Share

Bab 4

Author: Prettyies
last update Last Updated: 2025-11-20 10:07:03

Setelah obat ditebus, Reza dan Renita masuk ke dalam mobil. Reza langsung menutup pintu dengan kasar.

“Pokoknya mulai sekarang kamu nurut aja sama Mas Deva,” ucap Reza tanpa menatapnya. “Biar kamu cepat sembuh.”

Renita mengangguk pelan. “Iya, Mas. Aku bakal banyak makan buah, minum vitamin, dan ikuti semua saran Mas Deva.”

Reza mendengus. “Ya bagus. Kalau kamu sakit terus gini, biaya hidup kita makin tinggi. Yang seharusnya bisa dipakai buat hal lain malah buat bayar rumah sakit.”

Renita hanya menatap kaca mobil, hatinya mengerut.

Padahal semua aku bayar pakai uangku… kenapa dia yang paling perhitungan?

Tapi ia memilih diam.

Tiba-tiba Reza menyalakan ponselnya, menekan loudspeaker.

Renita menoleh. “Mas mau telepon siapa?”

“Mama lah,” jawab Reza malas.

Astaga… apa-apa ngadu. Aku kayak menikah sama anak kecil, bukan pria dewasa, Renita mengumpat dalam hati.

Suara Ayu langsung terdengar dari loudspeaker.

“Halo, Za. Gimana tadi hasilnya? Istrimu hamil?”

Reza menjawab cepat. “Renita nggak hamil, Ma. Tapi…”

Ayu langsung memotong. “Tapi apa?”

“PCOS, Ma.”

Terdengar helaan napas berat dari seberang.

“Kamu tuh, Nit… jaga kesehatan dong.Padahal kamu kurus kok bisa kena, PCOS biasanya yang kena itu yang gemuk. Kalau sakit gini kan uang kalian dipakai buat rumah sakit. Untung kliniknya punya Deva, jadi bisa gratis!”

Renita menggigit bibir. “Iya, Ma. Maaf…”

Ayu masih lanjut mengomel. “Pokoknya nurut aja apa kata Deva. Oh iya—nanti malam Deva mau tunangan. Kalian datang ya. Mama nggak bisa datang wakilin sebagai keluarga. Dia kan yatim piatu sejak papa kamu meninggal.”

“Siap, Ma,” jawab Reza cepat. “Nanti aku sama Renita datang.”

“Jangan lupa bawa bingkisan! Jangan bikin mama malu. Walaupun dia bukan anak kandung mama, tapi tetap dia kakakmu. Gak enak tadi udah priksa gratis.”

“Iya, iya, Ma.” Reza buru-buru mematikan telepon.

Renita membeku.

Ternyata Mas Deva… sudah punya tunangan. Pasti cantik, pintar. Renita… sadar diri. Kamu sudah punya suami. Jangan biarkan pikiranmu lari ke masa lalu.

Reza meliriknya, sinis. “Kamu dengar kan,Ren? Nanti malam aku jemput kamu. Kita ke acara pertunangan Mas Deva. Hey..kamu kenapa malah bengong.”

Renita cepat mengangguk. “Iya, Mas. Aku dengar.”

Reza mendecak. “Jangan malu-maluin aku di sana.”

Renita menatap jendela, menahan napas yang terasa berat.

“Baik, Mas.”

Mobil berhenti di lobby perusahaan. Reza bahkan tak menoleh, hanya melepas seatbelt.

“Jam pulang kantor nanti aku jemput,” ucapnya datar. “Kita pulang kerumah dulu sebelum ke acara tunangan Mas Deva.”

Renita membuka pintu perlahan. “Iya, Mas.”

Reza buru-buru menambahkan, “Jangan lama-lama. Aku gak mau nungguin kamu.” Lalu ia tancap gas dan pergi.

Renita berdiri sejenak di depan pintu masuk gedung, menarik napas panjang.

Ia sedikit sedih karena suaminya itu masih saja bersikap kasar padanya.

Ia melangkah masuk ke lobby. Beberapa karyawan lewat menunduk sopan.

“Selamat pagi, Bu Renita,” sapa resepsionis ramah.

