Mag-log in
Ketukan palu hakim yang ketiga menggema di ruang sidang yang hening, menandai berakhirnya ikatan pernikahan yang terjalin selama satu tahun.
Melur, selaku pihak tergugat, duduk dengan tubuh melemah; wajahnya pucat tanpa ekspresi.
Ketika hakim mengumumkan bahwa sidang ditutup, Melur tiba-tiba menggenggam meja di depannya dengan erat. Napasnya tersengal seolah ada sesuatu yang menekan dadanya.
Matanya yang semula kosong perlahan tertutup, tubuhnya terhuyung, dan akhirnya jatuh pingsan di depan semua orang.
"Melur!"
Rajash, pria yang menggugat cerai istrinya, panik melihat Melur tergeletak di lantai.
"Rajash, jangan sentuh! Dia bukan istrimu lagi!" cegah Mulan, ibu Rajash.
Petugas pengadilan segera berlari menghampiri, sementara Rajash menatap Melur dengan campuran rasa bersalah dan kebingungan. Ia tidak bisa mendekat karena dilarang oleh ibunya.
Kediaman Wiratama.
Seorang petugas menyampaikan kabar dari rumah sakit di ruang keluarga.
"Pak, saya ingin menyampaikan kabar dari rumah sakit bahwa saat ini Nona Melur sedang hamil. Kandungannya sudah masuk tiga minggu!"
Semua orang yang ada di ruangan terkejut. Seketika semua mata tertuju pada pria yang sedang duduk di samping ibunya. Sementara itu, Prajasa menatap anaknya—Rajash—dengan tatapan yang berbeda.
Jika tadi Rajash disidang oleh hakim, maka di rumah ia akan menghadapi 'sidang' berikutnya dari ayahnya.
"Apa ini, Rajash? Sudah jelas dalam perjanjian kontrak jangan sampai menyentuh Melur. Kau tidak konsisten!"
Rajash membuang muka. Ayahnya terlalu naif menganggap rumah tangganya berjalan sesuai ketentuan.
"Bagaimana bisa aku tidak menyentuh perempuan yang kalian satukan sendiri di ranjang yang sama? Aku laki-laki dan dia perempuan. Aku normal, dia pun juga. Setiap hari dia denganku, duduk dan tidur di tempat yang sama. Coba kalian pikirkan!"
"Tapi itu nggak akan terjadi kalau nggak ada rasa cinta, Mas Raja!" sahut Sarah, adik iparnya.
"Aku hanya menjalani peranku sebagai suami!" jawab Rajash.
"Papa memang salah, kenapa malah menyatukan ranjang mereka? Begini 'kan jadinya. Mama nggak mau pernikahan Rajash dengan Heley batal!" ucap Mulan.
"Sudah, biarkan saja. Sudah resmi pisah juga. Anak itu pasti diurusnya sendiri!" sahut adik Rajash, Syahreza.
Prajasa terdiam. Pria yang menjadi biang keluarga itu akhirnya membuat keputusan. "Tidak, dia tidak boleh pergi dari rumah ini. Dia sedang mengandung pewaris Wiratama!"
"Pah?" Istrinya syok, seakan tidak sejalan dengan aturan mainnya.
"Papa, bagaimana bisa orang yang sudah bercerai tinggal bersama lagi? Nggak etis, Pah!" protes Sarah.
"Setidaknya sampai anak itu dilahirkan. Siapa pun yang memiliki hubungan darah dengan keluarga Wiratama, dia adalah milik kita!"
Sementara itu di rumah sakit, Melur baru menyadari kehamilannya.
Tubuhnya yang gemetar bukan karena patah hati, melainkan karena nyawa baru yang sedang tumbuh dalam rahimnya.
Sebuah kenyataan yang membuatnya jatuh tanpa daya tepat saat ikatan yang dulu ia dan mantan suaminya jalin harus terputus.
"Bik, aku hamil, ya?" Dia masih bertanya sambil mengusap-usap perut.
