分享

Bab 4

作者: Ziana
Selama bertahun-tahun ini, syal, dasi kupu-kupu, kaus kaki, hingga pakaian hangatnya semuanya dirajut sendiri olehku.

Pagi itu, aku melihat Laras mengucapkan selamat ulang tahun pada Ferdi di media sosialnya.

Di situ terselip kartu sambutan dari Hotel Akasya yang tersohor itu.

Aku pun mematikan pengingat di ponsel lalu fokus mempelajari materi konselor psikologi.

Setelah bercerai nanti, bagaimanapun juga aku harus memiliki kemampuan untuk menopang hidupku sendiri.

Syukurlah, meski ingatanku menurun, kemampuan belajarku tidak ikut melemah.

Bahkan karena hatiku tidak lagi terpaku pada Ferdi, efisiensi belajarku justru meningkat tanpa diduga.

Saat jarum jam menunjuk pukul sepuluh malam, aku baru selesai mandi dan bersiap tidur.

Tetapi aku menerima telepon dari Ferdi.

Aku bingung kenapa dia tiba-tiba punya waktu meneleponku.

Tidak disangka, begitu panggilan tersambung, nada bicaranya terdengar tidak biasa.

"Shania, kamu benar-benar udah lupa hari ini hari apa?"

Aku melihat unggahan foto pemandangan malam hotel dari Laras lima menit sebelumnya.

Tiba-tiba aku merasa tidak mengerti dirinya lagi.

"Ferdi, hari ini aku agak lelah. Aku tidur dulu ya, besok aja kita bicara."

Setelah telepon ditutup, Ferdi termenung.

Semua kenangan tentang bagaimana aku selalu merayakan ulang tahunnya setiap tahun tiba-tiba membanjiri pikirannya.

Hatinya mendadak terasa pahit dan sesak.

Seakan-akan ada bagian penting dari hidupnya yang sedang perlahan-lahan hilang.

Perasaan kehilangan dan tersakiti itu datang begitu tiba-tiba hingga membuatnya tidak siap.

Bahkan saat melihat Laras mengenakan gaun tidur merah yang menggoda, dia tiba-tiba merasa hambar.

Jantungnya berdebar keras sesaat.

Dia berusaha keras menepis pikiran-pikiran kacau dalam hatinya, lalu kembali tenggelam dalam kelembutan wanita itu. Mereka pun bercumbu penuh gairah sepanjang malam.

Setelah Ferdi tertidur, Laras sengaja berpose menggoda lalu memotret dirinya dan kembali mengunggahnya ke media sosial.

Tas bermerek di sampingnya sama mencoloknya dengan gaun merah yang dia kenakan.

[Ulang tahun pacarku tapi malah aku yang dikasih hadiah. Sampai bingung sebenarnya siapa yang ulang tahun. Aku benar-benar cinta padanya.]

Kolom komentarnya dipenuhi ucapan selamat.

Keesokan paginya saat aku melihat unggahan itu, aku sampai linglung sesaat sebelum teringat bahwa pacarnya adalah suamiku.

Obat ini benar-benar aneh.

Sepertinya obat itu tidak menghapus ingatanku berdasarkan urutan waktu.

Melainkan berdasarkan ingatan yang berhubungan dengan seseorang.

Aku menyadari bahwa ingatanku tentang Ferdi sudah sangat sedikit.

Aku hanya tahu dia adalah suamiku. Dan aku juga tahu dia berselingkuh.

Tetapi apa saja yang sebenarnya pernah terjadi di antara kami, hampir semuanya sudah kulupakan.

Bahkan perasaanku terhadapnya pun sudah begitu samar hingga nyaris tidak ada.

Aku bahkan ikut-ikutan menekan tombol suka pada unggahan Laras.

Aku bersumpah, aku melakukannya dengan tulus.

Usia Ferdi jauh lebih tua darinya. Ibarat yang tua dapat daun muda.

Kalau dipikir-pikir, jelas dia yang sangat diuntungkan.

Sampai-sampai aku sendiri ikut merasa malu.

Apakah ini yang disebut suami istri satu kesatuan?

Hahaha.

Aku sampai tertawa sendiri karena pikiran itu.

Jadi saat Ferdi membuka pintu dan masuk, dia langsung melihatku yang sedang tersenyum cerah.

