Share

Bab 3

Penulis: Ariess_an
last update Tanggal publikasi: 2025-08-02 15:03:57

Revan meracau frustasi. Juga lega, akhirnya menemukan Ana. Dia terkejut saat mendekat dan melihat penampilan Ana cukup berantakan dengan mata sembab rambut tergerai asal dan ada luka dibibirnya. Namun belum sempat ia bertanya, suara panik Ana sudah memasuki pendengarannya. Memaksanya untuk mengesampingkan segala pertanyaan dikepala.

"Ayah … ayah? Aku harus kerumah sakit.."

"Ana? Kamu nggak papa?"

Ana tidak lagi mendengar pertanyaan Revan. Kepalanya penuh dengan kekhawatiran akan ayahnya.

"Revan, bisa antar aku ke rumah sakit?" Pintanya dengan suara memohon.

Revan menyentuh pundak Ana, mencoba menenangkan nya. "ayahmu sudah dirumah, semalam dia drop tapi tidak sampai dirawat," Ibu tiri mu bahkan tidak membiarkan ayahmu dirawat, Ana.

Revan tidak tega memberi tahu Ana tentang kekejaman itu apalagi penampilan gadis itu terlihat sangat berantakan.

Revan mendesah pelan. "Mari aku antar pulang. ayahmu pasti sudah menunggu mu, Ana. "

Ana mengganguk pelan.

Saat berniat naik ke boncengan, Ana meringgis. Rasa pedih pada arena di antara paha kembali dia rasakan. Dia pun memilih duduk menyamping.

*~~~*

Jeffreyan terbangun setelah terganggu dengan kebisingan dari dering ponselnya sendiri. Melihat nama yang tertera di layar adalah Tama, Jeffreyan menahan diri untuk memaki-maki orang yang mengganggu tidurnya. Ia menekan klik dan panggilan itu tersambung.

"Apa? "

Suaranya serak dan tenggorokan nya terasa kering. Namun, tidak menyembunyikan rasa kesal akibat tidurnya yang terganggu.

"Maaf tuan, saya mengingatkan ada rapat dengan investor dari Jepang jam 2 siang ini. "

"Hm."

Jeffreyan melihat jam menunjukan pukul 12 lewat.

Ah sial, rupanya dia kelelahan setelah bermain sampai dini hari. Dirinya kemudian menoleh dan mendapati ranjang sebelahnya kosong, kemana gadis itu? Apa dia dikamar mandi?

Ingatan tentang malam panasnya yang luar biasa membuatnya tanpa sadar tersenyum. Gadis itu entah harus dia apakan. Mungkin bukan gadis lagi setelah kebringasannya tadi malam.

Dirinya bener-bener dibuat lepas kendali bahkan sampai gadis itu pingsan pun dirinya tetap memompa dan membolak balik tubuh kecil itu. Kalau bukan mengingat tadi malam pengalaman pertama kalinya untuk gadis itu, sudah pasti akan dia hajar sampai siang ini.

Hanya membayangkan malam panas itu kembali, milik nya sudah kembali bangun.

Sialan!

Kenapa dirinya menjadi mesum begini?

"Tuan? "

Suara dari seberang telepon memutus lamunan Jeffreyan.

Lupakan semua, dia harus kembali fokus pada pekerjaan. Otaknya mencoba mengais sisa kewarasan.

"Tama, antarkan baju ku dan juga baju ganti untuk wanita ke sini. " Matanya melirik ke arah kamar mandi. Senyuman nya terbit tanpa tahu bahwa wanita yang dia sebut sudah melarikan diri sejaki pagi.

"Baik Tuan."

Tut! Sambungan telepon itu putus.

Sementara ditempat lain, Ana yang baru saja tiba langsung turun dari boncengan Revan. Menyelonong masuk kerumah. Dia terlalu panik dengan kondisi ayahnya.

Walaupun Revan bilang ayahnya sudah di rawat semalam hal ini justru membuat Ana semakin khawatir karena biasanya jika penyakit ssang ayah kambuh minimal di rawat inap 2 hari baru diizinkan pulang. Rasa perih yang dia rasakan hilang berganti menjadi rasa takut akan kehilangan ayah-nya.