"Iya, Non. Nona Mel sedang hamil!"
Entah senyum atau raut sedih yang ditunjukkan, Melur tampak bingung harus memberikan ekspresi apa. Dia senang karena dirinya sedang hamil, tetapi dalam kondisi seperti ini dia justru sudah berpisah dengan Rajash.
"Ini anak Mas Rajash, Bik. Tapi aku bisa urus sendiri kok!"
"Enggak, Non. Nona nggak akan bisa mempertanggungjawabkan sendiri kehamilan ini. Nona harus membesarkan kandungan di kediaman Wiratama, dan anak itu milik mereka!"
Melur menggeleng tak terima. "Enggak, Bik. Ini punya aku. Anak ini hak aku. Aku mau pergi dan hidup jauh dari mereka. Cukup satu tahun aku dijadikan alat sama mereka. Aku nggak mau lagi ada di lingkaran itu. Bik, bantu aku buka suara, ya. Aku bisa besarin anak aku sendiri tanpa mereka!"
Pembantu yang ditugaskan menemani di rumah sakit itu menunduk lemah. "Maaf, Nona. Bibik atau mungkin semua orang nggak akan ada yang bisa bantu. Tuan Prajasa sulit ditentang, Nona tahu sendiri bagaimana beliau. Sejauh apa pun Nona pergi, pasti akan dikejar karena yang Nona bawa itu penerus mereka!"
Apa lagi yang bisa dilakukan Melur selain menangis lalu pasrah?
Sore itu Melur kembali menginjak tanah yang seharusnya sudah haram baginya untuk dipijaki, tetapi dia kembali karena sebuah nyawa di dalam perutnya.
"Pah, bisakah pisah rumah saja? Bibik Mina bisa ditempatkan di sana untuk memantau dan mengurusku hingga anak ini lahir. Setelah itu, silakan bawa dia."
Akhirnya Melur mengusulkan permintaan kepada mantan papa mertuanya.
Pria yang terkenal kejam itu justru menggeleng. "Sembilan bulan tidak lama. Kau pasti akan mendapatkan rumah setelah nanti berhasil mengeluarkan anak itu. Diamlah di sini dan fokus pada kandunganmu!"
"Memang seharusnya kayak gitu, Pah. Apa salahnya? Mungkin dia mau rumah yang dia incar-incar dari dulu!" sahut Sarah.
Tidak, bukan karena itu. Melur hanya tidak mau rasa cintanya semakin membesar jika masih satu atap dengan mantan suaminya.
"Tidak, ada banyak pertimbangan jika Melur keluar dari rumah ini. Apa pun keputusan Papa, ikuti saja!"
Melur menghela napas. Dia benar-benar tidak bisa menentang seorang Prajasa.
"Kalau begitu, jangan batasi aku dalam hal apa pun. Mas Rajash akan mempunyai calon istri, aku berhak mencari calon suami juga. Aku ingin setelah melahirkan nanti, memiliki pasangan!"
"Ya, itu bisa kusetujui!" jawab Prajasa.
Di sana Melur bisa merasakan aura mencekam dari mantan suaminya. Wajahnya biasa saja, tetapi tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kalau perlu kita carikan!" sahut Sarah.
"Nggak perlu, aku bisa cari sendiri!"
"Baiklah kalau begitu. Mina, antar Melur ke kamar. Siapkan dokter untuk memantau kandungannya. Pastikan gizi dan nutrisi calon cucuku terpenuhi, batasi aktivitas yang berat-berat. Kalau sampai kenapa-kenapa dengan calon cucuku, bukan hanya Mina yang kusalahkan, tapi kau juga, Melur!" tutur Prajasa tegas.
Sarah yang ada di sana langsung angkat kaki, melangkah kasar dengan guratan emosi di wajahnya. Dia tampak cemburu dengan perhatian Prajasa terhadap calon cucu berikutnya, padahal ia sudah memiliki cucu perempuan.
Sarah sudah tahu, mertuanya itu sedang mengharapkan calon generasi laki-laki dari Melur.
