Partager

8

Auteur: Pena Malam
last update Date de publication: 2026-05-25 12:57:17

Yongki lalu duduk di dekat Aya. Jarak mereka hanya selebar telapak tangan.

Matanya menatap wajah gadis itu yang terlihat begitu cantik di bawah cahaya lampu kamar yang redup, terutama bibir Aya yang merah mungil terlihat sedikit mengilap karena lip balm.

“Ay... jujur ya,” ucap Yongki pelan dengan suara bergetar halus. “Makin hari hidup aku tuh rasanya makin berwarna.”

“Kenapa begitu?” tanya Aya pelan.

Wajah gadis itu menunduk, menyembunyikan debaran jantungnya.

“Nggak tahu...” jawab
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   9

    Yongki tersenyum melihat anggukan itu, kini ia sadar situasi sudah sepenuhnya berada dalam genggamannya. Aya, gadis cantik dan polos yang sejak lama memenuhi fantasi liarnya—kini duduk diam di depannya tanpa mencoba menjauh, bahkan terlihat pasrah. Hal itu membuat hasrat Yongki semakin sulit ditahan. Di balik celananya, kejantannya sudah menegang sejak tadi. Ia ingin sekali memperlihatkannya pada Aya, ingin sekali melihat bagaimana reaksi gadis polos itu. Namun Yongki cukup pintar untuk menahan diri. Ia tahu, terlalu terburu-buru hanya akan membuat Aya takut. Dan Yongki tidak ingin itu terjadi. Aya masih menunduk, tak berani menatap wajahnya. Jemarinya saling menggenggam di atas paha, sementara napasnya terdengar pelan namun tidak teratur. Melihat sikap itu, hati Yongki dipenuhi rasa puas. Akhirnya. Ternyata semudah ini membuatnya luluh. Pelan, jari Yongki mulai menyentuh kancing blouse pastel yang dikenakan Aya. Satu per satu ia buka dengan gerakan tenang dan hati-hati,

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   8

    Yongki lalu duduk di dekat Aya. Jarak mereka hanya selebar telapak tangan. Matanya menatap wajah gadis itu yang terlihat begitu cantik di bawah cahaya lampu kamar yang redup, terutama bibir Aya yang merah mungil terlihat sedikit mengilap karena lip balm. “Ay... jujur ya,” ucap Yongki pelan dengan suara bergetar halus. “Makin hari hidup aku tuh rasanya makin berwarna.” “Kenapa begitu?” tanya Aya pelan. Wajah gadis itu menunduk, menyembunyikan debaran jantungnya. “Nggak tahu...” jawab Yongki sambil tersenyum kecil. Tatapannya tidak lepas dari wajah Aya. “Apalagi sejak kamu datang ke kota dan kita akhirnya ketemu langsung. Rasanya dunia jadi kayak lebih berpihak sama aku.” Aya semakin terbuai oleh kata-kata itu. Semua terasa hangat dan secara perlahan menyebar sampai ke dadanya. Namun napas Aya langsung tertahan saat ia menyadari tangan Yongki mulai menyentuh jemarinya. Sentuhan itu begitu lembut. Pelan. Seolah meminta izin. Aya tidak bergerak. Ia tidak menarik tangann

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   7

    Sementara di rumah om budi, pria itu belum selesai melampiaskan hasratnya pada Mirna. Pria itu terus bergerak. Iramanya naik turun, kadang cepat, kadang pelan—seperti ingin menghukum sekaligus menikmati setiap inci tubuh Mirna. Keringat mulai membasahi dahinya, menetes ke dada, lalu jatuh ke tubuh Mirna yang sudah basah oleh peluh dan gairah. "Om… oooh…!" Mirna menjerit pelan, suaranya serak. Sudah dua kali ia mencapai puncak, tapi Om Budi masih belum menunjukkan tanda-tanda akan klimaks. Batangnya masih keras, masih tegang, masih bergerak tanpa ampun di dalam rahimnya. "Belum, Mir… Om masih belum puas," gumam pria itu dengan napas tersengal. Mereka sudah berganti posisi berkali-kali. Dari telentang, ke samping, lalu Mirna di atas—tapi tetap saja Om Budi tak kunjung puas. Kini, Mirna dalam keadaan nungging di atas sofa. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya menahan sandaran, sementara pantatnya terangkat sempurna di depan Om Budi. "Nah… gini baru mulai enak," bisik Om Budi s

