Share

Part 5: Bertukar Hadiah

Penulis: Ersula
last update Tanggal publikasi: 2026-06-10 15:57:59

***

"Kamu menyukainya?" bisik Kila sensual.

Kila melakukannya lagi. Kali ini gigitannya sedikit lebih kuat, disusul kecupan-kecupan dalam yang membuat Aksara kian kebingungan dan gelisah di tempat duduknya. Namun di saat yang sama, Aksara menyadari bahwa ia sangat menyukai sensasi tak berdaya ini.

"Y-ya... aku menyukainya," lirih Aksara akhirnya dengan suara serak yang teramat berat, sudah menyerah pada sensasi asing yang menjalar di tubuhnya.

Mendengar pengakuan itu, Kila tersenyum puas. Ia merunduk, membiarkan bibir dan ujung lidahnya menyusuri dada bidang Aksara yang kokoh. Sentuhan basah dan panas yang bergerak lambat itu membuat otot-otot dada Aksara seketika menegang keras akibat gelombang gairah yang menyengatnya tanpa ampun.

"Kila, buka penutupnya. Aku ingin melihatmu," geram Aksara dengan napas memburu yang terasa panas. Pria itu sudah benar-benar berada di batas kemampuannya untuk bertahan, hasratnya yang sudah berada di ujung tanduk.

"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Pak Bos," bisik Kila dingin. Alih-alih menuruti permintaan itu, jemari Kila justru bergerak naik, lalu dengan menghindari titik yang paling sensitif di dada Aksara.

Aksara mengerang tertahan.

Pria itu kecewa, padahal sudah siap merasakan sentuhan panas itu. Napasnya kian terengah-engah dalam kungkungan kegelapan.

“Ayo, jawab!” Pungkas Kila

"Aku... aku pusing karena tekanan! Aku takut, aku tidak sukses seperti ayahku! Ayahku mengharapkan aku, untuk menjadi penggantinya!" Aksara pasrah, akhirnya membeberkan beban yang biasanya ia pendam sendiri.

Mendengar curahan itu, Kila melunak. Ia menunduk, lalu kembali bermain dan menjilat permukaan dada Aksara dengan sangat lembut, memberikan ketenangan sesaat di tengah badai gairah pria itu.

Aksara mendesah berat, tubuhnya kian gemetar.

"Ini hadiah karena kamu sudah menjawabnya, Pak Bos," bisik Kila pelan sebelum kembali memberikan gigitan-gigitan kecil hingga otot dada Aksara kian menegang keras.

"Kila! Sialan... kamu benar-benar menyiksaku," rintih Aksara, frustrasi karena tidak bisa membalas sentuhan wanita di pangkuannya ini.

"Lalu, kenapa kamu suka marah-marah kepadaku?" Kila kembali menaikkan tensi permainan, memberikan pilinan kecil yang langsung membuat pria itu mengerang frustrasi.

"Aku... aku tidak bermaksud buruk padamu, Kila... tidak pernah..." racau Aksara dengan sisa-sisa kesadarannya.

"Jawab yang jujur, Aksara Kalandra. Apa kamu tidak ingin menerima hadiah yang lebih?" Kila berbisik sensual, sengaja memanggil nama aslinya tanpa embel-embel 'Pak' sambil memainkan ujung lidahnya.

Aksara sudah tidak sanggup lagi menahan siksaan manis itu. Kepalanya mendadak kosong, sepenuhnya takluk di bawah kendali sekretarisnya sendiri.

"Aku tidak pernah bermaksud jahat padamu!"

Kila menghentikan gerakannya sejenak, menunduk hingga embusan napasnya yang panas menerpa bibir Aksara yang terengah-engah.

"Kamu mau hadiah lagi?"

Aksara sudah tersiksa. Kedua tangannya terkunci di belakang punggung—walaupun dengan kekuatan fisiknya, ia bisa saja melepaskan ikatan strap nilon itu dengan mudah jika ia mau.

Namun, ia memilih patuh.

Kepalanya kian pening menahan gejolak birahi yang membakar dada, sementara kejantanannya di bawah sana sudah menegang sempurna hingga terasa menyakitkan.

