Share

Bab 4

Author: Iola
Valerie memejamkan mata sesaat.

Dua tahun terakhir ini, dia memang pernah menangkap basah perselingkuhan, membuat keributan, menghancurkan barang-barang, melakukan banyak hal yang tidak terhormat.

Setiap kali itu terjadi, Azka hanya menunggu sampai dia selesai melampiaskan emosi, lalu menenangkannya dengan santai sebelum mengusir para wanita itu tepat di depan matanya.

Sekarang Zara yang terlebih dulu menyentuh putrinya, tetapi malah Valerie yang ditanya soal harga diri. "Kamu bawa selingkuhan masuk ke rumah dan membuat sandiwara di pesta ulang tahun putriku, lalu sekarang kamu bilang masih peduli soal martabat?"

Wajah Azka langsung menjadi suram.

Safea buru-buru bersuara, hingga akhirnya berhasil menghentikan pertengkaran mereka sebelum semakin membesar.

Pesta ulang tahun yang dipersiapkan dengan susah payah akhirnya berakhir dengan suasana tidak menyenangkan. Para tamu mulai pamit satu per satu, meninggalkan aula yang penuh kekacauan dan rasa canggung.

Selfi yang ketakutan malam itu langsung mengalami demam ringan. Valerie menjaganya semalaman. Setelah berhasil menidurkan putrinya, Valerie mulai membereskan urusan pembagian aset.

Namun, ketika memeriksa dana perwalian keluarga yang secara khusus dibuat kakek Keluarga Kinanjar untuk Selfi, dia menemukan sesuatu yang tidak beres. Baru-baru ini ada dana dalam jumlah besar dipindahkan sementara dari rekening perwalian itu.

Nama persetujuannya jelas tertulis: Azka.

Jumlah uang itu sangat besar, hampir seluruh pokok dana.

Bagaimana mungkin Azka berani melakukan itu?! Hawa dingin langsung menjalar dari telapak kaki hingga ke kepala. Valerie segera menelepon Azka, tetapi tidak ada jawaban. Dia langsung menutup telepon lalu menyetir menuju kantor pusat Grup Kinanjar.

Di luar kantor presdir lantai atas, sekretaris berusaha menghentikannya.

"Nyonya, Pak Azka sedang sibuk ...."

Valerie tidak memedulikannya dan langsung berjalan menuju kantor itu.

Saat tangannya hendak mendorong pintu, samar-samar terdengar suara erangan manja wanita bercampur napas berat pria dari dalam.

Langkah Valerie terhenti. Dia menarik napas dalam-dalam, menekan rasa mual di tenggorokannya, lalu mendorong pintu itu terbuka.

Aroma nafsu langsung menyeruak keluar dari ruangan.

Zara duduk di tepi meja dengan pakaian setengah terbuka, rok terangkat sampai pinggang, tepat menghadap ke arah pintu. Sementara Azka membelakangi pintu dengan kemeja berantakan.

Tatapan Zara langsung bertemu dengan mata Valerie dengan penuh provokasi yang terang-terangan. Detik berikutnya, dia pura-pura terkejut, lalu buru-buru bersembunyi ke dalam pelukan Azka.

Gerakan Azka berhenti sesaat. Alisnya nyaris tak terlihat mengerut sedikit. Tidak ada sedikit pun kepanikan karena tertangkap basah oleh istrinya. Dia hanya merapikan pakaiannya dengan tenang. Lalu menarik Zara sedikit ke belakang tubuhnya, menyalakan rokok dengan santai, dan baru kemudian memandang Valerie.

"Kenapa sekarang baru datang, Nyonya Kinanjar?" Nada bicara Azka malas dan santai.

"Ada urusan?"

Valerie tidak lagi melihat pasangan menjijikkan itu. Dia langsung menunjukkan data mutasi dana. "Uang di dana perwalian hampir semuanya diambil. Kamu yang melakukannya?"

Sebelum Azka sempat menjawab, Zara yang bersembunyi di belakangnya lebih dulu berbicara dengan suara lemah lembut.

"Pak Azka, maafkan aku. Kalau bukan karena membantuku membayar penalti kontrak yang sangat mahal itu, uang milik Nona Muda juga nggak akan sampai dipakai dan membuat Nyonya Kinanjar semarah ini."

"Semua salahku ...."

Azka menepuk punggung tangan Zara dengan gerakan menenangkan, lalu baru mengangkat mata menatap Valerie. "Jangan terlalu marah begitu."

"Waktu pesta ulang tahun kemarin, kamu membuat dia dipermalukan di depan banyak orang. Gadis ini mudah malu, sampai menangis berhari-hari. Uang itu anggap saja kompensasi dari Selfi untuknya. Ya hitung-hitung buang sial dengan uang, hm?"

Kompensasi?

Memakai milik putri mereka untuk mengganti rugi pelakor?

Telinga Valerie berdengung keras. Pandangannya bahkan sempat menghitam sesaat.

