LOGINHening seketika menyelimuti lobi utama saat langkah tegas Fero dan Adista menggema di atas lantai. Puluhan pasang mata karyawan yang semula berbisik-bisik kini terdiam kaku, membelah jalan secara otomatis untuk memberi ruang bagi pasangan tersebut."Fero!"Zia menjerit histeris. Tanpa memedulikan tatapan puluhan orang, ia berlari kencang menerobos kerumunan dan langsung menabrakkan tubuhnya ke dada Fero. Kedua lengannya melingkar erat di leher pria itu, sementara wajahnya ditenggelamkan di ceruk bahu Fero diiringi isak tangis yang memekakkan telinga."Fero, akhirnya kamu datang! Aku tahu kamu pasti sangat merindukanku! Ayo kita pulang, Fero! Tinggalkan perempuan ini sekarang juga!" ratap Zia, air matanya membasahi kemeja mahal yang dikenakan Fero.Fero mematung selama satu detik, sebelum rahangnya mengeras. Dengan tatapan sedingin es dan raut wajah penuh penolakan, ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Zia dan melepaskan pelukan itu secara paksa. Ia mendorong tubuh Zia cukup keras
Suasana sibuk yang biasanya diwarnai oleh dering telepon dan suara ketikan di lobi utama perusahaan Adista mendadak terhenti total. Pintu kaca otomatis di bagian depan terbuka lebar, menampilkan Zia dan Tari yang melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan aura arogansi yang kental. Di belakang mereka, pengacara Surya dan dua asistennya berjalan mengekor."Maaf, Ibu. Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu? Apakah Ibu sudah membuat janji temu sebelumnya?" sapa resepsionis lobi dengan ramah, berusaha menahan rombongan itu di meja depan.Tari menggebrak meja resepsionis dengan telapak tangannya, membuat gadis penjaga meja itu tersentak kaget."Janji temu?! Kamu pikir saya butuh jadwal untuk melabrak perempuan perebut calon suami orang?!" teriak Tari, suaranya melengking tajam membelah keheningan lobi.Beberapa karyawan yang sedang melintas langsung menghentikan langkah mereka. Kepala-kepala mulai menoleh ke arah sumber keributan."Maaf, Ibu... maksud Ibu siapa?" tanya resep
Roda koper mahal bermerek Louis Vuitton itu berderit mulus di atas lantai lobi Hotel Kempinski Jakarta. Dua bellboy berseragam rapi berjalan menunduk hormat di belakang Zia dan Mama Tari, membawakan sisa barang bawaan mereka yang jumlahnya tidak sedikit untuk ukuran orang yang hanya berniat melabrak.Mama Tari mengibaskan rambut blow-nya yang sempurna, membenarkan letak kacamata hitam berbingkai emasnya meski mereka berada di dalam ruangan ber-AC yang sejuk."Tadinya Mama mau membiarkan kamu berangkat sendirian ke Jakarta, Zia. Biar kamu belajar mandiri menghadapi masalah," keluh Tari dengan nada manja, melangkah angkuh menuju lift khusus VIP. "Tapi, setelah Mama pikir-pikir lagi semalaman, mana tega Mama melepas anak gadis kesayangan Mama satu-satunya ke kota sekeras ini sendirian?"Zia langsung merangkulkan lengannya ke lengan sang ibu, tersenyum lebar dengan riasan wajah yang tebal."Makanya Zia sayang banget sama Mama! Kalau Zia berangkat sendiri, Zia pasti kebingungan, Ma. Jakar
Gerbang besi raksasa berukir tembaga itu bergerak membuka perlahan, menyambut kedatangan mobil yang membawa Fero dan Adista memasuki pelataran Kediaman Utama Adiwangsa. Bangunan bergaya Eropa klasik dengan pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi itu memancarkan kemegahan yang luar biasa.Di depan pintu utama, Kakek Hardian sudah berdiri menanti. Senyum pria paruh baya itu merekah lebar, mengalahkan gurat kelelahan di wajahnya. Rama, sang asisten setia, berdiri di belakangnya dengan sikap hormat.Begitu Fero dan Adista turun dari mobil, Hardian langsung melangkah maju dan merentangkan kedua tangannya."Selamat datang, cucuku. Selamat datang di rumahmu," sambut Hardian dengan suara bergetar menahan haru.Fero tersenyum, kali ini jauh lebih rileks dari pertemuan pertama mereka. Ia melangkah maju dan membalas pelukan kakeknya dengan hangat."Terima kasih, Kek. Rumah ini... luar biasa besar. Saya sampai bingung harus melihat ke arah mana lebih dulu," ucap Fero jujur.Hardian tertawa pelan
