MasukSuara kecupan-kecupan basah terdengar memenuhi ruang kamar bercat pastel itu. Sekarang Fero dan Adista berada di pinggiran ranjang.
Kedua tangan wanita itu dikalungkan di leher suaminya, sementara kedua mangan Fero bertengger apik di pinggang ramping Adista. Di sela-sela ciuman panas mereka, Adista menarik lepas tali simpul piyama Fero. Satu tangannya mulai memeta pahatan tubuh lelaki itu. Dari indra perabanya, Adista bisa merasakan setiap lekuk indah tubuh sang suami. Rabaan Adista pada tubuhnya membangkitkan gairah terpendam Fero. Dia menyusul melepaskan kimono wanita itu. Ciuman mereka terlepas, dan mata Fero terpana melihat keindahan tubuh wanita yang sudah membayarnya untuk menjadi suami tersebut. Lelaki itu meneguk ludah beberapa kali. Dia salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa setelah ini. Adista melihatnya dan terkekeh pelan, kedua tangan Adista menuntun tangan Fero untuk menyentuh dua bulatan dada miliknya. Sensasi lembut dan hangat yang Fero rasakan membuat lelaki itu nyaman. "Malam ini aku milikmu, Fero. Lakukan apapun yang kamu mau, tidak perlu menahannya," bisik Adista dengan senyuman nakal bertengger di bibirnya. Kalimat itu meyakinkan Fero. Dia yang semula ragu, sekarang mulai berani memberikan remasan pelan ke area dada Adista. Desahan wanita itu pun lolos. Dia mendongakkan kepalanya, matanya terpejam, dan menggigit bibir bawahnya menahan kenikmatan yang diterimanya. Fero kembali menjamah bibir Adista, bedanya, kali ini dengan kedua tangan aktif memberikan pijatan sensual di area dada sang istri. Membuat tubuh Adista memanas, dan membalas ciuman Fero lebih bersemangat dari yang pertama kali mereka lakukan. Area bawahnya mulai basah. Tubuhnya tersengat gairah yang semakin memuncak seiring waktu. Adista bisa merasakan inti tubuh Fero juga menegang sempurna di bawah sana. Membuat dia tidak sabar untuk merasakan bagian itu menelusup masuk memenuhi kekosongan dirinya. Tanpa aba-aba, Fero mendorongnya jatuh ke atas tempat tidur. Membuatnya berguncang, disusul dengan tubuh lelaki itu yang menindihnya. Adista bisa melihat kilatan mata Fero sudah berbeda. Kali ini, lelaki itu menunjukkan kebuasannya. Adista yakin, setelah ini Fero akan memakannya sampai habis. Fero mengunci kedua tangan Adista ke atas. Lelaki itu mulai menjelajah ke area leher, dan menyapa area itu dengan lidah basahnya yang hangat. Desahan demi desahan lolos dari bibir Adista. Sebuah pekikan kecil pun terdengar ketika Fero mulai menikmati pucuk dadanya secara bergantian. "Kamu seksi sekali, Adista. Aku sangat beruntung bisa menjadi lelaki pertamamu," ucap Fero dengan napas yang memburu. "Aku tidak tahu apa aku juga yang pertama bagimu, Fero, tetapi aku juga merasakan hal yang sama. Aku tidak akan pernah menyesal menyerahkan saat pertamaku padamu." Adista membalas ucapan Fero. Dadanya naik turun, sisa-sisa kenikmatan yang dia rasakan nyaris membuatnya kehilangan kewarasan. "Ini juga saat pertamaku, Adista. Sekarang, bolehkah aku memasuki tubuhmu?" tanyanya lembut dengan tatapan penuh harap. Adista mengangguk sebagai tanda setuju tanpa ragu sedikit pun. Dia justru mendambakan ini. Dia ingin memastikan dirinya benar-benar diserahkan pada orang yang menurutnya tepat. Mendapatkan izin, Fero tidak menyiakan kesempatan. Lelaki itu bermain-main sebentar, sebelum akhirnya mulai mencoba menerobos pertahanan