Share

9

Author: Pena Malam
last update publish date: 2026-05-26 08:05:13

Yongki tersenyum melihat anggukan itu, kini ia sadar situasi sudah sepenuhnya berada dalam genggamannya. Aya, gadis cantik dan polos yang sejak lama memenuhi fantasi liarnya—kini duduk diam di depannya tanpa mencoba menjauh, bahkan terlihat pasrah.

Hal itu membuat hasrat Yongki semakin sulit ditahan. Di balik celananya, kejantannya sudah menegang sejak tadi. Ia ingin sekali memperlihatkannya pada Aya, ingin sekali melihat bagaimana reaksi gadis polos itu. Namun Yongki cukup pintar untuk menah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   10

    Yongki yang sudah tak mampu lagi menahan gairahnya, tangannya langsung bergerak ke balik punggung Aya. Dengan gerakan tenang dan penuh pengalaman, ia membuka pengait bra gadis itu tanpa kesulitan. Bra itu pun terlepas perlahan. Dada Aya kini terbuka tanpa penghalang. Payudaranya tampak mulus dengan puncak merah muda yang membuat Yongki kembali menelan ludah. “Dada kamu indah sekali, Ay…” gumamnya lirih. “Sungguh indah.” Aya spontan mengangkat tangan ingin menutupinya, tetapi dengan cepat Yongki segera menahan pergelangan tangannya. “Jangan malu gitu,” bisiknya sambil menuntun kedua tangan Aya ke samping kepala gadis itu. “Dada kamu indah, dan aku suka” Aya memejamkan mata kuat. Wajahnya memerah, sementara dadanya naik turun semakin cepat. Yongki yang melihat itu semakin mengembang senyumnya, kemudian ia kembali menunduk. Bibirnya mulai me

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   9

    Yongki tersenyum melihat anggukan itu, kini ia sadar situasi sudah sepenuhnya berada dalam genggamannya. Aya, gadis cantik dan polos yang sejak lama memenuhi fantasi liarnya—kini duduk diam di depannya tanpa mencoba menjauh, bahkan terlihat pasrah. Hal itu membuat hasrat Yongki semakin sulit ditahan. Di balik celananya, kejantannya sudah menegang sejak tadi. Ia ingin sekali memperlihatkannya pada Aya, ingin sekali melihat bagaimana reaksi gadis polos itu. Namun Yongki cukup pintar untuk menahan diri. Ia tahu, terlalu terburu-buru hanya akan membuat Aya takut. Dan Yongki tidak ingin itu terjadi. Aya masih menunduk, tak berani menatap wajahnya. Jemarinya saling menggenggam di atas paha, sementara napasnya terdengar pelan namun tidak teratur. Melihat sikap itu, hati Yongki dipenuhi rasa puas. Akhirnya. Ternyata semudah ini membuatnya luluh. Pelan, jari Yongki mulai menyentuh kancing blouse pastel yang dikenakan Aya. Satu per satu ia buka dengan gerakan tenang dan hati-hati,

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   8

    Yongki lalu duduk di dekat Aya. Jarak mereka hanya selebar telapak tangan. Matanya menatap wajah gadis itu yang terlihat begitu cantik di bawah cahaya lampu kamar yang redup, terutama bibir Aya yang merah mungil terlihat sedikit mengilap karena lip balm. “Ay... jujur ya,” ucap Yongki pelan dengan suara bergetar halus. “Makin hari hidup aku tuh rasanya makin berwarna.” “Kenapa begitu?” tanya Aya pelan. Wajah gadis itu menunduk, menyembunyikan debaran jantungnya. “Nggak tahu...” jawab Yongki sambil tersenyum kecil. Tatapannya tidak lepas dari wajah Aya. “Apalagi sejak kamu datang ke kota dan kita akhirnya ketemu langsung. Rasanya dunia jadi kayak lebih berpihak sama aku.” Aya semakin terbuai oleh kata-kata itu. Semua terasa hangat dan secara perlahan menyebar sampai ke dadanya. Namun napas Aya langsung tertahan saat ia menyadari tangan Yongki mulai menyentuh jemarinya. Sentuhan itu begitu lembut. Pelan. Seolah meminta izin. Aya tidak bergerak. Ia tidak menarik tangann

