เข้าสู่ระบบIbuku meninggal karena terlalu emosional. Pasalnya, hari yang seharusnya menjadi hari pernikahanku, kini pengantin wanitanya malah berubah menjadi mitra bisnis Ezra. Pada saat ibuku mengembuskan napas terakhirnya, hari pernikahanku berubah menjadi hari pemakamannya. Namun, Ezra memerintahkan agar pesta pernikahan tetap dilanjutkan seperti biasa dan bahkan memintaku untuk memasangkan cincin pernikahan ke jari Naila secara langsung. "Cepat! Pasangkan cincin itu padanya. Malam ini, aku akan memberimu penjelasan," katanya sambil menggertakkan giginya. Aku mengabaikan amarah Ezra dan menggendong jenazah ibuku meninggalkan hotel. Pukul delapan malam, pernikahan dengan pengantin yang diganti itu selesai dengan "sempurna". Naila memposting di Instagram dan postingannya mendapat puluhan ribu suka. [ Yay! Hari ini aku akhirnya menikahi pria idamanku. Terima kasih pada pihak ketiga yang sadar diri dan pergi. ] Tak lama kemudian, Ezra juga memposting. [ Orang yang nggak layak, nggak pantas dicintai. ] Di kamar jenazah yang dingin, aku memberikan tanda suka pada postingan mereka berdua dan menulis komenta. [ Semoga langgeng. ] Kemudian, aku mengemas barang-barangku sambil memeluk kotak abu jenazah ibuku. Namun, ketika aku sampai di rumah baru yang kubeli, aku menemukan Ezra sedang berciuman penuh gairah dengan Naila di sofa baruku.
ดูเพิ่มเติมAyu melangkahkan kaki perlahan menghampiri Arlita yang sedang duduk di salah satu bar sambil menikmati vodka. Dentuman musik menggema di seluruh ruangan yang sengaja di-booking untuk Birthday’s Party Ananda Putera Perdanakusuma, kekasih dari Arlita Holsler sekaligus sahabat baik Sonny Pratama.
Ayu sengaja datang untuk mewakili Sonny karena tunangannya itu masih berada di kota Jakarta. Pekerjaannya sebagai dokter muda, membuat Sonny tak bisa kembali ke Surabaya dan memberikan selamat pada sahabat baiknya yang sedang merayakan ulang tahun ke-24.
“Lit, Nanda mana ya?” tanya Ayu sambil membawa kotak kado di tangannya. Ia sudah celingukan sejak masuk ke bar tersebut. Tapi tak menemukan sosok Nanda, pria yang sedang merayakan ulang tahun di bar yang ada di salah satu hotel ternama di pusat kota Surabaya.
“Nanda? Lagi main sama temen-temennya kali. Coba aja tanya ke yang lain!”
“Kamu ini pacarnya, kenapa nggak tahu ke mana perginya Nanda?”
“Emangnya aku disuruh ngintilin Nanda dua puluh empat jam? Yang ada, dia eneg dan sebel sama aku. Kayak nggak tahu Nanda aja. Dia mana mau diganggu kalau lagi sama temen-temennya,” sahut Arlita sambil menenggak vodka di hadapannya. “Minum dulu, Ay!”
Ayu melirik arloji di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Andai ia tidak dipaksa lembur oleh atasannya, ia tidak mungkin tiba semalam ini. Untungnya, pesta ulang tahun Nanda memang dibuat sampai pagi. Jadi, ia masih punya waktu untuk memberikan hadiah yang sudah ia pilih bersama Sonny.
“Minum dulu, Ay! Nanda marah loh kalau kamu nggak menghargai dia. Pesta semewah ini, harus kamu nikmati!” Arlita merangkul tubuh Ayu sambil menyodorkan segelas vodka.
Ayu tersenyum kecil. Ia meletakkan kotak kado yang ia bawa ke atas meja dan meminum segelas vodka yang disodorkan Arlita. “Lit, aku nggak bisa lama-lama. Ini udah malem banget. Kamu tahu, aku nggak nyaman ada di pesta kayak gini.”
Ayu mengedarkan pandangannya. Semua orang di sana menari bebas sambil minum alkohol. Terlihat sangat bahagia dan riang gembira. Bahkan, ada beberapa wanita yang dengan bangga memperlihatkan tubuhnya yang dirayapi oleh tangan-tangan nakal para pria yang ada di sana.