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   6

    Sementara itu, di kampus, Aya baru saja selesai melakukan proses pendaftaran sebagai mahasiswi baru. Gadis itu berjalan santai mengelilingi area kampus sambil sesekali melihat gedung-gedung tinggi dan taman yang tertata rapi. Wajahnya terlihat cerah dan penuh semangat. Baginya, semua ini terasa baru. Dunia baru. Tempat yang nanti akan menjadi bagian dari hidupnya. Langkah Aya terlihat ringan. Sesekali senyum kecil muncul di bibirnya saat melihat para mahasiswa berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Saat itulah Yongki datang mendekatinya. “Aya.” Aya menoleh, lalu wajahnya langsung berubah cerah begitu melihat pria itu. “Kak Yongki...” ucapnya sambil tersenyum manis. Yongki ikut tersenyum. Hari itu pria itu tampil santai dengan kaos hitam dan jaket tipis yang membuatnya terlihat lebih dewasa di mata Aya. “Gimana pendaftarannya? Lancar?” tanyanya. Aya mengangguk cepat. “Udah semuanya lancar.” “Bagus,” ucap Yongki sambil menatap wajah gadis itu lekat-leka

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   5

    Om Budi mulai kehilangan kendali. Gairah yang ia pendam dari semalam kini meletus dalam satu sentuhan. Tangannya merayap turun dari pinggang Mirna, menyusup ke balik daster tipis yang hampir tembus pandang itu. Jari-jarinya mengelus paha bagian dalam Mirna—perlahan, dengan tekanan penuh nafsu, hingga wanita itu menggeliat di buatnya. “Oh, Om…” desah Mirna, suaranya serak, setengah tertahan. Dadanya naik turun cepat. Kain daster tipis itu menyembul. Om Budi tak sabar lagi. Ia menyibak daster Mirna ke atas dengan kasar, memperlihatkan perut mulus dan pahanya yang terbuka lebar. “Buka,” perintahnya, suara berat seperti geraman. Mirna menurut. Perlahan—sengaja memperlambat gerakan untuk menggoda—ia menarik daster tipis itu melewati kepala, lalu melepaskannya. Kain jatuh ke lantai. Kini tubuh Mirna hanya tertutup bra hitam yang nyaris transparan dan celana dalam berwarna hitam. Om Budi menatapnya tanpa berkedip. “Kamu memang sengaja, ya?” gumamnya, jari telunjuknya menyusur

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   4

    Motor matik besar milik Om Budi melaju membelah jalanan pagi dengan kecepatan sedang. Udara masih terasa sejuk, sementara beberapa kendaraan mulai memenuhi jalan menuju pusat kota. Tujuan mereka pagi itu adalah kampus tempat Aya akan mendaftar. Di boncengan belakang, Aya duduk dengan wajah cemberut sejak tadi. Kedua tangannya memegang ujung jaket yang dipakainya, sementara tatapannya menatap kesal ke arah jalan. Jujur saja, ia masih kesal setengah mati. Kalau bukan karena ancaman Om Budi yang bilang akan melapor ke mamanya, ia pasti sudah berangkat bersama Yongki sejak tadi. Dasar tukang ngatur, batinnya kesal. “Awas aja...” gumam Aya dalam hati. “Aku nggak bakal diem terus.” Sementara di depan, Om Budi tetap terlihat santai mengendarai motornya. Sebelah tangannya sesekali mengetuk setang. Pria itu sebenarnya sadar Aya sedang marah besar. Namun Om Budi juga tahu, gadis seusia Aya memang sedang berada masa masa puber dan bisa salah arah. Untuk itu ia tetap nekat mesti

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status