공유

Bab 5

작가: Ratu Ngarang
last update 게시일: 2026-07-29 15:44:15

Malam harinya, Mina sempat meninggalkan dapur sebentar karena tadi dipanggil oleh majikannya yang laki-laki.

Namun, saat ia kembali, tak sengaja ia berpapasan dengan majikannya yang perempuan.

"Ibu, ada perlu apa ke dapur?" tanya Mina.

"Ah, Mina. Saya habis ambil timun untuk maskeran. Oh ya, cucu saya minta dibuatkan nugget, kamu bisa?"

"Bisa, Bu. Tapi, saya izin antar susu dulu untuk Nona Melur!"

"Ya sudah, saya tunggu di kamar, ya. Anaknya ada di kamar saya!"

Mina mengangguk pada Mulan, lalu buru-buru mengambil susu yang sudah sempat dibuat namun tertunda karena dipanggil. Ia mempercepat langkahnya agar bisa segera membuatkan pesanan Mulan.

Mungkin jika Rajash sudah pulang, Mina tidak akan kebagian momen membuat susu lalu mengantarnya.

Saat masuk ke kamar Melur, Mina melihat ibu hamil itu sedang menjembrengkan pakaian berwarna merah.

Ya, Melur terciduk sedang mencoba-coba lingerie dari mantan suaminya di depan cermin. Ia hanya menempelkannya di luar badan.

"Non, itu apa?"

Buru-buru Melur menyembunyikan barangnya di belakang punggung. Wajahnya panik dan tingkahnya menjadi kikuk.

"Ah, anu, ini aku lagi coba syal, Bik. Tapi, mau aku buang karena sudah lama, sudah sobek-sobek juga, hehe."

"Coba Bibik lihat?"

"Jangan, Bik, bau soalnya. Sudah lama di dalam lemari. Eh, Bik bawa apa?"

"Susu, Non. Ini sekalian Bibik bawain buah-buahannya!" Akhirnya, perhatian Mina langsung teralihkan.

Melur pun menendang paper bag yang berisi pakaian berbahaya itu ke belakang hingga masuk ke kolong meja rias.

"Mas Raja ke mana, Bik? Belum pulang, ya?" tanya Melur sangat spontan.

"Loh, sekarang maunya sama Tuan aja, ya? Nggak mau sama Bibik?"

"Eh, enggak gitu. Aku cuma tanya aja, bukan soal susu, kok!"

"Iya, karena biasanya Tuan, 'kan? Jadi, pas Bibik yang antar, kaget?"

Melur seperti tertangkap basah sedang menunggu mantan suaminya. Jika sudah begitu, ia merasa malu sendiri hanya karena menanyakan keberadaan Rajash. "Bibik jangan begitu, dong."

Mina tersenyum, ia mengusap-usap pundak ibu hamil itu. "Entah kenapa Bibik merasa Nona juga mencintai Tuan. Bibik nggak tahu mau bilang mulai mencintai, atau masih mencintai karena kalian menjalani pernikahan sudah satu tahun!"

"Enggak, kok, Bik. Kita jalani pernikahan tanpa ada rasa!" jawab Melur sambil tersenyum pelik.

"Begitu, ya? Lalu baby ini hadir karena apa, dong?"

"Bik,"

"Iya, iya. Ya sudah, Bibik tinggal, ya. Mau buatin nugget buat Nona kecil!"

"Makasih, ya, Bik!"

Setelah ditinggalkan oleh pembantunya, Melur segera menenggak minuman rutinnya. Ia juga memakan buah-buahan sebagai penangkal rasa mual dan bau amis dari susu. Namun, tiba-tiba

"Duh, kok aku mendadak kepingin ngendus bau badan Mas Raja? Astaga keinginan apa ini?"

Bau khas tubuh yang sempat dihirup Melur ketika dipeluk Rajash tadi, masih terbayang-bayang di ingatannya. Tiba-tiba ada hasrat ingin merasakannya lagi.

Keinginan itu murni muncul saat ia mengingat seberapa harumnya aroma tubuh mantan suami yang tiba-tiba memeluknya di kantor.

Kaki Melur spontan melangkah ke jendela ketika telinganya mendengar suara mobil menepi. Di balik gorden, ia mengintip. "Itu mobil Mas Raja. Dia sudah pulang!"

