ANMELDEN***"Menurutmu, orang tuamu akan menyukaiku?"Kila menaikkan alis. Aksara benar-benar aneh. Seharusnya dia tidak perlu memikirkan pendapat orang tuanya."Entahlah... Pak Aksara ganteng, badannya bagus, kelihatannya juga kaya raya. Mungkin saja Bapak termasuk menantu idaman."Kila mengatakannya sambil menahan tawa. Entah kenapa, membayangkan Aksara sebagai calon menantu orang tuanya terasa lucu.Aksara menggeleng pelan, seolah tidak percaya dengan jawaban Kila."Kalau kamu menyukai pria itu, apa penawaranku masih berlaku?”Kila meneguk minuman kalengnya sambil memandangi jalanan di depan. Tak bisa dipungkiri, hanya Aksara yang paling dekat dengannya saat ini—bukan hanya emosional, melainkan juga secara fisik. Sedikit saja pria itu menyentuhnya, tubuh Kila selalu bereaksi di luar kendali.Namun, mereka tetaplah sebatas partner seks."Mau tidak mau, kita harus berhenti" Jawab Kila.Aksara tidak langsung menanggapi. Pria itu hening. Bagaimanapun, hubungan mereka memang sejak awal dibangun
***"Kita bisa naik bus kota saja, Pak." Kila menaikkan tas ke punggungnya.Aksara baru saja mengakhiri telepon. Sejak tadi dia masih memantau masalah di Site yang terjadi kemarin."Sudah, naik mobilku saja. Cuma sekitar satu jam lewat tol, kan?"Aksara membuka pintu di sampingnya."Maaf kalau merepotkan, Pak."Kila bergegas masuk ke dalam mobil."Tidak masalah. Kita sudah deal." Aksara kembali melirik ponselnya. "Tapi aku tetap akan sibuk. Jadi maklumi kalau selama perjalanan aku akan sering memegang ponsel.""Tidak apa-apa. Terima kasih banyak, Pak Aksa."Beberapa saat setelah mobil mulai melaju, suasana di dalam kabin terasa tenang. Aksara sesekali memeriksa ponselnya, sementara Kila hanya memandangi jalan di balik kaca jendela."Memangnya ada masalah apa di rumah orang tuamu? Sampai kamu harus mencari pacar palsu?" Aksara membuka pembicaraan.Kila tahu, masih banyak yang belum dia ceritakan. Namun, Aksara adalah orang yang paling dekat dengannya saat ini. Mau tidak mau, dialah ora
***Kila melirik pergelangan tangannya. Bekas borgol itu masih terlihat jelas. Aksara benar-benar tidak memberinya kesempatan untuk bernapas. Bahkan saat mandi pun, pria itu masih sempat menggodanya lagi. Untung saja mereka tidak sampai terlambat ke kantor."Astaga." Kila menepuk pipinya yang memerah."Kila? Ada apa?" Lina meletakkan minuman di atas mejanya. Kila baru menyadari Lina sedang memandanginya."A-ah, terima kasih! Kamu membelikanku minuman?" Kila buru-buru mengangkat gelas itu, berusaha mengalihkan perhatian."Kopi susu. Ada toko baru di dekat kantor." Lina menusukkan sedotan ke tutup gelas.Kila langsung senang mendapat traktiran dari Lina. Setidaknya ada sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya pagi ini."Ada yang aneh."Kila menoleh ke arah Lina."Aneh?" Kila mengernyit, tidak mengerti."Pagi-pagi Pak Aksa terlihat lebih segar dan sangat ramah..." Lina meletakkan minumannya di atas meja."Hah? Bukankah itu hal yang bagus?" "Bagus sih. Tapi..." Lina memperhatikan Kila da
⚠️ WARNING 21+Harap bijak sebelum membaca. Bab ini memuat konten erotis dewasa eksplisit, aktivitas seksual konsensual dengan elemen restraint/bondage.***"Aksara menyunggingkan senyum puas melihat Kila yang akhirnya nurut. Kini seluruh lekuk tubuh sensitif milik sekretarisnya itu terekspos jelas tanpa penghalang di bawah pandangannya.Aksara menunduk, mendaratkan kecupan-kecupan lembut di area pangkal paha Kila. Pria itu menahan napasnya sejenak, lalu meniupkan udara hangat tepat di atas lipatan kewanitaan Kila, sebelum akhirnya menyapukan ujung lidahnya dengan usapan lambat dan amat lembut. "Nghh... Aksara..." Kila mengerang pelan, tubuhnya bergoyang kecil menahan gelombang nikmat yang asing.Sensasi itu yang begitu intens, penuh perhatian, dan perlahan. Hal seperti ini sudah sangat lama tidak dirasakannya—kelembutan yang mulai meruntuhkannya.Suara erangan Kila bergema lebih berat dan dalam. Aksara bermain di titik paling yang peka itu dengan usapan berputar yang lembut sebelum
***Kecupan singkat itu seketika menjadi pemicu yang membakar habis sisa canggung Kila.Birahinya melonjak drastis dalam sekejap. Tatapan matanya yang semula redup dan ragu, mengkilap tajam. Postur tubuhnya yang tadinya membungkuk mendadak tegap; jemarinya bergerak cepat merangkul leher Aksa, menarik pria itu dan membalas ciumannya dengan intens.Aksa sudah menduga hal ini—Kila pasti akan langsung menyerangnya begitu gairahnya terpicu. Namun kali ini, Aksa menolak tunduk. Pria itu sengaja menahan kedua bahu wanita."Aku yang akan mengontrolmu kali ini," bisik Aksara tepat di depan bibir Kila.Gerakan Kila terhenti seketika. Ekspresi wajahnya memancarkan rasa tidak senang.Aksara mengusapkan bibirnya, menggodanya dengan kecupan lembut. Kila menerimanya, dia ikut memainkan bibirnya."Aku akan memakaikan borgol itu di tanganmu." "Borgol?" pangkas Kila tegas. Dengan dorongan yang cukup kuat, Kila menepis dada Aksara, berusaha menegaskan posisinya. Tatapannya menyalang tajam, dipenuhi gai
***"Kila?"Kedua mata Kila terbuka lebar. Ia terperanjat dan langsung menyentak tubuhnya duduk tegak. Suara samar itu memutus tidur lelapnya secara mendadak."L-loh?" gumamnya bingung seraya mengedarkan pandangan.Bukankah semalam ia tertidur di atas sofa ruang tamu? Kenapa sekarang ia malah berada di dalam kamar?Kila langsung meloncat dari bawah selimut tebal. Setelah sadar penuh, ia mendapati dirinya berada di atas tempat tidur milik Aksa. Dengan rasa panik yang merayap, Kila memeriksa mantel mandi yang masih terbalut rapi di tubuhnya, lalu mengecek pakaian dalamnya. Semuanya masih utuh dan aman.Kenapa Pak Aksa memindahkanku ke sini? batinnya heran.Mata Kila kemudian melirik ke arah jendela, cahaya matahari pagi sudah menerobos masuk melalui celah tirai yang sedikit tersingkap."Astaga, sudah terang?!" serunya kaget.Kila buru-buru beranjak keluar dari kamar tidur itu.Sayup-sayup, terdengar suara pria dari arah dapur. Saat menengok ke belakang sekat ruangan, Kila mendapati Pak







