Share

Hamil Setelah Bercerai
Hamil Setelah Bercerai
Author: Ratu Ngarang

Bab 1

Author: Ratu Ngarang
last update publish date: 2026-07-29 14:53:49

Ketukan palu hakim yang ketiga menggema di ruang sidang yang hening, menandai berakhirnya ikatan pernikahan yang terjalin selama satu tahun.

Melur, selaku pihak tergugat, duduk dengan tubuh melemah; wajahnya pucat tanpa ekspresi.

Ketika hakim mengumumkan bahwa sidang ditutup, Melur tiba-tiba menggenggam meja di depannya dengan erat. Napasnya tersengal seolah ada sesuatu yang menekan dadanya.

Matanya yang semula kosong perlahan tertutup, tubuhnya terhuyung, dan akhirnya jatuh pingsan di depan semua orang.

"Melur!"

Rajash, pria yang menggugat cerai istrinya, panik melihat Melur tergeletak di lantai.

"Rajash, jangan sentuh! Dia bukan istrimu lagi!" cegah Mulan, ibu Rajash.

Petugas pengadilan segera berlari menghampiri, sementara Rajash menatap Melur dengan campuran rasa bersalah dan kebingungan. Ia tidak bisa mendekat karena dilarang oleh ibunya.

Kediaman Wiratama.

Seorang petugas menyampaikan kabar dari rumah sakit di ruang keluarga.

"Pak, saya ingin menyampaikan kabar dari rumah sakit bahwa saat ini Nona Melur sedang hamil. Kandungannya sudah masuk tiga minggu!"

Semua orang yang ada di ruangan terkejut. Seketika semua mata tertuju pada pria yang sedang duduk di samping ibunya. Sementara itu, Prajasa menatap anaknya—Rajash—dengan tatapan yang berbeda.

Jika tadi Rajash disidang oleh hakim, maka di rumah ia akan menghadapi 'sidang' berikutnya dari ayahnya.

"Apa ini, Rajash? Sudah jelas dalam perjanjian kontrak jangan sampai menyentuh Melur. Kau tidak konsisten!"

Rajash membuang muka. Ayahnya terlalu naif menganggap rumah tangganya berjalan sesuai ketentuan.

"Bagaimana bisa aku tidak menyentuh perempuan yang kalian satukan sendiri di ranjang yang sama? Aku laki-laki dan dia perempuan. Aku normal, dia pun juga. Setiap hari dia denganku, duduk dan tidur di tempat yang sama. Coba kalian pikirkan!"

"Tapi itu nggak akan terjadi kalau nggak ada rasa cinta, Mas Raja!" sahut Sarah, adik iparnya.

"Aku hanya menjalani peranku sebagai suami!" jawab Rajash.

"Papa yang salah, kenapa malah menyatukan ranjang mereka? Begini 'kan jadinya. Mama nggak mau pernikahan Rajash dengan Heley batal!" ucap Mulan.

"Sudah, biarkan saja. Sudah resmi pisah juga. Anak itu pasti diurusnya sendiri!" sahut adik Rajash, Syahreza.

Prajasa terdiam. Pria yang menjadi biang keluarga itu akhirnya membuat keputusan. "Tidak, dia tidak boleh pergi dari rumah ini. Dia sedang mengandung pewaris Wiratama!"

"Pah?" Istrinya syok, seakan tidak sejalan dengan aturan mainnya.

"Papa, bagaimana bisa orang yang sudah bercerai tinggal bersama lagi? Nggak etis, Pah!" protes Sarah.

"Setidaknya sampai anak itu dilahirkan. Siapa pun yang memiliki hubungan darah dengan keluarga Wiratama, dia adalah milik kita!"

Sementara itu di rumah sakit, Melur baru menyadari kehamilannya.

Tubuhnya yang gemetar bukan karena patah hati, melainkan karena nyawa baru yang sedang tumbuh dalam rahimnya.

Sebuah kenyataan yang membuatnya jatuh tanpa daya tepat saat ikatan yang dulu ia dan mantan suaminya jalin harus terputus.

"Bik, aku hamil, ya?" Dia masih bertanya sambil mengusap-usap perut.

"Iya, Non. Nona Mel sedang hamil!"

