MasukPernikahan Paula dan Rakha akhirnya digelar tiga bulan kemudian. Sejak hari di mana Nadira tahu soal pertunangan sahabatnya, ia mendadak dipenuhi urusan pernikahan Paula. Sahabatnya itu benar-benar melibatkannya dalam urusan sepenting itu dalam hidupnya. Tak mau membuat Paula kecewa, Nadira mengerahkan semua yang ia bisa untuk mendukungnya.Pernikahan ini merupakan dedikasi Nadira bahwa ia sungguh-sungguh dengan persahabatannya, terbukti acara berlangsung meriah dan mewah. Paula begitu senang dan bersyukur sudah menyerahkan urusan pernikahan ini pada sahabatnya itu. Ia begitu puas dengan hasilnya.“Gimana, nih? Kapan kamu nyusul?” gurau Rakha yang berdiri di sisi kiri Paula.Ketiganya sedang sesi foto bersama. Nadira yang berdiri di sebelah kanan Paula segera menyahut tapi mencoba tetap tersenyum di depan kamera yang sedang mengambil foto mereka. “Setelah aku dikasih ponakan dari kalian.”Paula refleks mencubit kecil pinggang Nadira lalu tertawa malu. Sedangkan Nadira dan Rakha malah
Nadira memberanikan diri untuk mengikuti intuisinya. Dia sudah memikirkannya matang-matang hampir sebulan ini. Hari ini juga, dia akan mengajukan gugatan cerai kepada suaminya, Aryan.Sekalipun Aryan sudah menangis sejadi-jadinya, bahkan bersujud di bawah kakinya agar dirinya batal meminta talak, nyatanya Nadira tetap pada pendiriannya. Dengan bantuan Paula dan dukungan dari keluarganya sendiri, Nadira mengambil keputusan terbesar ini untuk menyudahi penderitaannya.Memang sangat sakit, tetapi jika ini akhir yang harus dijalani, mau bagaimana lagi. Pernikahan yang ia pikir akan selamanya ... kandas karena lelah. Lelah sebab tak bisa lagi untuk terus menemukan alasan untuk mempertahankannya.“Nad, kamu siap?” tanya Paula yang berdiri di sampingnya.Tangan keduanya bertaut erat di depan gedung pengadilan agama. Tempat yang tak pernah terlintas di benak Nadira bahwa dia datang hanya untuk mengajukan perceraian.“Aku siap, La. Tolong terus temani aku, ya,” ujar Nadira dengan suara lemah.
Nadira menangis sendirian di kamarnya setelah berhasil mengusir tiga orang yang begitu menyakitinya. Dia sungguh tak tahu, apakah keputusannya ini adalah yang terbaik. Atau malah, apa yang dia lakukan adalah bodoh. Membiarkan Aryan pergi dan melepaskan status pernikahan mereka, sama sekali tak pernah ada dalam rencana hidupnya.Dia pikir, selamanya hanya akan mencintai dan terus bersama Aryan. Biar pun sang mertua tidak kunjung memberikan restu bahkan hingga pernikahan mereka terjalin lama, Nadira mengira itu akan bisa dia lewati. Selama Aryan selalu di sisinya dan mendukungnya, dia pikir akan baik-baik saja.Namun, harapan itu akhirnya kandas. Pernikahan yang diawali dengan cinta di antara mereka, nyatanya tetap bisa hancur hanya karena restu yang tak kunjung didapat.“Nadira! ... Nadira, kamu di dalam, kan?!”Gedoran keras di pintu rumahnya membuat Nadira menghentikan tangisannya sejenak. Dia mengusapnya dengan buru-buru lalu berusaha bangun untuk membukakan pintu.Saat pintu baru t
Nadira membuka pintu kamarnya. Dia yang keluar dengan membawa beberapa tas besar langsung disambut oleh Aryan dan Erlina yang kemungkinan besar sejak tadi menungguinya di depan pintu. Aryan awalnya terlihat lega saat mendekat, tetapi ketika dia bermaksud ingin memeluk Nadira, wanita itu langsung menolak kasar dan malah melemparinya tas besar yang sedang dipegangnya.“Mbak Nad ... aku dan Mas Aryan memang ada main di belakangmu. Namun, harusnya Mbak Nadira juga bisa memahami alasan kami melakukan itu. Mbak Nadira sibuk dengan kerjaan, Mas Aryan di sini kesepian. Belum lagi, kalian memang terlibat perang dingin beberapa waktu lamanya. Aku hanya ingin menghibur Mas Aryan saja, Mbak. Nggak lebih, kok.”Erlina bicara seolah tidak merasa bersalah sedikit pun. Nadira yang mendengarnya dibuat geram tak karuan. Ingin sekali rasanya Nadira memborbardir Erlina maupun Aryan dengan banyak umpatan. Namun, dia terlalu muak melihat kedua manusia di depannya sekarang. Atau memang mereka sudah kehilang
