Share

Malam Kita

Author: Erumanstory
last update publish date: 2026-05-22 02:08:58

Suara kecupan-kecupan basah terdengar memenuhi ruang kamar bercat pastel itu. Sekarang Fero dan Adista berada di pinggiran ranjang. 

Kedua tangan wanita itu dikalungkan di leher suaminya, sementara kedua mangan Fero bertengger apik di pinggang ramping Adista.

Di sela-sela ciuman panas mereka, Adista menarik lepas tali simpul piyama Fero. Satu tangannya mulai memeta pahatan tubuh lelaki itu. Dari indra perabanya, Adista bisa merasakan setiap lekuk indah tubuh sang suami.

Rabaan Adista pada tubuhnya membangkitkan gairah terpendam Fero. Dia menyusul melepaskan kimono wanita itu. 

Ciuman mereka terlepas, dan mata Fero terpana melihat keindahan tubuh wanita yang sudah membayarnya untuk menjadi suami tersebut.

Lelaki itu meneguk ludah beberapa kali. Dia salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa setelah ini.

Adista melihatnya dan terkekeh pelan, kedua tangan Adista menuntun tangan Fero untuk menyentuh dua bulatan dada miliknya. Sensasi lembut dan hangat yang Fero rasakan membuat lelaki itu nyaman.

"Malam ini aku milikmu, Fero. Lakukan apapun yang kamu mau, tidak perlu menahannya," bisik Adista dengan senyuman nakal bertengger di bibirnya.

Kalimat itu meyakinkan Fero. Dia yang semula ragu, sekarang mulai berani memberikan remasan pelan ke area dada Adista.

Desahan wanita itu pun lolos. Dia mendongakkan kepalanya, matanya terpejam, dan menggigit bibir bawahnya menahan kenikmatan yang diterimanya.

Fero kembali menjamah bibir Adista, bedanya, kali ini dengan kedua tangan aktif memberikan pijatan sensual di area dada sang istri. Membuat tubuh Adista memanas, dan membalas ciuman Fero lebih bersemangat dari yang pertama kali mereka lakukan. Area bawahnya mulai basah. Tubuhnya tersengat gairah yang semakin memuncak seiring waktu.

Adista bisa merasakan inti tubuh Fero juga menegang sempurna di bawah sana. Membuat dia tidak sabar untuk merasakan bagian itu menelusup masuk memenuhi kekosongan dirinya.

Tanpa aba-aba, Fero mendorongnya jatuh ke atas tempat tidur. Membuatnya berguncang, disusul dengan tubuh lelaki itu yang menindihnya. 

Adista bisa melihat kilatan mata Fero sudah berbeda. Kali ini, lelaki itu menunjukkan kebuasannya. Adista yakin, setelah ini Fero akan memakannya sampai habis.

Fero mengunci kedua tangan Adista ke atas. Lelaki itu mulai menjelajah ke area leher, dan menyapa area itu dengan lidah basahnya yang hangat. 

Desahan demi desahan lolos dari bibir Adista. Sebuah pekikan kecil pun terdengar ketika Fero mulai menikmati pucuk dadanya secara bergantian.

"Kamu seksi sekali, Adista. Aku sangat beruntung bisa menjadi lelaki pertamamu," ucap Fero dengan napas yang memburu.

"Aku tidak tahu apa aku juga yang pertama bagimu, Fero, tetapi aku juga merasakan hal yang sama. Aku tidak akan pernah menyesal menyerahkan saat pertamaku padamu." 

Adista membalas ucapan Fero. Dadanya naik turun, sisa-sisa kenikmatan yang dia rasakan nyaris membuatnya kehilangan kewarasan.

"Ini juga saat pertamaku, Adista. Sekarang, bolehkah aku memasuki tubuhmu?" tanyanya lembut dengan tatapan penuh harap.

Adista mengangguk sebagai tanda setuju tanpa ragu sedikit pun. Dia justru mendambakan ini. Dia ingin memastikan dirinya benar-benar diserahkan pada orang yang menurutnya tepat.

Mendapatkan izin, Fero tidak menyiakan kesempatan. Lelaki itu bermain-main sebentar, sebelum akhirnya mulai mencoba menerobos pertahanan Adista. 

