Share

Bab 3

Author: Ratu Ngarang
last update publish date: 2026-07-29 15:39:13

"Mas, ta—"

"Lihat, tanganku sibuk!" Rajash menunjukkan kedua tangannya yang sedang memegang ponsel dan gelas bekas susu, padahal semua itu bisa diletakkan.

"Aku bisa menyuapi, tapi pakai sen—"

"Apa yang kukatakan ke Papa kalau aku ada di sini?"

"Iya, iya!" Melur tampak kesal. Rajash memiliki seribu cara untuk mendapatkan keinginannya.

Ia meletakkan sendok, menyemprotkan antiseptik ke tangannya, lalu mengelapnya menggunakan tisu. Ia mulai menyomot makanan yang kemudian disodorkan ke mulut mantan suaminya.

Sengaja mengambil banyak agar Rajash sulit menerima, tetapi ia lupa mulut pria itu tak semungil ukuran tangannya. Sontak saja, suapannya mampu diraup semua.

Bukan hanya makanan yang ia terima, Rajash juga menenggelamkan jari-jari Melur ke dalam mulutnya, sehingga sesudah itu jari-jari Melur dikecap satu per satu.

"Benar kata orang, makan menggunakan tangan langsung itu lebih nikmat!"

Melur merasakan darahnya berdesir; ada perasaan aneh yang tak bisa diungkapkan.

Setiap kali ia menyuapkan makanan ke dalam mulut Rajash, ada rasa hangat yang membuat hatinya gelisah. Bayangan malam pertama saat dicumbu oleh pria itu seperti berputar-putar di kepalanya.

Sementara itu, Rajash sibuk menikmati wajah cantik Melur yang terlihat tidak nyaman karena perlakuannya.

"Hmm, tapi nanti kamu antar makanan ke kantorku, ya. Harus kamu yang memasak. Aku tunggu untuk makan siang!"

"Kok aku? Kenapa kebaikanmu minta imbalan terus? Padahal aku nggak minta kamu kayak gini, loh. Kamu yang inisiatif sendiri, tapi aku tetap balas!" gerutu Melur.

"Siapa yang bilang inisiatif? Jangan percaya diri dulu!"

"Terserah!"

"Aku rindu kamar mandiku. Boleh kamu temani aku mandi juga?"

"A-apa?"

Hari ini Melur keluar dari kamar. Niat hati ingin memasak untuk diantar ke kantor, tetapi tiba-tiba mantan ibu mertuanya datang menghampiri.

"Melur Sayang, kamu lagi nganggur, ya? Boleh bantu Mama bawain ini buat teman arisan di depan?"

Melur diam sejenak. Itu bukan perlakuan yang biasa ia dapatkan.

Tumben? Apa dia habis menelan gelas kocokan arisan? gumam hati Melur.

"Ini saja?" tanya Melur, lalu mengambil nampan yang disodorkan oleh Mulan.

"Iya, Sayang. Aku tunggu di sana, ya!"

Melur mengangguk. Meskipun Mulan pernah jahat dan jauh dari kata mertua idaman, baginya mengantar minuman bukanlah suatu hal yang berat.

Melur menguncir rambutnya yang terurai, kemudian membawa pesanan mantan ibu mertuanya itu ke depan sesuai permintaan.

Saat tiba di titik kumpul, alangkah terkejutnya ia melihat semua orang menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda. Namun, tak sedikit yang melontarkan pandangan sinis.

Tiba-tiba Sarah memanggil, "Bik, buruan kasih minumnya!"

Sebutan yang biasa dituju untuk pembantu itu membuat dada Melur panas.

Mulan, sebagai yang memerintahkan, pun tersenyum.

"Mulan, pembantumu cantik sekali!"

"Kenapa tidak memakai seragam seperti yang lain?"

"Tunggu-tunggu, itu bukannya menantumu?"

Saat itu Melur berharap Mulan memberikan penjelasan yang sesuai.

"Ya, aku belum membuatkan seragam untuknya, mungkin nanti. Dia bukan lagi menantuku. Dia berganti peran seperti perempuan-perempuan di sana!"