Ada rasa senang, tetapi ia menyadari bahwa dialah yang paling menentang saat Rajash mendekat.

"Jilat ludah sendiri dong kalau aku tiba-tiba ke kamarnya, pinjam baju cuma buat hirup baunya. Keinginan konyol ini tiba-tiba datang saat aku sedang membencinya karena hadiah tadi," gumam Melur.

Alhasil, ia naik ke atas tempat tidur, menggulung badan, dan mulai berjuang menenggelamkan diri ke alam bawah sadar. Ia berusaha tidur sambil menahan keinginan bayinya yang menurutnya sangat aneh.

Sementara itu, Rajash yang pulang lebih cepat dari biasa, berniat ingin langsung menuju kamar Melur.

"Mau ke mana, Rajash? Kamarmu bukan di sana lagi arahnya!" tegur sang ayah.

"Maaf, aku lupa!"

Prajasa menatap tajam, merasa curiga karena dari kejauhan ia memantau langkah anaknya yang tampak mengendap-endap.

Akhirnya, kaki Rajash berputar arah, kembali ke kamarnya yang baru.

Di kamar, Melur tak tahan. Naluri keinginannya terus mendorong untuk segera ke kamar terlarang itu.

Ia melangkah keluar, mencari letak kamar pria yang sudah haram dihampiri. Namun, demi menunaikan hajat anaknya, ia rela menghapus ketakutan dan ego di hati.

"Mas Raja, buka!"

Pintu terbuka begitu Melur mengetuk beberapa kali. Mantan suaminya pun keluar hanya dengan menggunakan celana pendek ketat tanpa atasan.

Ah, astaga. Bau khasnya enak sekali, batin Melur.

"Ada apa?" tanya Rajash.

Malu-malu Melur mengungkapkan, "Boleh aku pinjam baju kamu yang tadi dipakai kerja? Aku nggak tahu, ini sangat tiba-tiba. Aku kepengen cium bau baju kamu tadi!"

Diam-diam Rajash tersenyum saat mantan istrinya menunduk. Ia menengok kanan kiri, memantau keadaan. "Ayo masuk!"

Melur ditarik ke dalam kamar. Tubuhnya dibawa ke atas pangkuan saat Rajash sudah duduk di ranjang.

"Mas!"

"Kenapa? Mau cium badanku, 'kan?" Rajash tampak membusungkan dadanya, tepat di depan wajah Melur.

"Baju kamu, bukan badan!"

"Sayangnya, bajuku sudah masuk mesin cuci. Yang ada saja, tuntaskan keinginan anak kita!" Rajash menggoyangkan pundaknya, bahkan bagian dadanya yang berotot ia kedut-kedutkan.

Melur menggigit bibirnya. Rasa gengsi membuat ragu dan malu. Namun, hatinya terus mendorong hingga gengsi dan malu itu kalah lagi.

Pelan-pelan Melur mendekatkan hidungnya ke dada yang keras seperti roti yang baru keluar dari oven itu, sampai akhirnya ia seperti merasakan sensasi di dunia fantasi yang sangat melegakan.

"Bagaimana?" tanya Rajash.

Melur terlalu menikmati, ia tidak menjawab pertanyaan mantan suaminya. Rajash pun tersenyum senang, sebelum akhirnya merasakan getaran aneh di hati. Hidung yang menempel di dadanya itu menciptakan perasaan gelisah.

Kepala Rajash mulai mendongak, tangannya mengepal seperti menahan sesuatu.

"Ahhh, stop, Melur!"

Rajash mendorong pundak Melur agar wajah perempuan itu segera menjauh. Ternyata, keinginan itu menjadi boomerang untuk dirinya sebagai lelaki normal.

"Kenapa? Aku masih mau, Mas!"

"Aku belum mandi. Sekarang ayo kita makan saja!"

"Loh, memang aku maunya kamu yang belum mandi. Kalau yang sudah mandi wanginya beda, aku nggak suka!"

"Emm, tapi Melur, ak—"

"A-aw, aw... perut aku sakit, Mas. Ini kenapa?"

Tiba-tiba Melur turun dari atas pangkuan Rajash, ia membungkuk memegangi pinggang dan dada yang terasa panas.

Saat itu juga Melur muntah di lantai.

