Share

Bab 6

Penulis: Iola
Valerie bahkan tidak melihat wajah Azka. Dia langsung mengangkat layar ponselnya.

Di sana terpampang email tuntutan dari pihak merek, surat pemutusan kerja sama, serta laporan perkiraan kerugian besar dari studio. Tatapan Azka menyapu layar itu dan alisnya sedikit mengernyit.

"Cuma kecelakaan kecil. Aku akan suruh orang urus. Berapa pun kerugiannya, akan kuganti dua kali lipat." Setelah mengatakan itu, dia berbalik menuju balkon kecil untuk menelepon.

Sementara itu, Zara perlahan mengangkat kepala menatap Valerie. Di wajahnya sudah tidak ada lagi rasa panik sedikit pun. Yang tersisa hanya kesombongan dan provokasi terang-terangan.

"Lihat, 'kan? Aku cuma perlu buka mulut, Pak Azka langsung bisa menjadikan studiomu batu pijakan untukku. Valerie, kalau aku jadi kamu, dari dulu aku sudah tahu diri dan pergi sendiri. Untuk apa terus menduduki posisi Nyonya Kinanjar sampai bikin orang muak?"

"Dua tahun penuh kamu mengamuk, menangis, cari mati, bikin malu diri sendiri seperti wanita gila. Lalu hasilnya apa? Bahkan hati seorang pria saja nggak bisa kamu pertahankan. Jujur saja, kalah separah ini sampai aku malu melihatmu."

Valerie memandangi wajah Zara yang begitu pongah, lalu tiba-tiba tersenyum. "Iya, aku memang pernah gila. Karena kamu tahu dulu aku seperti apa, dari mana nyalimu berani menantangku secara langsung?"

Begitu kata-kata itu selesai, Valerie langsung mengangkat tangan dan menamparnya tanpa ragu.

Plaak!

Suara tamparan yang nyaring langsung menggema di ruang istirahat.

Zara terhuyung satu langkah sambil memegangi wajahnya, matanya membelalak tidak percaya. Dia jelas tidak menyangka Valerie akan langsung main tangan.

Hampir bersamaan dengan itu, Azka selesai menelepon dan berbalik. Yang dia lihat adalah Valerie menampar Zara hingga jatuh terduduk di lantai.

"Valerie!"

Wajah Azka berubah drastis. Dia langsung mendorong Valerie menjauh dan memeluk Zara untuk melindunginya. Valerie tidak siap dengan dorongan sekuat itu. Tubuhnya terhuyung ke belakang, lalu pinggangnya menghantam keras sudut tajam meja display.

Rasa sakit yang menusuk langsung menjalar seketika, dan keringat dingin membasahi punggungnya dalam hitungan detik.

Namun, Azka sama sekali tidak memperhatikan keadaannya. Dia hanya sibuk memeriksa wajah Zara sebelum akhirnya mengangkat kepala dengan marah.

"Valerie! Sudah cukup belum ulahmu?! Aku sudah bilang akan ganti rugi! Dua kali lipat! Tiga kali lipat juga bisa!"

"Kalau dulu kamu cuma menghancurkan mobil dan membakar klub, sekarang malah mulai main pukul. Kenapa kamu bisa sekejam ini?"

Kejam?

Valerie menopang tubuhnya di tepi meja sambil menahan sakit dan memaksa dirinya berdiri tegak. "Kalau aku begini disebut kejam ...."

"Lalu kamu apa? Suami yang memakai uang putrinya sendiri dan membawa pelakor untuk menghancurkan acara istrinya. Apa kamu pantas disebut manusia? Atau binatang?"

Azka tampaknya belum pernah dibantah setajam ini olehnya. Dadanya naik turun hebat karena marah. Dia menunjuk Valerie dengan wajah muram. "Valerie, kita lihat saja sampai kapan kamu bisa terus keras kepala seperti ini!"

Dia memeluk Zara erat, lalu berbalik pergi dengan tanpa menoleh lagi kepada Valerie sedikit pun.

Rasa sakit di pinggang Valerie semakin jelas. Namun, hatinya malah mati rasa. Dia perlahan meluncur duduk di lantai, lalu memejamkan mata.

Kekuatan dorongan tadi dan rasa nyeri yang masih tertinggal di pinggangnya memberitahunya dengan sangat jelas. Pria yang dulu pernah berkata bahkan tidak tega melihatnya mengernyit sedikit pun ... sudah lama mati.

Entah berapa lama berlalu, dering ponsel memecah kesunyian.

Orang yang meneleponnya adalah Safea.

Valerie menarik napas dalam-dalam dan berusaha membuat suaranya terdengar normal. "Bu."

"Valerie ...." Suara Safea dipenuhi rasa bersalah. "Prosesnya hampir selesai. Paling lambat lima hari lagi semuanya akan benar-benar beres."