Di tengah kegelapan total tanpa visual apa pun, isi kepala Aksara dipaksa bekerja liar, membayangkan bagaimana ekspresi wajah Kila saat ini ketika sedang bermain dengan tubuhnya tanpa ampun.

"Aku... aku mau hadiahnya!" geram Aksara, akhirnya menyerah kalah.

Mendengar kepasrahan itu, Kila merunduk. Ia mulai mengecup titik sensitif di dada Aksara dengan usapan bibir yang teramat lembut. Aksara merintih tertahan. Sensasi menggelitik yang panas di kulit telanjangnya itu membuat tubuh tegapnya tersentak hebat, hampir saja memicu refleksnya untuk merenggut lepas tali di pergelangan tangannya.

Pria itu akhirnya memilih pasrah, menyandarkan punggung kokohnya ke sandaran sofa. Di luar dugaan egonya, ia mulai sepenuhnya menikmati sensasi tak berdaya yang mendebarkan ini.

Kila tidak memberikan jeda sedikit pun. Ia terus memainkan tempo cumbuannya di puting Aksara, membuat pria itu terpaksa mendongakkan kepala ke belakang dan mengembuskan erangan berat yang dalam.

"Kila, aku ingin melihatmu." Napas Aksara berat. Hasratnya sudah membakarnya.

"Kita belum selesai, Pak bos" Bisik Kila. turun menyusuri perut berotot itu.

Aksara menegang hebat, bahkan hampir berhenti bernapas ketika mendengar suara dari gesper ikat pinggangnya dibuka oleh Kila. Berikutnya, ritsleting celananya yang diturunkan perlahan.

Dalam kegelapan total, isi kepala Aksara langsung berkecamuk liar. Siksaan batinnya berada di puncak tertinggi; ia tidak bisa membayangkan bagaimana tatapan mata sekretarisnya itu sedang memandangi bagian paling intim dari dirinya.

Kila menatap apa yang sudah terekspose di hadapannya lalu tersenyum tipis, sangat puas melihat reaksi tubuh bosnya. Melalui napas Aksara yang memburu dan tubuh tegapnya yang bergetar, Kila tahu persis bahwa pria itu sedang tersiksa oleh imajinasinya sendiri.

Kila mengambil ikat pinggang kulit milik Aksara, menggenggamnya erat sembari merasakannya di jemari. Sisi gelap di dalam benaknya mendadak terusik, memicu pikiran keji yang menggelitik hatinya.

Apakah ia harus melayangkan tali kulit ini ke tubuh kokoh bosnya? Mengujinya dengan nikmat dan sedikit rasa sakit?

Namun, Kila memilih menahan diri. Ia meletakkan ikat pinggang itu di sisi sofa, lalu perlahan mengalihkan perhatiannya kembali ke area selangkangan Aksara yang sudah menegang sempurna. Mata Kila mengkilap dan kian melebar, mengagumi apa yang ada di depannya.

"Apakah... ini besar, Pak Bos?" tanya Kila dengan nada polos yang sengaja dibuat-buat untuk menyiksa Aksara.

Sialan!

Aksara menggeram frustrasi di dalam hati. Kenapa wanita ini selalu menuntut jawaban di saat seluruh akal sehatnya sudah hampir meledak? Ia sudah benar-benar berada di batas kemampuannya untuk bertahan.

"Ukuranku... ukuranku kecil, Kila! Tapi aku bersumpah bisa memuaskanmu! Kumohon..." rintih Aksara asal, membuang seluruh harga dirinya sebagai pria demi mendapatkan apa yang ia inginkan.

Kila menaikkan alisnya, lalu melepaskan tawa kecil yang terdengar meremehkan sekaligus sensual.

"Kecil? Benarkah?"

Aksara didera kecemasan dalam kegelapan totalnya. Pikiran buruk mulai melintas di kepalanya—apakah Kila kecewa setelah melihat ukurannya? Apakah wanita itu akan menyudahi permainan ini begitu saja?

Namun, rasa cemas itu langsung menguap berganti sengatan gairah yang dahsyat ketika ia merasakan sesuatu yang basah, lembut, dan teramat hangat tiba-tiba menyentuh kejantanannya yang sudah menegang.

Kila mulai menyusuri pusaka Aksara dengan ujung lidahnya, menyebarkan embusan napasnya yang panas tepat di bagian paling sensitif di ujung sana.

