Share

Bab 3

Author: Prettyies
last update Last Updated: 2025-11-20 10:05:52

Renita menelan ludah, telapak tangannya dingin. Jantungnya berdebar keras saat mata dokter itu menatapnya.

“Iya… Jadi Mas Deva itu kakaknya Mas Reza?” ia tersenyum kikuk. “Sekarang Mas sudah jadi dokter, ya. Seperti cita-cita kamu dulu. Aku ikut seneng lihatnya.”

Ada getir samar dalam suaranya.

Deva tersenyum tipis, tatapannya sulit dibaca. “Dunia sempit ya. Ternyata kamu istri Reza…”

Renita mengangguk. “Iya, Mas. Aku juga nggak nyangka ketemu Mas di sini.”

Ia menarik napas kecil. “Jadi… aku manggilnya Mas atau dokter, nih?”

Deva menatapnya lama sebelum menjawab.

“Mas aja. Kamu kan istri Reza.” Suaranya menurun, hampir seperti gumaman. “Dulu aku pergi ke luar negeri kuliah kedokteran tanpa pamit sama kamu. Aku tahu aku nyakitin hati kamu,Ren.”

Renita memaksa tersenyum, padahal dadanya terasa sesak.

“Sudahlah, Mas. Itu sudah lama banget. Kita sudah punya hidup masing-masing sekarang. Kita sudah jadi… ipar.”

Kata ipar itu terasa aneh di lidahnya.

Deva masih menatapnya, kali ini lebih dalam, seolah mencari sesuatu di wajah Renita.

“Ren…” suaranya merendah, “kamu bahagia dengan pernikahanmu?”

Renita membeku.

“Kenapa Mas nanya begitu?” matanya berkedip cepat. “Aku bahagia. Aku sama Mas Reza baik-baik saja, pernikahan kami harmonis.”

Nada suaranya tegas, tapi getaran kecil tak bisa disembunyikan.

Deva menatapnya lama seolah tahu jawaban sebenarnya

Namun sebelum ia sempat bicara

BRAK!

Pintu ruangan terbuka keras.

Reza masuk dengan langkah besar, wajahnya penuh kekesalan.

“Mas, tolong cepat periksa istri ku,” katanya tanpa memandang Renita. “Aku mau tahu dia hamil atau nggak.”

Ruangan langsung terasa berbeda dingin, tegang, dan penuh kata-kata yang tak terucap.

Deva menarik napas dalam, berusaha kembali ke mode profesionalnya.

“Sabar dulu, Za. Kita USG dulu ya. Ibu Renita, silahkan berbaring.”

Renita naik ke ranjang periksa. Ia bisa merasakan dua pasang mata di ruangan itu dua laki-laki yang pernah mengisi hidupnya dan rasanya begitu menyesakkan.

Deva mengambil sarung tangan. “Maaf ya, Renita. Tolong buka bagian bajunya, aku harus periksa perut kamu.”

Belum sempat Renita bergerak, Reza sudah memotong ketus,

“Iya cepat naikin baju kamu! Biar Mas Deva periksa kamu,ku kan masih harus ke kantor. Udah bela-belain izin pagi-pagi demi nganterin kamu. ”

Renita memejamkan mata sejenak. Kenapa dia harus mempermalukan aku begini…

Tapi ia tetap membuka pakaian bagian perutnya.

Deva mengoleskan gel dingin. “Tarik napas ya, Ren.”

Alat USG ditempelkan, monitor menyala menampilkan bayangan rahimnya.

Dahi Deva berkerut serius. “Oke… aku jelasin ya. Di sini terlihat sel telur kamu banyak, tapi kecil-kecil. Ini yang bikin kamu telat dua bulan.”

Reza langsung menyala, cepat dan tanpa perasaan,

“Intinya… hamil apa nggak?”

Deva menatap layar. “Nggak hamil, Za. Ini PCOS.”

Reza maju mendekat. “PCOS itu apa, Mas?”

“PCOS itu Polycystic Ovary Syndrome,” jelas Deva sabar. “Kondisi hormon yang nggak seimbang, bikin sel telurnya susah matang. Tapi ini bukan berarti mandul. Banyak pasien PCOS yang tetap bisa hamil, bahkan ada yang lahir kembar.”

Reza malah tersenyum lega. “Syukurlah… jadi benar Renita gak hamil.”

Jantung Renita mencelos. Deva menatap Reza tajam, tidak suka nada itu.

“Za,” suara Deva menegas, “Renita memang nggak hamil, tapi dia butuh pengobatan. Ada banyak cara dan peluang hamil tetap besar.”

Reza malah tertawa kecil. “Yang penting Mas tolong sembuh Renita. Dia tuh sering mengeluh sakit waktu…berhubungan badan kesel aku dengernya.”