"Baik, Pak!"
"Pah, tapi jangan di kamar mereka yang biasa ditiduri!" sahut Mulan.
"Biar nanti Rajash yang pindah kamar!" jawab Prajasa.
Mina pun langsung menuntun Melur menuju kamarnya. Saat itu Melur kembali mengirup aroma tempat tidur yang seharusnya sudah menjadi kenangan.
"Huh, kukira aku akan bebas dari sini, ternyata aku ditahan oleh si kecil yang ada di dalam perut aku. Kalau saja Mas Rajash nggak mabuk malam itu, aku pasti masih perawan sampai sekarang," gumam Melur.
Malamnya. Saat bersiap akan tidur, Melur baru mau membuka selimut, tetapi tiba-tiba dia melihat ada yang masuk.
Setelah pandangan terakhir mereka bertemu di persidangan, kini mereka bertemu lagi di tempat biasa mereka saling diam tanpa banyak interaksi.
Meskipun tiga bulan sebelum hari perceraian mereka sudah berkomitmen untuk tidak berkomunikasi, berdekatan, atau membatasi diri, rasanya akan sangat canggung berada di dalam situasi seperti ini lagi.
"Mas, kata Papa, kamu yang pindah kamar!"
"Tidak bisa. Aku dari kecil menghuni kamar ini. Jika jatuh ke tanganmu, aku enggan melepaskannya!" jawab Rajash.
Kemudian, dengan sangat santai dia membuka pakaian di depan wanita yang sudah berstatus mantan istri.
"Apa salahnya ngalah? Barang-barang aku di sini lebih banyak, repot pindahinnya!"
"Ya sudah, kalau begitu kamu tetap tidur di sini!"
Malam harinya, Mina sempat meninggalkan dapur sebentarkarena tadi dipanggil oleh majikannya yang laki-laki.Namun, saat ia kembali, tak sengaja ia berpapasan denganmajikannya yang perempuan."Ibu, ada perlu apa ke dapur?" tanya Mina."Ah, Mina. Saya habis ambil timun untuk maskeran.Oh ya, cucu saya minta dibuatkan nugget, kamu bisa?""Bisa, Bu. Tapi, saya izin antar susu dulu untuk NonaMelur!""Ya sudah, saya tunggu di kamar, ya. Anaknya ada dikamar saya!"Mina mengangguk pada Mulan, lalu buru-buru mengambil susuyang sudah sempat dibuat namun tertunda karena dipanggil. Ia mempercepatlangkahnya agar bisa segera membuatkan pesanan Mulan.Mungkin jika Rajash sudah pulang, Mina tidak akan kebagianmomen membuat susu lalu mengantarnya.Saat masuk ke kamar Melur, Mina melihat ibu hamil itu sedangmenjembrengkan pakaian berwarna merah.Ya, Melur terciduk sedang mencoba-coba lingerie darimantan suaminya di depan cermin. Ia hanya menempelkannya di luar badan."Non, itu apa?"Buru-buru
"Bukan aku yang mengunci, tapi Han!""Buka, nggak!" hardik Melur, kakinya dihentakkansebelah.Rajash merasa gemas melihat wajah panik Melur. Ia berjalanmenghampiri mantan istrinya yang jelita itu, yang tampak masih berdiri di depanpintu."Sayangnya, remote dan kuncinya dia yangpegang!" Rajash berdiri di hadapan Melur yang sudah terpojok di pintu."Mas Raja, kamu jangan macam-macam, ya. Kita sudahcerai. Jangan melanggar aturan lagi!" sergah Melur, tetapi Rajash justrutertawa.Melur masih mengingat pesan pembantunya untuk berhati-hatiterhadap mantan suaminya yang mulai menggila."Janda satu ini sangat manis. Ayo, layani akudulu!""Mas Raja!" Melur semakin panik saat dirinyadibopong dan dibawa kembali ke singgasananya.Melur tidak duduk di bangku, melainkan berlabuh di atas pahapria itu. Di depan mereka ada meja kerja yang di atasnya terletak makanan tadi."Ayo suapi aku seperti tadi pagi, jangan menggunakansendok!""Nggak mau kayak gitu, kamu sengaja.""Sengaja apa, hmm?"Dia
