LOGINChloe duduk di kursi makan dengan rambut masih berantakan. Matanya sayu akibat semalam hampir tidak tidur.
Meja sudah penuh dengan hidangan. Ada roti panggang, telur, dan kopi hangat yang aromanya menusuk hidung. Richard duduk rapi dengan koran di tangan. Sementara Sarah mondar-mandir menambahkan makanan ke piring masing-masing. “Chloe, semalam kau ke mana? Ibu masuk ke kamarmu, tapi kau tidak ada,” tanya Sarah sambil menaruh gelas susu di depannya. Chloe yang sedang meneguk air langsung tersedak. Batuk keras, dadanya naik-turun, membuat semua orang menoleh. “Chloe, hati-hati!” Sarah panik, menepuk-nepuk punggungnya. Wajah Chloe memanas. Bukan karena tersedak, tapi karena otaknya baru saja menampilkan kembali kilasan semalam—mereka bersembunyi di lemari, dan… bibirnya yang direnggut begitu saja. Chloe buru-buru menggeleng, mencoba menenangkan diri. “A-aku sedang keluar mencari angin, Bu,” jawabnya bohong. Dari ujung meja, Dante menatapnya. Pria itu duduk santai, kaos hitam membalut tubuh tegapnya, satu tangan menopang dagu. Bibirnya terangkat membentuk senyum tipis penuh kemenangan. Chloe buru-buru menunduk. Tangannya menusuk roti dengan garpu tanpa selera. Setiap kali matanya tak sengaja bertemu pandang dengan Dante, jantungnya meloncat gila-gilaan. Chloe berusaha mengatur napas setelah insiden tersedak barusan. Untung Sarah tidak terlalu curiga, hanya menghela napas kecil sambil menyuapkan makanan. “Apa kau sudah dapat kabar dari lamaran pekerjaanmu, Chloe?” tanya Sarah, menoleh dengan tatapan penuh harap. Pertanyaan itu membuat Chloe sejenak terdiam. Namun sudut bibirnya perlahan terangkat, walau gugup. “Iya, Bu. Kemarin sore aku ditelepon. Aku diterima jadi barista di sebuah kafe dekat pusat kota.” Wajah Sarah langsung cerah. “Syukurlah! Ibu sudah khawatir kau terlalu stres memikirkan itu. Kapan mulai bekerja?” “Hari ini,” jawab Chloe singkat. Richard yang sedari tadi sibuk dengan korannya hanya mengangguk singkat. “Bagus. Kau hebat sekali, Chloe.” Chloe mengangguk, menunduk sambil menusuk rotinya lagi. Ia sebenarnya ingin bahagia, tapi entah kenapa hatinya terasa campur aduk. Lalu, suara rendah itu terdengar, jelas ditujukan hanya padanya. “Kenapa kau tidak beritahu kalau kau bekerja mulai hari ini?” “Kenapa aku harus beritahumu?” Chloe menatapnya tajam. Senyum tipis Dante melebar, kali ini terdengar nyaris seperti ejekan. “Kita saudara. Wajar kalau aku peduli.” Kata itu menghantam Chloe seperti palu. Saudara? Lidah Dante bisa semanis madu di depan orang lain. Padahal semalam ia sendiri yang berbisik kalau mereka bukan saudara. Kalau ia takkan pernah melihat Chloe seperti itu. 'Dia benar-benar… brengsek. Kenapa bisa mudah sekali mengubah wajah?' batinnya. Chloe menggenggam garpu lebih erat sampai buku jarinya memutih. Tenggorokannya kering, seolah menolak menelan ludah. Ia sudah membuka mulut, siap membalas, namun suara Sarah memotong cepat. “Dante benar juga, Chloe. Kalian tinggal serumah, tentu saja harus saling memperhatikan,” ucap Sarah sambil tersenyum, sama sekali tak menyadari ketegangan yang baru saja tercipta. Dante masih menatapnya, seolah menikmati setiap detik keterkejutan di wajah Chloe. Ada kilatan puas di matanya. Namun suasana berubah ketika suara berat Richard tiba-tiba memecah keheningan. “Kau persis seperti yang dikatakan ibumu, Chloe. Kau cerdas dan dapat diandalkan. Tidak seperti pria di sana yang sampai saat ini bahkan tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Tiap malam menyelinap keluar, lalu kembali pagi-pagi buta.” Dagunya