Tetapi baru mencapai pintu, langkah Ana terhenti karrna tangannya dicegat. "Dari mana kamu semalam nggak pulang, hah?! "

Suara bentakan menghentikan langkah Ana menuju ke kamar ayahnya.

Ana meringgis karna tekanan yang kuat pada tangannya, "Ma-ma? Maaf Ma, Ana ketiduran dirumah teman semalam. " Bohong Ana.

"Bagus! Ayahmu drop tapi kamu malah enak-enakkan tidur. Ditelfon nggak diangkat, kamu mau ayahmu ini mati karna terlambat penanganan, iya?!"

Kepala Ana menggeleng cepat, bibirnya bergetar menahan tangis. "Maaf, Ma. Ana bukannya sengaja nggak angkat telfon semalam, tapi.."

Rita yang kesal menjambak rambut kusut Ana, menariknya kebawah membuat wajah Ana mendongak keatas menahan sakit. Belum hilang sakit di kepalanya kini ditambah lagi oleh ibu sambungnya.

"Alasan! Bilang saja kalau kamu mau mangkir mengurus ayahmu. Ingat ya Ana, kalau bukan karena ayahmu kamu pikir bisa kamu ada didunia ini?! Kamu pikir uang untuk kamu kuliah itu murah, hah?! Kalau bukan karena ayahmu mungkin kamu sudah mati kelaparan dibawa sama ibumu yang bodoh itu. Jadi sekarang giliran kamu yang bantu ayahmu berobat, paham kamu?! "

Ana mengganguk paham. Ini bukan hal baru baginya, tapi tetap menyakitkan.

Dulu, Ana sempat merasakan sosok ibu ketika ayahnya menikah untuk kedua kalinya setelah ibunya meninggalkanya di usia 5 tahun.

Ibu tiri Ana bersikap baik dan hangat layaknya ibu pada umumnya. Namun, semua berubah semenjak usaha ayahnya kena tipu hingga berujung bangkrut. diperparah lagi sudah 4 tahun ini ayahnya mulai sakit-sakitan serta mereka harus terusir dari rumah tempat mereka tinggal.

Ibunya tertekan dan mulai melampiaskan kemarahan serta kefrustasian semuanya kepada Ana, yang tidak tahu apa-apa.

Ana kecil sudah didewasakan keadaan. Bekerja keras demi membantu ekonomi keluarga sudah dia emban sejak usia 12 tahun. Ibunya yang waktu itu sempat tertekan, hanya bisa memukuli Ana untuk melepaskan kekesalan yang bercokol dihatinya. Dan bagian paling sakit nya adalah tidak pernah di bela bahkan oleh ayahnya sendiri. Hal itu menjadikan Ana sosok yang penakut dan mudah ditindas.

"Dasar nggak tau diri! Tau begini mending kamu di buang! Gara-gara mengurus kamu suamiku itu bangkrut. Memang dasar kamu sama ibu mu itu perempuan pembawa sial! "

"Sekarang urus ayahmu, tebus obatnya! Pergi sana! " Sentaknya lalu melempar kertas resep ke muka Ana.

Ana memungut kertas yang tergeletak lalu melangkakan kaki keluar dari rumah. Ana mengurungkan niat untuk bertemu sang ayah. Memaksa masuk pun dia tidak akan diizinkan.

Setidaknya dia bisa bantu dengan menebus obat ayahnya.

Hatinya diliputi rasa bersalah dan takut. Meski ayahnya acuh tak acuh padanya, Tapi bagi Ana masih punya keluarga kandung saja dirinya sudah teramat bersyukur. Dia tidak mau ditinggal sendirian. Tidak mau.

Ana menebus semua obat yang diperlukan. Saat keluar dari apotik secara tidak sengaja dia bertemu dengan Vita, rekan kerjanya.

"Ya ampun, An. Penampilan lo udah ngalah-ngalahin wanita panggilan aja deh acak-acakan banget. Abis di pakai berapa ronde lo? " Ucapnya pelan namun beberapa orang disana bisa mendengar dan langsung melihat ke arah mereka berdua.

