tanpa ragu. Sesekali klakson dibunyikan keras, memaksa kendaraan lain menyingkir. Tubuh Ana terhuyung mengikuti laju mobil, tangannya berpegangan kuat pada kursi. Di sampingnya, Jeffreyan nyaris menutup mata. Tubuh bersimbah darah. beberapa saat lalu, - Semua terjadi begitu cepat hingga sulit dipahami—suara borgol yang beradu, langkah kaki yang berlarian, dan teriakan panik bercampur menjadi satu kekacauan yang menyesakkan, seolah waktu tidak memberi kesempatan bagi siapa pun untuk benar-benar bereaksi sebelum semuanya berubah. “Pegang dia!” Namun Davin—dengan tenaga yang tersisa dan amarah yang membakar—berhasil melepaskan satu tangannya. Gerakannya liar, tak terduga. Dalam satu

  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 126

    Maaf lama update. Kalau kalian lupa jalan ceritanya, silahkan baca kembali yaa bab sebelumnya. Selamat membaca.... ############## Jelita terpaku. Dadanya terasa nyeri saat mendengar makian itu keluar dari mulut Davin. Anak yang selama ini ia asuh, yang dulu begitu lembut padanya… kini berdiri dengan tatapan penuh kebencian. Sejak hubungan mereka merenggang, Davin memang berubah. Ia lebih banyak diam. Menghindari percakapan diantara mereka. Jelita bisa merasa Davin yang sengaja menjauh tiap kali dia mendekat. Namun tidak pernah—tidak pernah—seperti ini. Jelita menelan ludah. Suaranya tercekat. Pandangannya mengabur oleh air yang bertumpuk di kelopak mata. Semua ini… karena dirinya. Karena masa lalu yang ia bawa masuk ke dalam keluarga barunya. Karena dendam yang tidak pernah benar-benar selesai. Masa lalu dimana egonya membuat dirinya buta pada kebenaran. Dan kebodohannya itu menghancurkan semua orang yang dirinya sayang. “Davin… maafin Mama…” Suaranya lirih. Hampi

  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 98

    “Tu–tuan Jeffreyan?”Netra Adri membola. Tamatlah dirinya.Alamat itu memang ia peroleh dari anak buah yang ditugaskan mengawasi Jeffreyan—tempat yang diduga menjadi lokasi Ana disekap. Namun sejak melewati gerbang, firasat Adri sudah memberi peringatan was-was. Namun sudah terlambat untuk mundur.

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   bab 86

    Ana memutuskan belanja ke supermarket membeli bwbrwoa bahan masakan. Setelah kembali dari Bandung, dirinya belum sempat mengisi kembali kulkas yang sempat dia kosongkan. Tiga hari ini saja dia hanya memakan telur ceplok saja karena memang itu isi kulkas yang ada.Dia dorong stroler belanja ke bagia

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   bab 85

    Selamat membaca! Suara kunci yang diputar memaksa Ana terjaga dari tidurnya. Tubuhnya menegang dan refleks terduduk, tangannya menahan selimut yang melorot dari bahu. Di balik selimut itu, tubuhnya masih polos.Seorang pelayan masuk perlahan, mendorong troli berisi makanan dan camilan."Nyonya, sa

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 87

    Sebelum baca bab ini, kalian harus baca dulu bab 76 yaa.. kalau lupa kalian baca lagi aja bab 76 selamat membaca! * * Perlahan Ana membuka mata. Kepalanya berdenyut, tubuhnya terasa lemas seolah tidak memiliki tenaga. Saat mencoba mengubah posisi menjadi duduk, ia menyadari dirinya berada

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status