Share

Bab 9

Author: Iola
Tatapan Azka jatuh pada alat perekam itu. Sebelum dia sempat bergerak, wajah Zara di belakangnya sudah berubah lebih dulu. Suaranya langsung dipenuhi tangis, air matanya mengalir deras.

"Bukan ... itu bukan suaraku ... palsu, semuanya palsu ...."

"Nyonya Kinanjar sebegitu membenciku ya? Merusak reputasiku saja belum cukup, sekarang masih memakai cara seperti ini ... memfitnah aku ingin mencelakai Selfi?"

Tangannya yang lain lemah menutupi perutnya, tubuhnya sedikit meringkuk.

"Pak Azka sangat menyayangi Selfi. Aku juga menganggapnya seperti anakku sendiri. Mana mungkin aku menyakitinya? Dia benar-benar ingin memaksaku mati ... aku dan anak ini ... lebih baik mati saja sekalian ...."

Ekspresi Azka yang tadi masih ragu, langsung menggelap sepenuhnya. Dia menunduk memandang Zara yang menangis sampai hampir pingsan dalam pelukannya, lalu mengangkat mata menatap Valerie yang berdiri dengan wajah tenang.

"Valerie, demi memfitnah Zara, kamu sampai memakai nyawa putri kita sendiri sebagai permainan?"

Valerie memandangnya diam-diam. Seolah ingin menembus wajah pria yang dulu sangat dicintainya itu dan melihat seluruh isi hatinya dengan jelas.

Setelah lama terdiam, dia tertawa pelan. Tawa itu kosong dan hampa.

"Azka, ternyata kamu benar-benar buta mata dan buta hati."

Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik lalu membuka pintu ruang rawat dan masuk ke dalam.

Ruangan itu sangat tenang. Selfi sudah tertidur, wajah kecilnya pucat tetapi napasnya stabil.

Valerie berjalan ke sisi ranjang lalu duduk perlahan, jemarinya menyapu lembut rambut halus di dahi putrinya. Anehnya, hatinya malah menjadi sangat tenang.

Keributan tadi seolah menguras habis emosi terakhir yang masih tersisa di dirinya. Dia duduk di ruang rawat itu sangat lama sampai cahaya matahari senja masuk lewat jendela.

Layar ponselnya menyala. Ada dua pesan baru.

Pesan pertama berasal dari Azka.

[ Emosi Zara sekarang sangat nggak stabil. Kondisi janinnya juga berbahaya. Dokter bilang dia nggak boleh syok lagi. Bagaimanapun juga, anak itu tetap darah daging Keluarga Kinanjar. Untuk menenangkannya, mungkin aku akan memberinya status. Kamu tenang saja. Posisimu nggak akan terpengaruh. ]

Di setiap kata, keberpihakannya terlihat jelas tanpa sedikit pun disembunyikan. Dia bahkan tidak bertanya apakah rekaman itu asli atau palsu. Atau mungkin, di dalam hatinya, Zara dan anak dalam kandungannya jauh lebih penting daripada apa yang disebut kebenaran.

Valerie memandangi beberapa baris pesan itu tanpa ekspresi sedikit pun.

Jarinya bergerak pelan lalu membalas dua kata.

[ Silakan saja. ]

Pesan lainnya berasal dari Safea.

[ Valerie, semua prosedur sudah selesai. Dokumennya sudah dikirim ke bandara. Surat hak asuh Selfi juga ada di dalamnya. Jaga dirimu baik-baik. ]

Valerie menarik napas dalam-dalam.

Namun kali ini, dadanya sudah tidak lagi terasa sesak. Dia hanya membalas satu kalimat.

[ Terima kasih, Tante. ]

Valerie mengurus proses keluar rumah sakit untuk Selfi. Anak itu bersandar manja di pelukannya sambil bertanya pelan, "Mama, kita pulang?"

"Hm, pulang."

Valerie mencium kening putrinya, lalu memeluknya masuk ke dalam mobil.

Sesampainya di vila yang menyimpan terlalu banyak kenangan itu, Valerie tidak berhenti lama. Dia langsung naik ke lantai atas, masuk ke ruang pakaian, lalu mengeluarkan koper dan mulai membereskan barang-barangnya. Gerakannya cepat dan tanpa sedikit pun keraguan.

Dia hanya membawa kebutuhan dirinya dan Selfi, serta beberapa barang lama yang punya nilai kenangan. Sedangkan semua perhiasan mahal dan gaun mewah di sana tidak disentuh sedikit pun.

Barang-barang yang diperoleh dengan identitas sebagai Nyonya Kinanjar itu ... sudah tidak dia butuhkan lagi.

Pada akhirnya, dia menatap rumah yang dulu pernah disebut "keluarga" itu untuk terakhir kali. Tatapannya begitu tenang. Tempat ini sudah lama kehilangan kehangatan dan hanya menyisakan cangkang indah yang kosong.