Rintihan kecil wanita itu terdengar saat bagian tubuh Fero berhasil menelusup di bawah sana. Sudut mata Adista basah. Fero tidak langsung bergerak. Dia mengusap air mata istrinya itu, dan mengecup keningnya lembut.

"Maaf kalau aku menyakitimu, Adista," ucapnya lembut dengan satu tangan membelai rambut Adista.

"Aku baik-baik aja, Fero. Sekarang kamu boleh bergerak. Aku sudah mulai nyaman dengan dia," balas Adista tak kalah lembut sambil menatap intens dua mata suaminya.

Desahan penuh kenikmatan pun terdengar bersahutan setelahnya. Baik Fero maupun Adista, keduanya sama-sama ingin menuntaskan dahaga. 

Tidak cukup sekali, mereka mengulanginya lagi dan lagi, hingga akhirnya keduanya tepar, memilih membersihkan diri masing-masing, dan tidur berpelukan tanpa sehelai benang. Sepertinya mereka lupa tentang hubungan mereka yang sesungguhnya.

Pagi harinya, Adista terbangun lebih dulu. Dia membersihkan diri, dan memakai baju santai yang sudah dipersiapkan. Tentunya dia juga siapkan pakaian untuk Fero dengan bantuan Hana.

Tidak hanya itu, Adista juga menyiapkan sarapan yang dia pesan melalui layanan kamar. Memastikan Fero tidak akan kelaparan nanti.

Sambil memeriksa file, sesekali tatapan Adista tertuju pada siang suami yang masih tidur pulas. Ingatannya tentang pergulatan mereka semalam membuat senyum Adista merekah. Dia menyukai semua yang ada dalam diri Fero.

Beberapa menit berlalu, Adista mendengar pergerakan di atas kasur. Dia melihat Fero terbangun dan mengerjapkan matanya beberapa kali.

"Pagi, Sayang," sapa Adista santai, sementara Fero terlihat terkejut mendengar sapaan dari wanita itu.

"Salah ya, aku panggil suamiku sendiri dengan sebutan itu?" tanyanya yang kini berjalan mendekat ke arah ranjang.

Fero menghela napas pelan.

"Enggak. Aku cuma belum terbiasa. Lagipula kita... "

"Ssst. Ingat, dalam perjanjian sudah aku tegaskan kalau kamu tidak boleh menganggap atau mengingatkan kalau kita menikah kontrak. Kamu dan aku pasangan normal sampai kontrak berakhir."

"Ah, iya. Maaf, aku melupakan bagian itu, Adista."

Wanita itu tertawa kecil.

"Sudahlah, aku memaklumi karena ini hari pertama. Sekarang lebih baik kamu bersih-bersih. Aku sudah siapkan sarapan untuk kita."

Fero tersenyum dan mengangguk pasrah. Dia sudah dibayar, dan sudah menandatangani perjanjian itu. Baginya tidak ada pilihan lain selain patuh pada Adista untuk sekarang.

Sementara Fero mandi, Adista dengan cekatan menyiapkan pakaian lelaki itu. Beres melakukannya, Adista juga mempersiapkan sarapan dengan menatanya rapi di atas meja. Dia dengan sengaja tidak sarapan lebih dulu supaya bisa menikmatinya bersama Fero.

Sementara itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Fero yang terletak di nakas tempat tidur.

"Mas, kuliahku sudah selesai. Aku diizinkan ibu untuk menyusulmu ke Jakarta. Nanti aku kabarin lagi kapan pastinya. Aku rindu kamu, Mas."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Siap Menyongsong Masa Depan

