MasukRajash begitu enteng mengungkapkan kata-kata, seakan hal tersebut telah dinormalisasi.
Melur tahu dan sadar akan statusnya sekarang. Demi menghindari datangnya nafsu atau semakin membengkaknya rasa cinta, dia melawan ucapan mantan suaminya.
"Kamu melanggar aturan perceraian, kita nggak boleh satu ranjang lagi. Biar aku saja yang pindah kamar!" tegas Melur.
Akhirnya dia yang mengalah. Perihal kamar bukan suatu hal yang berat. Rajash memang menyebalkan dan tidak mau kalah.
Saat melihat Melur pergi dari kamar, ada ekspresi sendu yang diperlihatkan. Alasan di balik perlakuannya yang tidak mau mengalah adalah rasa ingin tetap bersama perempuan tersebut.
Sementara itu, saat keluar dari kamar, Melur tak sengaja menjumpai Prajasa, sehingga langkahnya memancing pertanyaan.
"Mau ke mana?" tanyanya.
"Mau pindah ke kamar lain, Pah," jawab Melur.
"Mari ke sini!"
Mantan mertuanya itu meminta Melur mengikutinya. Namun, Melur ketakutan, dia hanya tidak mau berdebat soal kamar.
"Pah, aku nggak mau, Pah. Aku yang mau pindah kamar, biarkan Mas Rajash tetap menghuni kamarnya," pinta Melur memohon.
Prajasa menoleh, kemudian menatap Melur. Melalui tatapan itu, Melur tak bisa membantah lagi. Mungkin setelah ini akan ada perdebatan sengit.
Saat di kamar, Rajash baru saja selesai mandi. Ia ditatap ayahnya dengan tatapan mencekam, seolah-olah ia baru saja diciduk. Namun, sebelum itu, Rajash sudah memikirkan apa kesalahannya.
"Papa pikir Papa tidak perlu membuang tenaga untuk persoalan kamar."
Terdengar helaan napas dari pria itu. "Baiklah."
Hanya dengan kata itu Rajash mengalah, dan kini ia menatap mantan istrinya yang sedang menunduk.
"Istirahatlah, jaga kandunganmu," titah Prajasa.
"Baik, Pah."
Melur masuk, Prajasa pergi.
Dengan takut-takut ia melangkah kembali ke kamar, tetapi tak ada sepatah kata pun yang diucapkan Rajash. Pria itu cuek dan langsung mengganti pakaian. Setelah itu, Rajash pergi meninggalkan kamar yang dihuninya sejak kecil.
Paginya. Mina sedang membuatkan susu hamil untuk Melur; malam tadi ia lupa memberikannya.
"Mina, ada makanan?" Tiba-tiba Rajash menghampiri dapur. Ia hanya menggunakan celana pendek ketat tanpa atasan. Pemandangan yang umum saat pria bangun tidur.
"Tuan, sarapan belum dimulai, tunggu yang lain dulu," jawab Mina.
"Aku ingin sarapan duluan, semalam aku tidak makan," balas Rajash.
"Baiklah, nanti saya siapkan. Tapi, saya izin memberikan susu untuk Nona Melur terlebih dahulu. Duduk dan tunggulah, Tuan!" Mina sudah ingin melangkah, tetapi,
"Sebentar, Mina. Itu susu apa?" tanya Rajash.
"Susu khusus ibu hamil."
Rajash menatap segelas susu yang penuh itu. Mina yang menatap tuannya tak berkedip melihat susu yang dipegangnya, berpikir Rajash menginginkan apa yang ia pegang.
"Sini, biar aku yang mengantar!" Tangan Rajash menengadah, hampir merebut nampan itu.
"Ta-tapi, Tuan, ini tidak boleh!" Mina menahan nampan yang berisi gelas dan sarapan untuk nonanya saat Rajash ingin merampas.
"Yang tidak boleh itu kau menentang ucapanku," cetus Rajash.
Akhirnya Mina menyerahkan gelas yang ada di nampan itu. Rajash tertangkap tersenyum saat menerimanya.
