Share

Bab 8

Author: Iola
Setelah mengantar Selfi kembali ke vila dan memberi beberapa instruksi detail kepada pengasuh, Valerie mengurung diri di ruang kerja. Proses perceraian tinggal beberapa hari lagi selesai. Dia tidak ingin menimbulkan masalah tambahan lagi.

Kalau Azka ingin mengakui anak Zara, biarkan saja. Kebetulan dia juga akan membawa putrinya pergi.

Namun belum sampai malam, pengasuh tiba-tiba mengetuk pintu ruang kerja dengan panik sambil memegang sebuah alat perekam suara. "Nyonya! Nyonya! Gawat! Nona Selfi hilang!"

Valerie langsung berdiri.

"Apa maksudnya hilang? Bukannya tadi dia main di halaman?"

"Memang di halaman! Saya cuma masuk sebentar buat mengambil botol minum, begitu keluar dia sudah nggak ada! Kami sudah cari ke mana-mana! Cuma menemukan alat perekam ini ...."

Pengasuh itu menangis karena panik. Hawa dingin langsung menjalar dari telapak kaki Valerie ke seluruh tubuhnya. Dia memaksa dirinya tetap tenang, lalu menyalakan alat perekam itu.

Dari dalam terdengar suara yang sudah diubah nadanya. "Valerie, kamu menghalangi jalanku. Anakmu juga menghalangi jalan anakku. Kalian semua mati saja."

Itu Zara!

Untungnya Valerie selama ini memasang cip pelacak di sol sepatu Selfi. Sinyalnya segera muncul dan menunjukkan lokasi di sebuah dermaga terbengkalai di pinggiran kota. Valerie langsung meraih kunci mobil dan melaju hampir seperti orang gila.

Sambil menyetir, dia tetap tenang memberi instruksi kepada asistennya lewat telepon. "Selidiki semua skandal Zara."

"Foto-fotonya saat masih menemani minum di klub malam sebelum debut, bukti ijazah palsunya, juga video dia tidur dengan orang demi mendapatkan proyek. Sebarkan semuanya."

"Habiskan uang berapa pun untuk membeli semua headline. Aku mau dalam 24 jam, reputasinya hancur total."

Saat tiba di dermaga terbengkalai itu, dari jauh Valerie melihat sebuah perahu kayu kecil mengapung di permukaan air. Dasar perahunya tampak bocor dan perlahan tenggelam. Air bahkan sudah mencapai dada anak kecil di dalamnya.

"Selfi!"

Jantung Valerie serasa hancur. Tanpa ragu, dia langsung melompat ke air dan memeluk putrinya erat-erat.

Selfi sudah pingsan. Tubuh kecilnya dingin membeku dan gemetar hebat.

Mata Valerie memerah. Kebenciannya terhadap Zara mencapai puncak. Dia memeluk Selfi sambil berenang kembali ke tepi lalu segera membawa putrinya ke rumah sakit.

Setelah memastikan Selfi tidak mengalami bahaya serius, Valerie akhirnya mengganti pakaian basahnya dan menghela napas lega.

Dalam tiga jam sejak dia bergerak menyelamatkan Selfi hingga tiba di rumah sakit, reputasi Zara sudah benar-benar hancur. Akun publiknya diserbu habis-habisan. Kontrak iklan juga dibatalkan satu demi satu.

Valerie baru saja menyimpan ponselnya ketika suara langkah kaki tergesa terdengar dari ujung lorong. Azka datang dengan wajah penuh amarah. Di belakangnya, Zara mengikuti dengan mata merah dan wajah menyedihkan.

"Valerie! Apa ini ulahmu?! Semua skandal tentang Zara itu!"

"Kamu benar-benar harus menghancurkannya sampai habis?! Aku sudah bilang, apa pun yang terjadi posisi Nyonya Kinanjar tetap nggak akan tergoyahkan. Kenapa kamu harus memakai cara serendah ini untuk menghancurkannya?!"

"Dia sedang hamil! Emosi wanita hamil gampang terguncang, kamu nggak tahu itu?!"

Valerie perlahan mengangkat kepala. Dia memandang pria yang dulu mencintainya, tetapi sekarang malah berdiri di depannya demi membela wanita lain. Bahkan tidak satu kalimat pun keluar dari mulutnya untuk bertanya kenapa dia berada di rumah sakit.

Wajah Valerie tanpa ekspresi. Dia bahkan tersenyum tipis.

Sambil menatap mata Azka, dia bertanya dengan jelas, kata demi kata, "Azka, kamu tahu nggak kalau putrimu sore ini diculik dan hampir tenggelam?"

Kemarahan di wajah Azka langsung membeku. Pupil matanya menyusut tajam. Sementara Zara di belakangnya mendadak pucat pasi dan kilatan panik melintas di matanya.