Adista. Rintihan kecil wanita itu terdengar saat bagian tubuh Fero berhasil menelusup di bawah sana. Sudut mata Adista basah. Fero tidak langsung bergerak. Dia mengusap air mata istrinya itu, dan mengecup keningnya lembut. "Maaf kalau aku menyakitimu, Adista," ucapnya lembut dengan satu tangan membelai rambut Adista. "Aku baik-baik aja, Fero. Sekarang kamu boleh bergerak. Aku sudah mulai nyaman dengan dia," balas Adista tak kalah lembut sambil menatap intens dua mata suaminya. Desahan penuh kenikmatan pun terdengar bersahutan setelahnya. Baik Fero maupun Adista, keduanya sama-sama ingin menuntaskan dahaga. Tidak cukup sekali, mereka mengulanginya lagi dan lagi, hingga akhirnya keduanya tepar, memilih membersihkan diri masing-masing, dan tidur berpelukan tanpa sehelai benang. Sepertinya mereka lupa tentang hubungan mereka yang sesungguhnya. Pagi harinya, Adista terbangun lebih dulu. Dia membersihkan diri, dan memakai baju santai yang sudah dipersiapkan. Tentunya dia juga siapkan pakaian untuk Fero dengan bantuan Hana. Tidak hanya itu, Adista juga menyiapkan sarapan yang dia pesan melalui layanan kamar. Memastikan Fero tidak akan kelaparan nanti. Sambil memeriksa file, sesekali tatapan Adista tertuju pada siang suami yang masih tidur pulas. Ingatannya tentang pergulatan mereka semalam membuat senyum Adista merekah. Dia menyukai semua yang ada dalam diri Fero. Beberapa menit berlalu, Adista mendengar pergerakan di atas kasur. Dia melihat Fero terbangun dan mengerjapkan matanya beberapa kali. "Pagi, Sayang," sapa Adista santai, sementara Fero terlihat terkejut mendengar sapaan dari wanita itu. "Salah ya, aku panggil suamiku sendiri dengan sebutan itu?" tanyanya yang kini berjalan mendekat ke arah ranjang. Fero menghela napas pelan. "Enggak. Aku cuma belum terbiasa. Lagipula kita... " "Ssst. Ingat, dalam perjanjian sudah aku tegaskan kalau kamu tidak boleh menganggap atau mengingatkan kalau kita menikah kontrak. Kamu dan aku pasangan normal sampai kontrak berakhir." "Ah, iya. Maaf, aku melupakan bagian itu, Adista." Wanita itu tertawa kecil. "Sudahlah, aku memaklumi karena ini hari pertama. Sekarang lebih baik kamu bersih-bersih. Aku sudah siapkan sarapan untuk kita." Fero tersenyum dan mengangguk pasrah. Dia sudah dibayar, dan sudah menandatangani perjanjian itu. Baginya tidak ada pilihan lain selain patuh pada Adista untuk sekarang. Sementara Fero mandi, Adista dengan cekatan menyiapkan pakaian lelaki itu. Beres melakukannya, Adista juga mempersiapkan sarapan dengan menatanya rapi di atas meja. Dia dengan sengaja tidak sarapan lebih dulu supaya bisa menikmatinya bersama Fero. Sementara itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Fero yang terletak di nakas tempat tidur. "Mas, kuliahku sudah selesai. Aku diizinkan ibu untuk menyusulmu ke Jakarta. Nanti aku kabarin lagi kapan pastinya. Aku rindu kamu, Mas.""Tatap mataku, Fero," ucap Adista lembut.Kedua tangannya kini beralih menangkup rahang tegas suaminya, mengabaikan tatapan sinis dari seberang meja sana. Ibu jarinya mengusap pelan pipi Fero yang menegang."Jangan biarkan kata-kata mereka merusak ketenanganmu. Ingat, kamu tidak sendirian lagi sekarang. Ada aku di sini, Sayang."Napas Fero yang semula memburu naik-turun, perlahan mulai teratur saat menyelami kedalaman tatap mata istrinya."Tapi mereka menghina almarhumah ibuku, Dis. Mereka menjadikan kematian ibuku sebagai senjata untuk memeras kita," bisik Fero dengan suara parau yang menyiratkan luka mendalam."Aku tahu, Sayang. Aku mendengar semuanya," balas Adista dengan senyum yang begitu meneduhkan. "Dan aku berjanji, aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan suamiku atau keluarganya. Duduk dan tenanglah. Biar istrimu yang mengurus parasit-parasit itu."Adista meraih punggung tangan Fero, lalu mengecupnya dengan penuh cinta dan kelembutan. Sebuah gerakan sederhana yang se