"Perempuan murahan! " desisnya

Deg!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 131

    #tripel update😍😍 ditunggu respon dan komen komennya bunda bunda ~~~~~~~~~~~ Beberapa hari terakhir, Ana menikmati perhatian Buk Sri. Tidak sekalipun wanita itu meninggalkannya sendirian terlalu lama. Kalaupun harus pergi, Buk Sri selalu berpamitan lebih dulu lalu kembali seperti yang dijanjikan. Seperti hari ini. Dua jam lalu, Buk Sri meninggalkan ruangan untuk pulang sebentar mengganti pakaian dan mengambil beberapa camilan sehat untuk Ana. Ana tidak memprotes. Meski jauh di lubuk hatinya, masih ada rasa takut saat harus ditinggal sendiri. Di pangkuannya terletak sebuah buku tentang kehamilan. Ana menyukai bacaan seperti itu. Hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan selalu berhasil membuatnya sedikit lebih tenang. Usia kandungannya semakin mendekati hari perkiraan lahir. Membuat Ana mulai mempersiapkan diri. Namun, di balik semua itu, tetap ada ketakutan yang tak bisa ia abaikan. Berbagai kemungkinan buruk kerap melintas begitu saja di kepalanya. Bagaimana ji

  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 130

    #sebetulmya bab ini sama bab sebelumnya itu mau aku satuin, tapi karena beda pov jadinya aku buat dalam 2 bab yaa ~~~~~~~~~~~~~~ Di ruangan lain, Jeffreyan akhirnya membuka mata setelah tiga hari terjebak dalam ketidaksadaran. Pandangan pertamanya menangkap langit-langit putih rumah sakit yang terasa asing. Kepalanya berat. Tenggorokannya kering. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Namun sebelum sempat mencerna apa pun, pikirannya lebih dulu mencari satu nama. Bara. Kesadarannya terakhir hanya saat Ana menangis histeris begitu menyadari dirinya terkena tembakan. Jeffreyan sedikit memiringkan kepala. Di sisi ranjang, seorang wanita paruh baya duduk dengan wajah lelah. Arasya. Kantong mata ibunya tampak menggelap. Rambutnya sedikit berantakan. Wanita yang biasanya selalu tampil rapi itu kini terlihat kacau. Seolah sudah terlalu lama berjaga. Melihat putranya akhirnya sadar, Arasya mengembuskan napas panjang. Bahunya sedikit turun, seperti baru saja melepaskan beban besar. “Mama

  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 129

    Seperti biasa,, #update setelah lama libur Begitu Ana membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah wajah lelah seorang wanita paruh baya yang tengah menatapnya dengan cemas. Butuh beberapa detik bagi pandangannya untuk fokus. Langit-langit putih dan aroma antiseptik membuat kesadarannya terkumpul cepat. Suara samar alat monitor membuat ia sadar berada dirumah sakit. Ana mengerjapkan mata perlahan. Cahaya yang masuk membuatnya sedikit menyipit. Di samping ranjang, wanita itu segera mendekat. “Ana, kamu sudah sadar, Nak?” tanyanya pelan. Ana menatap wajah itu lebih lama. Buk Sri. Atau lebih tepatnya—ibunya. Ana mengangguk kecil. Ia mencoba bangkit, tetapi Buk Sri segera menahan bahunya dengan lembut. “Berbaring saja dulu, Nak.” Ana menurut. Tubuhnya masih terasa berat, walau jauh lebih ringan dibanding terakhir kali ia ingat. Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling diam. Ada sunyi yang terasa canggung diantara mereka. Ana sibuk memainkan jemarinya sendir

  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 128

    Sejak tiba dirumah sakit Ana hanya bisa berdiri sambil memandang lalu lalang orang yang sejak tadi begitu sibuk menangani pasien. Ana dilarang masuk lebih dalam. Sementara Jeffreyan langsung mendapat penanganan. Ia bisa mendengar bahwa Jeffreyan akan dipindah ke ruangan operasi. Ana membawa diri mengikuti brangkar Jeffreyan yang ditarik masuk ke ruang operasi. Namun begitu ingin ikut masuk dirinya dicegat. Ia disuruh menunggu di depan ruangan operasi. Tak punya pilihan selain menurut, Ana hanya bisa terpaku. Didepannya, tatapan tajam seorang pria menghujam tajam. Melihat itu membuat Ana perlahan menjauh. Memilih berdiri agak jauh sementara didepan ruangan Jeffreyan ada beberapa laki-laki yang Ana yakin anak buah pria itu yang berjaga. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tepatnya diruangan operasi sebelah dia orang wanita sedmag berpelukan dalam tangis. Melihat itu, Ana menghela nafas. Tatapannya kosong. Pikirannya penuh. Baik tentang Jeffreyan maupun ucapan terakhir Davin yang