Entah senyum atau raut sedih yang ditunjukkan, Melur tampak bingung harus memberikan ekspresi apa. Dia senang karena dirinya sedang hamil, tetapi dalam kondisi seperti ini dia justru sudah berpisah dengan Rajash.

"Ini anak Mas Rajash, Bik. Tapi aku bisa urus sendiri kok!"

"Enggak, Non. Nona nggak akan bisa mempertanggungjawabkan sendiri kehamilan ini. Nona harus membesarkan kandungan di kediaman Wiratama, dan anak itu milik mereka!"

Melur menggeleng tak terima. "Enggak, Bik. Ini punya aku. Anak ini hak aku. Aku mau pergi dan hidup jauh dari mereka. Cukup satu tahun aku dijadikan alat sama mereka. Aku nggak mau lagi ada di lingkaran itu. Bik, bantu aku buka suara, ya. Aku bisa besarin anak aku sendiri tanpa mereka!"

Pembantu yang ditugaskan menemani di rumah sakit itu menunduk lemah. "Maaf, Nona. Bibik atau mungkin semua orang nggak akan ada yang bisa bantu. Tuan Prajasa sulit ditentang, Nona tahu sendiri bagaimana beliau. Sejauh apa pun Nona pergi, pasti akan dikejar karena yang Nona bawa itu penerus mereka!"

Apa lagi yang bisa dilakukan Melur selain menangis lalu pasrah?

Sore itu Melur kembali menginjak tanah yang seharusnya sudah haram baginya untuk dipijaki, tetapi dia kembali karena sebuah nyawa di dalam perutnya.

"Pah, bisakah pisah rumah saja? Bibik Mina bisa ditempatkan di sana untuk memantau dan mengurusku hingga anak ini lahir. Setelah itu, silakan bawa dia."

Akhirnya Melur mengusulkan permintaan kepada mantan papa mertuanya.

Pria yang terkenal kejam itu justru menggeleng. "Sembilan bulan tidak lama. Kau pasti akan mendapatkan rumah setelah nanti berhasil mengeluarkan anak itu. Diamlah di sini dan fokus pada kandunganmu!"

"Memang seharusnya kayak gitu, Pah. Apa salahnya? Mungkin dia mau rumah yang dia incar-incar dari dulu!" sahut Sarah.

Tidak, bukan karena itu. Melur hanya tidak mau rasa cintanya semakin membesar jika masih satu atap dengan mantan suaminya.

"Tidak, ada banyak pertimbangan jika Melur keluar dari rumah ini. Apa pun keputusan Papa, ikuti saja!"

Melur menghela napas. Dia benar-benar tidak bisa menentang seorang Prajasa.

"Kalau begitu, jangan batasi aku dalam hal apa pun. Mas Rajash akan mempunyai calon istri, aku berhak mencari calon suami juga. Aku ingin setelah melahirkan nanti, memiliki pasangan!"

"Ya, itu bisa kusetujui!" jawab Prajasa.

Di sana Melur bisa merasakan aura mencekam dari mantan suaminya. Wajahnya biasa saja, tetapi tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kalau perlu kita carikan!" sahut Sarah.

"Nggak perlu, aku bisa cari sendiri!"

"Baiklah kalau begitu. Mina, antar Melur ke kamar. Siapkan dokter untuk memantau kandungannya. Pastikan gizi dan nutrisi calon cucuku terpenuhi, batasi aktivitas yang berat-berat. Kalau sampai kenapa-kenapa dengan calon cucuku, bukan hanya Mina yang kusalahkan, tapi kau juga, Melur!" tutur Prajasa tegas.

Sarah yang ada di sana langsung angkat kaki, melangkah kasar dengan guratan emosi di wajahnya. Dia tampak cemburu dengan perhatian Prajasa terhadap calon cucu berikutnya, padahal ia sudah memiliki cucu perempuan.

Sarah sudah tahu, mertuanya itu sedang mengharapkan calon generasi laki-laki dari Melur.

"Baik, Pak!"

"Pah, tapi jangan di kamar mereka yang biasa ditiduri!" sahut Mulan.

"Biar nanti Rajash yang pindah kamar!" jawab Prajasa.

Mina pun langsung menuntun Melur menuju kamarnya. Saat itu Melur kembali mengirup aroma tempat tidur yang seharusnya sudah menjadi kenangan.

