ログイン
Rok pensil yang ia kenakan membuat garis pinggulnya terlihat tegas, sementara blazer hitam dan kemeja putih yang terkancing rapi tersebut justru menonjolkan lekuk halus tubuh Raisa Andriana yang tengah berdiri di dekat pintu masuk.
Mungkin hanya dirinya yang datang ke kelab dengan menggunakan pakaian kerjanya yang membosankan seperti ini. Alih-alih pengunjung, dirinya lebih cocok menjadi pelayan yang berdiri di tiap sudut ruangan.
Suasana club dengan suara musik yang memekakkan telinga serta bau asap rokok yang pekat sesekali membuat Anna terbatuk-batuk. Dari sekian banyak tempat yang ada di dunia kenapa pesta keberhasilan proyek timnya harus diadakan di kelab?
"Entah apa bagusnya tempat ini,” gumam Ana lirih. Tidak menyadari bahwa ada beberapa pasang mata yang tengah mengamatinya sejak ia tiba tadi.
"Wah! Ini dia primadona kita malam ini!” teriak Pak Rudy, atasan Ana, saat melihat gadis itu datang. “Selamat datang, Ana! Ayo, kemarilah. Mari kita senang-senang!”
Ana tersenyum kikuk dan membetulkan letak kacamatanya.
“Terima kasih, Pak Rudy,” ucap Ana lirih. Sebelum bisa berucap lebih jauh, Ana sudah ditarik untuk duduk di sebelah Pak Rudy.
Bagi Rudy, Ana adalah jembatan menuju kesuksesan yang ia peroleh. Gadis polos itu selalu saja memunculkan ide-ide brilian. Selama Rudy memastikan Ana tetap berada dalam tim proyeknya, ia akan terus mendapatkan promosi hingga ia mencapai puncak nantinya. Jadi wajar dia menjuluki Ana sebagai anak emasnya.
Lagi pula baginya, meski pintar dan penuh ide, Ana mudah dibodohi. Apalagi dengan kekuasaan Rudy, gadis itu begitu mudah dimanipulasi.
“Ayo minum!” Seseorang menyodorkan minuman pada Ana.
“Maaf, aku tidak minum alkohol,” tolak Ana dengan sopan.
"Yang ini jus Ana, tidak megandung alkohol,” balas Revan, salah satu rekan kerja Ana sembari menyodorkan segelas minuman. “Minumlah.”
Ana yang merasa sungkan dan tidak enak menolak akhirnya hanya menerima dengan senyuman canggung. Ia menghargai Revan. Pria itu adalah satu-satunya orang yang baik padanya dalam tim.
Meski diagung-agungkan oleh Pak Rudy, kebanyakan teman-teman setimnya tidak memperlakukannya dengan sama. Mungkin iri, mungkin juga karena tidak suka pada Ana. Mereka selalu memasang muka penuh hinaan tiap kali Pak Rudy selaku ketua tim memujinya. Banyak juga yang mengatai Ana sok polos, terlalu baik, bahkan cenderung bodoh.
Hal itu jelas membuat Ana tidak nyaman. Apalagi saat mereka ada di tempat yang sama seperti ini, di luar kerjaan.
Dirinya ingin pergi, tapi jika ia melakukan itu, maka acara ini akan dibubarkan karena dialah bintang utamanya.
Ana terlihat sungkan dan risih. Belum ada satu jam dia disini dirinya sudah tidak betah
“Ingin menari?”
"Hah?” Ana menoleh pada Revan yang mengajaknya mengobrol. “Ah, tidak! Terima kasih. Maaf aku tidak pandai menari, Revan."
“Baiklah. Tapi aku mulai bosan kalau hanya duduk.”
"Jangan hiraukan aku, Revan, pergilah menari,” ucap Ana. “Aku baik-baik saja di sini.”
“Tidak, Ana. Tempat ini berbahaya apalagi untuk gadis polos sepertimu dibiarkan sendirian.” Revan mengernyit.
Ana tersenyum. “Aku baik baik saja, sungguh!”
“Oke, kalau begitu, tunggu di sini. Jangan menerima ajakan apapun jika tidak kenal.”