"Kila..." Aksara mendesah panjang, tubuhnya bergetar hebat saat merasakan kelihaian lidah itu.

Kila menjeda gerakannya sejenak, lalu berbisik dengan nada menuduh yang seksi, "Kamu berbohong, Pak Bos. Ini akan membuatku tersedak."

Sebelum Aksara sempat membalas, Kila kembali bergerak lambat, mulai mencicipi dan mengulum ilik pria itu. Sensasi jilatan itu membuat Aksara merasa seolah jiwanya ditarik terbang ke langit.

"Kila... Kila..." Aksara hanya bisa mengerang pasrah, kepalanya mendongak lebih tinggi.

Kila menatap kagum. Dari reaksi dan proporsi tubuh Aksara saat ini, ia tahu pasti bahwa bosnya ini adalah pria yang sangat hebat di atas ranjang—jika sedang tidak diikat seperti sekarang.

"Kila, please... aku menginginkanmu..." rintih Aksara memohon.

Kila menghentikan gerakannya, lalu menegakkan tubuh untuk menatap pria di itu dengan pandangan superior.

"Ayolah! Kamu harus memohon dengan lebih baik lagi!"

"Kila, aku mohon... aku ingin melihatmu. Aku mohon, lepaskan ini," suara Aksara terdengar begitu serak dan menderita, mencerminkan betapa frustrasinya dia menahan gairah yang sudah di ujung tanduk.

Kila melepaskan tawa yang sensual, kemenangannya mutlak atas ego bosnya.

"Kondom?" tanya Kila singkat, memastikan keamanan permainan mereka.

"Di... di kamar mandi sebelah kanan, di dalam lemari kaca," jawab Aksara dengan napas yang terengah-engah memburu.

Mendengar jawaban itu, Kila akhirnya bergerak mengulurkan tangan ke belakang kepala Aksara. Dengan satu sentuhan, ia melepaskan ikatan blus yang menutupi mata pria itu.

Aksara refleks mengerjap seketika. Di atas pangkuannya, Kila sedang duduk dengan hanya mengenakan bra hitam yang membingkai lekuk tubuhnya dengan sempurna. Sisi dominan Kila berpadu dengan pakaian dalam itu membuat auranya terlihat mengiurkan.

Tanpa membuang waktu, Kila menunduk dan melepaskan ikatan simpul strap tas pada pergelangan tangan Aksara. Begitu kedua tangannya terbebas, Aksara tidak lagi menahan diri. Dengan erangan berat, ia langsung merengkuh tubuh Kila, menarik wanita itu mendekat, lalu menghujani tengkuk Kila dengan kecupan-kecupan panas.

Namun, Kila tidak membiarkan Aksara mengambil alih kuasanya begitu saja.

“Sebentar…”

Dengan napas yang masih memburu akibat demam dan gairah, Kila merobek bungkus pengaman yang baru diambilnya, lalu dengan mahir memasangkannya pada Aksara yang sudah menegang sempurna.

"Ini... benar-benar besar," bisik Kila lirih, seolah mengakui ketangguhan bosnya di hadapan matanya sendiri.

Tanpa menunggu lama, Kila langsung naik kembali ke atas pangkuan Aksara.

Aksara menatap tajam manik mata Kila, menyiratkan gejolak gairah pria yang sudah lama tertahan.

"Kita ke kamar... Gantian aku yang-"

Sebelum Aksara sempat menyelesaikan kalimatnya, Kila dengan cepat menempelkan jemarinya di atas bibir Aksara.

Aksara tertegun. Ia hanya bisa terpaku menatap sekretarisnya yang kini perlahan mengangkat roknya, lalu menarik pinggiran celana dalamnya ke satu sisi tanpa berniat melepasnya.

Tatapan mata Aksara seketika menggelap, menyadari rencana liar Kila yang ingin langsung menyatukan tubuh mereka saat itu juga di atas sofa.

Ketika Aksara melebarkan tumpuan kakinya untuk menyambut wanita itu, Kila meloloskan satu desahan pasrah.

"Kamu mau aku yang melakukannya, hm?" bisik Aksara serak. Pria itu langsung mencium bibir Kila dengan dalam, sementara kedua tangan tegapnya yang kini bebas mencengkeram pinggang, mengunci posisi wanita itu di atas tubuhnya.

