LOGINSejak keluar dari cafe sorot mata Figo tampak kelam. Tetapi pria itu tidak melepaskan tangan Sora dari genggaman eratnya.Sora memperhatikannya dengan perasaan sedikit takut. Sebab dia tahu sorot mata itu tampak berbahaya.Setibanya di area parkir, Figo membuka pintu mobil untuk Sora, lalu menunduk untuk membantu memakaikan sabuk pengaman wanita itu.“Kamu marah?” Sora mengulum senyum seraya menangkup rahang pria itu yang mengeras. Lantas menarik wajahnya agar menatapnya. “Ekspresimu menakutkan sekali, Figo.”Sentuhan tangan Sora di rahangnya membuat ketegangan di wajah Figo perlahan mengendur. Sorot matanya seketika melembut saat menatap Sora. Helaan napas kasar keluar darinya.“Laki-laki itu menggodamu dengan terang-terangan,” desis Figo, “dia berani menyentuh tanganmu, menatapmu lama-lama, bahkan memujimu.” Lagi, dia mengembuskan napasnya kasar. Seolah hal itu bisa melepaskan amarah yang bergumul di dalam dadanya.“Lalu? Apa yang akan kamu lakukan untuk menghentikan dia agar tidak
“Kenapa ngikutin aku? Bukannya kamu harus ke kantor?”“Aku nggak bisa membiarkanmu bertemu klienmu hanya berdua saja.” Figo mendorong pintu cafe di hadapan mereka. “Aku akan memastikan kamu tetap aman.”Sora menghela napas panjang dan tidak berusaha mengusir Figo. Percuma. Kalau pria itu sudah bersikukuh, tidak ada yang bisa menghentikannya.“Tapi jangan khawatir, aku nggak akan mengganggu meeting kalian,” lanjut Figo seraya tersenyum pada Sora.Senyum yang membuat Sora justru merasa waspada. Sebab senyum itu seperti menyembunyikan banyak makna.“Suamiku CEO tapi aku merasa dia pengangguran,” gumam Sora, yang membuat Figo terkekeh kecil.Sora masuk lebih dalam seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mencari kliennya yang bernama Christian. Figo mengikutinya, merangkul pinggangnya dengan posesif.“Nah, itu dia,” kata Sora sembari menatap seorang pria berkemeja putih yang duduk di meja dekat jendela, membelakangi mereka.Figo mengikuti arah pandang Sora. Rahangnya seketika
“Kamu akan bertemu klienmu yang bernama Chris itu hari ini?”Sora terkejut mendengarnya. “Kok kamu tahu?”“Aku dengar waktu kamu meeting dengannya minggu kemarin,” ujar Figo seraya mengeratkan pelukannya di perut Sora lalu menghidu aroma tubuhnya dalam-dalam di ceruk leher. “Aku akan mengantarmu.”“Baiklah.” Sora menghela napas pelan. “Tapi tolong lepas dulu pelukanmu, kerjaanku jadi nggak selesai-selesai dari tadi.”Menata makanan di atas meja yang seharusnya bisa selesai dalam waktu kurang dari lima menit, menjadi lebih lambat karena pelukan Figo di belakangnya membuat gerak Sora terbatas.“Sayangnya, aku nggak mau melepaskanmu.”“Figo, Ya Tuhan. Shopie bisa terlambat.”“Kalau begitu beri aku hadiah.”Mata Sora merotasi malas. Tetapi pada akhirnya dia menoleh lalu mengecup bibir Figo sejenak, yang membuat pria itu tersenyum dan melepaskan pelukannya.Sora hanya geleng-geleng kepala sembari memindahkan sandwich dari pemanggang ke atas meja.Figo membantunya menyiapkan minuman untuk m
“Apa dindingnya nggak bisa ditutup?” tanya Figo frustrasi ketika dia akan mencium Sora tetapi wanita itu menjauh karena alasan dinding kaca–yang membuat karyawannya di luar sana bisa melihat aktifitas mereka di dalam.“Bisa. Tapi nggak kedap suara.” Sora mendelik kecil. “Jadi kalau kamu macam-macam setidaknya kamu akan membuatku malu di depan karyawanku karena mereka mendengar suara aneh dari sini.”Figo menjauhkan wajahnya dari Sora yang terhalang meja. Berdiri tegak. Kemudian melangkah memutari meja dan berhenti di samping wanita itu.Sora seketika waspada saat Figo memutar kursinya hingga mereka berhadapan.Dengan santai pria itu menekan sebuah tombol di sisi meja.Dalam hitungan detik seluruh dinding kaca berubah buram, memutus pandangan dari luar.“Sekarang mereka nggak bisa melihat lagi.”“Figo,” desis Sora sembari melotot. “Jangan macam-macam.”Figo tersenyum kecil lalu mengungkung Sora dengan kedua tangan yang tersimpan di lengan kursi.“Kamu masih marah karena foto itu?”Sora