"Huh, kukira aku akan bebas dari sini, ternyata aku ditahan oleh si kecil yang ada di dalam perut aku. Kalau saja Mas Rajash nggak mabuk malam itu, aku pasti masih perawan sampai sekarang,” gumam Melur.

Malamnya. Saat bersiap akan tidur, Melur baru mau membuka selimut, tetapi tiba-tiba dia melihat ada yang masuk.

Setelah pandangan terakhir mereka bertemu di persidangan, kini mereka bertemu lagi di tempat biasa mereka saling diam tanpa banyak interaksi.

Meskipun tiga bulan sebelum hari perceraian mereka sudah berkomitmen untuk tidak berkomunikasi, berdekatan, atau membatasi diri, rasanya akan sangat canggung berada di dalam situasi seperti ini lagi.

"Mas, kata Papa, kamu yang pindah kamar!"

"Tidak bisa. Aku dari kecil menghuni kamar ini. Jika jatuh ke tanganmu, aku enggan melepaskannya!" jawab Rajash.

Kemudian, dengan sangat santai dia membuka pakaian di depan wanita yang sudah berstatus mantan istri.

"Apa salahnya ngalah? Barang-barang aku di sini lebih banyak, repot pindahinnya!"

"Ya sudah, kalau begitu kamu tetap tidur di sini!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Seruling Emas
Rajash cari gara gara
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 26

    "Suara notifikasi aku Mah, maaf memang agak aneh...." "Ohh." Melur bersyukur karena Mulan tidak menindaklanjuti perkara suara itu. "Aku masih nggak ngerti maksud Mama ke sini tengah malam untuk apa?" "Ah ini obat dari dokter gizi kamu, Mama lupa kasih tadi siang!" "Kok bisa dititipnya ke Mama bukan ke Bik Mina?" "Dia buru-buru mau ke rumah sakit karena pasiennya sekarat, dan cuma Mama yang sempat dia temui. Sebenarnya dia ada niat periksa kamu dulu, tapi katanya besok aja sekalian kamu cek kandungan." Melur membatin, "Masuk akal berarti bukan aneh-aneh." "Kenapa bengong?" "Ah enggak Mah, kalau begitu terima kasih!" "Seharusnya dari tadi siang sih disuruh minumnya. Karena lupa makanya Mama ke sini tengah malam soalnya harus buru-buru diminum!" "Ya, pasti aku minum." "Baiklah...." Perempuan itu pergi, Melur juga tergesa-gesa menutup pintu. Ia meletakkan obat yang diberikan oleh mantan ibu mertuanya itu ke sembarang tempat seakan benda tersebut tidak pentin

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 25

    Usia kandungan sudah memasuki ke-empat bulan, Melur mulai siaga, Rajash pun mulai bawel plus overprotektif. Setiap kesempatan dia selalu berkunjung ke kamar mantan istrinya, dan tentunya dengan cara seperti biasa, sembunyi-sembunyi. Begitu rapi sampai saat ini scandal terlarang mereka belum mampu diendus siapapun. Pasalnya setiap berkunjung mereka bukan hanya sekedar menanyakan keadaan, mencium atau saling memberi perhatian. Di setiap ada kesempatan yang lebar, mereka selalu melakukan hal terlarang yang sangat menentang dengan status keduanya. Gairah setelah bercerai membuat mereka lupa segalanya. "Bibik perut aku makin besar, aku gendutan ya?" "Enggak kok, tetap mungil dan justru semakin terlihat segar. Aura ibu hamil itu memang amazing," jawab Mina tersenyum. "Ini pasti cuma kata-kata penenang...." "Sudah jangan merutuki kondisi badan, sekarang tidur dan bangun pagi-pagi karena besok ada jadwal kontrol ke dokter!" "Oke!" Melur menaikkan kakinya ke atas ka

