تسجيل الدخول***"Tapi Raynar... apakah wajar jika seorang pria berhubungan seks dengan wanita lain tanpa melibatkan perasaan? Maksudku... dalam kasus perselingkuhan?""Tergantung orangnya. Kalau aku kan penjual jasa pecut demi uang," kelakar Raynar.Kila memicingkan mata."Aku pikir, cinta itu menciptakan ketergantungan. Kita hanya fokus padanya dan memberikan seluruh perhatian untuknya. Selain terhubung secara emosional, kita juga akan menjadi sangat posesif secara seksual dengannya," desah Kila seraya mengaduk sisa es telernya yang sudah habis."Itu benar. Tapi kalau bicara soal selingkuh, sebagai pria aku biasanya mulai memikirkan wanita lain saat bertemu sosok yang terasa lebih menarik. Dan kata 'menarik' di sini tidak melulu soal fisik," tutur Raynar seraya menatap Kila."Terkadang aku sampai membayangkan bagaimana jika kami berhubungan seks. Kita sebut saja itu fantasi. Dari situlah muncul dorongan untuk mendekat, menciptakan rasa nyaman, hingga akhirnya menjadi batasan yang sangat tipis—ap
***Mata Aksara terbelalak tak percaya. Seandainya saja mereka sedang tidak berada di ruang kantor, ia ingin sekali merengkuh tubuh Kila ke dalam pelukannya dan memohon ampun saat itu juga."Kila, tolong, berpikirlah dengan jernih," desak Aksara seraya bangkit berdiri, berusaha menahan langkah Kila.Kila tidak peduli. Dia memutar badan dan terkejut saat matanya menangkap sosok Kandi yang duduk di sofa. Kila baru menyadari bahwa ada orang lain di ruangan Aksara sejak tadi."Permisi, Pak," pamit Kila dingin pada Kandi."Kila!" panggil Aksara setengah berteriak.Kila enggan berpaling. Dia menutup pintu rapat-rapat, melangkah menuju kubikelnya mengambil tas, lalu berlalu begitu saja meninggalkan ruangN.Aksara yang diselimuti kemarahan dan frustrasi membanting paper bag di atas mejanya. Napasnya memburu, matanya memerah menahan emosi."Aksara, tenanglah. Biar nanti aku yang coba bicara dengan Kila," bujuk Kandi saat melihat sahabatnya itu tampak sangat tertekan.Kandi mengerti betul kead
***"Aku tidak percaya. Kamu pasti berbohong. Pak Aksara selalu bersamaku!" sahut Kila."Oh, kamu ini polos dan terlalu percaya pada Aksara. Coba bayangkan apa yang terjadi setelah kamu menikah nanti. Dia akan tetap menemuiku untuk berhubungan seks di belakangmu," bisik Amerta.Suaranya terdengar bak sembilu yang menusuk tepat di jantung Kila. Rasanya menyakitkan.Tatapan Amerta sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia sedang membual, wajahnya tampak sangat serius."Hampir dua bulan yang lalu, sepulang dia dari site sebelum pergi ke kota ini. Kami melakukannya. Aksara memang sangat hebat di tempat tidur," lanjut Amerta dengan senyum puas terulas di bibirnya.Kila membeku, pikirannya terlempar mundur mencoba mengingat timeline tersebut. Jadwal terakhir Aksara pergi ke site. Setelah kepulangannya saat itu, tiba-tiba saja Aksara membawanya menemui orang tuanya. Kila juga teringat dengan buket bunga mawar yang dikirimkan padanya—sesuatu yang terasa ganjil karena Kila tahu betul Aksara buka
***Amerta memarkirkan mobilnya di area parkir PT Kalandra. Sebelum turun, ia mengambil lipstik dari tasnya dan mengoleskannya kembali ke bibir. Ia lalu menyemprotkan parfum termahalnya ke area leher dan pergelangan tangan.Begitu Amerta keluar dari mobil, beberapa orang di area parkir tampak berbisik-bisik mengagumi kecantikannya yang bak supermodel. Kakinya yang jenjang terlihat makin menawan dibalut rok mini dan sepatu berhak tinggi.Amerta sempat mengedarkan pandangan, menatap gedung kantor cabang PT Kalandra di depannya. Bangunan itu hanyalah gedung tua dengan papan nama yang relatif kecil.Hari ini, ia bertekad menemui Aksara. Hampir sebulan lebih mereka tidak bertemu, hingga akhirnya sempat bertatap muka di cocktail party tempo hari—meski pesta itu agak kacau gara-gara ulah perempuan di toilet."Selamat siang, Nona," sapa *security* ramah saat Amerta melangkah memasuki lobi. Amerta hanya tersenyum tipis, lalu mengibaskan rambutnya pelan menuju meja resepsionis."Hai. Aku mau be
***Amerta membanting tasnya di meja kerja sang ayah. Pria itu menatap putri tunggalnya yang tampak sangat kesal. Wajah Amerta memerah, namun kecantikan yang diwarisi dari mendiang istrinya tetap membuat gadis itu terlihat menggemaskan di mata Artha."Kamu kenapa lagi, Amerta?" tanya Artha seraya menyandarkan punggungnya di kursi kerja."Quotation dari PT Intan lagi-lagi ditolak!" gerutu Amerta, kejengkelannya membumbung tinggi."Oh, ya? Berarti ini hampir semua quotation itu ditolak PT Kalandra?" tanya Artha memastikan.Amerta mengangguk cemberut. Padahal, dia sengaja menawarkan harga yang sangat murah. Dia sama sekali tidak peduli perusahaan mendapat untung atau tidak, yang terpenting PT Intan bisa menembus proyek PT Kalandra. Jika berhasil masuk, jalannya untuk menjalin komunikasi dengan Aksara akan terbuka lebar."Jadi? kamu masih mengejar Pak Aksara?"Amerta menyahut pertanyaan ayahnya hanya dengan bibir yang makin bersungut-sungut.Artha terkekeh melihat tingkah putrinya. Putrin
***"Ah, Kamu lihat kan, Sussy? Rambut wanita itu saja sangat berantakan! Apa pantas penampilan seperti itu mau bertemu bos-bos besar? Pasti Aksara menyuruh dia menjauh di pojokan tadi," keluh wanita itu dengan nada yang makin meninggi.Kila mengangkat alisnya seraya menggelengkan kepala dengan sebalKejadian ini benar-benar mirip dengan adegan drama televisi: dua orang sibuk bergosip di toilet, tanpa tahu orang yang mereka gunjingkan ada di dalam bilik toilet.Kila sama sekali tidak tersinggung. Justru dari cerita mereka, Kila tahu kalau Aksara sama sekali tidak tertarik pada wanita cantik itu."Quotation dari perusahaan kita juga selalu ditolak oleh PT Kalandra. Aksara benar-benar keterlaluan!" omel wanita itu lagi. "Dia pikir dia hebat?"Kila manggut-manggut.Oh, ternyata mereka dari PT Intan, ujarnya dalam hati.Tepat saat itu, ponsel di genggaman Kila berbunyi. Nama Aksara terlihat di sana. Seketika rasa sebal di dada Kila menguap, berganti binar jenaka yang terpancar di matanya.