Beberapa detik suasana membeku. Baru setelah itu Azka seperti menemukan kembali suaranya.

"Selfi? Dia ... gimana keadaannya?"

Valerie memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin melihat Azka lagi. Melihat Valerie diam, Azka mengerutkan alis.

"Aku juga khawatir kalau putriku kenapa-kenapa. Aku pasti akan selidiki! Tapi apa hubungannya dengan Zara?"

Valerie tertawa dingin lalu memotong ucapannya. Dia tidak lagi melihat Azka. Sebaliknya, dia mengeluarkan alat perekam kecil itu. Lalu mengangkat tangan dan menyerahkannya tepat di depan Azka.

"Apa hubungannya?"

"Dengar sendiri."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 22

    Setelah kejadian itu, Azka tidak pernah muncul lagi. Hari-hari berlalu dengan tenang, seperti lembar demi lembar halaman buku yang dibalik.Studio Valerie perlahan mulai berjalan di jalurnya. Dia menggubah musik untuk sebuah film dokumenter independen. Melodi yang hening dan penuh kehidupan itu ternyata mendapat banyak pujian dari kalangan industri.Undangan kerja sama pun mulai berdatangan.Namun, Valerie memilih dengan sangat hati-hati. Dia hanya menerima proyek yang benar-benar menghargai musik itu sendiri. Dia tidak lagi membutuhkan dukungan dari gelar atau identitas siapa pun. Dia hanya "Valerie sang komposer".Selfi juga telah beradaptasi dengan lingkungan barunya dan mendapatkan teman-teman baru di sekolah yang baru.Revan mengisi kekosongan peran seorang ayah, bahkan melakukan lebih dari itu. Dia akan menemani Selfi membuat kerajinan tangan yang kekanak-kanakan, dengan sabar menjawab berbagai pertanyaan aneh yang muncul dari imajinasi kecilnya, dan berjaga di samping tempat tid

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 21

    Revan perlahan mengangkat pandangannya ke arah Azka. Tatapannya dipenuhi ejekan yang tidak disembunyikan sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat tipis. Dengan suara tegas, dia berkata, "Saudara?""Azka, siapa yang bilang kami saudara kandung?""Maaf membuatmu kecewa. Aku bukan kakak kandung." Dia berhenti sejenak, lalu menoleh kepada Valerie. "Aku memang dipersiapkan keluarga mereka untuk menjadi calon suami Valerie. Aku tumbuh bersamanya, menjaganya, dan menunggunya.""Latar belakangku bersih, riwayatku bersih, dan sejak awal sampai sekarang, di hati dan mataku hanya ada dia seorang. Nggak akan pernah ada orang lain.""Lalu ...."Revan kembali mengunci pandangannya pada wajah Azka yang sudah pucat pasi."Sekarang ada seseorang di sisinya. Orang itu adalah aku. Mengerti?"Kata "calon suami yang dipersiapkan keluarga" bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, meledak keras di benak Azka. Dia menatap Revan dengan tidak percaya, lalu memandang Valerie yang membiarkan semua itu terjadi,

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 20

    Terus-menerus menghindar dan menghalangi bukanlah solusi terbaik. Semakin dia menghindar, semakin erat Azka menempel. Justru itu akan meninggalkan kesan yang lebih mendalam di hati putrinya.Valerie membutuhkan sebuah pembicaraan yang benar-benar tuntas. Bukan untuk rujuk kembali, melainkan untuk mengakhiri semuanya.Beberapa hari kemudian, setelah mengetahui bahwa Azka kembali mengirim sejumlah mainan mahal ke rumah ibunya, Valerie mengambil inisiatif meneleponnya.Telepon langsung diangkat."Valerie?""Besok pukul tiga sore, di Kafe Ocean." Suara Valerie datar tanpa emosi sedikit pun. "Kita perlu bicara. Berdua saja."Tanpa menunggu tanggapan Azka, dia langsung menutup telepon. Valerie tidak memberinya kesempatan untuk menawar, membantah, atau menyiapkan kata-kata.Di seberang sana, Azka memegang ponselnya dan terdiam selama beberapa detik. Tak lama kemudian, sudut bibirnya tak kuasa tersenyum.Tuh, lihat, 'kan? Dia tahu Valerie tidak akan mampu bertahan.Perang dingin, memblokir kon