terangkat sedikit, mengisyaratkan arah Dante. Chloe terbelalak. Ia menoleh sejenak untuk melihat reaksi pria yang dibicarakan. Sarah spontan menegur, “Richard, jangan begitu. Mereka berdua masih muda, tentu saja wajar kalau kadang—” “Tentu tidak, Sarah,” potong Richard dingin, lipatan halus di keningnya menegaskan ketidaksukaan. “Satu sibuk berusaha membangun hidup, sementara yang lain sibuk membuang waktu. Kontras yang sangat jelas, bukan?” Dante sendiri tidak merespons. Pria itu hanya terdiam, sendoknya berhenti di udara. Senyumnya lenyap digantikan sorot mata gelap yang menahan amarah. Rahangnya mengeras, jelas sekali ia menahan diri. Chloe bisa merasakan ketegangan itu, aura panas yang tiba-tiba berubah jadi dingin menusuk. Ia tahu Dante tidak suka direndahkan, apalagi di hadapan dirinya. Dan anehnya, ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut terhimpit. Walau membencinya setengah mati, Chloe tetap merasakan sejumput iba. Ada sisi kecil dalam hatinya yang tak suka melihat pria itu dipermalukan, seakan bagian dirinya sendiri juga ikut tercabik.Ketegangan di balik pintu itu memuncak hingga ke titik nadir. Talia berdiri kaku, menghalangi pandangan Chloe dengan tubuhnya.Matanya menyipit dalam kegelapan, mencoba menangkap bayangan apa pun melalui celah di bawah pintu. Gagang pintu itu sempat berderit keras, dipaksa oleh seseorang dari luar, namun kemudian segalanya mendadak hening.Keheningan itu justru lebih menyiksa daripada suara dobrakan. Chloe yang meringkuk di atas ranjang hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar.Ia bisa merasakan hawa dingin yang merayap dari lantai keramik, seolah bahaya sedang mengintip dari balik sekat kayu tersebut.Tiba-tiba, suara ketukan kembali terdengar. Kali ini bukan paksaan brutal, melainkan ketukan yang terburu-buru, berat, dan tidak beraturan."Buka! Talia, buka pintunya!" Sebuah suara berat membentak dari balik pintu.Talia tertegun. Ia mengenali otoritas dalam nada bicara itu. Suara Richard, ayah Dante."Talia! Cepat! Ini aku!" Suara itu kembali terdengar, kali in
Kael menarik napas dalam, membiarkan udara lembap dan berdebu dari kawasan industri itu mengisi paru-parunya.Di hadapannya, gudang beton itu berdiri seperti nisan raksasa yang terlupakan. Sinar matahari siang menyengat pundaknya, namun suhu di sekitarnya terasa membeku.Ia memberi kode tangan yang sangat halus kepada dua pria di belakangnya. Mereka bergerak tanpa suara, menyisip di antara bayang-bayang dinding retak yang ditumbuhi lumut kering.Setiap langkah Kael adalah perhitungan matang. Mobil yang digunakan anak buah Viktor terlihat memasuki area ini dua jam lalu. Sinyal ponsel yang mereka retas juga berakhir di titik ini."Pintu belakang terkunci dari dalam, Bos," bisik salah satu rekannya melalui perangkat telinga."Dobrak saat hitungan ketiga," jawab Kael dingin. Ia menggenggam senjatanya erat, merasakan dinginnya logam di telapak tangannya yang mulai berkeringat.Satu. Dua. Tiga.Suara dentuman keras memecah kesunyian siang itu. Kael merangsek masuk, tubuhnya rendah, matanya