Melur salah telah berharap pada perempuan satu itu. Jawabannya di luar dugaan, bahkan dirinya ditunjuk sebagai orang yang sama seperti para pelayan di sana.

Jadi, ini maksud dia suruh aku antar minuman? batin Melur.

"Melur, cepetan, aku haus!"

Melur tetap tersenyum. Ia berjalan menghampiri Sarah yang meminta minumannya.

"Ini!"

Tangan Sarah sudah menengadah ingin menerima gelas, tetapi Melur menggocek.

Byurr...

"Aah, Melur!"

Tepat sekali, minuman dingin berwarna merah itu mengenai wajah Sarah.

Sekali lagi Melur melakukan hal yang sama kepada mantan ibu mertuanya. Bedanya bukan di bagian wajah, tetapi badan. Kemudian, nampan yang berisi gelas-gelas itu dibantingnya sebagai pembelaan harga diri.

"Aku bukan pembantu, aku bukan babu. Di sini, aku ratu yang sedang mengeram!" Itu adalah kata-kata sarkas dari Melur sebelum ia pergi, meninggalkan wajah syok para tamu, serta rasa kesal Mulan dan Sarah.

"Kurang ajar kamu, Melur!"

Melur masih mendengar kata-kata itu meski ia sudah melangkah ke dapur. Dari dulu ia tidak pernah takut pada dua perempuan yang selalu menganggapnya hina di rumah ini.

"Non, kenapa?"

Di dapur, Mina langsung bertanya kepada Melur yang terlihat mengatur napasnya. Seperti ada rasa kesal yang dipendam.

"Enggak ada apa-apa, Bik. Hmm, aku mau masak. Mau bawain bek—" Melur menjeda ucapannya karena teringat sesuatu.

"Bekal buat siapa?" tanya Mina.

"Buat temanku. Dia tanggung gajian, jadi aku kasihan mau bawain bekal. Dari pagi belum makan katanya," jelas Melur. Wajahnya yang gugup sangat terlihat.

"Kasihan sekali. Baiklah, ayo Bibik bantu!"

Melur melupakan emosinya. Masa bodoh apa yang akan terjadi nanti, ia tetap memposisikan dirinya sebagai nyonya di rumah. Ia tidak takut sekalipun nanti diusir.

"Hmm, Bik, akhir-akhir ini sibuk banget, ya?"

"Biasa saja, Non. Tugas kan sudah dibagi masing-masing!"

"Kalau begitu, kenapa suruh Mas Rajash yang antar susu ke kamarku?"

Mina menarik napas mendengar Melur berkata begitu. "Huh, ini yang Bibik takutkan. Non Mel salah paham. Bibik nggak pernah suruh-suruh Tuan, tapi beliau sendiri yang mau, bahkan maksa. Sudah sempat dilarang, tapi beliau punya ancamannya."

"Tuh, 'kan, tadi dia bilangnya bukan inisiatif. Dasar gengsian," gerutu Melur.

"Non, sudah Bibik katakan, Tuan Rajash mulai terobsesi. Hati-hati, ya!"

Melur mendatangi kantor. Ia langsung disambut oleh asisten Rajash.

"Mari, Nona, saya antar!"

"Terima kasih, Sekretaris Han!"

Melur tersenyum saat dituntun oleh pria pendamping Rajash. Sampai masuk ruangan, ia digiring oleh pria tersebut.

"Ah, lama sekali. Aku sudah lapar!" Rajash terlihat menurunkan salah satu kakinya yang bertumpuk, kemudian matanya menatap sang sekretaris. "Han, kau keluar!"

Sekretaris itu paham bosnya butuh ruang untuk berdua. Sebelum benar-benar keluar, ia meredupkan kaca ruangan hingga berubah buram dari yang awalnya transparan.

Melur yang merasa Rajash memanfaatkan kesempatan, mulai waswas.

"Aku butuh waktu buat memasak. Maaf kalau lama, tapi aku harus segera pulang!"

"Hmm, oke, tapi nanti sore!"

