Share

Bab 2

Author: Ratu Ngarang
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-29 14:57:33

Rajash begitu enteng mengungkapkan kata-kata, seakan hal tersebut telah dinormalisasi.

Melur tahu dan sadar akan statusnya sekarang. Demi menghindari datangnya nafsu atau semakin membengkaknya rasa cinta, dia melawan ucapan mantan suaminya.

"Kamu melanggar aturan perceraian, kita nggak boleh satu ranjang lagi. Biar aku saja yang pindah kamar!" tegas Melur.

Akhirnya dia yang mengalah. Perihal kamar bukan suatu hal yang berat. Rajash memang menyebalkan dan tidak mau kalah.

Saat melihat Melur pergi dari kamar, ada ekspresi sendu yang diperlihatkan. Alasan di balik perlakuannya yang tidak mau mengalah adalah rasa ingin tetap bersama perempuan tersebut.

Sementara itu, saat keluar dari kamar, Melur tak sengaja menjumpai Prajasa, sehingga langkahnya memancing pertanyaan.

"Mau ke mana?" tanyanya.

"Mau pindah ke kamar lain, Pah," jawab Melur.

"Mari ke sini!"

Mantan mertuanya itu meminta Melur mengikutinya. Namun, Melur ketakutan, dia hanya tidak mau berdebat soal kamar.

"Pah, aku nggak mau, Pah. Aku yang mau pindah kamar, biarkan Mas Rajash tetap menghuni kamarnya," pinta Melur memohon.

Prajasa menoleh, kemudian menatap Melur. Melalui tatapan itu, Melur tak bisa membantah lagi. Mungkin setelah ini akan ada perdebatan sengit.

Saat di kamar, Rajash baru saja selesai mandi. Ia ditatap ayahnya dengan tatapan mencekam, seolah-olah ia baru saja diciduk. Namun, sebelum itu, Rajash sudah memikirkan apa kesalahannya.

"Papa pikir Papa tidak perlu membuang tenaga untuk persoalan kamar."

Terdengar helaan napas dari pria itu. "Baiklah."

Hanya dengan kata itu Rajash mengalah, dan kini ia menatap mantan istrinya yang sedang menunduk.

"Istirahatlah, jaga kandunganmu," titah Prajasa.

"Baik, Pah."

Melur masuk, Prajasa pergi.

Dengan takut-takut ia melangkah kembali ke kamar, tetapi tak ada sepatah kata pun yang diucapkan Rajash. Pria itu cuek dan langsung mengganti pakaian. Setelah itu, Rajash pergi meninggalkan kamar yang dihuninya sejak kecil.

Paginya. Mina sedang membuatkan susu hamil untuk Melur; malam tadi ia lupa memberikannya.

"Mina, ada makanan?" Tiba-tiba Rajash menghampiri dapur. Ia hanya menggunakan celana pendek ketat tanpa atasan. Pemandangan yang umum saat pria bangun tidur.

"Tuan, sarapan belum dimulai, tunggu yang lain dulu," jawab Mina.

"Aku ingin sarapan duluan, semalam aku tidak makan," balas Rajash.

"Baiklah, nanti saya siapkan. Tapi, saya izin memberikan susu untuk Nona Melur terlebih dahulu. Duduk dan tunggulah, Tuan!" Mina sudah ingin melangkah, tetapi,

"Sebentar, Mina. Itu susu apa?" tanya Rajash.

"Susu khusus ibu hamil."

Rajash menatap segelas susu yang penuh itu. Mina yang menatap tuannya tak berkedip melihat susu yang dipegangnya, berpikir Rajash menginginkan apa yang ia pegang.

"Sini, biar aku yang mengantar!" Tangan Rajash menengadah, hampir merebut nampan itu.

"Ta-tapi, Tuan, ini tidak boleh!" Mina menahan nampan yang berisi gelas dan sarapan untuk nonanya saat Rajash ingin merampas.

"Yang tidak boleh itu kau menentang ucapanku," cetus Rajash.

Akhirnya Mina menyerahkan gelas yang ada di nampan itu. Rajash tertangkap tersenyum saat menerimanya.

"Tuan, tapi—"

"Aku ada perlu di kamarku, jadi sekalian saja. Buang pikiranmu itu, aku tahu aturan," tegas Rajash.

"Baiklah."

"Ah, sekalian buatkan dua porsi sarapan!" Pembantunya kembali tercengang, sehingga Rajash melanjutkan ucapannya. "Mina, aku minta kau jangan protes, lakukan saja!"

Pengasuh mantan istrinya itu benar-benar tidak protes; ia segera melaksanakan apa yang diperintahkan.

"Ini, Tuan!"

"Baiklah, terima kasih. Besok sebelum menerima gaji, hampiri aku dulu, ada tips untukmu. Emm, tapi tugas membuatkan susu itu sudah menjadi tugasku, kau paham?!"

Mina mengangguk; raut wajahnya tak dapat membohongi rasa takutnya.

Rajash berjalan santai membawa nampan yang berisi susu untuk nutrisi anaknya dan dua porsi sarapan. Pria itu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.