"Tenang saja. Aku tahu Azka yang bersalah sama kamu. Aset yang memang seharusnya jadi bagianmu sudah kuminta pengacara urus dengan jelas. Aku nggak akan membiarkan kamu dan Selfi dirugikan."

"Terima kasih, Bu."

"Masih ada satu hal lagi ...." Safea berhenti sejenak.

"Beberapa hari lagi adalah 100 hari meninggalnya ayah Azka. Menurut adat keluarga, semua harus berkumpul. Aku tahu minta kamu mengurus ini sekarang nggak pantas, tapi semasa hidup, dia suka sekali sama kamu sebagai menantunya ...."

"Boleh nggak kamu bantu Ibu sekali lagi?"

Valerie terdiam beberapa detik.

Semasa hidup, ayah Azka memang memperlakukannya dengan sangat baik. Ini juga akan menjadi perpisahan terakhir yang benar-benar tuntas.

"Baik, Bu. Akan kuurus."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 22

    Setelah kejadian itu, Azka tidak pernah muncul lagi. Hari-hari berlalu dengan tenang, seperti lembar demi lembar halaman buku yang dibalik.Studio Valerie perlahan mulai berjalan di jalurnya. Dia menggubah musik untuk sebuah film dokumenter independen. Melodi yang hening dan penuh kehidupan itu ternyata mendapat banyak pujian dari kalangan industri.Undangan kerja sama pun mulai berdatangan.Namun, Valerie memilih dengan sangat hati-hati. Dia hanya menerima proyek yang benar-benar menghargai musik itu sendiri. Dia tidak lagi membutuhkan dukungan dari gelar atau identitas siapa pun. Dia hanya "Valerie sang komposer".Selfi juga telah beradaptasi dengan lingkungan barunya dan mendapatkan teman-teman baru di sekolah yang baru.Revan mengisi kekosongan peran seorang ayah, bahkan melakukan lebih dari itu. Dia akan menemani Selfi membuat kerajinan tangan yang kekanak-kanakan, dengan sabar menjawab berbagai pertanyaan aneh yang muncul dari imajinasi kecilnya, dan berjaga di samping tempat tid

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 21

    Revan perlahan mengangkat pandangannya ke arah Azka. Tatapannya dipenuhi ejekan yang tidak disembunyikan sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat tipis. Dengan suara tegas, dia berkata, "Saudara?""Azka, siapa yang bilang kami saudara kandung?""Maaf membuatmu kecewa. Aku bukan kakak kandung." Dia berhenti sejenak, lalu menoleh kepada Valerie. "Aku memang dipersiapkan keluarga mereka untuk menjadi calon suami Valerie. Aku tumbuh bersamanya, menjaganya, dan menunggunya.""Latar belakangku bersih, riwayatku bersih, dan sejak awal sampai sekarang, di hati dan mataku hanya ada dia seorang. Nggak akan pernah ada orang lain.""Lalu ...."Revan kembali mengunci pandangannya pada wajah Azka yang sudah pucat pasi."Sekarang ada seseorang di sisinya. Orang itu adalah aku. Mengerti?"Kata "calon suami yang dipersiapkan keluarga" bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, meledak keras di benak Azka. Dia menatap Revan dengan tidak percaya, lalu memandang Valerie yang membiarkan semua itu terjadi,

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 20

    Terus-menerus menghindar dan menghalangi bukanlah solusi terbaik. Semakin dia menghindar, semakin erat Azka menempel. Justru itu akan meninggalkan kesan yang lebih mendalam di hati putrinya.Valerie membutuhkan sebuah pembicaraan yang benar-benar tuntas. Bukan untuk rujuk kembali, melainkan untuk mengakhiri semuanya.Beberapa hari kemudian, setelah mengetahui bahwa Azka kembali mengirim sejumlah mainan mahal ke rumah ibunya, Valerie mengambil inisiatif meneleponnya.Telepon langsung diangkat."Valerie?""Besok pukul tiga sore, di Kafe Ocean." Suara Valerie datar tanpa emosi sedikit pun. "Kita perlu bicara. Berdua saja."Tanpa menunggu tanggapan Azka, dia langsung menutup telepon. Valerie tidak memberinya kesempatan untuk menawar, membantah, atau menyiapkan kata-kata.Di seberang sana, Azka memegang ponselnya dan terdiam selama beberapa detik. Tak lama kemudian, sudut bibirnya tak kuasa tersenyum.Tuh, lihat, 'kan? Dia tahu Valerie tidak akan mampu bertahan.Perang dingin, memblokir kon