"Kamu gila, ya, Mas? Kamu mau aku berapa jam di sini?"

"Ya, sampai sore!"

Melur tak mendengarkan itu. Ia tetap ingin keluar dari ruangan mantan suaminya.

Rajash pasti akan meminta hal-hal yang tidak masuk akal, atau bisa saja menyuruhnya menyuapi tanpa sendok lagi.

"Aku pulang sekarang!"

Perempuan hamil itu langsung berjalan keluar setelah meletakkan bekal makanan untuk makan siang Rajash. Namun, saat gagang pintu sulit ditarik, Melur paham kenapa Rajash tadi tersenyum dan diam saja tanpa protes.

Sial, dia sengaja mengunci pintunya. Aduh, bagaimana ini? Melur membatin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 26

    "Suara notifikasi aku Mah, maaf memang agak aneh...." "Ohh." Melur bersyukur karena Mulan tidak menindaklanjuti perkara suara itu. "Aku masih nggak ngerti maksud Mama ke sini tengah malam untuk apa?" "Ah ini obat dari dokter gizi kamu, Mama lupa kasih tadi siang!" "Kok bisa dititipnya ke Mama bukan ke Bik Mina?" "Dia buru-buru mau ke rumah sakit karena pasiennya sekarat, dan cuma Mama yang sempat dia temui. Sebenarnya dia ada niat periksa kamu dulu, tapi katanya besok aja sekalian kamu cek kandungan." Melur membatin, "Masuk akal berarti bukan aneh-aneh." "Kenapa bengong?" "Ah enggak Mah, kalau begitu terima kasih!" "Seharusnya dari tadi siang sih disuruh minumnya. Karena lupa makanya Mama ke sini tengah malam soalnya harus buru-buru diminum!" "Ya, pasti aku minum." "Baiklah...." Perempuan itu pergi, Melur juga tergesa-gesa menutup pintu. Ia meletakkan obat yang diberikan oleh mantan ibu mertuanya itu ke sembarang tempat seakan benda tersebut tidak pentin

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 25

    Usia kandungan sudah memasuki ke-empat bulan, Melur mulai siaga, Rajash pun mulai bawel plus overprotektif. Setiap kesempatan dia selalu berkunjung ke kamar mantan istrinya, dan tentunya dengan cara seperti biasa, sembunyi-sembunyi. Begitu rapi sampai saat ini scandal terlarang mereka belum mampu diendus siapapun. Pasalnya setiap berkunjung mereka bukan hanya sekedar menanyakan keadaan, mencium atau saling memberi perhatian. Di setiap ada kesempatan yang lebar, mereka selalu melakukan hal terlarang yang sangat menentang dengan status keduanya. Gairah setelah bercerai membuat mereka lupa segalanya. "Bibik perut aku makin besar, aku gendutan ya?" "Enggak kok, tetap mungil dan justru semakin terlihat segar. Aura ibu hamil itu memang amazing," jawab Mina tersenyum. "Ini pasti cuma kata-kata penenang...." "Sudah jangan merutuki kondisi badan, sekarang tidur dan bangun pagi-pagi karena besok ada jadwal kontrol ke dokter!" "Oke!" Melur menaikkan kakinya ke atas ka

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 24

    Karena tidak mau dicek langsung oleh Rajash, akhirnya Melur terpaksa mau diajak ke rumah sakit dengan cara sembunyi-sembunyi. Alasan mereka cukup sederhana, Melur izin keluar main ke rumah Hani, sementara Rajash seperti biasa berangkat bekerja yang sebenarnya ia sedang membututi taksi yang ditumpangi Melur. Dua mobil itu berjalan beriringan sampai tiba di rumah sakit. "Mas aku malu periksanya, kita ke kantor kamu aja ya?" "Baiklah, tapi di kantor aku yang memeriksamu!" Melur menghela napas. Dia mengerti apa memeriksa yang dia maksud. Ingin sekali menentang lebih kuat. Namun, Melur ingat jika mantan suaminya itu seorang anak Prajasa yang sifatnya tak jauh berbeda. "Mau diperiksa bagaimana? Darahnya sudah nggak ada!" "Kalau begitu harus diperiksa dokter, biar tahu kondisi di dalamnya!" Rajash semakin cepat berjalan, menarik tangan Melur ke ruangan. "Mas ....""Diamlah, kau sedang mengandung pewarisku!" Melur terdiam. Saat masuk ke dalam ruangan mereka disambut senyum dokter pe