Selama ini dia selalu berpikir, seburuk apa pun Azka, setidaknya pria itu tetap ayah yang baik untuk Selfi. Namun, kenyataan menamparnya tanpa ampun dan menghancurkan harapan terakhir itu sampai berkeping-keping.

Saat itu juga, terdengar ketukan di pintu kantor.

"Pak Azka, rapat akan segera dimulai."

Azka dengan santai merapikan kemejanya, lalu berjalan keluar bersama Zara.

Saat melewati Valerie, langkahnya sempat berhenti sebentar sebelum dia membujuk dengan nada ringan, "Sudahlah, jangan pasang wajah begitu."

"Aku sudah suruh sekretaris memesan koleksi perhiasan terbaru musim ini. Nanti dikirim ke rumah, anggap saja permintaan maafku untuk putri kesayangan kita."

Setelah mengatakan itu, dia langsung melewati Valerie dan membuka pintu kantor.

Di kantor itu hanya tersisa aroma nafsu yang belum menghilang dan Valerie seorang diri. Dia memandang dekorasi ruangan yang begitu familier. Samar-samar dia teringat, dulu dia dan Azka juga pernah memiliki kenangan indah di tempat ini.

Namun sekarang, saat melihatnya lagi, dia bahkan tidak tahu sudah berapa banyak wanita yang pernah diajak Azka bercumbu di kantor ini.

Ketulusan yang dulu pernah ada, setelah bertahun-tahun berlalu, kini hanya menyisakan rasa muak dan jijik.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 22

    Setelah kejadian itu, Azka tidak pernah muncul lagi. Hari-hari berlalu dengan tenang, seperti lembar demi lembar halaman buku yang dibalik.Studio Valerie perlahan mulai berjalan di jalurnya. Dia menggubah musik untuk sebuah film dokumenter independen. Melodi yang hening dan penuh kehidupan itu ternyata mendapat banyak pujian dari kalangan industri.Undangan kerja sama pun mulai berdatangan.Namun, Valerie memilih dengan sangat hati-hati. Dia hanya menerima proyek yang benar-benar menghargai musik itu sendiri. Dia tidak lagi membutuhkan dukungan dari gelar atau identitas siapa pun. Dia hanya "Valerie sang komposer".Selfi juga telah beradaptasi dengan lingkungan barunya dan mendapatkan teman-teman baru di sekolah yang baru.Revan mengisi kekosongan peran seorang ayah, bahkan melakukan lebih dari itu. Dia akan menemani Selfi membuat kerajinan tangan yang kekanak-kanakan, dengan sabar menjawab berbagai pertanyaan aneh yang muncul dari imajinasi kecilnya, dan berjaga di samping tempat tid

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 21

    Revan perlahan mengangkat pandangannya ke arah Azka. Tatapannya dipenuhi ejekan yang tidak disembunyikan sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat tipis. Dengan suara tegas, dia berkata, "Saudara?""Azka, siapa yang bilang kami saudara kandung?""Maaf membuatmu kecewa. Aku bukan kakak kandung." Dia berhenti sejenak, lalu menoleh kepada Valerie. "Aku memang dipersiapkan keluarga mereka untuk menjadi calon suami Valerie. Aku tumbuh bersamanya, menjaganya, dan menunggunya.""Latar belakangku bersih, riwayatku bersih, dan sejak awal sampai sekarang, di hati dan mataku hanya ada dia seorang. Nggak akan pernah ada orang lain.""Lalu ...."Revan kembali mengunci pandangannya pada wajah Azka yang sudah pucat pasi."Sekarang ada seseorang di sisinya. Orang itu adalah aku. Mengerti?"Kata "calon suami yang dipersiapkan keluarga" bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, meledak keras di benak Azka. Dia menatap Revan dengan tidak percaya, lalu memandang Valerie yang membiarkan semua itu terjadi,

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 20

    Terus-menerus menghindar dan menghalangi bukanlah solusi terbaik. Semakin dia menghindar, semakin erat Azka menempel. Justru itu akan meninggalkan kesan yang lebih mendalam di hati putrinya.Valerie membutuhkan sebuah pembicaraan yang benar-benar tuntas. Bukan untuk rujuk kembali, melainkan untuk mengakhiri semuanya.Beberapa hari kemudian, setelah mengetahui bahwa Azka kembali mengirim sejumlah mainan mahal ke rumah ibunya, Valerie mengambil inisiatif meneleponnya.Telepon langsung diangkat."Valerie?""Besok pukul tiga sore, di Kafe Ocean." Suara Valerie datar tanpa emosi sedikit pun. "Kita perlu bicara. Berdua saja."Tanpa menunggu tanggapan Azka, dia langsung menutup telepon. Valerie tidak memberinya kesempatan untuk menawar, membantah, atau menyiapkan kata-kata.Di seberang sana, Azka memegang ponselnya dan terdiam selama beberapa detik. Tak lama kemudian, sudut bibirnya tak kuasa tersenyum.Tuh, lihat, 'kan? Dia tahu Valerie tidak akan mampu bertahan.Perang dingin, memblokir kon