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 19

    "Azka, dengarkan baik-baik. Valerie adalah adik yang dibesarkan dan selalu dijaga dengan sepenuh hati olehku!""Dulu gimana kamu bersumpah akan memperlakukannya dengan baik? Lalu apa yang terjadi? Kamu membiarkan sampah nggak tahu diri itu berkali-kali menindasnya, bahkan hampir membuat Selfi kehilangan nyawanya! Sekarang kamu masih berani datang kemari bicara soal urusan keluarga? Bicara soal orang luar?"Setiap kali Revan mengucapkan satu kalimat, wajah Azka menjadi semakin buruk.Detail-detail yang selama ini sengaja dia abaikan, kini dipaparkan dengan terus terang oleh Revan. Azka merasa sangat malu. Dia memaksakan diri untuk tertawa sinis. "Itu cuma kecelakaan! Zara dia ....""Diam!" bentak Revan langsung. Tatapannya dipenuhi rasa jijik yang tidak disembunyikan sedikit pun."Jangan sebut nama wanita itu lagi di sini. Tempat adikku nggak pantas dikotori sama dia! Sekarang aku kasih kamu peringatan terakhir. Segera lenyap dari hadapan adikku. Mulai sekarang, jangan dekati dia lagi d

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 18

    Namun sebelum Valerie benar-benar sempat melangkah maju, kehidupan tenang yang baru saja dia bangun kembali terusik.Saat itu, Valerie sedang membungkuk di depan meja audio untuk menyesuaikan hasil rekaman alat musik gesek yang baru selesai direkam. Pintu studio diketuk pelan. Dia mengira orang yang datang adalah teknisi rekaman yang sudah membuat janji sebelumnya. Oleh karena itu, dia bahkan tidak mendongak sedikit pun saat menjawab, "Silakan masuk."Pintu terbuka. Namun, tidak ada seorang pun yang masuk. Hanya keheningan yang perlahan menyebar.Gerakan Valerie terhenti. Dia perlahan berdiri tegak.Azka berdiri di ambang pintu. Dia mengenakan mantel abu-abu gelap yang rapi, tubuhnya tinggi dan tegap. Di tangannya ada sebuah kotak hadiah. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Tatapannya berat saat memandang Valerie.Azka yang memecah keheningan terlebih dahulu dengan suara yang tenang, "Ternyata kamu bersembunyi di sini demi mencari ketenangan?"Valerie meletakkan headphone yang ada di tangan

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 17

    Alis Revan sedikit berkerut, begitu tipis hingga hampir tidak terlihat. Namun, sesaat kemudian dia kembali memasang senyum santai khasnya."Ada apa ini? Bu, jangan-jangan Ibu lagi mengajak Valerie mengenang masa-masa susah? Jangan sampai adikku menangis lagi. Dia sekarang aset paling berharga di keluarga kita."Ibu Valerie melotot ke arahnya. "Lidahmu memang nggak bisa diam." Dia berdiri lalu berkata, "Sudahlah, kalian ngobrol saja. Ibu pulang dulu."Sebelum pergi, dia menepuk punggung tangan Valerie pelan. Tatapannya menyiratkan makna yang sulit dijelaskan. Lalu, dia benar-benar pergi.Studio kembali sunyi. Kini hanya tersisa mereka berdua.Revan berjalan ke depan meja kerja Valerie. Tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu di tepi meja. Jarak mereka langsung menjadi sangat dekat. Aroma khas tubuhnya seketika memenuhi ruang di sekitar Valerie."Komposer hebat kita lagi mentok ide?" Sudut bibirnya terangkat dengan senyum menggoda yang sudah sangat familier."Keningmu berke

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 5

    Perhiasan permintaan maaf dari Azka dikirim ke vila keesokan harinya. Valerie bahkan tidak melihatnya dan langsung menyuruh pembantu menyimpannya ke gudang. Dia tidak lagi mempertanyakan ke mana uang itu dipakai, juga tidak lagi marah karena Zara.Azka tampaknya menganggap sikap diamnya sebagai bent

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 9

    Tatapan Azka jatuh pada alat perekam itu. Sebelum dia sempat bergerak, wajah Zara di belakangnya sudah berubah lebih dulu. Suaranya langsung dipenuhi tangis, air matanya mengalir deras."Bukan ... itu bukan suaraku ... palsu, semuanya palsu ....""Nyonya Kinanjar sebegitu membenciku ya? Merusak repu

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 8

    Setelah mengantar Selfi kembali ke vila dan memberi beberapa instruksi detail kepada pengasuh, Valerie mengurung diri di ruang kerja. Proses perceraian tinggal beberapa hari lagi selesai. Dia tidak ingin menimbulkan masalah tambahan lagi.Kalau Azka ingin mengakui anak Zara, biarkan saja. Kebetulan

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 7

    Hari peringatan 100 hari wafatnya ayah Azka, langit tampak muram. Valerie mengarahkan para pelayan menyiapkan semuanya dengan rapi. Itu adalah bentuk penghormatannya kepada pria tua yang memperlakukannya dengan baik semasa hidup.Suara mesin mobil terdengar dari luar rumah. Tanpa perlu menoleh, Vale

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status