Masuk"Bukan aku yang mengunci, tapi Han!"
"Buka, nggak!" hardik Melur, kakinya dihentakkan sebelah.
Rajash merasa gemas melihat wajah panik Melur. Ia berjalan menghampiri mantan istrinya yang jelita itu, yang tampak masih berdiri di depan pintu.
"Sayangnya, remote dan kuncinya dia yang pegang!" Rajash berdiri di hadapan Melur yang sudah terpojok di pintu.
"Mas Raja, kamu jangan macam-macam, ya. Kita sudah cerai. Jangan melanggar aturan lagi!" sergah Melur, tetapi Rajash justru tertawa.
Melur masih mengingat pesan pembantunya untuk berhati-hati terhadap mantan suaminya yang mulai menggila.
"Janda satu ini sangat manis. Ayo, layani aku dulu!"
"Mas Raja!" Melur semakin panik saat dirinya dibopong dan dibawa kembali ke singgasananya.
Melur tidak duduk di bangku, melainkan berlabuh di atas paha pria itu. Di depan mereka ada meja kerja yang di atasnya terletak makanan tadi.
"Ayo suapi aku seperti tadi pagi, jangan menggunakan sendok!"
"Nggak mau kayak gitu, kamu sengaja."
"Sengaja apa, hmm?"
Dia nggak tahu gimana perasaan aku menyuapi dia pakai tangan langsung, batin Melur.
"Baiklah, dari mulut saja, menciptakan sensasi baru!" Senyum nakal dari pria itu membuat Melur kesal.
"Enggak, enggak. Oke, aku suapi, tapi aku nggak mau duduknya kayak gini. Aku bisa duduk di bangku!"
Melur duduk di atas pangkuan pria itu sambil terus menepis tangan Rajash yang bolak-balik berusaha menyentuh perutnya.
Sudah disingkirkan, tangan itu kembali lagi; sudah ditepis, balik lagi, dan begitu terus-menerus. Pasalnya, Melur hanya menggunakan dress yang tidak terlalu panjang menutupi area pahanya.
"Mas Raja, kamu nggak boleh kayak gini!" bentak Melur.
"Kenapa?"
"Mas, ayolah, kamu seharusnya paham!"
"Persetan dengan perceraian konyol itu. Aku di sini tetap jadi ayah untuk anakku," ucap Rajash sambil mengelus-elus perut mantan istrinya.
"Mas, tapi."
"Prajasa sendiri yang mempertahankan kamu di sini, itu berarti dia memberi kita ruang untuk bercinta la—" Mulut Rajash ditahan oleh jari telunjuk Melur saat pria itu mengucapkan kata-kata berbahaya.
"Stop, Mas!"
"Baiklah, kalau begitu bawa pulang ini!" Rajash memberikan beberapa paper bag.
"Untuk apa?" tanya Melur, masih enggan menerimanya.
"Untukmu. Bukanya nanti saat sudah di kamar!" jawab Rajash.
"Enggak mau. Itu pasti imbalan karena aku sudah mau menyuapi kamu tadi. Habis itu, kamu minta imbalan lagi karena sudah kasih barang itu buat aku!" Melur melipat tangan di dada, tanda penolakan.
Rajash terkekeh. "Bawalah, aku tidak akan meminta apa pun lagi!"
"Kamu sungguhan?" Melur mengintimidasi, tatapan matanya menyipit seakan curiga. "Ini bukan yang aneh-aneh, 'kan?"
"Ya, terimalah. Kamu pasti suka!"
Akhirnya tangan Melur terulur menerima paper bag yang disodorkan. Ia merasa penasaran apa isinya, tetapi dicegah oleh Rajash.
"Eitts, bukanya nanti kalau sudah di kamar!" tegur Rajash.
"Hmm, oke!" Melur menerima dengan rasa gengsinya. Bahkan untuk mengucapkan kata terima kasih saja, lidahnya masih kelu.
Tiba-tiba Rajash memberikan serangan mendadak dengan memeluk mantan istrinya sangat erat, membuat Melur kaget.