Angin malam berembus cukup kencang, meniup dedaunan dari tanaman hias yang berjajar rapi di balkon. Dari lantai atas rumah mewah tersebut, gemerlap lampu kota Jakarta terlihat seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi. sayangnya pemandangan memukau itu tampaknya sama sekali tidak menarik minat Fero. Pria bertubuh tegap itu berdiri mematung sambil menyandarkan kedua lengannya di pagar besi balkon, tatapannya kosong menerawang menembus pekatnya malam.Suara derit pelan pintu kaca balkon yang digeser menyadarkan Fero dari lamunannya. Adista melangkah keluar dengan piyama satin yang lembut, membawa sebuah nampan kayu berisi dua cangkir porselen yang mengepulkan asap tipis. Ia meletakkan cangkir tersebut di atas meja rotan kecil di sudut balkon, lalu berjalan mendekati suaminya.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Adista menyusupkan kedua lengannya ke pinggang Fero, memeluk pria itu dari belakang dengan sangat erat. Ia menyandarkan pipinya ke punggung Fero yang lebar dan hangat."Kenapa
Suasana lobi yang bising oleh bisik-bisik dan tatapan penasaran puluhan karyawan membuat Adista segera mengambil alih kendali. Ia tidak ingin momen pribadi dan sangat emosional suaminya ini menjadi tontonan publik lebih lama lagi."Maaf, Tuan Hardian," sela Adista dengan suara lembut. "Lobi ini terlalu terbuka. Sangat tidak nyaman untuk membicarakan hal sepribadi ini di tengah banyak orang."Hardian menyeka air matanya, menatap Adista dengan sisa-sisa isak tangisnya."Kau... kau adalah istri dari cucuku?""Benar, Kek," jawab Adista, sengaja menggunakan panggilan hormat untuk menghargai pria tua di hadapannya. "Saya Adista, istri Fero. Sebagai cucu menantu Kakek, saya ingin mengundang Kakek naik ke ruangan eksklusif kami di lantai atas. Mari kita lanjutkan pembicaraan ini di sana, di tempat yang lebih tertutup dan nyaman."Hardian mengangguk pelan, raut wajahnya melembut melihat sikap anggun Adista."Terima kasih, Nak Adista."Adista menoleh dengan cepat ke arah asistennya yang masi
Suara kecupan-kecupan basah terdengar memenuhi ruang kamar bercat pastel itu. Sekarang Fero dan Adista berada di pinggiran ranjang. Kedua tangan wanita itu dikalungkan di leher suaminya, sementara kedua mangan Fero bertengger apik di pinggang ramping Adista.Di sela-sela ciuman panas mereka, Adist
Alunan musik klasik mengalun indah di dalam ballroom hotel bintang lima yang disulap sedemikian rupa, menjadikan pesta pernikahan Adista dan Fero tampak begitu meriah. Di pelaminan, Adista dan Fero berdampingan seperti raja dan ratu. Mereka mengenakan pakaian pengantin dari desainer ternama. Mengu
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, tepat mengenai kelopak mata Adista. Wanita itu mendesis, merasakan sakit di kepalanya akibat semalam. Pelan-pelan, dia membuka mata. Di sampingnya, seorang laki-laki sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal di dashboard ranjang."Sudah
Seminggu lagi pernikahan Adista akan dilaksanakan dengan tunangannya, Stevan. Sore ini Adista berencana mengambil pesanan cincin, tapi mobilnya terhenti karena ada pertengkaran preman di tengah jalan sepi itu."B-Bu, mungkin kita cari jalan lain saja," bisik Hana, asisten pribadi Adista, memperlamb







