เข้าสู่ระบบKapsul penyelamat itu meluncur membelah air laut yang gelap dengan kecepatan tinggi menjauhi pulau yang runtuh. Elara terengah-engah sambil memeluk Aris yang pingsan, namun matanya tetap terpaku pada bayangan tangan di kaca."Aris, bangun! Ada seseorang di luar kapsul kita!" teriak Elara sambil memukul-mukul dinding baja kapsul yang dingin.Tangan itu terlihat pucat dan jari-jarinya mencengkeram pinggiran katup darurat dengan sangat kuat. Perlahan, sesosok wajah muncul dari balik kegelapan air, menempelkan keningnya pada kaca tebal yang memisahkan mereka."Diana? Bagaimana mungkin dia masih hidup setelah ledakan di laboratorium itu?" bisik Elara dengan rasa ngeri yang menjalar ke seluruh tubuh.Diana tampak sangat mengenaskan dengan luka bakar di wajahnya, namun matanya tetap memancarkan api dendam yang belum padam. Ia memegang sebuah alat kecil dan menempelkannya pada sambungan pintu kapsul, mencoba meretas kunci otomatis dari luar."Jangan harap kamu bisa lari dariku, Elara! Kita ha
Suara alarm dari sensor pantai membuat suasana di dalam rumah kayu itu mendadak mencekam. Elara menatap layar monitor yang menunjukkan sebuah kapal selam hitam mulai muncul ke permukaan air danau yang tenang."Mereka menemukan kita, Aris! Bagaimana bisa Smith menembus kabut pelindung ini begitu cepat?" tanya Elara dengan nada panik.Aris segera mengambil posisi di dekat jendela sambil mengokang senjatanya yang tinggal menyisakan beberapa butir peluru. "Pasti ada alat pelacak di pesawat amfibi tadi yang gagal kita matikan sepenuhnya!"Kembaran Elara melangkah menuju sebuah konsol besar yang tersembunyi di balik dinding ruang tamu. "Satu-satunya cara menutup akses mereka adalah dengan menghancurkan server pusat sekarang juga, Elara."Elara menggeleng keras, ia tidak sanggup membayangkan harus kehilangan saudara yang baru saja ia temukan kembali. "Tidak! Pasti ada cara lain tanpa harus mengorbankan nyawamu, kita bisa lari lewat hutan!"Kembarannya tersenyum sedih sambil menempelkan telap
Suara alarm di dalam kabin pesawat amfibi itu berbunyi sangat melengking dan memekakkan telinga. Angka merah di layar kendali menunjukkan waktu tinggal dua puluh detik lagi sebelum ledakan menghancurkan mereka."Aris, cepat cari bomnya di bawah kursi! Kita tidak bisa melompat di ketinggian ini!" teriak Elara sambil mencoba menahan kemudi agar tetap stabil.Aris merangkak ke lantai pesawat dengan tangan yang masih gemetar karena cedera yang dialaminya tadi. Ia menemukan sebuah kotak hitam dengan kabel-kabel rumit yang tertanam langsung ke kerangka badan pesawat."Sial, ini bom rakitan tingkat tinggi! Smith benar-benar ingin kita mati di udara!" seru Aris sambil mencoba mencabut kabel secara acak.Kembaran Elara segera mendekat dan menyingkirkan tangan Aris dengan gerakan yang sangat cepat dan tenang. "Jangan disentuh sembarangan, Aris, bom ini terhubung dengan sensor detak jantung Elara lewat sinyal nirkabel."Elara menoleh dengan wajah pucat pasi, menyadari betapa liciknya rencana cad
Pria tua itu melangkah maju dengan tenang, sementara Aris masih mengerang kesakitan di lantai gua. Elara berdiri melindungi Aris, menatap tajam ke arah sosok yang terlihat sangat berkuasa itu."Siapa sebenarnya kamu? Kenapa kamu punya alat untuk melumpuhkan Aris secepat itu?" tanya Elara dengan suara gemetar namun tegas.Pria itu tertawa kecil sambil mengetukkan tongkat peraknya ke lantai batu yang lembap. "Panggil saja aku Tuan Smith, penyokong dana tunggal yang membuat riset ayahmu bisa terwujud hingga sejauh ini."Elara melirik ke arah kembarannya yang berdiri mematung di samping meja komputer tua. "Dia bukan barang milikmu, Smith! Dia adalah manusia, sama seperti aku!"Smith hanya tersenyum dingin, seolah menganggap perkataan Elara hanyalah angin lalu yang tidak berarti. "Dia adalah perangkat keras paling mahal yang pernah aku beli, dan sekarang saatnya dia pulang ke pemiliknya."Tiba-tiba, kembaran Elara mulai melangkah mendekati Tuan Smith tanpa ekspresi sedikit pun di wajahnya.
Elara berdiri mematung di pinggir pantai, matanya tak lepas dari sosok yang berjalan keluar menembus asap tebal. Wanita itu melangkah dengan tenang, sementara api di belakangnya masih berkobar melahap sisa-sisa laboratorium."Berhenti di sana! Siapa kamu sebenarnya?" teriak Aris sambil menodongkan senjata dengan tangan yang gemetar.Wanita itu berhenti tepat sepuluh langkah di depan mereka, wajahnya tampak sangat bersih seolah api tidak menyentuhnya sama sekali. Ia mengangkat tangannya yang memegang potongan kain hitam milik Diana, lalu menjatuhkannya ke atas pasir yang basah."Diana sudah selesai, dia tidak akan bisa mengejar kita lagi untuk selamanya," ucap wanita itu dengan suara yang terdengar sangat lembut namun datar.Elara merasa dadanya sesak, ia tidak bisa membedakan apakah itu adiknya yang klon atau justru ada sesuatu yang lain. "Apakah kamu... adikku? Bagaimana kamu bisa selamat dari ledakan sedahsyat itu tanpa luka sedikit pun?"Wanita itu menatap Elara dengan mata biru ya
Suara deru mesin helikopter di atas bangunan tua itu membuat debu berterbangan menutupi pandangan. Elara mencengkeram tangan kembarannya yang masih lemas, sementara Aris sudah bersiap di balik tembok dengan senjata di tangan."Mereka sudah di sini, Elara! Kita tidak punya waktu lagi untuk berdebat soal perasaan!" teriak Aris sambil mengintip dari balik celah jendela yang pecah.Pasukan Naga Hitam terjun menggunakan tali, mendarat dengan sangat senyap namun mematikan di sekeliling laboratorium. Elara melihat wanita di pelukannya mulai membuka mata, namun ada kilat biru yang aneh di dalam pupil matanya yang tadi redup."Kakak, berikan aku senjata. Aku bisa merasakan posisi mereka semua di dalam kepalaku sekarang," bisik klon itu dengan nada suara yang mendadak dingin.Aris melemparkan sebuah pistol cadangan ke arah klon tersebut meski masih ada keraguan besar di wajahnya. "Gunakan itu dengan benar, jangan sampai kau malah menembak punggung kami saat situasi menjadi kacau!"Pintu depan l