Valerie mengangkat Selfi dan menarik koper, lalu berjalan keluar tanpa pernah menoleh lagi. Dia masuk ke mobil dan langsung menuju bandara.

Saat pesawat mengudara, di luar jendela hanya terlihat lautan awan yang membentang tanpa ujung. Selfi tertidur di pelukannya dengan napas teratur.

Valerie memandang keluar jendela. Semua yang ada di daratan semakin jauh, lalu perlahan menghilang dari pandangan.

Pesawat itu akan mendarat di kota baru. Di sana tidak ada Azka. Tidak ada Zara. Tidak ada lagi keterikatan menyesakkan yang selama ini membelenggunya.

Kehidupan baru bagi dirinya dan Selfi ... baru saja dimulai.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 22

    Setelah kejadian itu, Azka tidak pernah muncul lagi. Hari-hari berlalu dengan tenang, seperti lembar demi lembar halaman buku yang dibalik.Studio Valerie perlahan mulai berjalan di jalurnya. Dia menggubah musik untuk sebuah film dokumenter independen. Melodi yang hening dan penuh kehidupan itu ternyata mendapat banyak pujian dari kalangan industri.Undangan kerja sama pun mulai berdatangan.Namun, Valerie memilih dengan sangat hati-hati. Dia hanya menerima proyek yang benar-benar menghargai musik itu sendiri. Dia tidak lagi membutuhkan dukungan dari gelar atau identitas siapa pun. Dia hanya "Valerie sang komposer".Selfi juga telah beradaptasi dengan lingkungan barunya dan mendapatkan teman-teman baru di sekolah yang baru.Revan mengisi kekosongan peran seorang ayah, bahkan melakukan lebih dari itu. Dia akan menemani Selfi membuat kerajinan tangan yang kekanak-kanakan, dengan sabar menjawab berbagai pertanyaan aneh yang muncul dari imajinasi kecilnya, dan berjaga di samping tempat tid

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 21

    Revan perlahan mengangkat pandangannya ke arah Azka. Tatapannya dipenuhi ejekan yang tidak disembunyikan sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat tipis. Dengan suara tegas, dia berkata, "Saudara?""Azka, siapa yang bilang kami saudara kandung?""Maaf membuatmu kecewa. Aku bukan kakak kandung." Dia berhenti sejenak, lalu menoleh kepada Valerie. "Aku memang dipersiapkan keluarga mereka untuk menjadi calon suami Valerie. Aku tumbuh bersamanya, menjaganya, dan menunggunya.""Latar belakangku bersih, riwayatku bersih, dan sejak awal sampai sekarang, di hati dan mataku hanya ada dia seorang. Nggak akan pernah ada orang lain.""Lalu ...."Revan kembali mengunci pandangannya pada wajah Azka yang sudah pucat pasi."Sekarang ada seseorang di sisinya. Orang itu adalah aku. Mengerti?"Kata "calon suami yang dipersiapkan keluarga" bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, meledak keras di benak Azka. Dia menatap Revan dengan tidak percaya, lalu memandang Valerie yang membiarkan semua itu terjadi,

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 20

    Terus-menerus menghindar dan menghalangi bukanlah solusi terbaik. Semakin dia menghindar, semakin erat Azka menempel. Justru itu akan meninggalkan kesan yang lebih mendalam di hati putrinya.Valerie membutuhkan sebuah pembicaraan yang benar-benar tuntas. Bukan untuk rujuk kembali, melainkan untuk mengakhiri semuanya.Beberapa hari kemudian, setelah mengetahui bahwa Azka kembali mengirim sejumlah mainan mahal ke rumah ibunya, Valerie mengambil inisiatif meneleponnya.Telepon langsung diangkat."Valerie?""Besok pukul tiga sore, di Kafe Ocean." Suara Valerie datar tanpa emosi sedikit pun. "Kita perlu bicara. Berdua saja."Tanpa menunggu tanggapan Azka, dia langsung menutup telepon. Valerie tidak memberinya kesempatan untuk menawar, membantah, atau menyiapkan kata-kata.Di seberang sana, Azka memegang ponselnya dan terdiam selama beberapa detik. Tak lama kemudian, sudut bibirnya tak kuasa tersenyum.Tuh, lihat, 'kan? Dia tahu Valerie tidak akan mampu bertahan.Perang dingin, memblokir kon