Ana tertawa kecil. “Baiklah.”
Ia melambaikan tangannya pada Revan saat itu menatapnya sembari berjalan mundur ke lantai dansa. Ana mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar selama beberapa saat hingga seseorang tiba-tiba duduk di sebelahnya.
"Raisa Andriana.”
Ana terkesiap saat menoleh, mendapati asisten pribadi bos besarnya duduk di sampingnya.
“Pak Tama?”
Ana binggung kenapa tiba-tiba sekretaris pimpinan yang hanya berpapasan beberapa kali denganya itu datang menghampiri.
Apakah ada masalah pekerjaan? Harusnya ada hal yang penting, kan?
“Ada apa, Pak?” tanya Ana kemudian.
Namun, Tama tidak menjawab. Pria itu hanya menatap Ana dengan tatapan yang sulit diartikan sebelum menghembuskan napasnya pelan. Karena gugup, Ana memilih untuk meminum jus yang dipesan Revan tadi.
“Ikut dengan saya, Ana.”
Ana seketika menoleh ke arah Tama, “Hah? Ke mana, Pak?”
“Laporan yang dikirim Pak Rudy bermasalah. Ada banyak pemalsuan dalam laporan keuangan dan akan ditindak atas persetujuan pimpinan. Kamu sebagai orang yang bertanggung jawab atas laporan ini. Jadi, ikut dengan saya sekarang, ”
Bagai disambar petir wajah putihnya semakin kehilangan warna, tangannya gemetar.
“L-laporan, Pak?” Ana gelagapan menjawab. “Kenapa bukan Pak Rudy? Kenapa saya?"
Bermasalah.
Apakah korupsi yang selama ini dilakukan oleh atasannya itu akhirnya terbongkar?
Ya, Rudy sudah beberapa kali mengambil dana proyek. Ana bukannya tidak tahu, tapi ia hanya karyawan kecil. Ia tidak punya kuasa untuk mencegah tindakan Rudy ataupun mengadukannya ke atasan karena jika sampai ini terbongkar, Rudy akan memastikan bahwa Ana akan ikut dipecat bersamanya.
Bagaimana bisa dia dipecat? Ayahnya di rumah perlu biaya pengobatan. Ana tidak bisa kehilangan pekerjaan.
Namun … jika sudah seperti ini, bagaimana kalau dia sendiri yang disalahkan, lalu dipecat?
Ya Tuhan bagaimana ini?
***
Kini, Ana berdiri di depan kamar di lantai paling atas sebuah hotel. Tama mengatakan, bos mereka, Jeffyan, menunggu di dalam sana.
Ana akhirnya mengikuti perintah Tama, meski sebenarnya ada terbesit perasaan ragu dan tidak nyaman, namun karyawan sepertinya tidak punya pilihan.
Benaknya penuh rasa takut. Apalagi membayangkan jika dirinya dipecat, Ana tidak sanggup. Ayahnya masih butuh biaya pengobatan yang besar. Belum lagi ibu sambung dan kakak sambungnya pasti akan marah besar jika tidak diberi uang bulanan.
Tok, tok, tok.
"Masuk! " Suara bariton seorang pria menjawab dari dalam.
Ana melangkah pelan di belakang Tama sambil berharap waktu berjalan lebih lambat. Kalau bisa dirinya ingin menghilang detik ini juga-saking takutnya.
Mata yang sudah basah itu tidak sengaja bertemu tatap dengan netra tajam milik laki-laki yang sedang duduk menyilang kaki di single sofa. Ana kesulitan menelan ludah. Tatapan Jeffreyan benar-benar menguliti setiap sisi tubuhnya.
Sadar sudah lancang menatap sang bos, Ana buru-buru menundukan kepala. Tangannya semakin gemetar hanya dengan beradu pandang sesaat. Lalu bagaimana cara dia menjelaskan alasannya?
Berbeda dengan Ana yang diliputi takut dan gelisah, Jeffreyan duduk tenang sambil memperhatikan hadiah kutukannya. Lamat-lamat Jeffreyan menatap dua orang di depannya bergantian sebelum atensinya jatuh pada Ana.