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 23

    Ketika menuruni tangga, rasa nyeri pada tubuhnya muncul lagi, langkahnya melambat.Melur berhenti sebentar, satu tangannya memegang pegangan tangga."Sakit!" keluhnya. Ia menarik napas dan menunggu rasa sakit itu sedikit mereda.Pagi ini Melur akan bergabung ke meja makan untuk sarapan. Mungkin jika bukan Karena permintaan mantan suaminya, dia tidak akan mau bergabung. Beruntung hari ini tidak ada Mulan. Sarah pun terlihat langsung pergi membawa wajah judes begitu melihat Melur datang.Kini, hanya ada tiga laki-laki di sana, dan satu anak kecil yang sangat cantik, duduk di sebelah ayahnya. "Nak, kamu baik-baik saja?" tanya Prajasa. "Baik Pah," jawab Melur. "Kenapa jalannya begitu?" Deg!Jantung Rajash dan Melur seakan terhubung, sama-sama berdegup. Mereka pun saling memandang, tetapi buru-buru Melur membuang pandangannya. Prajasa bertanya begitu karena hanya dia yang memerhatikan cara jalan Melur yang tampak lambat, bahkan saat menghampiri meja dia merambat pada kursi. "Apa ad

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 22

    "Sussst, jangan keluarkan suaramu!" Di atas ranjang dan di bawah mantan suami, Melur memandangi Rajash yang sedang menatapnya juga. Ada ketakutan besar di hati, tetapi tidak mau dikatakan munafik jika Melur merindukan hal itu. Ia tidak bisa mengelak tentang perasaan, gairah, dan pikirannya. Melur menginginkan Rajash. "Mas tap—""Susssstt diam dan ikuti aku!" Kepala Melur direbahkan di atas bantal dengan gerakan perlahan. Cukup lama Rajash memandangi mantan istrinya dari atas. Di bawahnya perempuan itu tampak cantik, tak pernah pudar dari dulu. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa ia bisa menerobos aturan ayahnya sampai membuat mantan istrinya mengandung."Mas jangan natap aku kayak gitu!" Melur berusaha menghindari, dia salah tingkah. "Cantik!" pujinya. Karena tak sanggup mendapat tatapan itu, Melur mengangkat kepalanya menggapai bibir Rajash. Benar-benar perlakuan yang seimbang, mereka saling merespon. Bahkan Melur yang selalu mengingatkan status, dan menolak perlaku

  • Hamil Setelah Bercerai    Bab 21

    "Tunggu aku pulang aku akan menciummu sepuasnya!"Melur mengingat ucapan itu kemarin, sebelum mantan suaminya memutuskan pulang dari rumah sakit. Kini, ia sedang menunggu ucapan itu dengan debaran jantung yang tak karuan. Namun, saat ini Melur masih ditemani pembantunya yang tadi pagi disusul oleh petugas Prajasa untuk kembali mengurus nona-nya. Ya, Mina sampai bersimpuh berterima kasih kepada pria itu karena diberi kesempatan lagi untuk bekerja. "Melur sayang sama Bibik, nggak bisa bayangin nanti kalau sudah melahirkan dan Bibik aku tinggal!" Mina mengusap-usap kepala majikannya itu layaknya seorang ibu. "Kalau Nona sudah melahirkan, dan meninggalkan rumah ini, maka Bibik juga ikut pergi. Bibik akan resign untuk selamanya. Alasan Bibik memohon-mohon bertahan di sini memang untuk Nona, bukan mengeluarkan tenaga untuk semua orang di rumah ini. Setidaknya Bibik bisa memastikan Nona selamat sampai melahirkan!" Melur semakin erat memeluknya. Ia tidak pernah menemukan seorang maid yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status