"Melur, kau kenapa?" Rajash tampak panik melihat Melur begitu banyak mengeluarkan cairan.

"Mas, perut aku panas, dada aku sakit, sesak!" keluh Melur. Ia memegangi dadanya karena merasa jantungnya berdebar tak beraturan.

Rasa sakit yang mulai menjalar ke mana-mana itu membuat Melur tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Ia jatuh ke dalam pelukan Rajash.

"MELUR!"

Rajash histeris. Ia tergopoh-gopoh membopong mantan istrinya, lalu membawanya keluar dari kamar.

"PAPA!" Pria itu berteriak keras, suaranya memantul memanggil semua orang.

Prajasa datang dengan wajah tak kalah panik. "Ada apa, Rajash? Kau apakan Melur?"

"Pah, dia muntah-muntah. Tolong bantu aku bawa ke rumah sakit!"

"Ayo cepat!"

Sementara itu, Mulan dan Sarah saling mendekat. Keduanya terpanggil karena suara teriakan Rajash. Kini mereka sedang adu pandang, masing-masing di bibirnya membentuk seringai.

"Mama kasih dia, apa tadi?" tanya Sarah.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 26

    "Suara notifikasi aku Mah, maaf memang agak aneh...." "Ohh." Melur bersyukur karena Mulan tidak menindaklanjuti perkara suara itu. "Aku masih nggak ngerti maksud Mama ke sini tengah malam untuk apa?" "Ah ini obat dari dokter gizi kamu, Mama lupa kasih tadi siang!" "Kok bisa dititipnya ke Mama bukan ke Bik Mina?" "Dia buru-buru mau ke rumah sakit karena pasiennya sekarat, dan cuma Mama yang sempat dia temui. Sebenarnya dia ada niat periksa kamu dulu, tapi katanya besok aja sekalian kamu cek kandungan." Melur membatin, "Masuk akal berarti bukan aneh-aneh." "Kenapa bengong?" "Ah enggak Mah, kalau begitu terima kasih!" "Seharusnya dari tadi siang sih disuruh minumnya. Karena lupa makanya Mama ke sini tengah malam soalnya harus buru-buru diminum!" "Ya, pasti aku minum." "Baiklah...." Perempuan itu pergi, Melur juga tergesa-gesa menutup pintu. Ia meletakkan obat yang diberikan oleh mantan ibu mertuanya itu ke sembarang tempat seakan benda tersebut tidak pentin

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 25

    Usia kandungan sudah memasuki ke-empat bulan, Melur mulai siaga, Rajash pun mulai bawel plus overprotektif. Setiap kesempatan dia selalu berkunjung ke kamar mantan istrinya, dan tentunya dengan cara seperti biasa, sembunyi-sembunyi. Begitu rapi sampai saat ini scandal terlarang mereka belum mampu diendus siapapun. Pasalnya setiap berkunjung mereka bukan hanya sekedar menanyakan keadaan, mencium atau saling memberi perhatian. Di setiap ada kesempatan yang lebar, mereka selalu melakukan hal terlarang yang sangat menentang dengan status keduanya. Gairah setelah bercerai membuat mereka lupa segalanya. "Bibik perut aku makin besar, aku gendutan ya?" "Enggak kok, tetap mungil dan justru semakin terlihat segar. Aura ibu hamil itu memang amazing," jawab Mina tersenyum. "Ini pasti cuma kata-kata penenang...." "Sudah jangan merutuki kondisi badan, sekarang tidur dan bangun pagi-pagi karena besok ada jadwal kontrol ke dokter!" "Oke!" Melur menaikkan kakinya ke atas ka

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 24

    Karena tidak mau dicek langsung oleh Rajash, akhirnya Melur terpaksa mau diajak ke rumah sakit dengan cara sembunyi-sembunyi. Alasan mereka cukup sederhana, Melur izin keluar main ke rumah Hani, sementara Rajash seperti biasa berangkat bekerja yang sebenarnya ia sedang membututi taksi yang ditumpangi Melur. Dua mobil itu berjalan beriringan sampai tiba di rumah sakit. "Mas aku malu periksanya, kita ke kantor kamu aja ya?" "Baiklah, tapi di kantor aku yang memeriksamu!" Melur menghela napas. Dia mengerti apa memeriksa yang dia maksud. Ingin sekali menentang lebih kuat. Namun, Melur ingat jika mantan suaminya itu seorang anak Prajasa yang sifatnya tak jauh berbeda. "Mau diperiksa bagaimana? Darahnya sudah nggak ada!" "Kalau begitu harus diperiksa dokter, biar tahu kondisi di dalamnya!" Rajash semakin cepat berjalan, menarik tangan Melur ke ruangan. "Mas ....""Diamlah, kau sedang mengandung pewarisku!" Melur terdiam. Saat masuk ke dalam ruangan mereka disambut senyum dokter pe