"Terima kasih untuk masakanmu yang selalu lezat!"
"Ya!"
Dalam dekapan itu, Melur mencium aroma tubuh dan parfum khas yang dulu sering tercium di kamarnya.
Kenapa aroma tubuh Mas Rajash enak sekali? batin Melur.
"Ehem, baiklah, aku pulang sekarang!" Melur mendorong tubuh Rajash. Kakinya berputar arah dan mulai melangkah.
"Melur!"
Ia terhenti, lalu menoleh melihat pria yang baru saja memanggilnya. "Apa lagi?"
"Tunggu aku di rumah!" ucap Rajash sambil melayangkan senyuman.
Melur buru-buru membuang pandangan sebelum perasaan aneh di hatinya muncul. Mendengar ucapan tersebut membuatnya merasa jadi istri kembali.
Pesan hati-hati dari Mina terngiang-ngiang, membuat Melur selalu sadar akan mantan suaminya.
Mas Rajash kok jadi begini? Dia benar-benar berubah, batinnya.
"Mah, apa Mama rela diperlakukan seperti tadi oleh orang yang sudah bukan apa-apa di sini?" Sarah bertanya pada ibu mertuanya yang tak lepas-lepas memasang wajah kesal.
"Jelas enggak. Dia mempermalukan Mama di depan teman-teman kita!"
Ternyata perlakuan Melur tadi menambah dendam di hati Mulan dan Sarah. Mereka membenci orang yang sudah sangat mereka benci dari dulu.
"Dia mulai kurang ajar, Mah. Merasa hamil menjadikannya ratu!" geram Sarah. Perempuan itu masih mengingat bagaimana Melur dengan enteng menyiram air ke wajahnya tadi.
"Sabar, Sayang. Kita mengadu dulu dengan Papamu!"
Mulan ingin tahu bagaimana reaksi suaminya saat ia mengadu perihal mantan menantu yang kurang ajar menurutnya.
"Apa yang Mama inginkan tentang Melur?" tanya Sarah.
"Mama mau dia diusir dari rumah ini agar pernikahan Rajash dengan Heley dipercepat, tanpa menunggu sembilan bulan!" balas Mulan dengan tegas.
Kalau aku, jelas mau anak itu tidak dilahirkan agar anakku tidak ada persaingan soal ahli waris, batin Sarah.
Tepat sekali saat sedang membicarakannya, Melur pulang dengan menenteng bawaan di tangannya. Sontak saja hal itu menjadi perhatian Mulan dan Sarah.
Melur tampak acuh. Ia berjalan seakan menganggap mereka tidak ada. Perempuan itu sangat santai melewati orang-orang yang tidak menyukainya. Apalagi ada barang mahal yang sedang dibawanya, semakin membuat kedua perempuan itu merasa panas.
"Lihat itu, Mah!"
"Ya, Mama tengok-tengok dia mulai belagu. Bagaimana, ya? Biar Papamu mengusir dia? Mama sudah muak melihat tingkahnya yang seakan-akan jadi nyonya di sini!"
"Sekalian sama pengasuhnya itu, Mah!"
Sementara itu, setelah melewati mantan mertuanya dengan hati yang sangat dongkol, Melur buru-buru masuk kamar karena tidak sabar membuka isi paper bag yang diberikan oleh Rajash. Dari mereknya, itu dari brand besar.
"Astaga!"
Tak sesuai kenyataan, isinya jauh dari harapan Melur. Ia mendapat barang tak terduga dari Rajash.
"Apa-apaan ini?"
Melur menjembrengkan sepasang gaun tidur seksi atau lingerie berwarna merah pekat. Pakaian itu terdiri dari celana dalam yang terlihat seperti tali dan atasan seperti jaring yang terbuka di mana-mana. Tampak tak layak pakai.
"Apa maksudnya kasih aku baju kayak gini? Mas Raja kurang ajar! Dia pikir aku pelacur? Benar-benar penghinaan!"