"Mas, kamu mau apa?"

"Mina menyuruhku mengantar sarapan dan susu untukmu."

Rajash duduk di tepi ranjang, menghadap Melur yang sedang bersandar.

"Kok bisa Bibik Mina suruh kamu, Mas?"

"Dia ada tugas yang tidak bisa digantikan, jadi meminta tolong padaku."

"Seharusnya nggak perlu repot kayak gini, aku bisa ambil sendiri."

"Buka mulutmu!"

Melur tercengang, ia akan menerima suapan dari Rajash. Itu hal yang bisa dilakukannya sendiri. Namun, Rajash sangat inisiatif, padahal ia berharap pria tersebut segera keluar dari kamarnya.

"Mas, aku bisa sendiri!"

"Melur, kata Papa ini termasuk tanggung jawabku. Mengurus dan merawatmu adalah urusanku. Alasan kamu tetap di sini adalah agar mendapat perawatan selama hamil, dan aku sebagai penanggung jawabnya," tutur Rajash.

"Apa Papa bilang begitu?" tanya Melur. Ada keraguan karena yang ia tahu, semua orang menentang mereka untuk berdekatan lagi.

"Ya, kamu yakin mau melawan apa yang sudah pria itu aturkan?"

Akhirnya Melur membuka mulut, menerima suapan dari mantan suaminya, padahal selama pernikahan terjalin, hal seperti ini tidak pernah terjadi.

"Jangan pernah menahan apa pun yang kamu mau selama hamil karena itu termasuk keinginan anakku. Hampiri kamarku, mintalah apa pun yang menjadi keinginanmu," ujar Rajash.

"Iya, Mas."

Ada senyum yang tak bisa dilihat Melur karena saat Rajash melengkungkan bibirnya, Melur menunduk. Sementara itu, di balik tundukan kepalanya, ia sedang menahan gejolak perasaan di hatinya akibat tatapan Rajash.

"Mas, aku sudah kenyang."

"Baiklah, ayo minum susumu. Habiskan!"

Melur sebenarnya sudah sangat kenyang, rasanya tidak sanggup harus menenggak susu yang aromanya sudah sangat tidak enak di penciuman dan lambungnya.

Namun, untuk ibu hamil yang susah makan seperti dirinya, meminum susu hamil itu penting dan menjadi suatu keharusan.

Glek, glek. Baru dua tegukan Melur sudah ingin muntah, tetapi ia menahannya. Sayangnya, susu itu belum habis.

"Aku sudah nggak sanggup, perutku penuh!" Melur terus mendorong gelas susunya karena perutnya sudah tidak bisa menerima.

"Habiskan!"

"Mas Raja, aku nggak suka susunya!"

"Minum dari gelas itu atau dari mulutku?"

Buru-buru Melur menelan susu yang terasa sudah sangat tidak enak di penciuman dan lambungnya. Namun, ia memaksa karena takut dengan ucapan Rajash, sampai akhirnya habis tandas.

"Bagus, sekarang giliranmu menyuapi aku!"

"Jadi kamu sengaja menyuapiku biar bisa gantian?" Wajah Melur menganga. Sungguh, selama satu tahun menjalani pernikahan kontrak, tidak pernah sekalipun Rajash meminta disuapi, apalagi hal itu termasuk kegiatan romantis.

"Iya. Kenapa? Semalam aku tidak makan gara-garamu, aku jadi sarapan sangat pagi. Sekarang kau harus bertanggung jawab menyuapi!"

"Baiklah." Suara Melur sangat lirih; ia sedang berpikir apakah kegiatan seperti ini diperbolehkan atau tidak, mengingat status mereka yang sekarang tak lagi sama.

Melur mulai mengambil piring yang sudah diisi makanan. Ia sudah ingin memasukkan sendok ke dalam mulut Rajash, tetapi pria itu menolak.

"Aku mau kamu menggunakan tangan langsung!"

"Hah?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 5

    Malam harinya, Mina sempat meninggalkan dapur sebentarkarena tadi dipanggil oleh majikannya yang laki-laki.Namun, saat ia kembali, tak sengaja ia berpapasan denganmajikannya yang perempuan."Ibu, ada perlu apa ke dapur?" tanya Mina."Ah, Mina. Saya habis ambil timun untuk maskeran.Oh ya, cucu saya minta dibuatkan nugget, kamu bisa?""Bisa, Bu. Tapi, saya izin antar susu dulu untuk NonaMelur!""Ya sudah, saya tunggu di kamar, ya. Anaknya ada dikamar saya!"Mina mengangguk pada Mulan, lalu buru-buru mengambil susuyang sudah sempat dibuat namun tertunda karena dipanggil. Ia mempercepatlangkahnya agar bisa segera membuatkan pesanan Mulan.Mungkin jika Rajash sudah pulang, Mina tidak akan kebagianmomen membuat susu lalu mengantarnya.Saat masuk ke kamar Melur, Mina melihat ibu hamil itu sedangmenjembrengkan pakaian berwarna merah.Ya, Melur terciduk sedang mencoba-coba lingerie darimantan suaminya di depan cermin. Ia hanya menempelkannya di luar badan."Non, itu apa?"Buru-buru