Renita tersenyum kecil. “Pagi.”

Ia masuk ke lift, pintu menutup perlahan, menyisakan dirinya dan suara detak jantung yang tak mau tenang.

Di cermin lift, Renita memandang pantulan wajahnya sendiri.

Aku sudah menikah. Aku seharusnya tidak merasa seperti ini. Tapi kenapa… kenapa perasaan yang belum sempat mati itu malah tumbuh lagi?Apa yang harus ku lakukan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 68

    Mobil Deva akhirnya tiba di depan villa keluarga Nathalia saat malam sudah turun. Lampu-lampu halaman menyala temaram.Deva turun lebih dulu, membuka bagasi dan menurunkan koper Renita.Pintu villa terbuka. Nathalia keluar dengan langkah cepat lalu langsung memeluk Deva erat.“Mas, kamu kenapa baru datang?” keluh Nathalia manja.“Aku kangen tau.”Deva menghela napas, lalu melepaskan pelukan itu lalu berbalik badan menatap Nathalia. “Apaan sih, Nat. Kita kan hampir tiap hari ketemu,” katanya datar.“Jangan lebay.”Tatapan Deva turun sesaat, lalu alisnya langsung berkerut.“Kamu ngapain pakai baju kayak gini?” tegurnya.Nathalia hanya mengenakan lingerie tipis dengan riasan wajah yang tebal. Ia tersenyum percaya diri, lalu mengalungkan tangannya ke leher Deva.“Gimana?” bisiknya genit.“Kamu suka nggak?”Deva langsung memalingkan wajah.“Kamu nggak malu dilihat orang?” katanya kesalkesal. “Ganti baju sana. Nanti masuk angin.”Nathalia tertawa kecil, mendekatkan wajahnya ke telinga Dev

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 67

    Renita memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Dengan langkah sedikit tergesa, ia keluar dari toilet dan menuju kasir.“Kamu lama banget,” ujar Deva sambil menoleh.“Ayo, keburu sore. Nanti macet.”“Iya, Mas,” jawab Renita pelan.Mereka keluar dari restoran menuju area parkir.Kasian Mas Deva…kalau sampai dijebak Natalia dan harus jadi ayah dari bayi yang bukan darah dagingnya, batin Renita gelisah.Deva membuka pintu mobil.“Ayo masuk. Kenapa bengong aja?”Renita tersentak kecil.“Iya,” katanya sambil masuk ke dalam mobil.Setelah pintu tertutup dan mesin mobil menyala, mobil pun melaju meninggalkan parkiran.Cerita nggak ya…Aduh, aku kok takut. Tapi kalau nggak dikasih tau, kasian Mas Deva, pikir Renita sambil menatap jalan di depan.Deva melirik sekilas ke arahnya.“Kamu kenapa, Ren?”“Ngelamun terus.”Ia mengulurkan tangan, mengelus rambut Renita lembut.“Ada yang mau diomongin sama Mas? Ngomong aja. Kayak sama siapa pun.”Renita menelan ludah.“Mas…”“Mas cinta nggak sih sam

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 66

    “Suapin Mas dong, Ren,” kata Deva sambil sedikit mencondongkan tubuhnya.“Hah?” Renita tampak tidak fokus, tatapannya kosong sesaat.“Kamu mikirin apaan sih?” Deva tersenyum.“Mas ada di depan mata kamu, loh.”Renita tersentak.“Maaf, Mas. Tadi Mas ngomong apa?” tanyanya gugup.“Suapin Mas,” ulang Deva, nadanya dibuat manja.Renita menghela napas kecil sambil tersenyum.“Kamu nggak berubah dari dulu. Kalau makan selalu minta disuapin.”Deva menatapnya dalam.“Berarti kamu masih ingat,” katanya pelan.“Atau… kamu memang nggak pernah lupa sama Mas?”Renita langsung mengalihkan pandangan.“Udah, jangan dibahas,” katanya cepat.Ia mengambil sumpit, lalu menyuapi Deva.“Aaa.”Deva membuka mulut, lalu tersenyum puas.“Enak banget ramen-nya kalau kamu yang nyuapin.”Renita menggeleng kecil.“Itu karena ramen-nya memang enak, Mas.”Setelah mereka selesai makan, Deva mengangkat tangan memanggil pelayan.“Mbak, sini deh. Kita mau pesan dessert.”“Dessert apa, Pak?” tanya pelayan.“Dua es krim a