Ia meremas gaun itu, merasa tidak terima mendapat hadiah tersebut.
"Selama pernikahan, aku nggak pernah disuruh pakai pakaian seperti ini. Seharusnya, dari dia minta aku membukanya di dalam kamar saja sudah jadi kejanggalan!"
Tentu ini menjadi keterkejutan. Seumur hidup, Melur tidak pernah mau menggunakan pakaian seperti itu, bahkan selama pernikahan.
Tiba-tiba ada surat jatuh saat ia sibuk memandangi baju haram itu. Secarik kertas kaku dengan tulisan seperti cetakan, terlihat dari font-nya yang begitu cantik.
Pakailah untuk tidur, tengah malam nanti aku akan menghampirimu!
"Suara notifikasi aku Mah, maaf memang agak aneh...." "Ohh." Melur bersyukur karena Mulan tidak menindaklanjuti perkara suara itu. "Aku masih nggak ngerti maksud Mama ke sini tengah malam untuk apa?" "Ah ini obat dari dokter gizi kamu, Mama lupa kasih tadi siang!" "Kok bisa dititipnya ke Mama bukan ke Bik Mina?" "Dia buru-buru mau ke rumah sakit karena pasiennya sekarat, dan cuma Mama yang sempat dia temui. Sebenarnya dia ada niat periksa kamu dulu, tapi katanya besok aja sekalian kamu cek kandungan." Melur membatin, "Masuk akal berarti bukan aneh-aneh." "Kenapa bengong?" "Ah enggak Mah, kalau begitu terima kasih!" "Seharusnya dari tadi siang sih disuruh minumnya. Karena lupa makanya Mama ke sini tengah malam soalnya harus buru-buru diminum!" "Ya, pasti aku minum." "Baiklah...." Perempuan itu pergi, Melur juga tergesa-gesa menutup pintu. Ia meletakkan obat yang diberikan oleh mantan ibu mertuanya itu ke sembarang tempat seakan benda tersebut tidak pentin
Usia kandungan sudah memasuki ke-empat bulan, Melur mulai siaga, Rajash pun mulai bawel plus overprotektif. Setiap kesempatan dia selalu berkunjung ke kamar mantan istrinya, dan tentunya dengan cara seperti biasa, sembunyi-sembunyi. Begitu rapi sampai saat ini scandal terlarang mereka belum mampu diendus siapapun. Pasalnya setiap berkunjung mereka bukan hanya sekedar menanyakan keadaan, mencium atau saling memberi perhatian. Di setiap ada kesempatan yang lebar, mereka selalu melakukan hal terlarang yang sangat menentang dengan status keduanya. Gairah setelah bercerai membuat mereka lupa segalanya. "Bibik perut aku makin besar, aku gendutan ya?" "Enggak kok, tetap mungil dan justru semakin terlihat segar. Aura ibu hamil itu memang amazing," jawab Mina tersenyum. "Ini pasti cuma kata-kata penenang...." "Sudah jangan merutuki kondisi badan, sekarang tidur dan bangun pagi-pagi karena besok ada jadwal kontrol ke dokter!" "Oke!" Melur menaikkan kakinya ke atas ka
Karena tidak mau dicek langsung oleh Rajash, akhirnya Melur terpaksa mau diajak ke rumah sakit dengan cara sembunyi-sembunyi. Alasan mereka cukup sederhana, Melur izin keluar main ke rumah Hani, sementara Rajash seperti biasa berangkat bekerja yang sebenarnya ia sedang membututi taksi yang ditumpangi Melur. Dua mobil itu berjalan beriringan sampai tiba di rumah sakit. "Mas aku malu periksanya, kita ke kantor kamu aja ya?" "Baiklah, tapi di kantor aku yang memeriksamu!" Melur menghela napas. Dia mengerti apa memeriksa yang dia maksud. Ingin sekali menentang lebih kuat. Namun, Melur ingat jika mantan suaminya itu seorang anak Prajasa yang sifatnya tak jauh berbeda. "Mau diperiksa bagaimana? Darahnya sudah nggak ada!" "Kalau begitu harus diperiksa dokter, biar tahu kondisi di dalamnya!" Rajash semakin cepat berjalan, menarik tangan Melur ke ruangan. "Mas ....""Diamlah, kau sedang mengandung pewarisku!" Melur terdiam. Saat masuk ke dalam ruangan mereka disambut senyum dokter pe