Dengan gerakan tangan Jeffreyan memberi kode agar Tama meninggalkan dirinya dan gadis yang bernama Ana itu.
Setelah Tama pergi suasana terasa mencekam. Ana masih setia berdiri sambil menunduk.
Tatapan Jeffreyan seakan menelanjangi Gadis cupu itu, yang anehnya terlihat terguncang. Entah apa yang asisten nya itu katakan pada gadis itu sampai tubuhnya gemetar dan matanya basah.
Disaat Jeffreyan memindai setiap tubuh Ana dengan pandangan intens, Ana justru sibuk memikirkan bagaiman caranya lepas dari jerat permasalahan yang sedang dia hadapi.
Yang ada dalam pikiran Ana adalah bagaimana agar masalah ini jangan sampai ke polisi dan dirinya tidak di penjara. Dia masih butuh pekerjaan untuk biaya pengobatan papanya.
Tanpa tahu niat sebenarnya dari pertemuan ini.
"Mendekat."
“Lihat? Ini dia pria yang dua kali gagal menikah!” Sorakan Rangga menggema di antara denting gelas dan musik jazz yang mengalun pelan. Lampu temaram bar membuat bayangan wajahnya terlihat lebih liar dari biasanya. Jeffreyan tahu ia tak seharusnya menanggapi ocehan pria setengah mabuk itu. Namun kalimat barusan cukup menyentil egonya. “Setidaknya gue nggak menikah setelah viral dipermalukan seorang wanita,” ucapnya pelan, sarkasnya tajam seperti silet. Rangga mendengus. Well, dia kehabisan kata membantah. Jeffreyan memang dua kali gagal bertunangan. Tapi belum pernah sampai ke pelaminan. Belum pernah dipaksa bertanggung jawab seperti dirinya. . “Ah, sialan! Semua orang jadi tahu gadis itu hamil gara-gara mulut bocornya. ” Rangga menjatuhkan tubuhnya di sofa sebelah Jeffreyan. Bukan rahasia lagi. Pernikahan kilat Rangga terjadi karena benihnya sudah lebih dulu bersemayam di perut sekretarisnya-Friska. Lebih dramatis lagi—wanita yang awalnya dipaksa menggugurkan kandungan it
Deg! “Apa maksudnya hilang?” suara Maya berubah tegang. Naluri dokternya langsung mengambil alih. “Pasien di bed 3 nggak ada di kamar, Dok. Infusnya tercabut… kami kira ke kamar mandi, tapi kosong, Dok,” jelas salah seorang perawat dengan napas terengah. “Apa sudah kalian cari ke sekeliling? Siapa tahu pasien dijenguk keluarga?” tanya Maya cepat. Kejadian seperti itu memang jarang, tapi bukan tak mungkin. Beberapa ibu hamil yang menunggu persalinan kadang memilih berjalan-jalan meski sudah larut malam. Perawat itu menggeleng lemah. “Tadinya saya pikir begitu, Dok. Tapi pasien tidak kunjung kembali. Sudah lebih dari setengah jam.” Maya mengangguk singkat. “Tenang. Kita cek dulu.” Ia segera berbalik menghampiri Jelita yang memandangnya heran. “Tante, aku tinggal sebentar nggak apa-apa?” Tanpa menunggu jawaban, Maya sudah bersiap keluar. “Nanti aku ke sini lagi.” “Ada apa, May?” tanya Jelita, menangkap kepanikan di wajahnya. “Salah satu pasien nggak ada di bed. Mungkin
sebelum baca bab ini baca dulu bab 119 yaa. ~~~&&~~~ Seorang suster memperbaiki cairan infus Ana yang sempat balik, setelah selesai dia tersenyum ramah. "kalau mau ke kamar mandi minta ditemani saja ya buk." Ana mengangguk sebelum naik ke ranjang dengan infus yang sudah kembali terpasang di tangannya. Di sampingnya, Buk Sri menaikkan selimut hingga menutupi tubuh Ana sampai ke dada. "Nanti klau infus nya sudah habis bisa panggil saya atau tekan tombol ini ya buk." ucap perawat pada Buk Sri sebelum berlaku keluar dari kamar inap. Ya, Ana jadinya menginap satu malam. Tubuhnya terlalu lemas dan kekurangan cairan. “Sudah lebih baik?” Ana mengangguk pelan. Perutnya menang sudah lebih baik setelah mengkonsumsi beberapa vitamin yang diberikan Dokter. Namun beberapa bagian tubuhnya masih tidak nyaman. “Perutnya masih sakit?” Ana menggeleng. Tatapan matanya masih dipenuhi kecemasan. “Tapi setelah ini kita langsung pulang, kan, Buk?” Kini giliran Buk Sri yang mengangguk.