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 19

    "Azka, dengarkan baik-baik. Valerie adalah adik yang dibesarkan dan selalu dijaga dengan sepenuh hati olehku!""Dulu gimana kamu bersumpah akan memperlakukannya dengan baik? Lalu apa yang terjadi? Kamu membiarkan sampah nggak tahu diri itu berkali-kali menindasnya, bahkan hampir membuat Selfi kehilangan nyawanya! Sekarang kamu masih berani datang kemari bicara soal urusan keluarga? Bicara soal orang luar?"Setiap kali Revan mengucapkan satu kalimat, wajah Azka menjadi semakin buruk.Detail-detail yang selama ini sengaja dia abaikan, kini dipaparkan dengan terus terang oleh Revan. Azka merasa sangat malu. Dia memaksakan diri untuk tertawa sinis. "Itu cuma kecelakaan! Zara dia ....""Diam!" bentak Revan langsung. Tatapannya dipenuhi rasa jijik yang tidak disembunyikan sedikit pun."Jangan sebut nama wanita itu lagi di sini. Tempat adikku nggak pantas dikotori sama dia! Sekarang aku kasih kamu peringatan terakhir. Segera lenyap dari hadapan adikku. Mulai sekarang, jangan dekati dia lagi d

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 18

    Namun sebelum Valerie benar-benar sempat melangkah maju, kehidupan tenang yang baru saja dia bangun kembali terusik.Saat itu, Valerie sedang membungkuk di depan meja audio untuk menyesuaikan hasil rekaman alat musik gesek yang baru selesai direkam. Pintu studio diketuk pelan. Dia mengira orang yang datang adalah teknisi rekaman yang sudah membuat janji sebelumnya. Oleh karena itu, dia bahkan tidak mendongak sedikit pun saat menjawab, "Silakan masuk."Pintu terbuka. Namun, tidak ada seorang pun yang masuk. Hanya keheningan yang perlahan menyebar.Gerakan Valerie terhenti. Dia perlahan berdiri tegak.Azka berdiri di ambang pintu. Dia mengenakan mantel abu-abu gelap yang rapi, tubuhnya tinggi dan tegap. Di tangannya ada sebuah kotak hadiah. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Tatapannya berat saat memandang Valerie.Azka yang memecah keheningan terlebih dahulu dengan suara yang tenang, "Ternyata kamu bersembunyi di sini demi mencari ketenangan?"Valerie meletakkan headphone yang ada di tangan

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 17

    Alis Revan sedikit berkerut, begitu tipis hingga hampir tidak terlihat. Namun, sesaat kemudian dia kembali memasang senyum santai khasnya."Ada apa ini? Bu, jangan-jangan Ibu lagi mengajak Valerie mengenang masa-masa susah? Jangan sampai adikku menangis lagi. Dia sekarang aset paling berharga di keluarga kita."Ibu Valerie melotot ke arahnya. "Lidahmu memang nggak bisa diam." Dia berdiri lalu berkata, "Sudahlah, kalian ngobrol saja. Ibu pulang dulu."Sebelum pergi, dia menepuk punggung tangan Valerie pelan. Tatapannya menyiratkan makna yang sulit dijelaskan. Lalu, dia benar-benar pergi.Studio kembali sunyi. Kini hanya tersisa mereka berdua.Revan berjalan ke depan meja kerja Valerie. Tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu di tepi meja. Jarak mereka langsung menjadi sangat dekat. Aroma khas tubuhnya seketika memenuhi ruang di sekitar Valerie."Komposer hebat kita lagi mentok ide?" Sudut bibirnya terangkat dengan senyum menggoda yang sudah sangat familier."Keningmu berke

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 9

    Tatapan Azka jatuh pada alat perekam itu. Sebelum dia sempat bergerak, wajah Zara di belakangnya sudah berubah lebih dulu. Suaranya langsung dipenuhi tangis, air matanya mengalir deras."Bukan ... itu bukan suaraku ... palsu, semuanya palsu ....""Nyonya Kinanjar sebegitu membenciku ya? Merusak repu

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 8

    Setelah mengantar Selfi kembali ke vila dan memberi beberapa instruksi detail kepada pengasuh, Valerie mengurung diri di ruang kerja. Proses perceraian tinggal beberapa hari lagi selesai. Dia tidak ingin menimbulkan masalah tambahan lagi.Kalau Azka ingin mengakui anak Zara, biarkan saja. Kebetulan

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 7

    Hari peringatan 100 hari wafatnya ayah Azka, langit tampak muram. Valerie mengarahkan para pelayan menyiapkan semuanya dengan rapi. Itu adalah bentuk penghormatannya kepada pria tua yang memperlakukannya dengan baik semasa hidup.Suara mesin mobil terdengar dari luar rumah. Tanpa perlu menoleh, Vale

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 6

    Valerie bahkan tidak melihat wajah Azka. Dia langsung mengangkat layar ponselnya.Di sana terpampang email tuntutan dari pihak merek, surat pemutusan kerja sama, serta laporan perkiraan kerugian besar dari studio. Tatapan Azka menyapu layar itu dan alisnya sedikit mengernyit."Cuma kecelakaan kecil.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status