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   7

    Sementara di rumah om budi, pria itu belum selesai melampiaskan hasratnya pada Mirna. Pria itu terus bergerak. Iramanya naik turun, kadang cepat, kadang pelan—seperti ingin menghukum sekaligus menikmati setiap inci tubuh Mirna. Keringat mulai membasahi dahinya, menetes ke dada, lalu jatuh ke tubuh Mirna yang sudah basah oleh peluh dan gairah. "Om… oooh…!" Mirna menjerit pelan, suaranya serak. Sudah dua kali ia mencapai puncak, tapi Om Budi masih belum menunjukkan tanda-tanda akan klimaks. Batangnya masih keras, masih tegang, masih bergerak tanpa ampun di dalam rahimnya. "Belum, Mir… Om masih belum puas," gumam pria itu dengan napas tersengal. Mereka sudah berganti posisi berkali-kali. Dari telentang, ke samping, lalu Mirna di atas—tapi tetap saja Om Budi tak kunjung puas. Kini, Mirna dalam keadaan nungging di atas sofa. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya menahan sandaran, sementara pantatnya terangkat sempurna di depan Om Budi. "Nah… gini baru mulai enak," bisik Om Budi s

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   6

    Sementara itu, di kampus, Aya baru saja selesai melakukan proses pendaftaran sebagai mahasiswi baru. Gadis itu berjalan santai mengelilingi area kampus sambil sesekali melihat gedung-gedung tinggi dan taman yang tertata rapi. Wajahnya terlihat cerah dan penuh semangat. Baginya, semua ini terasa baru. Dunia baru. Tempat yang nanti akan menjadi bagian dari hidupnya. Langkah Aya terlihat ringan. Sesekali senyum kecil muncul di bibirnya saat melihat para mahasiswa berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Saat itulah Yongki datang mendekatinya. “Aya.” Aya menoleh, lalu wajahnya langsung berubah cerah begitu melihat pria itu. “Kak Yongki...” ucapnya sambil tersenyum manis. Yongki ikut tersenyum. Hari itu pria itu tampil santai dengan kaos hitam dan jaket tipis yang membuatnya terlihat lebih dewasa di mata Aya. “Gimana pendaftarannya? Lancar?” tanyanya. Aya mengangguk cepat. “Udah semuanya lancar.” “Bagus,” ucap Yongki sambil menatap wajah gadis itu lekat-leka

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   5

    Om Budi mulai kehilangan kendali. Gairah yang ia pendam dari semalam kini meletus dalam satu sentuhan. Tangannya merayap turun dari pinggang Mirna, menyusup ke balik daster tipis yang hampir tembus pandang itu. Jari-jarinya mengelus paha bagian dalam Mirna—perlahan, dengan tekanan penuh nafsu, hingga wanita itu menggeliat di buatnya. “Oh, Om…” desah Mirna, suaranya serak, setengah tertahan. Dadanya naik turun cepat. Kain daster tipis itu menyembul. Om Budi tak sabar lagi. Ia menyibak daster Mirna ke atas dengan kasar, memperlihatkan perut mulus dan pahanya yang terbuka lebar. “Buka,” perintahnya, suara berat seperti geraman. Mirna menurut. Perlahan—sengaja memperlambat gerakan untuk menggoda—ia menarik daster tipis itu melewati kepala, lalu melepaskannya. Kain jatuh ke lantai. Kini tubuh Mirna hanya tertutup bra hitam yang nyaris transparan dan celana dalam berwarna hitam. Om Budi menatapnya tanpa berkedip. “Kamu memang sengaja, ya?” gumamnya, jari telunjuknya menyusur

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status