"Berapa lama kau akan menyelesaikan makanmu?" Semuanya menghentikan gerakan mereka sejenak dan menatap Elena yang baru saja bersuara dengan nada dingin. Melihat pandangan Elena tertuju ke arah Ayura, Girsa dan Brian ikut menoleh pada Ayura yang membulatkan matanya. Mendadak, Ayura merasakan tangan dan kakinya mendingin. "Bantu para pelayan, bukankah itu yang seharusnya dilakukan olehmu?" "Ibu? Apa maksud Ibu?" Brian kalah cepat dengan mulutnya sendiri dan bertanya dengan nada menuntut. "Bukankah itu memang pekerjaannya?" Elena bangkit setelah mengelap mulutnya dengan serbet, lalu pergi begitu saja meninggalkan suasana dalam keadaan berat. Brian melirik Girsa yang bersikap acuh, ia hanya bisa menghela napas samar melihat sikap kakaknya. Ayura tidak mengerti kenapa Elena terlihat kesal padanya. Ibu mertuanya itu memang selalu tidak menyukainya semenjak hari itu, tapi biasanya dia hanya enggan meresponsnya dan sesekali melemparkan sarkastik. Namun, sekarang Elena menyuruh
Girsa tidak pulang, mungkin dia menginap lagi di kantornya. Dan Ayura sama sekali tidak keberatan. Tapi masalahnya, mereka baru saja menikah, dan ke absenan Girsa dirumah menjadi bahan gosip untuk para pelayan. Orang-orang itu membicarakan Ayura di belakang, tapi sekali lagi, Ayura sebetulnya tidak begitu peduli. Satu-satunya yang dia pedulikan hanyalah dirinya yang kini tidak memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan semenjak menikah.Siang itu Ayura mendengar pembicaraan Elena. Mertuanya itu menyuruh seseorang untuk mengantarkan makan siang ke kantor Girsa. Ayura tahu ibu mertuanya itu tidak akan mau menyuruhnya. Namun, ia tetap menghampiri dan menawarkan diri, bersikap tebal muka.Alhasil, di sinilah Ayura berada, berdiri di depan sebuah gedung menjulang yang ada di hadapannya. Dia belum pernah melihat kantor kebesaran Girsa secara langsung, dan ternyata itu sungguh luar biasa, mungkin gedung tersebut memiliki empat puluh lantai lebih. Dengan menenteng tas bekal berisi makan
penulis sedang tidak fit tapi karena jatah libur nulis sudah habis makanya gabisa bolong lagi 🙏ini hanya bab sebelumnya saja. Doakan penjlis sehat ya supaya bisa update. Dokter Maya menggeser alat USG sedikit ke kiri. Tangannya mantap, gerakannya terlatih, sementara sorot matanya tetap terpaku pada layar hitam-putih di hadapannya. Bunyi detak halus terdengar samar di ruangan yang mendadak terasa terlalu sunyi bagi Ana. “Bayinya normal, Bu Ana,” ucap dokter Maya akhirnya. Suaranya terdengar cepat namun jelas, seolah sengaja ingin menenangkan lebih dulu sebelum menyampaikan hal lain. “Denyut jantungnya baik. Ukurannya sesuai usia kehamilan.” Kalimat itu seperti membuka simpul yang sejak tadi mencekik dada Ana. Napas yang sedari tadi tertahan akhirnya terlepas panjang. Bahunya sedikit mengendur. Jemarinya yang kaku perlahan melepas cengkeraman pada seprai. Netra Ana benar-benar terpaku pada layar. Ya terharu, senang dan ada banyak perasaan membuncah dihatinya. Namun keleg







