Masuk“Mama pulang,” ucap Sora sambil membuka pintu rumahnya.Akan tetapi yang menyambutnya bukan Shopie, melainkan bunyi alat masak yang saling beradu di dapur dan aroma masakan yang menggugah selera.Sora seketika menoleh ke arah dapur dan tertegun mendapati Figo, yang sedang berjibaku sendirian di sana.Apron coklat membalut tubuhnya yang masih mengenakan kemeja putih.“Hai.” Figo menoleh dan tersenyum tipis. “Aku kira kamu akan lembur. Masakannya belum matang.”Tatapan Sora berubah datar menatap pria itu. Dia bertanya-tanya dalam hati, ada apa dengan Figo?Bukankah tadi malam dan pagi-pagi dia masih bersikap dingin?Mengapa sekarang dia tiba-tiba terlihat berbeda seolah tidak ada yang terjadi pada mereka?“Di mana Shopie?” Sora melepas high heels dan masuk ke ruang tengah. Dia mendapati karpet yang berserakan mainan.“Shopie di kamar. Lagi ke kamar mandi dulu katanya.”Sora masuk ke kamarnya terlebih dulu untuk menaruh tas. Lalu beralih ke kamar Shopie dan mendapati gadis kecil itu baru
“Lalu, kenapa sekarang kamu tiba-tiba membahasnya? Seolah-olah kamu yang paling tahu segalanya?”Hening.Ivara menatap Sora tajam, tanpa berkedip.Lalu detik berikutnya Ivara tertawa. “Jadi setelah sekian lama, sekarang kamu ingin melemparkan kesalahanmu padaku? Membuat aku jadi tersangka dan menuduh aku sudah menyerahkan isi flashdisk pada jurnalis itu?”Sudut mata Sora menyipit. Lalu senyuman samar terbit di bibirnya. Senyuman yang membuat ketegangan di wajah Ivara kembali terlihat.“Ivara,” ucap Sora dengan tenang. Sangat tenang. “Kenapa barusan aku mendengar… kamu seperti sedang mengakui sesuatu yang sudah kamu lakukan?”Senyuman di wajah Ivara langsung menghilang. “Aku nggak melakukannya!” sanggahnya tegas. “Tapi kamu sendiri yang menyimpulkannya begitu.”“Menarik,” gumam Sora.“Kamu nggak punya bukti apa-apa untuk menuduhku, Sora.”Sora mengangguk. “Memang. Tapi sekarang aku mulai bertanya-tanya, Ivara.”Ivara mengetatkan rahangnya.“Kenapa setiap kali aku bertanya sama kamu, ka
Dulu, Sora senang sekali memiliki banyak teman. Dia tipe orang yang akan mengajak ngobrol orang asing lebih dulu.Termasuk saat Ivara menjadi murid baru di kelasnya. Ivara yang pendiam saat itu cukup sulit beradaptasi dan mendapat teman.Jadi, Sora tergerak untuk mengajaknya kenalan dan menemaninya. Sampai akhirnya mereka menjadi teman dekat.Lalu di satu titik, setelah mereka berteman cukup lama, Sora menyadari bahwa Ivara selalu menyukai apapun yang Sora suka.Ivara yang awalnya selalu memakai barang berwarna monokrom, tiba-tiba menyukai barang berwarna cerah dan mencolok.Dia yang pernah bilang tidak menyukai bubur ayam, tiba-tiba mengaku menjadi fans nomor satu bubur ayam Pak Udin dan selalu mengajak Sora sarapan di sana setiap pagi.Dia yang tidak suka mata pelajaran Fisika dan Kimia, tiba-tiba ikut les tambahan untuk mata pelajaran tersebut.Bahkan untuk hal sekecil botol minum pun Ivara membeli tumblr yang motifnya mirip dengan milik Sora.Dulu, Sora merasa senang ketika Ivara
Suasana di meja makan pagi itu terasa dingin. Usai mendengar siapa pemberi boneka beruang tersebut tadi malam, sikap Sora tiba-tiba berubah dingin di hadapan Figo.Bahkan Sora enggan berbicara dengan pria itu dan memilih tidur di kamar Shopie.Sora marah karena setelah kejadian menyakitkan itu, Figo masih membiarkan Ivara bertemu Shopie. Sora hanya tidak mau Ivara kembali meracuni otak putrinya dengan kata-kata menyakitkannya.Tetapi Figo justru malah membawa wanita itu ke Starlight, tempat yang seharusnya menjadi salah satu ruang aman bagi Shopie.“Kamu marah?” Figo akhirnya bersuara setelah sejak tadi hanya diam memperhatikan Sora yang sibuk membuat sarapan.“Kamu mau sandwich juga?” tanya Sora tanpa menjawab pertanyaan Figo barusan.Tatapan Figo turun pada tangan Sora yang sedang mengoleskan saus pada roti tawar. “Iya,” jawabnya sambil menatap wajah Sora kembali. “Sora, soal boneka itu–”“Telurnya mau dua atau tiga?”Figo terdiam sejenak dengan kening berkerut. Ada rasa bersalah da
“Siapa yang sakit?”Suara Figo yang rendah dan dingin itu memecah keheningan yang menyelimuti mereka sejak tadi.“Karyawanku. Seperti yang tadi aku bilang.” Sora menjawab tanpa mengalihkan tatapannya dari gedung-gedung tinggi yang mereka lewati.“Mau sampai kapan kamu berbohong?”Sora sedikit terhenyak, ekspresi wajahnya mendadak berubah tegang.Figo tahu bahwa dirinya berbohong?Sora langsung menoleh dan mendapati raut muka Figo yang semakin mengeras.“Kenapa kamu tanya begitu?” tanya Sora waspada.“Jawab aku, Sora.”Bibir Sora kembali terkatup. Dia mengembuskan napas pelan seraya berpaling dari Figo. “Sudah kubilang karyawanku, Figo,” dustanya, bersikukuh.Figo mendengus. “Menjadikan karyawan sebagai alasan, huh?”Sora merasa semakin waspada mendengar Figo terus mendesaknya untuk jujur. Figo sepertinya tahu bahwa dirinya berbohong. Apa jangan-jangan pria itu sudah tahu mengenai penyakitnya?Sora membuka mulut hendak menjawab, tapi….“Sejauh mana hubungan kalian?”“Apa?”Rahang Figo
Sora keluar dari ruangan Dokter Arya setelah melakukan kontrol rutin. Dan ya, lagi-lagi Dokter Arya memarahi Sora karena jarang beristirahat. Tetapi Sora tidak tersinggung. Itu sudah menjadi makanannya setiap mereka bertemu.Sora bukannya tidak lelah karena terus menerus bekerja setiap hari. Dia hanya tidak ingin menghabiskan waktu dengan berdiam diri dan meratapi penyakitnya.Karena dengan tetap produktif, Sora bisa mengalihkan perhatiannya dari penyakitnya pada sesuatu yang membuatnya merasa jauh lebih hidup.“Sora?”Sora sedikit terhenyak ketika mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang familiar. Sora seketika menoleh, matanya sedikit membulat.“Kak Samuel? Kebetulan sekali kita ketemu di sini.”Samuel yang sedang menggendong Arunika berjalan mendekati Sora. “Sedang apa di sini? Kamu sakit?”“Nggak. Aku baik-baik saja.” Sora tersenyum kecil untuk menyembunyikan rasa gugupnya karena berbohong. Lalu menatap Arunika yang tampak lemah. “Arunika sakit?”“Demam. Tadi di sekolah bad