    Angin malam berembus membawa kesejukan yang menelusup hingga ke pori-pori kulit. Di atas balkon kamar yang menghadap langsung ke arah gemerlap lampu kota, Fero berdiri bersandar pada pagar kaca pembatas. Sepasang matanya menatap lurus ke depan, namun pendar di manik matanya tak lagi menyiratkan kekosongan yang mencekam seperti malam-malam sebelumnya. Ada kelegaan yang perlahan mekar di sana.Sepasang lengan ramping yang melingkar hangat di pinggangnya membuat lamunan Fero seketika buyar. Aroma parfum beraroma vanilla dan jasmine yang sangat familier menguar, menenangkan saraf-sarafnya yang sempat tegang."Udara malam ini lumayan dingin, Sayang. Kenapa kamu malah berdiri di sini tanpa memakai jaket?" tegur Adista lembut, menyandarkan pipinya di punggung lebar sang suami.Fero tersenyum tipis, meraba punggung tangan Adista yang bertaut di perutnya, lalu mengusapnya perlahan."Aku sama sekali tidak merasa kedinginan, Dis. Entah kenapa, embusan angin malam ini justru terasa sangat melega

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Di Bawah Batu Nisan

    Angin sore berembus pelan menyapu deretan batu nisan di pemakaman umum desa yang sangat sederhana. Jauh dari hiruk-pikuk kota besar, tempat ini terasa begitu sunyi dan damai. Kakek Hardian melangkah gontai dengan bantuan tongkat emasnya, dipandu oleh Fero dan Adista yang berjalan beriringan di depannya menyusuri jalan setapak berumput liar.Langkah Fero terhenti di depan sebuah gundukan tanah berselimut rumput hijau dengan batu nisan keramik putih yang mulai kusam dan berlumut di bagian ujungnya."Di sini, Kek," ucap Fero pelan, suaranya terdengar sangat parau. "Di sinilah Ibu Dewi disemayamkan."Hardian menatap batu nisan bertuliskan Dewi Damayanti itu dengan mata yang perlahan memerah. Rahangnya mengeras seketika. Napas pria tua itu memburu cepat, memancarkan gelombang amarah yang selama puluhan tahun ini ia pendam rapat-rapat."Jadi di sini kau bersembunyi, Dewi?!" suara Hardian menggelegar memecah kesunyian makam, menuding batu nisan itu dengan tongkat emasnya yang bergetar. "Di

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Dia Sudah Mati

    Suara ketukan tongkat emas yang beradu dengan lantai marmer terdengar bertalu-talu, mengiringi langkah mondar-mandir Kakek Hardian di ruang keluarga kediaman Adiwangsa. Wajah lelaki renta itu memerah, rahangnya terkatup rapat menahan amarah yang meletup-letup."Rama! Aku tidak mau tahu! Kerahkan seluruh tim pelacak terbaik yang kita miliki! Cari wanita bernama Dewi Damayanti itu sampai dapat!" perintah Hardian dengan suara menggelegar."Baik, Tuan Besar. Kami akan melacak data kependudukannya dari desa Nyonya Tari yang kemarin—""Jangan cuma dilacak dari data desa! Sebarkan detektif swasta ke seluruh pelosok negeri! Begitu kalian menemukannya, seret dia ke hadapanku hidup-hidup! Aku sendiri yang akan memastikan wanita keparat itu membusuk di penjara dengan hukuman paling berat! Dia harus membayar nyawa putra dan menantuku!""Hentikan, Rama. Batalkan perintah itu sekarang juga."Suara bariton Fero memotong ketegangan di ruangan itu. Pria itu melangkah masuk dari arah taman belakang, di

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Kakek Turun Tangan

    Asap pekat dari cerutu mahal mengepul tipis di udara, memenuhi ruang kerja klasik di kediaman utama keluarga Adiwangsa. Kakek Hardian duduk di kursi kulit kebesarannya, menatap hamparan taman luas dari balik jendela kaca.Suara ketukan pintu yang ritmis memecah keheningan ruangan tersebut."Masuk," perintah Hardian dengan suara seraknya yang berwibawa.Pintu kayu jati itu terbuka. Rama melangkah masuk dengan langkah cepat dan tegap, membawa sebuah komputer tablet di tangannya. Wajah asisten kepercayaan itu tampak jauh lebih tegang dari biasanya."Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Tuan Besar," ucap Rama seraya membungkuk hormat. "Ada sebuah laporan mendesak yang harus saya sampaikan kepada Anda siang ini juga."Hardian memutar kursinya, menatap Rama dengan alis bertaut."Laporan apa, Rama? Apakah ini berkaitan dengan kondisi kesehatan cucuku, Fero? Atau ada masalah di perusahaan istrinya?""Ini berkaitan dengan Tuan Muda Fero, Tuan Besar," jawab Rama hati-hati. "Baru saja terjadi