"Tuan, tapi—"
"Aku ada perlu di kamarku, jadi sekalian saja. Buang pikiranmu itu, aku tahu aturan," tegas Rajash.
"Baiklah."
"Ah, sekalian buatkan dua porsi sarapan!" Pembantunya kembali tercengang, sehingga Rajash melanjutkan ucapannya. "Mina, aku minta kau jangan protes, lakukan saja!"
Pengasuh mantan istrinya itu benar-benar tidak protes; ia segera melaksanakan apa yang diperintahkan.
"Ini, Tuan!"
"Baiklah, terima kasih. Besok sebelum menerima gaji, hampiri aku dulu, ada tips untukmu. Emm, tapi tugas membuatkan susu itu sudah menjadi tugasku, kau paham?!"
Mina mengangguk; raut wajahnya tak dapat membohongi rasa takutnya.
Rajash berjalan santai membawa nampan yang berisi susu untuk nutrisi anaknya dan dua porsi sarapan. Pria itu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
"Mas, kamu mau apa?"
"Mina menyuruhku mengantar sarapan dan susu untukmu."
Rajash duduk di tepi ranjang, menghadap Melur yang sedang bersandar.
"Kok bisa Bibik Mina suruh kamu, Mas?"
"Dia ada tugas yang tidak bisa digantikan, jadi meminta tolong padaku."
"Seharusnya nggak perlu repot kayak gini, aku bisa ambil sendiri."
"Buka mulutmu!"
Melur tercengang, ia akan menerima suapan dari Rajash. Itu hal yang bisa dilakukannya sendiri. Namun, Rajash sangat inisiatif, padahal ia berharap pria tersebut segera keluar dari kamarnya.
"Mas, aku bisa sendiri!"
"Melur, kata Papa ini termasuk tanggung jawabku. Mengurus dan merawatmu adalah urusanku. Alasan kamu tetap di sini adalah agar mendapat perawatan selama hamil, dan aku sebagai penanggung jawabnya," tutur Rajash.
"Apa Papa bilang begitu?" tanya Melur. Ada keraguan karena yang ia tahu, semua orang menentang mereka untuk berdekatan lagi.
"Ya, kamu yakin mau melawan apa yang sudah pria itu aturkan?"
Akhirnya Melur membuka mulut, menerima suapan dari mantan suaminya, padahal selama pernikahan terjalin, hal seperti ini tidak pernah terjadi.
"Jangan pernah menahan apa pun yang kamu mau selama hamil karena itu termasuk keinginan anakku. Hampiri kamarku, mintalah apa pun yang menjadi keinginanmu," ujar Rajash.
"Iya, Mas."
Ada senyum yang tak bisa dilihat Melur karena saat Rajash melengkungkan bibirnya, Melur menunduk. Sementara itu, di balik tundukan kepalanya, ia sedang menahan gejolak perasaan di hatinya akibat tatapan Rajash.
"Mas, aku sudah kenyang."
"Baiklah, ayo minum susumu. Habiskan!"
Melur sebenarnya sudah sangat kenyang, rasanya tidak sanggup harus menenggak susu yang aromanya sudah sangat tidak enak di penciuman dan lambungnya.
Namun, untuk ibu hamil yang susah makan seperti dirinya, meminum susu hamil itu penting dan menjadi suatu keharusan.
Glek, glek. Baru dua tegukan Melur sudah ingin muntah, tetapi ia menahannya. Sayangnya, susu itu belum habis.
"Aku sudah nggak sanggup, perutku penuh!" Melur terus mendorong gelas susunya karena perutnya sudah tidak bisa menerima.
"Habiskan!"
"Mas Raja, aku nggak suka susunya!"
"Minum dari gelas itu atau dari mulutku?"
Buru-buru Melur menelan susu yang terasa sudah sangat tidak enak di penciuman dan lambungnya. Namun, ia memaksa karena takut dengan ucapan Rajash, sampai akhirnya habis tandas.
"Bagus, sekarang giliranmu menyuapi aku!"