Ekspresi bersalah di wajahnya tiba-tiba berubah suram.

Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya, "Ada apa sampai senang begitu? Semalam aku …. "

Aku menatapnya dengan bingung.

"Memangnya semalam kenapa?"

Kata-katanya tertahan di bibir, lalu pada akhirnya tidak dilanjutkan.

Melihat itu, aku berdiri dan berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Aku menggoreng telur dan roti, lalu membuat sedikit salad buah dan susu.

"Kalau belum makan, makan aja sekalian." Aku mengajak Ferdi dengan santai.

Awalnya dia berjalan mendekat dengan senang, tetapi wajahnya langsung berubah.

"Shania, aku alergi susu. Kamu lupa?"

Aku tertegun.

"Oh ya? Maaf, aku lupa. Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini banyak hal tentang kamu yang aku nggak ingat lagi. Sebenarnya ada apa?"

"Dulu kenapa kita bisa bersama, ya? Aneh sekali, kenapa justru hal-hal tentang kamu yang terlupakan?"

Wajah Ferdi makin muram setelah mendengar perkataanku, seolah emosinya hampir meledak.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 10

    "Sejujurnya, aku udah nggak terlalu ingat masa lalu kita."Mendengar ucapanku, kedua matanya memerah, tetapi dia masih berusaha tersenyum."Shania, kali ini aku datang buat ngakuin sesuatu sama kamu. Aku nggak berharap kamu maafin aku, tapi menurutku kamu berhak tahu kebenarannya.""Enam bulan lalu, aku pernah kasih kamu obat yang aku bilang vitamin, kamu masih ingat?""Sebenarnya itu bukan vitamin, tapi obat yang sengaja aku kembangin untuk bikin orang kehilangan ingatan jangka pendek. Obat itu bahkan belum diumumkan ke publik oleh laboratorium."Sambil berbicara, dia menundukkan kepalanya perlahan.Suaranya mulai terdengar berat."Aku lakuin semua itu karena saat itu aku merasa udah jatuh cinta sama orang lain. Tapi kamu pernah sangat berjasa buatku, jadi aku nggak sanggup ngajuin cerai secara langsung.""Karena itu aku kepikiran cara ini. Obat itu bisa bikin ingatanmu selama tujuh tahun hilang, tepat kembali ke masa sebelum kita nikah.""Kamu percaya banget sama aku. Kamu minum obat

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 9

    Produk ini secara khusus ditujukan bagi kelompok paruh baya hingga lanjut usia yang memiliki kondisi fisik lemah. Selain itu, ramuan tersebut juga disesuaikan dengan iklim setempat serta kebiasaan makan masyarakat sekitar.Dari situ, racikan yang kubuat terus berkembang menjadi lebih baik dan lebih matang.Setelah melalui uji klinis berskala besar di rumah sakit, aku terus melakukan penyempurnaan dan penyesuaian berulang kali.Pada akhirnya, aku berhasil mengembangkan resep obat tradisional yang paling cocok untuk kondisi tubuh lansia di daerah setempat.Khasiatnya sangat efektif bagi penderita rematik.Karena aku terus melakukan pengobatan gratis, ditambah kabar dari mulut ke mulut di antara warga,namaku mulai sedikit terkenal di daerah setempat.Bahkan ada wartawan yang datang untuk mewawancaraiku.Awalnya aku agak ragu.Tujuan awalku datang ke sini hanya ingin menjalani hidup dengan tenang.Namun, para wanita di sini semua mendorongku untuk menerima wawancara itu.Jadi akhirnya aku

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 8

    Aku membeli nomor lokal baru.Selama beberapa hari ini, selain mengobrol dengan orang-orang di penginapan, aku juga sering keluar berjalan tanpa tujuan.Tempat ini entah kenapa mampu membuat hati menjadi tenang.Di wajah setiap orang terpancar senyum yang hangat dan menenangkan.Secara jujur, kehidupan materi mereka sebenarnya tidak bisa dibilang berlimpah.Tapi di tengah keindahan alam yang seperti lukisan ini, semua penilaian dunia perlahan memudar dan tak lagi penting.Selama bertahun-tahun ini aku memang tidak bekerja, tetapi setelah laboratorium medis Ferdi mulai menghasilkan keuntungan, dia pernah memberiku sebagian dividen.Aku menggunakan uang itu untuk berinvestasi dan memperoleh cukup banyak keuntungan.Selain itu, aku juga rutin mengirim artikel ke sebuah majalah sehingga memiliki penghasilan sendiri dari honor tulisan.Setelah mengunjungi beberapa desa, aku membuat sebuah keputusan.Aku akan melakukan pengobatan gratis.Sebenarnya dibanding Ferdi, kecintaanku pada dunia med