Renita menunduk dalam-dalam. Pipinya panas karena malu dan tersakiti.

Deva langsung menoleh tajam ke Reza.

“Reza, kamu jangan ngomong sembarangan begitu. Renita pasien aku. Dia sakit, bukan manja.”

Reza mendengus. “Pokoknya sembuhkan dia, Mas.”

Deva menahan diri. “Aku akan bantu sebaik mungkin. PCOS ada obatnya kok. Yang penting Renita mau kontrol seminggu sekali. Renita juga harus diimbangi dengan pola makan yang tertutup dan yang tidak mengandung gluten,manis dan goreng-gorengan. ”

Renita memandang Deva pelan. “Mas… tapi kok harus seminggu sekali? Biasanya kontrol itu sebulan sekali…”

Deva menatapnya, lama.

“Kamu kondisinya perlu dipantau intensif, Ren. Hormonnya harus distabilkan dulu.”

Tapi kenapa rasanya ada yang disembunyikan Mas Deva…? batin Renita.

Deva lalu menoleh pada Reza. “Gimana Za? Kamu setuju Renita kontrol seminggu sekali?”

Reza langsung menjawab tanpa pikir panjang,

“Setuju! Yang penting dia cepat sembuh. Biar nanti dia bisa… melayaniku diranjang tanpa mengeluh sakit.”

Renita membeku. Jadi itu… alasan utamanya?

Deva menghela napas berat, nadanya lebih lembut saat menatap Renita.

“Kamu tenang aja, Ren. Aku akan lakukan yang terbaik. Mulai minggu depan kamu bisa datang sendiri. Aku akan atur jadwal kamu.”

Renita menatap lantai, dadanya sesak.

“Apa… Mas Reza nggak mau punya anak dari aku?” pikirnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 68

    Mobil Deva akhirnya tiba di depan villa keluarga Nathalia saat malam sudah turun. Lampu-lampu halaman menyala temaram.Deva turun lebih dulu, membuka bagasi dan menurunkan koper Renita.Pintu villa terbuka. Nathalia keluar dengan langkah cepat lalu langsung memeluk Deva erat.“Mas, kamu kenapa baru datang?” keluh Nathalia manja.“Aku kangen tau.”Deva menghela napas, lalu melepaskan pelukan itu lalu berbalik badan menatap Nathalia. “Apaan sih, Nat. Kita kan hampir tiap hari ketemu,” katanya datar.“Jangan lebay.”Tatapan Deva turun sesaat, lalu alisnya langsung berkerut.“Kamu ngapain pakai baju kayak gini?” tegurnya.Nathalia hanya mengenakan lingerie tipis dengan riasan wajah yang tebal. Ia tersenyum percaya diri, lalu mengalungkan tangannya ke leher Deva.“Gimana?” bisiknya genit.“Kamu suka nggak?”Deva langsung memalingkan wajah.“Kamu nggak malu dilihat orang?” katanya kesalkesal. “Ganti baju sana. Nanti masuk angin.”Nathalia tertawa kecil, mendekatkan wajahnya ke telinga Dev

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 67

    Renita memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Dengan langkah sedikit tergesa, ia keluar dari toilet dan menuju kasir.“Kamu lama banget,” ujar Deva sambil menoleh.“Ayo, keburu sore. Nanti macet.”“Iya, Mas,” jawab Renita pelan.Mereka keluar dari restoran menuju area parkir.Kasian Mas Deva…kalau sampai dijebak Natalia dan harus jadi ayah dari bayi yang bukan darah dagingnya, batin Renita gelisah.Deva membuka pintu mobil.“Ayo masuk. Kenapa bengong aja?”Renita tersentak kecil.“Iya,” katanya sambil masuk ke dalam mobil.Setelah pintu tertutup dan mesin mobil menyala, mobil pun melaju meninggalkan parkiran.Cerita nggak ya…Aduh, aku kok takut. Tapi kalau nggak dikasih tau, kasian Mas Deva, pikir Renita sambil menatap jalan di depan.Deva melirik sekilas ke arahnya.“Kamu kenapa, Ren?”“Ngelamun terus.”Ia mengulurkan tangan, mengelus rambut Renita lembut.“Ada yang mau diomongin sama Mas? Ngomong aja. Kayak sama siapa pun.”Renita menelan ludah.“Mas…”“Mas cinta nggak sih sam