"Jadi kamu sengaja menyuapiku biar bisa gantian?" Wajah Melur menganga. Sungguh, selama satu tahun menjalani pernikahan kontrak, tidak pernah sekalipun Rajash meminta disuapi, apalagi hal itu termasuk kegiatan romantis.
"Iya. Kenapa? Semalam aku tidak makan gara-garamu, aku jadi sarapan sangat pagi. Sekarang kau harus bertanggung jawab menyuapi!"
"Baiklah." Suara Melur sangat lirih; ia sedang berpikir apakah kegiatan seperti ini diperbolehkan atau tidak, mengingat status mereka yang sekarang tak lagi sama.
Melur mulai mengambil piring yang sudah diisi makanan. Ia sudah ingin memasukkan sendok ke dalam mulut Rajash, tetapi pria itu menolak.
"Aku mau kamu menggunakan tangan langsung!"
"Hah?"
"Suara notifikasi aku Mah, maaf memang agak aneh...." "Ohh." Melur bersyukur karena Mulan tidak menindaklanjuti perkara suara itu. "Aku masih nggak ngerti maksud Mama ke sini tengah malam untuk apa?" "Ah ini obat dari dokter gizi kamu, Mama lupa kasih tadi siang!" "Kok bisa dititipnya ke Mama bukan ke Bik Mina?" "Dia buru-buru mau ke rumah sakit karena pasiennya sekarat, dan cuma Mama yang sempat dia temui. Sebenarnya dia ada niat periksa kamu dulu, tapi katanya besok aja sekalian kamu cek kandungan." Melur membatin, "Masuk akal berarti bukan aneh-aneh." "Kenapa bengong?" "Ah enggak Mah, kalau begitu terima kasih!" "Seharusnya dari tadi siang sih disuruh minumnya. Karena lupa makanya Mama ke sini tengah malam soalnya harus buru-buru diminum!" "Ya, pasti aku minum." "Baiklah...." Perempuan itu pergi, Melur juga tergesa-gesa menutup pintu. Ia meletakkan obat yang diberikan oleh mantan ibu mertuanya itu ke sembarang tempat seakan benda tersebut tidak pentin
Usia kandungan sudah memasuki ke-empat bulan, Melur mulai siaga, Rajash pun mulai bawel plus overprotektif. Setiap kesempatan dia selalu berkunjung ke kamar mantan istrinya, dan tentunya dengan cara seperti biasa, sembunyi-sembunyi. Begitu rapi sampai saat ini scandal terlarang mereka belum mampu diendus siapapun. Pasalnya setiap berkunjung mereka bukan hanya sekedar menanyakan keadaan, mencium atau saling memberi perhatian. Di setiap ada kesempatan yang lebar, mereka selalu melakukan hal terlarang yang sangat menentang dengan status keduanya. Gairah setelah bercerai membuat mereka lupa segalanya. "Bibik perut aku makin besar, aku gendutan ya?" "Enggak kok, tetap mungil dan justru semakin terlihat segar. Aura ibu hamil itu memang amazing," jawab Mina tersenyum. "Ini pasti cuma kata-kata penenang...." "Sudah jangan merutuki kondisi badan, sekarang tidur dan bangun pagi-pagi karena besok ada jadwal kontrol ke dokter!" "Oke!" Melur menaikkan kakinya ke atas ka
Karena tidak mau dicek langsung oleh Rajash, akhirnya Melur terpaksa mau diajak ke rumah sakit dengan cara sembunyi-sembunyi. Alasan mereka cukup sederhana, Melur izin keluar main ke rumah Hani, sementara Rajash seperti biasa berangkat bekerja yang sebenarnya ia sedang membututi taksi yang ditumpangi Melur. Dua mobil itu berjalan beriringan sampai tiba di rumah sakit. "Mas aku malu periksanya, kita ke kantor kamu aja ya?" "Baiklah, tapi di kantor aku yang memeriksamu!" Melur menghela napas. Dia mengerti apa memeriksa yang dia maksud. Ingin sekali menentang lebih kuat. Namun, Melur ingat jika mantan suaminya itu seorang anak Prajasa yang sifatnya tak jauh berbeda. "Mau diperiksa bagaimana? Darahnya sudah nggak ada!" "Kalau begitu harus diperiksa dokter, biar tahu kondisi di dalamnya!" Rajash semakin cepat berjalan, menarik tangan Melur ke ruangan. "Mas ....""Diamlah, kau sedang mengandung pewarisku!" Melur terdiam. Saat masuk ke dalam ruangan mereka disambut senyum dokter pe