Ketika menuruni tangga, rasa nyeri pada tubuhnya muncul lagi, langkahnya melambat.Melur berhenti sebentar, satu tangannya memegang pegangan tangga."Sakit!" keluhnya. Ia menarik napas dan menunggu rasa sakit itu sedikit mereda.Pagi ini Melur akan bergabung ke meja makan untuk sarapan. Mungkin jika bukan Karena permintaan mantan suaminya, dia tidak akan mau bergabung. Beruntung hari ini tidak ada Mulan. Sarah pun terlihat langsung pergi membawa wajah judes begitu melihat Melur datang.Kini, hanya ada tiga laki-laki di sana, dan satu anak kecil yang sangat cantik, duduk di sebelah ayahnya. "Nak, kamu baik-baik saja?" tanya Prajasa. "Baik Pah," jawab Melur. "Kenapa jalannya begitu?" Deg!Jantung Rajash dan Melur seakan terhubung, sama-sama berdegup. Mereka pun saling memandang, tetapi buru-buru Melur membuang pandangannya. Prajasa bertanya begitu karena hanya dia yang memerhatikan cara jalan Melur yang tampak lambat, bahkan saat menghampiri meja dia merambat pada kursi. "Apa ad
"Sussst, jangan keluarkan suaramu!" Di atas ranjang dan di bawah mantan suami, Melur memandangi Rajash yang sedang menatapnya juga. Ada ketakutan besar di hati, tetapi tidak mau dikatakan munafik jika Melur merindukan hal itu. Ia tidak bisa mengelak tentang perasaan, gairah, dan pikirannya. Melur menginginkan Rajash. "Mas tap—""Susssstt diam dan ikuti aku!" Kepala Melur direbahkan di atas bantal dengan gerakan perlahan. Cukup lama Rajash memandangi mantan istrinya dari atas. Di bawahnya perempuan itu tampak cantik, tak pernah pudar dari dulu. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa ia bisa menerobos aturan ayahnya sampai membuat mantan istrinya mengandung."Mas jangan natap aku kayak gitu!" Melur berusaha menghindari, dia salah tingkah. "Cantik!" pujinya. Karena tak sanggup mendapat tatapan itu, Melur mengangkat kepalanya menggapai bibir Rajash. Benar-benar perlakuan yang seimbang, mereka saling merespon. Bahkan Melur yang selalu mengingatkan status, dan menolak perlaku
"Tunggu aku pulang aku akan menciummu sepuasnya!"Melur mengingat ucapan itu kemarin, sebelum mantan suaminya memutuskan pulang dari rumah sakit. Kini, ia sedang menunggu ucapan itu dengan debaran jantung yang tak karuan. Namun, saat ini Melur masih ditemani pembantunya yang tadi pagi disusul oleh petugas Prajasa untuk kembali mengurus nona-nya. Ya, Mina sampai bersimpuh berterima kasih kepada pria itu karena diberi kesempatan lagi untuk bekerja. "Melur sayang sama Bibik, nggak bisa bayangin nanti kalau sudah melahirkan dan Bibik aku tinggal!" Mina mengusap-usap kepala majikannya itu layaknya seorang ibu. "Kalau Nona sudah melahirkan, dan meninggalkan rumah ini, maka Bibik juga ikut pergi. Bibik akan resign untuk selamanya. Alasan Bibik memohon-mohon bertahan di sini memang untuk Nona, bukan mengeluarkan tenaga untuk semua orang di rumah ini. Setidaknya Bibik bisa memastikan Nona selamat sampai melahirkan!" Melur semakin erat memeluknya. Ia tidak pernah menemukan seorang maid yan