Ruang rapat VVIP di lantai dua belas itu terasa membeku. Suhu pendingin ruangan yang diputar maksimal seolah berpadu dengan ketegangan yang menguar pekat di udara. Di tengah ruangan, sebuah meja mahoni panjang memisahkan dua kubu yang saling berhadapan.Di satu sisi, Adista duduk dengan keanggunan seorang penguasa, menyilangkan kakinya dengan santai. Fero duduk tepat di sebelahnya, rahangnya mengeras dan kedua matanya menatap tajam bak elang yang siap menerkam. Di seberang mereka, Tari tersenyum congkak, diapit oleh Zia dan pengacara Surya beserta dua asistennya yang tengah menyusun tumpukan dokumen di atas meja."Mari kita persingkat waktu. Kami memiliki agenda yang padat hari ini," buka Adista dengan suara tenang yang memecah keheningan. "Silakan sampaikan tuntutan kalian."Surya berdeham, membetulkan letak kacamatanya dengan gaya profesional yang kaku."Selamat pagi, Ibu Adista, Bapak Fero. Kehadiran kami di sini adalah sebagai kuasa hukum resmi dari keluarga Nyonya Tari. Kami mem
Hening seketika menyelimuti lobi utama saat langkah tegas Fero dan Adista menggema di atas lantai. Puluhan pasang mata karyawan yang semula berbisik-bisik kini terdiam kaku, membelah jalan secara otomatis untuk memberi ruang bagi pasangan tersebut."Fero!"Zia menjerit histeris. Tanpa memedulikan tatapan puluhan orang, ia berlari kencang menerobos kerumunan dan langsung menabrakkan tubuhnya ke dada Fero. Kedua lengannya melingkar erat di leher pria itu, sementara wajahnya ditenggelamkan di ceruk bahu Fero diiringi isak tangis yang memekakkan telinga."Fero, akhirnya kamu datang! Aku tahu kamu pasti sangat merindukanku! Ayo kita pulang, Fero! Tinggalkan perempuan ini sekarang juga!" ratap Zia, air matanya membasahi kemeja mahal yang dikenakan Fero.Fero mematung selama satu detik, sebelum rahangnya mengeras. Dengan tatapan sedingin es dan raut wajah penuh penolakan, ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Zia dan melepaskan pelukan itu secara paksa. Ia mendorong tubuh Zia cukup keras
Suasana sibuk yang biasanya diwarnai oleh dering telepon dan suara ketikan di lobi utama perusahaan Adista mendadak terhenti total. Pintu kaca otomatis di bagian depan terbuka lebar, menampilkan Zia dan Tari yang melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan aura arogansi yang kental. Di belakang mereka, pengacara Surya dan dua asistennya berjalan mengekor."Maaf, Ibu. Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu? Apakah Ibu sudah membuat janji temu sebelumnya?" sapa resepsionis lobi dengan ramah, berusaha menahan rombongan itu di meja depan.Tari menggebrak meja resepsionis dengan telapak tangannya, membuat gadis penjaga meja itu tersentak kaget."Janji temu?! Kamu pikir saya butuh jadwal untuk melabrak perempuan perebut calon suami orang?!" teriak Tari, suaranya melengking tajam membelah keheningan lobi.Beberapa karyawan yang sedang melintas langsung menghentikan langkah mereka. Kepala-kepala mulai menoleh ke arah sumber keributan."Maaf, Ibu... maksud Ibu siapa?" tanya resep