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 19

    "Azka, dengarkan baik-baik. Valerie adalah adik yang dibesarkan dan selalu dijaga dengan sepenuh hati olehku!""Dulu gimana kamu bersumpah akan memperlakukannya dengan baik? Lalu apa yang terjadi? Kamu membiarkan sampah nggak tahu diri itu berkali-kali menindasnya, bahkan hampir membuat Selfi kehilangan nyawanya! Sekarang kamu masih berani datang kemari bicara soal urusan keluarga? Bicara soal orang luar?"Setiap kali Revan mengucapkan satu kalimat, wajah Azka menjadi semakin buruk.Detail-detail yang selama ini sengaja dia abaikan, kini dipaparkan dengan terus terang oleh Revan. Azka merasa sangat malu. Dia memaksakan diri untuk tertawa sinis. "Itu cuma kecelakaan! Zara dia ....""Diam!" bentak Revan langsung. Tatapannya dipenuhi rasa jijik yang tidak disembunyikan sedikit pun."Jangan sebut nama wanita itu lagi di sini. Tempat adikku nggak pantas dikotori sama dia! Sekarang aku kasih kamu peringatan terakhir. Segera lenyap dari hadapan adikku. Mulai sekarang, jangan dekati dia lagi d

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 18

    Namun sebelum Valerie benar-benar sempat melangkah maju, kehidupan tenang yang baru saja dia bangun kembali terusik.Saat itu, Valerie sedang membungkuk di depan meja audio untuk menyesuaikan hasil rekaman alat musik gesek yang baru selesai direkam. Pintu studio diketuk pelan. Dia mengira orang yang datang adalah teknisi rekaman yang sudah membuat janji sebelumnya. Oleh karena itu, dia bahkan tidak mendongak sedikit pun saat menjawab, "Silakan masuk."Pintu terbuka. Namun, tidak ada seorang pun yang masuk. Hanya keheningan yang perlahan menyebar.Gerakan Valerie terhenti. Dia perlahan berdiri tegak.Azka berdiri di ambang pintu. Dia mengenakan mantel abu-abu gelap yang rapi, tubuhnya tinggi dan tegap. Di tangannya ada sebuah kotak hadiah. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Tatapannya berat saat memandang Valerie.Azka yang memecah keheningan terlebih dahulu dengan suara yang tenang, "Ternyata kamu bersembunyi di sini demi mencari ketenangan?"Valerie meletakkan headphone yang ada di tangan

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 17

    Alis Revan sedikit berkerut, begitu tipis hingga hampir tidak terlihat. Namun, sesaat kemudian dia kembali memasang senyum santai khasnya."Ada apa ini? Bu, jangan-jangan Ibu lagi mengajak Valerie mengenang masa-masa susah? Jangan sampai adikku menangis lagi. Dia sekarang aset paling berharga di keluarga kita."Ibu Valerie melotot ke arahnya. "Lidahmu memang nggak bisa diam." Dia berdiri lalu berkata, "Sudahlah, kalian ngobrol saja. Ibu pulang dulu."Sebelum pergi, dia menepuk punggung tangan Valerie pelan. Tatapannya menyiratkan makna yang sulit dijelaskan. Lalu, dia benar-benar pergi.Studio kembali sunyi. Kini hanya tersisa mereka berdua.Revan berjalan ke depan meja kerja Valerie. Tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu di tepi meja. Jarak mereka langsung menjadi sangat dekat. Aroma khas tubuhnya seketika memenuhi ruang di sekitar Valerie."Komposer hebat kita lagi mentok ide?" Sudut bibirnya terangkat dengan senyum menggoda yang sudah sangat familier."Keningmu berke

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 4

    Valerie memejamkan mata sesaat.Dua tahun terakhir ini, dia memang pernah menangkap basah perselingkuhan, membuat keributan, menghancurkan barang-barang, melakukan banyak hal yang tidak terhormat.Setiap kali itu terjadi, Azka hanya menunggu sampai dia selesai melampiaskan emosi, lalu menenangkannya

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 3

    Selfi mengangkat kepala, lalu berpikir dengan sangat serius sebelum akhirnya mengangguk. "Mau. Aku ikut Mama ke mana pun Mama pergi." Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan, "Papa selalu sibuk. Ada Mama temani aku juga sudah cukup."Dunia anak-anak begitu sederhana dan lugas. Hati Valerie tera

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 2

    Valerie menatap deretan kata itu tanpa ekspresi sedikit pun di wajahnya. Dia tidak membalas. Bahkan tidak memiliki emosi berlebih. Dia hanya membuka aplikasi pesan antar di ponselnya, lalu memasukkan alamat yang diberikan Azka.Kemudian, memesan satu kotak kondom untuk dikirim ke sana. Dia tahu Azka

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 1

    Suara bisik-bisik di seluruh ruangan langsung terdiam sejenak, lalu meledak kembali dengan volume lebih besar."Apa katanya? Diredam? Aku nggak salah dengar, 'kan?""Bukannya dulu dia selalu berharap semua orang tahu supaya Azka dipermalukan?""Iya. Waktu Azka ketahuan bermesraan sama model di mobil

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status