“Nad, kamu salah paham. Dengerin dulu penjelasanku,” pinta Aryan untuk ke sekian kalinya.Nadira berjalan cepat masuk ke kamarnya, diikuti langkah kaki Aryan yang tidak kalah cepatnya. Aryan masih berusaha mengajak bicara Nadira, membuat atensi istrinya itu agar mau mengarah padanya.Saat ini, Nadira sudah menulikan pendengaran. Dia bergerak ke arah lemari pakaian, mengeluarkan segala baju milik Aryan untuk dibuang keluar begitu saja.Melihat hal demikian, Aryan seketika panik. Dia kembali memohon sambil memeluk tubuh Nadira dari belakang, menyuruhnya untuk berhenti dan mendengarkan penjelasannya dengan tenang. Amarah Nadira terlalu meledak untuk dirinya imbangi.“Aku minta maaf. Aku mengaku salah, Nad. Tapi dengar dulu penjelasanku. Semua ini terjadi bukan karena tanpa sebab. Aku khilaf!”Rasanya Nadira ingin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Aryan. Masih saja tidak mau mengakui pengkhianatannya. Bahkan masih punya muka untuk bilang semua ini beralasan.‘Memang ada alasan yang
Nadira memutuskan pulang lebih dulu ke kotanya. Tanpa memberi tahu siapa pun bahkan suaminya sendiri. Pikirannya terlalu kalut untuk menghadapi kenyataan soal apa yang Juan ucapkan beberapa jam yang lalu. Kini, ia sedang duduk sendirian di kursi bus. Otaknya penuh dengan nama Juan dan juga nama suaminya sendiri. Dia merasa seperti penjahat.Dia punya firasat tentang apa yang akan diperbuat Juan. Dia tahu itu, tetapi tetap memilih menemuinya. Itu suatu kesalahan besar yang menjadikannya sebagai penjahat. Dia mengkhianati suaminya, Aryan.Nadira menggigit bibir bawahnya resah. Dia mengabaikan panggilan telepon dan pesan yang Juan kirimkan terus-menerus. Lelaki itu pasti sedang sibuk mencarinya.“Aku tidak akan menghancurkan rumah tanggaku sendiri demi perasaan yang belum jelas ini,” gumamnya mempertahankan sikap tak acuhnya pada notifikasi ponsel dari Juan.Nadira tidak mau membiarkan atau memberi celah bagi siapa pun untuk jadi duri di pernikahannya. Sekalipun orang itu adalah Juan, le
Nadira berdiri di teras, menatap punggung Paula yang menjauh bersama suara motornya. Tatapan itu ia tahan beberapa detik lebih lama dari seharusnya, seakan ia ingin menarik kembali rasa aman yang ikut pergi bersama sahabatnya itu.Begitu motor menghilang di tikungan, keheningan jalan kompleks itu te
Paula menurunkan kecepatan ketika motor memasuki gang rumah Nadira. Lampu-lampu teras dari rumah tetangga sudah mulai menyala, tapi rumah Nadira tampak paling terang di antara semuanya. Terlalu terang dari biasanya.Motor berhenti tepat di depan pagar. Nadira turun lebih dulu, melepas helm dengan t
Sejak tiba di kantor, langkah Nadira tidak pernah benar-benar stabil. Pikirannya masih tertinggal di teras rumahnya, tepat di titik ketika ia melihat ibu mertuanya dan Erlina berdiri sambil membawa koper besar. Suara keyboard, lalu-lalang karyawan, bahkan laporan yang menunggu dicek terasa jauh di
Saat malam turun dan lampu-lampu kecil dinyalakan di sekitar area, mereka akhirnya membereskan barang-barang. Udara benar-benar dingin, namun wajah mereka hangat oleh tawa dan kepuasan.“Aku seneng banget hari ini,” ucap Paula sambil membuka pintu mobil.Nadira tersenyum. “Aku juga sama.”Raka meli