Roda koper mahal bermerek Louis Vuitton itu berderit mulus di atas lantai lobi Hotel Kempinski Jakarta. Dua bellboy berseragam rapi berjalan menunduk hormat di belakang Zia dan Mama Tari, membawakan sisa barang bawaan mereka yang jumlahnya tidak sedikit untuk ukuran orang yang hanya berniat melabrak.Mama Tari mengibaskan rambut blow-nya yang sempurna, membenarkan letak kacamata hitam berbingkai emasnya meski mereka berada di dalam ruangan ber-AC yang sejuk."Tadinya Mama mau membiarkan kamu berangkat sendirian ke Jakarta, Zia. Biar kamu belajar mandiri menghadapi masalah," keluh Tari dengan nada manja, melangkah angkuh menuju lift khusus VIP. "Tapi, setelah Mama pikir-pikir lagi semalaman, mana tega Mama melepas anak gadis kesayangan Mama satu-satunya ke kota sekeras ini sendirian?"Zia langsung merangkulkan lengannya ke lengan sang ibu, tersenyum lebar dengan riasan wajah yang tebal."Makanya Zia sayang banget sama Mama! Kalau Zia berangkat sendiri, Zia pasti kebingungan, Ma. Jakar
Gerbang besi raksasa berukir tembaga itu bergerak membuka perlahan, menyambut kedatangan mobil yang membawa Fero dan Adista memasuki pelataran Kediaman Utama Adiwangsa. Bangunan bergaya Eropa klasik dengan pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi itu memancarkan kemegahan yang luar biasa.Di depan pintu utama, Kakek Hardian sudah berdiri menanti. Senyum pria paruh baya itu merekah lebar, mengalahkan gurat kelelahan di wajahnya. Rama, sang asisten setia, berdiri di belakangnya dengan sikap hormat.Begitu Fero dan Adista turun dari mobil, Hardian langsung melangkah maju dan merentangkan kedua tangannya."Selamat datang, cucuku. Selamat datang di rumahmu," sambut Hardian dengan suara bergetar menahan haru.Fero tersenyum, kali ini jauh lebih rileks dari pertemuan pertama mereka. Ia melangkah maju dan membalas pelukan kakeknya dengan hangat."Terima kasih, Kek. Rumah ini... luar biasa besar. Saya sampai bingung harus melihat ke arah mana lebih dulu," ucap Fero jujur.Hardian tertawa pelan
Alunan musik klasik mengalun indah di dalam ballroom hotel bintang lima yang disulap sedemikian rupa, menjadikan pesta pernikahan Adista dan Fero tampak begitu meriah. Di pelaminan, Adista dan Fero berdampingan seperti raja dan ratu. Mereka mengenakan pakaian pengantin dari desainer ternama. Mengu
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, tepat mengenai kelopak mata Adista. Wanita itu mendesis, merasakan sakit di kepalanya akibat semalam. Pelan-pelan, dia membuka mata. Di sampingnya, seorang laki-laki sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal di dashboard ranjang."Sudah
"Aku sejujurnya tidak rela kamu menikah dengan Adista, Stev. Aku belum siap membayangkan kamu akan melakukan hal ini bersamanya."Nada bicara Siska terdengar penuh kekhawatiran.Stevan terkekeh."Bukankah kamu tahu pasti apa tujuanku menikahi Adista, Sayang? Kenapa harus takut? Aku berani bersumpah
Seminggu lagi pernikahan Adista akan dilaksanakan dengan tunangannya, Stevan. Sore ini Adista berencana mengambil pesanan cincin, tapi mobilnya terhenti karena ada pertengkaran preman di tengah jalan sepi itu."B-Bu, mungkin kita cari jalan lain saja," bisik Hana, asisten pribadi Adista, memperlamb