Ketika menuruni tangga, rasa nyeri pada tubuhnya muncul lagi, langkahnya melambat.Melur berhenti sebentar, satu tangannya memegang pegangan tangga."Sakit!" keluhnya. Ia menarik napas dan menunggu rasa sakit itu sedikit mereda.Pagi ini Melur akan bergabung ke meja makan untuk sarapan. Mungkin jika bukan Karena permintaan mantan suaminya, dia tidak akan mau bergabung. Beruntung hari ini tidak ada Mulan. Sarah pun terlihat langsung pergi membawa wajah judes begitu melihat Melur datang.Kini, hanya ada tiga laki-laki di sana, dan satu anak kecil yang sangat cantik, duduk di sebelah ayahnya. "Nak, kamu baik-baik saja?" tanya Prajasa. "Baik Pah," jawab Melur. "Kenapa jalannya begitu?" Deg!Jantung Rajash dan Melur seakan terhubung, sama-sama berdegup. Mereka pun saling memandang, tetapi buru-buru Melur membuang pandangannya. Prajasa bertanya begitu karena hanya dia yang memerhatikan cara jalan Melur yang tampak lambat, bahkan saat menghampiri meja dia merambat pada kursi. "Apa ad
"Sussst, jangan keluarkan suaramu!" Di atas ranjang dan di bawah mantan suami, Melur memandangi Rajash yang sedang menatapnya juga. Ada ketakutan besar di hati, tetapi tidak mau dikatakan munafik jika Melur merindukan hal itu. Ia tidak bisa mengelak tentang perasaan, gairah, dan pikirannya. Melur menginginkan Rajash. "Mas tap—""Susssstt diam dan ikuti aku!" Kepala Melur direbahkan di atas bantal dengan gerakan perlahan. Cukup lama Rajash memandangi mantan istrinya dari atas. Di bawahnya perempuan itu tampak cantik, tak pernah pudar dari dulu. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa ia bisa menerobos aturan ayahnya sampai membuat mantan istrinya mengandung."Mas jangan natap aku kayak gitu!" Melur berusaha menghindari, dia salah tingkah. "Cantik!" pujinya. Karena tak sanggup mendapat tatapan itu, Melur mengangkat kepalanya menggapai bibir Rajash. Benar-benar perlakuan yang seimbang, mereka saling merespon. Bahkan Melur yang selalu mengingatkan status, dan menolak perlaku
"Tunggu aku pulang aku akan menciummu sepuasnya!"Melur mengingat ucapan itu kemarin, sebelum mantan suaminya memutuskan pulang dari rumah sakit. Kini, ia sedang menunggu ucapan itu dengan debaran jantung yang tak karuan. Namun, saat ini Melur masih ditemani pembantunya yang tadi pagi disusul oleh petugas Prajasa untuk kembali mengurus nona-nya. Ya, Mina sampai bersimpuh berterima kasih kepada pria itu karena diberi kesempatan lagi untuk bekerja. "Melur sayang sama Bibik, nggak bisa bayangin nanti kalau sudah melahirkan dan Bibik aku tinggal!" Mina mengusap-usap kepala majikannya itu layaknya seorang ibu. "Kalau Nona sudah melahirkan, dan meninggalkan rumah ini, maka Bibik juga ikut pergi. Bibik akan resign untuk selamanya. Alasan Bibik memohon-mohon bertahan di sini memang untuk Nona, bukan mengeluarkan tenaga untuk semua orang di rumah ini. Setidaknya Bibik bisa memastikan Nona selamat sampai melahirkan!" Melur semakin erat memeluknya. Ia tidak pernah menemukan seorang maid yan