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 7

    Aku hanya bisa menelusuri album foto lama dan mencarinya perlahan satu per satu.Dulu, karena dia terlalu sibuk bekerja hingga tak bisa makan teratur, aku selalu berusaha membuatkan bekal khusus untuknya dengan penuh perhatian. Semua kenangan indah itu kusimpan di ponselku.Pukul tujuh malam, aku meneleponnya.Belum lagi sempat berbicara, aku sudah mendengar suara manja Laras dari seberang sana."Kamu nggak boleh angkat telepon. Pokoknya aku belum cukup senang, sini kasih ke aku."Setelah suara berdesir samar terdengar beberapa saat, barulah Ferdi mulai berbicara, "Shania, hari ini ada urusan di laboratorium, aku nggak pulang. Ada apa?"Aku menatap meja penuh makanan kesukaannya lalu menutup telepon dengan pasrah.Aku tidak bisa bilang ini rasa kecewa, hanya ada sedikit rasa iba dan penyesalan untuknya.'Ferdi.''Ini kesempatan terakhir yang bisa aku beri padamu.' Setelah menutup telepon, aku sama sekali tidak terpengaruh dan menikmati hidangan itu dengan tenang.Sebenarnya banyak maka

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 6

    Sampai-sampai sudah mulai memaksaku mundur dari rumah ini?Aku masih ingat tujuan Ferdi menyuruhku minum obat. Dia bersikeras aku harus menyelesaikan satu siklus penuh. Karena dia takut kalau berhenti di tengah jalan, ingatanku tidak akan hilang sepenuhnya.Dia takut suatu hari aku malah teringat kembali hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman.Tenang saja, sebentar lagi aku akan memberi ruang untuk kalian.Aku bukan tipe orang yang bertahan tanpa tahu diri.Saat aku sedang menggerutu dalam hati, Laras tiba-tiba masuk dengan wajah sangat tidak senang.Senyuman di wajahnya tampak begitu dipaksakan."Kak Shania, di laboratorium ada hal penting yang harus segera ditangani sama Pak Ferdi. Boleh kami pinjam dia sebentar?"Ferdi yang berada di belakangnya tidak sempat menghentikannya.Wajahnya tampak sedikit tidak sabar.Melihat mereka seperti itu, tiba-tiba aku merasa semuanya hambar dan tak lagi menarik.'Ferdi.''Kamu benar-benar bodoh.''Di dunia ini, semua hubungan pasti akan melewati

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 5

    Aku sendiri tak bisa menjelaskan makna tatapan itu.Ada penyesalan mendalam dan rasa kehilangan yang begitu kuat di dalamnya."Shania, dulu waktu aku pertama kali datang ke rumah sakit, semua orang merasa aku sulit didekati. Kamu orang pertama yang dekatin aku.""Bersama kamu, bikin aku ngerasa tenang tanpa alasan yang jelas.""Nggak terasa, kita udah bersama selama sembilan tahun."Saat mengatakan itu, suaranya pun terdengar sedikit tercekat.Tiba-tiba dia terdiam. Kemudian mendadak memalingkan wajah ke arah lain.Tanpa sadar aku mengangkat kepala dan melihat kedua matanya memerah.Aku pun ikut tertegun.Walau banyak kenanganku yang sudah kabur, tapi samar-samar aku ingat, selama bertahun-tahun ini sepertinya aku hanya pernah melihatnya menangis sekali.Itu saat ibunya meninggal dan dia tak sempat melihat untuk terakhir kalinya.Setelah menempuh perjalanan jauh untuk kembali, dia melihatku berdiri tenang di depan sisa abu yang telah dibakar.Dengan hati-hati dan lembut, aku memunguti

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status