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 4

    "Bukan aku yang mengunci, tapi Han!""Buka, nggak!" hardik Melur, kakinya dihentakkansebelah.Rajash merasa gemas melihat wajah panik Melur. Ia berjalanmenghampiri mantan istrinya yang jelita itu, yang tampak masih berdiri di depanpintu."Sayangnya, remote dan kuncinya dia yangpegang!" Rajash berdiri di hadapan Melur yang sudah terpojok di pintu."Mas Raja, kamu jangan macam-macam, ya. Kita sudahcerai. Jangan melanggar aturan lagi!" sergah Melur, tetapi Rajash justrutertawa.Melur masih mengingat pesan pembantunya untuk berhati-hatiterhadap mantan suaminya yang mulai menggila."Janda satu ini sangat manis. Ayo, layani akudulu!""Mas Raja!" Melur semakin panik saat dirinyadibopong dan dibawa kembali ke singgasananya.Melur tidak duduk di bangku, melainkan berlabuh di atas pahapria itu. Di depan mereka ada meja kerja yang di atasnya terletak makanan tadi."Ayo suapi aku seperti tadi pagi, jangan menggunakansendok!""Nggak mau kayak gitu, kamu sengaja.""Sengaja apa, hmm?"Dia

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 3

    "Mas, ta—""Lihat, tanganku sibuk!" Rajash menunjukkan keduatangannya yang sedang memegang ponsel dan gelas bekas susu, padahal semua itubisa diletakkan."Aku bisa menyuapi, tapi pakai sen—""Apa yang kukatakan ke Papa kalau aku ada disini?""Iya, iya!" Melur tampak kesal. Rajash memilikiseribu cara untuk mendapatkan keinginannya.Ia meletakkan sendok, menyemprotkan antiseptik ke tangannya,lalu mengelapnya menggunakan tisu. Ia mulai menyomot makanan yangkemudian disodorkan ke mulut mantan suaminya.Sengaja mengambil banyak agar Rajash sulit menerima, tetapiia lupa mulut pria itu tak semungil ukuran tangannya. Sontak saja, suapannyamampu diraup semua.Bukan hanya makanan yang ia terima, Rajash jugamenenggelamkan jari-jari Melur ke dalam mulutnya, sehingga sesudah itujari-jari Melur dikecap satu per satu."Benar kata orang, makan menggunakan tangan langsungitu lebih nikmat!"Melur merasakan darahnya berdesir; ada perasaan aneh yangtak bisa diungkapkan.Setiap kali ia menyuap

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 2

    Rajash begitu enteng mengungkapkan kata-kata, seakan haltersebut telah dinormalisasi.Melur tahu dan sadar akan statusnya sekarang. Demimenghindari datangnya nafsu atau semakin membengkaknya rasa cinta, dia melawanucapan mantan suaminya."Kamu melanggar aturan perceraian, kita nggak bolehsatu ranjang lagi. Biar aku saja yang pindah kamar!" tegas Melur.Akhirnya dia yang mengalah. Perihal kamar bukan suatu halyang berat. Rajash memang menyebalkan dan tidak mau kalah.Saat melihat Melur pergi dari kamar, ada ekspresi sendu yangdiperlihatkan. Alasan di balik perlakuannya yang tidak mau mengalah adalah rasaingin tetap bersama perempuan tersebut.Sementara itu, saat keluar dari kamar, Melur tak sengajamenjumpai Prajasa, sehingga langkahnya memancing pertanyaan."Mau ke mana?" tanyanya."Mau pindah ke kamar lain, Pah," jawab Melur."Mari ke sini!"Mantan mertuanya itu meminta Melur mengikutinya. Namun,Melur ketakutan, dia hanya tidak mau berdebat soal kamar."Pah, aku nggak mau, Pa

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 1

    Ketukan palu hakim yang ketiga menggema di ruang sidang yanghening, menandai berakhirnya ikatan pernikahan yang terjalin selama satu tahun.Melur, selaku pihak tergugat, duduk dengan tubuh melemah;wajahnya pucat tanpa ekspresi.Ketika hakim mengumumkan bahwa sidang ditutup, Melurtiba-tiba menggenggam meja di depannya dengan erat. Napasnya tersengal seolahada sesuatu yang menekan dadanya.Matanya yang semula kosong perlahan tertutup, tubuhnyaterhuyung, dan akhirnya jatuh pingsan di depan semua orang."Melur!"Rajash, pria yang menggugat cerai istrinya, panik melihatMelur tergeletak di lantai."Rajash, jangan sentuh! Dia bukan istrimu lagi!"cegah Mulan, ibu Rajash.Petugas pengadilan segera berlari menghampiri, sementaraRajash menatap Melur dengan campuran rasa bersalah dan kebingungan. Ia tidakbisa mendekat karena dilarang oleh ibunya.Kediaman Wiratama.Seorang petugas menyampaikan kabar dari rumah sakit di ruangkeluarga."Pak, saya ingin menyampaikan kabar dari rumah sakit

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status