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 19

    "Azka, dengarkan baik-baik. Valerie adalah adik yang dibesarkan dan selalu dijaga dengan sepenuh hati olehku!""Dulu gimana kamu bersumpah akan memperlakukannya dengan baik? Lalu apa yang terjadi? Kamu membiarkan sampah nggak tahu diri itu berkali-kali menindasnya, bahkan hampir membuat Selfi kehilangan nyawanya! Sekarang kamu masih berani datang kemari bicara soal urusan keluarga? Bicara soal orang luar?"Setiap kali Revan mengucapkan satu kalimat, wajah Azka menjadi semakin buruk.Detail-detail yang selama ini sengaja dia abaikan, kini dipaparkan dengan terus terang oleh Revan. Azka merasa sangat malu. Dia memaksakan diri untuk tertawa sinis. "Itu cuma kecelakaan! Zara dia ....""Diam!" bentak Revan langsung. Tatapannya dipenuhi rasa jijik yang tidak disembunyikan sedikit pun."Jangan sebut nama wanita itu lagi di sini. Tempat adikku nggak pantas dikotori sama dia! Sekarang aku kasih kamu peringatan terakhir. Segera lenyap dari hadapan adikku. Mulai sekarang, jangan dekati dia lagi d

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 18

    Namun sebelum Valerie benar-benar sempat melangkah maju, kehidupan tenang yang baru saja dia bangun kembali terusik.Saat itu, Valerie sedang membungkuk di depan meja audio untuk menyesuaikan hasil rekaman alat musik gesek yang baru selesai direkam. Pintu studio diketuk pelan. Dia mengira orang yang datang adalah teknisi rekaman yang sudah membuat janji sebelumnya. Oleh karena itu, dia bahkan tidak mendongak sedikit pun saat menjawab, "Silakan masuk."Pintu terbuka. Namun, tidak ada seorang pun yang masuk. Hanya keheningan yang perlahan menyebar.Gerakan Valerie terhenti. Dia perlahan berdiri tegak.Azka berdiri di ambang pintu. Dia mengenakan mantel abu-abu gelap yang rapi, tubuhnya tinggi dan tegap. Di tangannya ada sebuah kotak hadiah. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Tatapannya berat saat memandang Valerie.Azka yang memecah keheningan terlebih dahulu dengan suara yang tenang, "Ternyata kamu bersembunyi di sini demi mencari ketenangan?"Valerie meletakkan headphone yang ada di tangan

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 17

    Alis Revan sedikit berkerut, begitu tipis hingga hampir tidak terlihat. Namun, sesaat kemudian dia kembali memasang senyum santai khasnya."Ada apa ini? Bu, jangan-jangan Ibu lagi mengajak Valerie mengenang masa-masa susah? Jangan sampai adikku menangis lagi. Dia sekarang aset paling berharga di keluarga kita."Ibu Valerie melotot ke arahnya. "Lidahmu memang nggak bisa diam." Dia berdiri lalu berkata, "Sudahlah, kalian ngobrol saja. Ibu pulang dulu."Sebelum pergi, dia menepuk punggung tangan Valerie pelan. Tatapannya menyiratkan makna yang sulit dijelaskan. Lalu, dia benar-benar pergi.Studio kembali sunyi. Kini hanya tersisa mereka berdua.Revan berjalan ke depan meja kerja Valerie. Tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu di tepi meja. Jarak mereka langsung menjadi sangat dekat. Aroma khas tubuhnya seketika memenuhi ruang di sekitar Valerie."Komposer hebat kita lagi mentok ide?" Sudut bibirnya terangkat dengan senyum menggoda yang sudah sangat familier."Keningmu berke

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 9

    Tatapan Azka jatuh pada alat perekam itu. Sebelum dia sempat bergerak, wajah Zara di belakangnya sudah berubah lebih dulu. Suaranya langsung dipenuhi tangis, air matanya mengalir deras."Bukan ... itu bukan suaraku ... palsu, semuanya palsu ....""Nyonya Kinanjar sebegitu membenciku ya? Merusak repu

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 7

    Hari peringatan 100 hari wafatnya ayah Azka, langit tampak muram. Valerie mengarahkan para pelayan menyiapkan semuanya dengan rapi. Itu adalah bentuk penghormatannya kepada pria tua yang memperlakukannya dengan baik semasa hidup.Suara mesin mobil terdengar dari luar rumah. Tanpa perlu menoleh, Vale

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 6

    Valerie bahkan tidak melihat wajah Azka. Dia langsung mengangkat layar ponselnya.Di sana terpampang email tuntutan dari pihak merek, surat pemutusan kerja sama, serta laporan perkiraan kerugian besar dari studio. Tatapan Azka menyapu layar itu dan alisnya sedikit mengernyit."Cuma kecelakaan kecil.

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 5

    Perhiasan permintaan maaf dari Azka dikirim ke vila keesokan harinya. Valerie bahkan tidak melihatnya dan langsung menyuruh pembantu menyimpannya ke gudang. Dia tidak lagi mempertanyakan ke mana uang itu dipakai, juga tidak lagi marah karena Zara.Azka tampaknya menganggap sikap diamnya sebagai bent

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status