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 23

    Ketika menuruni tangga, rasa nyeri pada tubuhnya muncul lagi, langkahnya melambat.Melur berhenti sebentar, satu tangannya memegang pegangan tangga."Sakit!" keluhnya. Ia menarik napas dan menunggu rasa sakit itu sedikit mereda.Pagi ini Melur akan bergabung ke meja makan untuk sarapan. Mungkin jika bukan Karena permintaan mantan suaminya, dia tidak akan mau bergabung. Beruntung hari ini tidak ada Mulan. Sarah pun terlihat langsung pergi membawa wajah judes begitu melihat Melur datang.Kini, hanya ada tiga laki-laki di sana, dan satu anak kecil yang sangat cantik, duduk di sebelah ayahnya. "Nak, kamu baik-baik saja?" tanya Prajasa. "Baik Pah," jawab Melur. "Kenapa jalannya begitu?" Deg!Jantung Rajash dan Melur seakan terhubung, sama-sama berdegup. Mereka pun saling memandang, tetapi buru-buru Melur membuang pandangannya. Prajasa bertanya begitu karena hanya dia yang memerhatikan cara jalan Melur yang tampak lambat, bahkan saat menghampiri meja dia merambat pada kursi. "Apa ad

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 22

    "Sussst, jangan keluarkan suaramu!" Di atas ranjang dan di bawah mantan suami, Melur memandangi Rajash yang sedang menatapnya juga. Ada ketakutan besar di hati, tetapi tidak mau dikatakan munafik jika Melur merindukan hal itu. Ia tidak bisa mengelak tentang perasaan, gairah, dan pikirannya. Melur menginginkan Rajash. "Mas tap—""Susssstt diam dan ikuti aku!" Kepala Melur direbahkan di atas bantal dengan gerakan perlahan. Cukup lama Rajash memandangi mantan istrinya dari atas. Di bawahnya perempuan itu tampak cantik, tak pernah pudar dari dulu. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa ia bisa menerobos aturan ayahnya sampai membuat mantan istrinya mengandung."Mas jangan natap aku kayak gitu!" Melur berusaha menghindari, dia salah tingkah. "Cantik!" pujinya. Karena tak sanggup mendapat tatapan itu, Melur mengangkat kepalanya menggapai bibir Rajash. Benar-benar perlakuan yang seimbang, mereka saling merespon. Bahkan Melur yang selalu mengingatkan status, dan menolak perlaku

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 21

    "Tunggu aku pulang aku akan menciummu sepuasnya!"Melur mengingat ucapan itu kemarin, sebelum mantan suaminya memutuskan pulang dari rumah sakit. Kini, ia sedang menunggu ucapan itu dengan debaran jantung yang tak karuan. Namun, saat ini Melur masih ditemani pembantunya yang tadi pagi disusul oleh petugas Prajasa untuk kembali mengurus nona-nya. Ya, Mina sampai bersimpuh berterima kasih kepada pria itu karena diberi kesempatan lagi untuk bekerja. "Melur sayang sama Bibik, nggak bisa bayangin nanti kalau sudah melahirkan dan Bibik aku tinggal!" Mina mengusap-usap kepala majikannya itu layaknya seorang ibu. "Kalau Nona sudah melahirkan, dan meninggalkan rumah ini, maka Bibik juga ikut pergi. Bibik akan resign untuk selamanya. Alasan Bibik memohon-mohon bertahan di sini memang untuk Nona, bukan mengeluarkan tenaga untuk semua orang di rumah ini. Setidaknya Bibik bisa memastikan Nona selamat sampai melahirkan!" Melur semakin erat memeluknya. Ia tidak pernah menemukan seorang maid yan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status