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Membeli Harga Diri

    "Tatap mataku, Fero," ucap Adista lembut.Kedua tangannya kini beralih menangkup rahang tegas suaminya, mengabaikan tatapan sinis dari seberang meja sana. Ibu jarinya mengusap pelan pipi Fero yang menegang."Jangan biarkan kata-kata mereka merusak ketenanganmu. Ingat, kamu tidak sendirian lagi sekarang. Ada aku di sini, Sayang."Napas Fero yang semula memburu naik-turun, perlahan mulai teratur saat menyelami kedalaman tatap mata istrinya."Tapi mereka menghina almarhumah ibuku, Dis. Mereka menjadikan kematian ibuku sebagai senjata untuk memeras kita," bisik Fero dengan suara parau yang menyiratkan luka mendalam."Aku tahu, Sayang. Aku mendengar semuanya," balas Adista dengan senyum yang begitu meneduhkan. "Dan aku berjanji, aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan suamiku atau keluarganya. Duduk dan tenanglah. Biar istrimu yang mengurus parasit-parasit itu."Adista meraih punggung tangan Fero, lalu mengecupnya dengan penuh cinta dan kelembutan. Sebuah gerakan sederhana yang se

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Tuntutan Tak Masuk Akal

    Ruang rapat VVIP di lantai dua belas itu terasa membeku. Suhu pendingin ruangan yang diputar maksimal seolah berpadu dengan ketegangan yang menguar pekat di udara. Di tengah ruangan, sebuah meja mahoni panjang memisahkan dua kubu yang saling berhadapan.Di satu sisi, Adista duduk dengan keanggunan seorang penguasa, menyilangkan kakinya dengan santai. Fero duduk tepat di sebelahnya, rahangnya mengeras dan kedua matanya menatap tajam bak elang yang siap menerkam. Di seberang mereka, Tari tersenyum congkak, diapit oleh Zia dan pengacara Surya beserta dua asistennya yang tengah menyusun tumpukan dokumen di atas meja."Mari kita persingkat waktu. Kami memiliki agenda yang padat hari ini," buka Adista dengan suara tenang yang memecah keheningan. "Silakan sampaikan tuntutan kalian."Surya berdeham, membetulkan letak kacamatanya dengan gaya profesional yang kaku."Selamat pagi, Ibu Adista, Bapak Fero. Kehadiran kami di sini adalah sebagai kuasa hukum resmi dari keluarga Nyonya Tari. Kami mem

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Hari Pernikahan

    Alunan musik klasik mengalun indah di dalam ballroom hotel bintang lima yang disulap sedemikian rupa, menjadikan pesta pernikahan Adista dan Fero tampak begitu meriah. Di pelaminan, Adista dan Fero berdampingan seperti raja dan ratu. Mereka mengenakan pakaian pengantin dari desainer ternama. Mengu

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Bersedia

    Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, tepat mengenai kelopak mata Adista. Wanita itu mendesis, merasakan sakit di kepalanya akibat semalam. Pelan-pelan, dia membuka mata. Di sampingnya, seorang laki-laki sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal di dashboard ranjang."Sudah

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Menikahlah Denganku

    "Aku sejujurnya tidak rela kamu menikah dengan Adista, Stev. Aku belum siap membayangkan kamu akan melakukan hal ini bersamanya."Nada bicara Siska terdengar penuh kekhawatiran.Stevan terkekeh."Bukankah kamu tahu pasti apa tujuanku menikahi Adista, Sayang? Kenapa harus takut? Aku berani bersumpah

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Sebuah Takdir

    Seminggu lagi pernikahan Adista akan dilaksanakan dengan tunangannya, Stevan. Sore ini Adista berencana mengambil pesanan cincin, tapi mobilnya terhenti karena ada pertengkaran preman di tengah jalan sepi itu."B-Bu, mungkin kita cari jalan lain saja," bisik Hana, asisten pribadi Adista, memperlamb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status