Kila mengerang tertahan ketika Aksara mulai bergerak menyatukan tubuh mereka. Aksara langsung mendekap erat tubuh Kila, menahan punggung wanita itu agar tidak ambruk.

Kila menjerit lirih. Seluruh otot tubuhnya seketika bergetar. Kila terkejut karena permainan kendali yang ia bangun justru mengantarkannya pada puncak pertama yang terlalu cepat.

Aksara terkekeh rendah. "Hm, permainan kita bahkan belum dimulai, Kila..."

Aksara menunduk, mengecup permukaan kulit dada Kila yang menyembul di balik bra hitamnya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu yang mulai membuatnya candu.

"... ini balasan hadiahku untukmu," bisik Aksara penuh kemenangan tepat di telinga Kila.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 107: Nyonya Kalandra

    107***"Astaga …"Kila menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya. Baru kali ini dia benar-benar menyadari kebiasaan Aksara setiap pulang kerja dari site dalam keadaan kelelahan.Pria itu bisa langsung merebahkan diri di kasur tanpa melepas sepatu. Akibatnya, kotoran dari sol sepatu mengotori lantai, bahkan mengenai seprai."Sayang, lepas sepatumu sebelum naik kasur!"Namun, Aksara nyaris tidak bereaksi. Dia sudah terlalu mengantuk untuk bergerak. Selama dua minggu terakhir, waktu istirahatnya sangat berantakan.Satu minggu setelah menikah, mereka menghabiskan banyak waktu bersama. Aksara bahkan seolah tidak pernah kehabisan tenaga setiap kali berada di dekatnya. Namun, setelah harus kembali bekerja di site selama seminggu penuh, pria itu akhirnya pulang dalam keadaan benar-benar kelelahan."Kasihan sekali …"Kila duduk di dekat kaki Aksara, lalu melepaskan sepatu dan kaus kakinya yang kotor. Setelah memastikan tubuh suaminya tidak demam, dia mulai memijat kaki Aksara yang terasa

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 106: Mengunjungi Dokter

    ***"Aku tidak tahu, ternyata ramai juga yang mengunjungi dokter Psikiater?" Aksara melihat antrian pasien di lobi. Aksara melirik Kila yang tampak duduk melamun dan dia melipat tangannya."Kila?"Kila masih terdiam. Aksara menjentikan jarinya, Kila tersadar."Maaf... Maafkan aku melamun.""Maaf? Ada apa, sayang?" Aksara mendekatkan wajahnya.Kila membalas tatapan Aksara. "Tidak apa-apa.""Kamu yakin?""Hmm, ya." Kila menghela napas. "Sedikit gugup. Aku sudah lama tidak kemari.""Minumlah dulu." Aksara menyodorkan botol minumannya."Tidak, aku tidak haus."Aksara menegangkan punggungnya. "Kamu baik-baik saja, Sayang. Jangan Khawatir.""Kila Damaya?"Seseorang memanggil dari balik pintu.Kila segera berdiri dan memasuki ruangan konsultasi. Dia memperhatikan sekelilingnya. Ruangan itu sudah banyak berubah sejak terakhir kali dia datang. Bahkan, dia hampir lupa sudah berapa tahun berlalu sejak sesi terapinya berakhir."Hai, Kila! Apa kabar?""Saya baik, Dok."Kila menyambut sapaan dokter

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 105: Persiapan Menikah

    ***"Kamu mau ke psikiater lagi?"Aksara mengernyit. Dia tidak mengerti apa yang masih dikhawatirkan Kila. Seminggu setelah kembali dari Jakarta, mereka sedang sibuk mempersiapkan rencana pernikahan.Kila terbaring dalam pelukannya. Sejak tadi wanita itu tampak melamun, sementara Aksara menopang kepala dengan satu tangan dan memperhatikan wajahnya."Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanyanya. "Kamu ragu menikah denganku?""Hm, tidak. Semuanya baik-baik saja, kecuali ….""Kecuali?"Kila mengangkat wajahnya. "Aku pikir, aku harus memeriksakan diri lagi. Terutama soal diagnosis compulsive sexual behaviour yang pernah kuceritakan kepadamu."Aksara merapikan rambut yang menutupi pipi Kila."Ya? Lalu? Apa kamu merasa gejala itu muncul lagi?.""Aku masih mengkhawatirkannya dan aku ingin berkonsultasi lagi.."Aksara terdiam sejenak. Selama ini, dia memang melihat Kila lebih mudah terangsang ketika mereka bersentuhan. Hanya dengannya. Namun, dia juga tahu bahwa kondisi Kila tidak sesederhana it

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 104: Sama-sama gila.