"Mas, ta—""Lihat, tanganku sibuk!" Rajash menunjukkan keduatangannya yang sedang memegang ponsel dan gelas bekas susu, padahal semua itubisa diletakkan."Aku bisa menyuapi, tapi pakai sen—""Apa yang kukatakan ke Papa kalau aku ada disini?""Iya, iya!" Melur tampak kesal. Rajash memilikiseribu cara untuk mendapatkan keinginannya.Ia meletakkan sendok, menyemprotkan antiseptik ke tangannya,lalu mengelapnya menggunakan tisu. Ia mulai menyomot makanan yangkemudian disodorkan ke mulut mantan suaminya.Sengaja mengambil banyak agar Rajash sulit menerima, tetapiia lupa mulut pria itu tak semungil ukuran tangannya. Sontak saja, suapannyamampu diraup semua.Bukan hanya makanan yang ia terima, Rajash jugamenenggelamkan jari-jari Melur ke dalam mulutnya, sehingga sesudah itujari-jari Melur dikecap satu per satu."Benar kata orang, makan menggunakan tangan langsungitu lebih nikmat!"Melur merasakan darahnya berdesir; ada perasaan aneh yangtak bisa diungkapkan.Setiap kali ia menyuap
Rajash begitu enteng mengungkapkan kata-kata, seakan haltersebut telah dinormalisasi.Melur tahu dan sadar akan statusnya sekarang. Demimenghindari datangnya nafsu atau semakin membengkaknya rasa cinta, dia melawanucapan mantan suaminya."Kamu melanggar aturan perceraian, kita nggak bolehsatu ranjang lagi. Biar aku saja yang pindah kamar!" tegas Melur.Akhirnya dia yang mengalah. Perihal kamar bukan suatu halyang berat. Rajash memang menyebalkan dan tidak mau kalah.Saat melihat Melur pergi dari kamar, ada ekspresi sendu yangdiperlihatkan. Alasan di balik perlakuannya yang tidak mau mengalah adalah rasaingin tetap bersama perempuan tersebut.Sementara itu, saat keluar dari kamar, Melur tak sengajamenjumpai Prajasa, sehingga langkahnya memancing pertanyaan."Mau ke mana?" tanyanya."Mau pindah ke kamar lain, Pah," jawab Melur."Mari ke sini!"Mantan mertuanya itu meminta Melur mengikutinya. Namun,Melur ketakutan, dia hanya tidak mau berdebat soal kamar."Pah, aku nggak mau, Pa
Ketukan palu hakim yang ketiga menggema di ruang sidang yanghening, menandai berakhirnya ikatan pernikahan yang terjalin selama satu tahun.Melur, selaku pihak tergugat, duduk dengan tubuh melemah;wajahnya pucat tanpa ekspresi.Ketika hakim mengumumkan bahwa sidang ditutup, Melurtiba-tiba menggenggam meja di depannya dengan erat. Napasnya tersengal seolahada sesuatu yang menekan dadanya.Matanya yang semula kosong perlahan tertutup, tubuhnyaterhuyung, dan akhirnya jatuh pingsan di depan semua orang."Melur!"Rajash, pria yang menggugat cerai istrinya, panik melihatMelur tergeletak di lantai."Rajash, jangan sentuh! Dia bukan istrimu lagi!"cegah Mulan, ibu Rajash.Petugas pengadilan segera berlari menghampiri, sementaraRajash menatap Melur dengan campuran rasa bersalah dan kebingungan. Ia tidakbisa mendekat karena dilarang oleh ibunya.Kediaman Wiratama.Seorang petugas menyampaikan kabar dari rumah sakit di ruangkeluarga."Pak, saya ingin menyampaikan kabar dari rumah sakit