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 24

    Karena tidak mau dicek langsung oleh Rajash, akhirnya Melur terpaksa mau diajak ke rumah sakit dengan cara sembunyi-sembunyi. Alasan mereka cukup sederhana, Melur izin keluar main ke rumah Hani, sementara Rajash seperti biasa berangkat bekerja yang sebenarnya ia sedang membututi taksi yang ditumpangi Melur. Dua mobil itu berjalan beriringan sampai tiba di rumah sakit. "Mas aku malu periksanya, kita ke kantor kamu aja ya?" "Baiklah, tapi di kantor aku yang memeriksamu!" Melur menghela napas. Dia mengerti apa memeriksa yang dia maksud. Ingin sekali menentang lebih kuat. Namun, Melur ingat jika mantan suaminya itu seorang anak Prajasa yang sifatnya tak jauh berbeda. "Mau diperiksa bagaimana? Darahnya sudah nggak ada!" "Kalau begitu harus diperiksa dokter, biar tahu kondisi di dalamnya!" Rajash semakin cepat berjalan, menarik tangan Melur ke ruangan. "Mas ....""Diamlah, kau sedang mengandung pewarisku!" Melur terdiam. Saat masuk ke dalam ruangan mereka disambut senyum dokter pe

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 23

    Ketika menuruni tangga, rasa nyeri pada tubuhnya muncul lagi, langkahnya melambat.Melur berhenti sebentar, satu tangannya memegang pegangan tangga."Sakit!" keluhnya. Ia menarik napas dan menunggu rasa sakit itu sedikit mereda.Pagi ini Melur akan bergabung ke meja makan untuk sarapan. Mungkin jika bukan Karena permintaan mantan suaminya, dia tidak akan mau bergabung. Beruntung hari ini tidak ada Mulan. Sarah pun terlihat langsung pergi membawa wajah judes begitu melihat Melur datang.Kini, hanya ada tiga laki-laki di sana, dan satu anak kecil yang sangat cantik, duduk di sebelah ayahnya. "Nak, kamu baik-baik saja?" tanya Prajasa. "Baik Pah," jawab Melur. "Kenapa jalannya begitu?" Deg!Jantung Rajash dan Melur seakan terhubung, sama-sama berdegup. Mereka pun saling memandang, tetapi buru-buru Melur membuang pandangannya. Prajasa bertanya begitu karena hanya dia yang memerhatikan cara jalan Melur yang tampak lambat, bahkan saat menghampiri meja dia merambat pada kursi. "Apa ad

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 22

    "Sussst, jangan keluarkan suaramu!" Di atas ranjang dan di bawah mantan suami, Melur memandangi Rajash yang sedang menatapnya juga. Ada ketakutan besar di hati, tetapi tidak mau dikatakan munafik jika Melur merindukan hal itu. Ia tidak bisa mengelak tentang perasaan, gairah, dan pikirannya. Melur menginginkan Rajash. "Mas tap—""Susssstt diam dan ikuti aku!" Kepala Melur direbahkan di atas bantal dengan gerakan perlahan. Cukup lama Rajash memandangi mantan istrinya dari atas. Di bawahnya perempuan itu tampak cantik, tak pernah pudar dari dulu. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa ia bisa menerobos aturan ayahnya sampai membuat mantan istrinya mengandung."Mas jangan natap aku kayak gitu!" Melur berusaha menghindari, dia salah tingkah. "Cantik!" pujinya. Karena tak sanggup mendapat tatapan itu, Melur mengangkat kepalanya menggapai bibir Rajash. Benar-benar perlakuan yang seimbang, mereka saling merespon. Bahkan Melur yang selalu mengingatkan status, dan menolak perlaku

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 21

    "Tunggu aku pulang aku akan menciummu sepuasnya!"Melur mengingat ucapan itu kemarin, sebelum mantan suaminya memutuskan pulang dari rumah sakit. Kini, ia sedang menunggu ucapan itu dengan debaran jantung yang tak karuan. Namun, saat ini Melur masih ditemani pembantunya yang tadi pagi disusul oleh petugas Prajasa untuk kembali mengurus nona-nya. Ya, Mina sampai bersimpuh berterima kasih kepada pria itu karena diberi kesempatan lagi untuk bekerja. "Melur sayang sama Bibik, nggak bisa bayangin nanti kalau sudah melahirkan dan Bibik aku tinggal!" Mina mengusap-usap kepala majikannya itu layaknya seorang ibu. "Kalau Nona sudah melahirkan, dan meninggalkan rumah ini, maka Bibik juga ikut pergi. Bibik akan resign untuk selamanya. Alasan Bibik memohon-mohon bertahan di sini memang untuk Nona, bukan mengeluarkan tenaga untuk semua orang di rumah ini. Setidaknya Bibik bisa memastikan Nona selamat sampai melahirkan!" Melur semakin erat memeluknya. Ia tidak pernah menemukan seorang maid yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status