Chloe tidak menolak saat Talia membawanya kembali masuk ke dalam gedung rumah sakit.Langkahnya pelan dan tertatih, seolah setiap pijakan membutuhkan pertimbangan. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih dan kelelahan yang menumpuk sejak malam sebelumnya kini terasa menekan dari dalam.Bahunya sedikit merunduk, pandangannya kosong menyapu lantai keramik yang berkilau oleh pantulan cahaya siang.Beberapa perawat melirik singkat, lalu kembali melanjutkan pekerjaan mereka.Chloe tampak seperti pasien yang bangkit terlalu cepat dari ranjangnya, seseorang yang masih belum seharusnya berjalan sendiri.Begitu sampai di kamar, ia menurut ketika diminta duduk, lalu berbaring kembali. Gerakannya lambat dan patuh, seolah seluruh perlawanan telah terkuras.Tangannya tergeletak di sisi tubuh, jemarinya dingin dan tidak menggenggam apa pun.Jarum infus dilepas dan diganti. Cairan bening kembali mengalir pelan ke dalam pembuluh darahnya. Chloe memperhatikan proses itu tanpa ekspresi, matanya mengikuti selan
Chloe terbangun perlahan.Kesadarannya muncul bertahap, seperti naik ke permukaan air yang dingin. Kepalanya terasa berat, napasnya masih belum sepenuhnya teratur, dan ada nyeri tumpul yang tertinggal di dada setiap kali ia menarik udara terlalu dalam.Ia menatap langit-langit beberapa detik, mencoba mengingat di mana dirinya berada dan kenapa tubuhnya terasa seperti baru saja kehilangan sesuatu yang penting.Rumah sakit.Ingatannya kembali dalam potongan pendek. Dante dibawa pergi. Seragam polisi. Tangannya ditarik. Tatapannya yang sempat bertemu dengan mata Chloe sebelum semuanya menjadi gelap.Jantung Chloe berdetak lebih cepat.Ia menoleh ke samping ranjang. Kursi di sana kosong. Talia tidak ada. Mungkin keluar sebentar, pikirnya. Pikiran itu seharusnya menenangkan, tetapi justru meninggalkan ruang kosong yang membuat kecemasannya tumbuh.Chloe menelan ludah. Tangannya meremas seprai tipis di bawah jemarinya.Dante ditangkap polisi. Itu yang ia tahu. Secara logika, itu seharusnya
Chloe terlelap di ranjangnya. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil, naik turun pelan seolah tubuhnya belum yakin aman untuk beristirahat.Wajahnya pucat. Garis kelelahan masih jelas di bawah mata, tapi untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, alisnya tidak lagi berkerut.Talia duduk di kursi di samping ranjang itu sejak semalam. Punggungnya bersandar kaku, tangan terlipat di pangkuan, seolah kalau ia bergerak terlalu banyak, ketenangan rapuh ini akan runtuh.Ia belum tidur. Kopi di gelas kertas di tangannya sudah lama dingin karena tak tersentuh.Matanya beberapa kali beralih ke arah pintu kamar. Setiap langkah kaki di lorong membuat otot bahunya menegang. Richard baru saja dibawa masuk ke ruang konsultasi oleh perawat, masih dalam kondisi setengah linglung.Kael belum memberikannya kabar. Dunia terasa berjalan terlalu cepat, sementara Talia tertinggal di ruangan ini, menjaga seseorang yang bahkan belum tahu betapa dekatnya ia dengan kehancuran.Getaran pelan di atas nakas samp
Mobil milik Kael melambat saat mendekati gerbang rumah sakit. Dari balik kaca jendela, mata Talia menangkap sosok yang membuatnya merasa seolah jantungnya diremas.Di sana, Richar duduk bersimpuh di atas trotoar yang dingin. Pria tua itu tampak begitu hancur sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar. Bahunya berguncang hebat, menunjukkan isak tangis pria yang benar-benar kehilangan harapan."Itu Om Richard! Sepertinya dia tahu Dante tidak dibawa ke kantor polisi ...," bisik Talia, suaranya tercekat. Ia hendak membuka pintu mobil bahkan sebelum Kael benar-benar berhenti.Kael menghentikan mobilnya dengan sempurna, namun saat Talia bersiap untuk turun, Kael mencekal pergelangan tangannya."Talia, dengarkan aku," ucap Kael dengan nada yang sangat serius, matanya mengunci pandangan Talia. "Kau turun di sini. Temani ayah dari bocah tidak tahu diri itu, dan pastikan mereka semua aman di dalam. Mereka butuh seseorang yang masih bisa berpikir jernih."Talia menggeleng cepat,