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 66

    “Suapin Mas dong, Ren,” kata Deva sambil sedikit mencondongkan tubuhnya.“Hah?” Renita tampak tidak fokus, tatapannya kosong sesaat.“Kamu mikirin apaan sih?” Deva tersenyum.“Mas ada di depan mata kamu, loh.”Renita tersentak.“Maaf, Mas. Tadi Mas ngomong apa?” tanyanya gugup.“Suapin Mas,” ulang Deva, nadanya dibuat manja.Renita menghela napas kecil sambil tersenyum.“Kamu nggak berubah dari dulu. Kalau makan selalu minta disuapin.”Deva menatapnya dalam.“Berarti kamu masih ingat,” katanya pelan.“Atau… kamu memang nggak pernah lupa sama Mas?”Renita langsung mengalihkan pandangan.“Udah, jangan dibahas,” katanya cepat.Ia mengambil sumpit, lalu menyuapi Deva.“Aaa.”Deva membuka mulut, lalu tersenyum puas.“Enak banget ramen-nya kalau kamu yang nyuapin.”Renita menggeleng kecil.“Itu karena ramen-nya memang enak, Mas.”Setelah mereka selesai makan, Deva mengangkat tangan memanggil pelayan.“Mbak, sini deh. Kita mau pesan dessert.”“Dessert apa, Pak?” tanya pelayan.“Dua es krim a

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 65

    “Jangan bengong, Ren. Ayo berangkat,” ujar Deva sambil meraih koper.“Iya, Mas,” jawab Renita cepat, lalu mengikutinya keluar kamar.Deva menarik koper Renita ke arah pintu, lalu spontan menggenggam tangan Renita.“Mas, jangan,” Renita refleks menahan, menoleh ke kanan kiri.“Nanti orang-orang mikir yang nggak-nggak tentang kita.”Deva meliriknya sekilas, senyum tipis muncul.“Kamu penakut banget sih. Ayo.”Renita tak menjawab, hanya menunduk sambil membiarkan Deva tetap menggandeng tangannya.Mereka keluar dari unit apartemen, berjalan menuju lift. Suasana hening di dalam lift terasa canggung.Renita mencuri pandang.“Mas… orang bisa lihat.”Deva terkekeh pelan.“Lihat apa? Kita cuma jalan bareng.”Lift berhenti di basement. Deva lebih dulu keluar, menarik koper Renita menuju mobil, lalu membuka bagasi dan meletakkannya dengan rapi.“Udah,” katanya singkat.Ia lalu berjalan memutar dan membukakan pintu mobil untuk Renita.“Silakan.”Renita tersenyum kecil.“Terima kasih, Mas.”Deva m

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 64

    “Mas aja yang ngelapin, kamu ambil pakaian yang mau dimasukkan aja,” kata Deva sambil mengibaskan koper pelan.“Iya, Mas,” jawab Renita singkat.Ia lalu membuka lemari, mengeluarkan celana, baju, piyama, dan beberapa pakaian lain, menumpuknya satu per satu di atas ranjang.Pandangan Deva tanpa sengaja tertuju pada ukuran dalamannya.“Mas ngapain kamu pegang-pegang dalaman ku?” Renita langsung menoleh, nadanya meninggi, wajahnya memerah.“Nggak nyangka ukuran dada kamu segini,” ujar Deva jujur, disertai senyum tipis yang sulit disembunyikan.“Mas mau bilang aku tepos?” Renita menyilangkan tangan di dada, matanya menyipit kesal.“Tepos apanya, Mas belum pegang,” balas Deva santai, nada suaranya sengaja dibuat menggoda.“Jangan pura-pura nggak tau, tadi aja udah lihat,” sahut Renita cepat, sedikit gugup tapi berusaha terlihat tegas.“Mas bisa kok gedein,” kata Deva ringan, alisnya terangkat jahil.“Jangan mikir aneh-aneh deh,Mas. Mentang-mentang kita cuma berduaan.” gumam Renita sambil m

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 63

    Renita refleks mendorong dada Deva dengan kedua tangannya. “Mas! Apa-apaan kamu?”Jantungnya berdetak kencang, napasnya tak beraturan.Deva terhenti, menatap Renita dengan sorot mata yang dalam. “Mas cuma…”Ia tak melanjutkan kalimatnya.Renita segera berbalik menuju lemari, membuka pintu dengan gerakan tergesa. Tangannya meraih beberapa potong pakaian. “Aku mau ganti baju,” ucapnya tegas.Namun Deva sudah berdiri di belakangnya. Ia meraih gaun dari tangan Renita, lalu mengembalikan pakaian itu ke dalam lemari. “Biar Mas yang pilih,” katanya pelan.Deva menggeser beberapa gantungan, lalu menarik sebuah dress sederhana berwarna lembut. “Kamu pakai ini,” ujarnya sambil tersenyum.“Pasti cantik.”Renita menoleh, wajahnya memerah. “Mas, minggir. Aku mau ganti.”Deva terkekeh kecil. “Kenapa harus minggir? Mas kan sudah lihat semuanya,” godanya ringan.“Mas Deva!” tegur Renita, dengan terbata-bata karena gugup.Deva mengangkat kedua tangannya menyerah. “Iya, iya. Mas tunggu di ranjang.”Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status