    ⚠️ CONTENT / ADULT WARNING:Bab ini mengandung konten dewasa ****Kila membuka mulut lebih lebar, perlahan memasukkan batang Aksara lebih dalam. Jelas tidak muat seluruhnya. Lidahnya bergerak di bagian bawah, mengusap dan menekan, sementara bibirnya menghisap pelan.Aksara mengerang rendah. Jari-jarinya yang tadi hanya menahan tepi wastafel kini naik, menyusup ke rambut Kila. Tidak memaksa, hanya mengikuti gerakan kepala wanita itu."Nggh… Kila…" suaranya serak.Kila menatap ke atas sebentar, mata mereka bertemu. Lalu dia mulai bergerak—naik turun dengan tempo pelan tapi dalam. Kadang berhenti di puncak untuk menghisap lebih kuat, kadang membiarkan lidahnya bermain di ujung sebelum menelan lagi.Air liur mulai membasahi dagu dan tangannya. Sesekali dia menarik kepala, bibirnya mengecup ujung batang Aksara yang mengkilap. Suara kuluman basah memenuhi kamar mandi, bercampur dengan napas Aksara yang semakin berat.Aksara menunduk, seolah memantau setiap gerakan Kila. Rahangnya mengeras.

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 103: Damai?

    ⚠️ CONTENT / ADULT WARNING:Bab ini mengandung konten dewasa ****"Aksara, sudah!"Kila berusaha menahan Aksara yang hendak kembali memukuli Xavi."Pak, mohon jaga emosi." Entah sudah berapa kali polisi berkumis itu memperingatkan Aksara.Mereka batal makan steak. Setelah mengetahui apa yang terjadi, Aksara kembali menghajar Xavi. Xavi tentu saja tidak tinggal diam. Keduanya pun kembali terlibat baku hantam.Sekuriti segera melerai mereka dan membawa semuanya ke kantor polisi terdekat.Istri Xavi yang sedang hamil sampai histeris melihat kondisi suaminya."Kenapa kalian memukuli suamiku?!" jeritnya. Dia duduk di samping Xavi yang pipinya sudah bengkak."Sudah kubilang, suamimu itu mengganggu calon istriku!" sahut Aksara keras sambil menahan tisu di hidungnya."Sekretarismu yang menendangku duluan! Dia yang menyerangku!""Bukan sekretarisku!" Aksara langsung menyela. "Kila ini calon istriku.""Dan kakakku tidak mungkin menyerang orang tanpa alasan!" Nathan ikut menimpali."Sudah, suda

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 102: Xavi Kembali Berulah

    ***"Oh?"Suara pria itu terdengar.Kila mengangkat wajah.Begitu melihat siapa yang berdiri di sana, matanya langsung terbelalak.Pria itu pun tampak sama terkejutnya."Pak … Xavi?!"Xavi mengusap pinggangnya yang terasa nyeri akibat benturan tadi. Wajahnya masih menyisakan lebam bekas tinju Aksara. Begitu melihat Kila, ekspresinya berubah masam."Cih, bisa-bisanya kita bertemu di sini!"Kila gelagapan dan segera bangkit. Keinginannya yang ingin buang air mendadak lenyap.Dia tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi."Per-permisi." Kila memutuskan untuk berbalik.Belum sempat mengambil langkah, Xavi sudah menyambar tangannya."Hei!"Kila tersentak."Ini semua gara-gara kamu baper!!" bentak Xavi.Kila pucat. "Pak, aku tidak—""Tidak apa, hah?!" Xavi mempererat cengkeramannya. "Kau tahu berapa banyak orang yang melihat kejadian itu? Kau tahu bagaimana aku harus menanggung malu karena ulahmu?!"Kila berusaha menarik tangannya, tetapi cengkeraman Xavi terlalu kuat."Kau sudah mempermal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status