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 65

    “Jangan bengong, Ren. Ayo berangkat,” ujar Deva sambil meraih koper.“Iya, Mas,” jawab Renita cepat, lalu mengikutinya keluar kamar.Deva menarik koper Renita ke arah pintu, lalu spontan menggenggam tangan Renita.“Mas, jangan,” Renita refleks menahan, menoleh ke kanan kiri.“Nanti orang-orang mikir yang nggak-nggak tentang kita.”Deva meliriknya sekilas, senyum tipis muncul.“Kamu penakut banget sih. Ayo.”Renita tak menjawab, hanya menunduk sambil membiarkan Deva tetap menggandeng tangannya.Mereka keluar dari unit apartemen, berjalan menuju lift. Suasana hening di dalam lift terasa canggung.Renita mencuri pandang.“Mas… orang bisa lihat.”Deva terkekeh pelan.“Lihat apa? Kita cuma jalan bareng.”Lift berhenti di basement. Deva lebih dulu keluar, menarik koper Renita menuju mobil, lalu membuka bagasi dan meletakkannya dengan rapi.“Udah,” katanya singkat.Ia lalu berjalan memutar dan membukakan pintu mobil untuk Renita.“Silakan.”Renita tersenyum kecil.“Terima kasih, Mas.”Deva m

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 64

    “Mas aja yang ngelapin, kamu ambil pakaian yang mau dimasukkan aja,” kata Deva sambil mengibaskan koper pelan.“Iya, Mas,” jawab Renita singkat.Ia lalu membuka lemari, mengeluarkan celana, baju, piyama, dan beberapa pakaian lain, menumpuknya satu per satu di atas ranjang.Pandangan Deva tanpa sengaja tertuju pada ukuran dalamannya.“Mas ngapain kamu pegang-pegang dalaman ku?” Renita langsung menoleh, nadanya meninggi, wajahnya memerah.“Nggak nyangka ukuran dada kamu segini,” ujar Deva jujur, disertai senyum tipis yang sulit disembunyikan.“Mas mau bilang aku tepos?” Renita menyilangkan tangan di dada, matanya menyipit kesal.“Tepos apanya, Mas belum pegang,” balas Deva santai, nada suaranya sengaja dibuat menggoda.“Jangan pura-pura nggak tau, tadi aja udah lihat,” sahut Renita cepat, sedikit gugup tapi berusaha terlihat tegas.“Mas bisa kok gedein,” kata Deva ringan, alisnya terangkat jahil.“Jangan mikir aneh-aneh deh,Mas. Mentang-mentang kita cuma berduaan.” gumam Renita sambil m

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 63

    Renita refleks mendorong dada Deva dengan kedua tangannya. “Mas! Apa-apaan kamu?”Jantungnya berdetak kencang, napasnya tak beraturan.Deva terhenti, menatap Renita dengan sorot mata yang dalam. “Mas cuma…”Ia tak melanjutkan kalimatnya.Renita segera berbalik menuju lemari, membuka pintu dengan gerakan tergesa. Tangannya meraih beberapa potong pakaian. “Aku mau ganti baju,” ucapnya tegas.Namun Deva sudah berdiri di belakangnya. Ia meraih gaun dari tangan Renita, lalu mengembalikan pakaian itu ke dalam lemari. “Biar Mas yang pilih,” katanya pelan.Deva menggeser beberapa gantungan, lalu menarik sebuah dress sederhana berwarna lembut. “Kamu pakai ini,” ujarnya sambil tersenyum.“Pasti cantik.”Renita menoleh, wajahnya memerah. “Mas, minggir. Aku mau ganti.”Deva terkekeh kecil. “Kenapa harus minggir? Mas kan sudah lihat semuanya,” godanya ringan.“Mas Deva!” tegur Renita, dengan terbata-bata karena gugup.Deva mengangkat kedua tangannya menyerah. “Iya, iya. Mas tunggu di ranjang.”Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status