  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 127

    update!!! Jangan lupa follow dan komen yang banyak yaaa semakin banyak komen semakin cepat update ################# " Tolong jangan sampai hilang kesadaran.. " Ana duduk di bangku belakang. Sementara di depan, Salah seorang anak buah Jeffreyan mengemudi dengan kecepatan tinggi, membelah jalan tanpa ragu. Sesekali klakson dibunyikan keras, memaksa kendaraan lain menyingkir. Tubuh Ana terhuyung mengikuti laju mobil, tangannya berpegangan kuat pada kursi. Di sampingnya, Jeffreyan nyaris menutup mata. Tubuh bersimbah darah. beberapa saat lalu, - Semua terjadi begitu cepat hingga sulit dipahami—suara borgol yang beradu, langkah kaki yang berlarian, dan teriakan panik bercampur menjadi satu kekacauan yang menyesakkan, seolah waktu tidak memberi kesempatan bagi siapa pun untuk benar-benar bereaksi sebelum semuanya berubah. “Pegang dia!” Namun Davin—dengan tenaga yang tersisa dan amarah yang membakar—berhasil melepaskan satu tangannya. Gerakannya liar, tak terduga. Dalam satu

  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 126

    Maaf lama update. Kalau kalian lupa jalan ceritanya, silahkan baca kembali yaa bab sebelumnya. Selamat membaca.... ############## Jelita terpaku. Dadanya terasa nyeri saat mendengar makian itu keluar dari mulut Davin. Anak yang selama ini ia asuh, yang dulu begitu lembut padanya… kini berdiri dengan tatapan penuh kebencian. Sejak hubungan mereka merenggang, Davin memang berubah. Ia lebih banyak diam. Menghindari percakapan diantara mereka. Jelita bisa merasa Davin yang sengaja menjauh tiap kali dia mendekat. Namun tidak pernah—tidak pernah—seperti ini. Jelita menelan ludah. Suaranya tercekat. Pandangannya mengabur oleh air yang bertumpuk di kelopak mata. Semua ini… karena dirinya. Karena masa lalu yang ia bawa masuk ke dalam keluarga barunya. Karena dendam yang tidak pernah benar-benar selesai. Masa lalu dimana egonya membuat dirinya buta pada kebenaran. Dan kebodohannya itu menghancurkan semua orang yang dirinya sayang. “Davin… maafin Mama…” Suaranya lirih. Hampi

  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 100

    “Ana, bangun!” Kelopak mata Ana bergetar, namun tetap tertutup rapat. Kepalanya berdenyut hebat, seolah dipukul tanpa ampun, sementara seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Rasa dingin menusuk hingga ke tulang, membuat tubuhnya menggigil tanpa kendali. Seseorang mengguncangnya pelan. Namun jangank

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 101

    Jeffreyan menyangga pelipisnya dengan sebelah tangan, lalu mengembuskan napas pelan. Beberapa saat lalu, orang kepercayaannya membawa informasi yang sama sekali tidak mengenakkan. Perusahaan cadangan minyak milik Wicaksana di Timur Tengah mengalami kebocoran dan berujung pada pemanggilan oleh p

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 99

    Netra Jelita membola ketika tahu siapa yang sejak tadi menggedor rumahnya di tengah malam.Adiknya—Adri—duduk di ruang tamu dengan wajah babak belur. Sudut bibirnya pecah, darah mengering di dagu. Satu matanya membengkak.“Kamu dari mana, Dri?” suara Jelita bergetar. Ia segera duduk di sisi Adri, m

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM   Bab 97

    Kondisi Ana menurun. Kulitnya pucat. Lingkaran hitam semakin pekat di bawah mata. Rambutnya kusut—rontok, menempel di bantal. Dengan berat badan yang terus turun. Tidak ada yang tahu Ana sering pingsan. Kadang karena terlalu lama digagahi. Kadang karena terlalu panik mendengar langkah kaki p

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status