Sora benar-benar tak habis pikir bahwa ternyata Figo adalah pria yang sangat pencemburu. Tetapi pria itu akan langsung luluh setelah Sora memberinya ciuman.“Dia benar-benar aneh,” gumam Sora sembari tersenyum kecil lalu menyalakan iPad-nya.Hari ini Sora sudah kembali ke Skyline setelah lebih dari satu minggu menemani Figo di rumah.Begitu pula dengan Figo. Luka di perut Figo sudah mulai mengering dan dia sudah kembali beraktifitas, hanya saja dokter belum mengizinkan Figo melakukan aktifitas berat.Saat Sora sedang sibuk dengan pekerjaannya, pintu ruangannya diketuk lalu Elian masuk dengan seikat buket bunga dan paper bag kecil di tangannya.Sora tidak perlu bertanya siapa pemberi bunga itu. Dia sudah bisa menebaknya.“Sebentar lagi ruanganku akan berubah jadi florist, Elian,” gumam Sora, yang membuat Elian tersenyum kecil.“Pak Figo benar-benar pria yang sangat romantis.” Elian menaruh bunga dan paper bag itu di atas meja Sora.“Ya kurasa kamu benar,” timpal Sora. Dan dia juga pria
“Kamu cemburu?” Sora menatap Figo seraya menahan senyum. Ketegangan di wajah Figo seketika mengendur melihat senyuman wanita itu. Senyuman yang membuat Figo ingin mengurung Sora seharian penuh dan tak membiarkan lelaki manapun melihat senyumannya. “Benar. Aku cemburu.” Figo mengembuskan napas kasar. “Aku nggak peduli siapapun dia, jika sekali lagi dia menggodamu itu artinya dia sedang menantangku.” Sora menahan napas melihat keseriusan dalam wajah suaminya itu. Pria itu tidak akan main-main dengan ucapannya. Sora tahu. Dan sebelum api cemburu membakar hangus diri Figo, Sora harus segera memadamkannya. Kedua tangan Sora terangkat lalu menangkup rahang kasar Figo. Dikecupnya bibir tipis itu dengan ringan, membuat wajah Figo seketika menegang. “Sora.” “Berhenti cemburu.” Sora tersenyum kecil seraya mengusapkan ibu jarinya di sudut bibir Figo. “Jangan buang-buang energimu untuk sesuatu yang nggak penting. Oke?” Bibir Figo terbuka hendak berbicara, tetapi Sora sudah lebih dulu memb
“Tolong jaga baik-baik flashdisk ini buat aku,” ucap Figo, “kamu satu-satunya orang yang aku percaya. Jangan sampai datanya bocor. Karena nasib keluargaku ada di sana.”Sora tertegun seraya menatap benda kecil berwarna hitam polos di telapak tangannya itu. Lalu perlahan jari-jarinya mengepal, mengg
Figo mengempaskan dirinya di kursi dan mengembuskan napas kasar setibanya dia di ruangannya. Kemudian melonggarkan simpul dasinya yang terasa mencekik leher.Figo tak pernah menemukan ketenangan setelah bertemu dengan Sora. Wanita itu selalu punya seribu cara untuk melawannya dan membuatnya kehilang
“Pertimbangkan permintaanku baik-baik. Ini permintaan pertama sekaligus terakhir dariku.”Figo tidak langsung memberi tanggapan pada permintaan Sora. Dia hanya menatap wanita itu dengan dingin.“Kalau kamu lupa, aku nggak pernah meminta anak itu,” ucap Figo beberapa detik kemudian. Rahangnya berkedu
‘Ma, Papa nggak sayang aku, ya?’‘Kenapa, kok, Shopie nanyanya gitu? Papa sayang, kok, sama Shopie.’‘Tapi kenapa Papa nggak pernah jemput aku sekolah? Papa juga nggak pernah menginap di rumah kita.’Sora memejamkan mata ketika percakapannya dengan Shopie tadi pagi kembali terngiang di telinganya.