“Ay, kamu ini udah dewasa. Kenapa sih masih kuno aja? Eh, Sonny juga nggak datang ke kota ini ‘kan? Kamu pilih satu cowok yang ada di sini dan bersenang-senang!” pinta Arlita. “LDR itu nggak enak. Apa enaknya pacaran cuma lewat video call doang?”
Ayu mengedikkan bahunya. “Nggak, Lit. Aku harus ngantor lagi besok pagi. Nggak bisa tidur terlalu larut.”
“Hei, kamu pemburu dollar banget, sih? Besok hari Minggu, Sayang. Buat apa sih kerja terus?”
“Ini last month, Lit. Di kantor selalu sibuk untuk closing data bulanan. Bos nyuruh aku lembur,” jawab Ayu .
“Hmm ... iya, deh. Kalau bisa, kamu cari pacar yang banyak duitnya dan royal kayak Nanda. Nggak perlu kerja keras. Kamu bisa bersenang-senang setiap hari pakai uang pacar kamu!”
Ayu tertawa kecil. “Kamu ini ada-ada aja. Aku masih setia sama Sonny. He is a best man for me.”
“Hahaha. Iya, iya. Tujuh tahun LDR, masih setia aja. Kalo aku, udah punya banyak selingkuhan, Yu,” sahut Arlita sambil menenggak vodka di hadapannya. Ia kembali menyodorkan satu gelas vodka ke arah Ayu . “Minum lagi!”
“Aku nggak bisa minum banyak. Aku cari Nanda dulu, ya! Mau kasih kado ini untuk dia. Soalnya, Sonny nggak bisa balik. Aku harus kasih hadiah ini secara langsung ke dia.”
“Minum sekali lagi, Yu! Aku udah capek nuangin minuman ini buat kamu. Kamu nggak menghargai kerja kerasku?” sahut Arlita.
Ayu menghela napas. Ia meraih gelas vodka dan langsung menenggak habis minuman tersebut.
“Wah ...! Ayu keren! Lagi! Lagi!” seru beberapa wanita yang muncul di belakang tubuh Arlita.
Ayu menggelengkan kepalanya. Meski ia sudah mengenal Arlita sejak duduk di bangku SMP, tapi ia tidak begitu dekat dengan wanita itu. Gaya hidup Arlita yang suka mabuk-mabukkan, membuatnya tak nyaman. Ia selalu mengingat pesan bundanya untuk menjaga jarak dengan Arlita meski mereka berteman sangat lama.
“Aku pergi dulu, Lit!” pamit Ayu . Ia buru-buru menyambar kotak kado yang ia letakkan di bar table. Kemudian bergegas pergi. Menyelinap di antara keramaian untuk mencari keberadaan Nanda sambil menahan pening di kepalanya karena reaksi vodka yang ia minum.
“Angga, kamu lihat Nanda?” tanya Ayu sambil menghampiri Angga dan beberapa teman sepergaulan Nanda yang sedang berkumpul di salah satu meja.
“Nanda? Lagi ke kamar hotel. Katanya mau ganti baju karena ketumpahan bir,” jawab Angga sambil mengacungkan jarinya ke atas. Bar tersebut memang berada di salah satu hotel. Tak heran jika Nanda juga menginap di hotel tersebut.
“Tahu nomor kamarnya?” tanya Ayu .
“Kamar tiga dua empat,” jawab Angga sambil menatap tubuh Ayu yang berdiri di hadapannya.
“Makasih, Ngga!” Ayu berbalik. Ia buru-buru melangkahkan kakinya keluar dari bar tersebut. Waktu sudah semakin malam, ia harus bergegas pulang ke rumah dan beristirahat. Ia tidak ingin pergi ke kantor dengan mata panda karena kurang tidur.
“Ngga, itu ceweknya si Sonny ‘kan?” tanya salah seorang pria yang bersama Angga.
Angga mengangguk.
“Cantik banget, Ngga. Kenapa mau sama Sonny yang biasa aja?”
Angga mengedikkan bahu. “Mereka udah pacaran lama banget. Roro Ayu itu bukan cuma cantik, tapi juga kaya raya dan baik hati. Dari Sonny nggak punya apa-apa sampai bisa jadi dokter, dia selalu nemenin cowok itu berjuang. Beruntung banget si Sonny dapetin dia.”
“Emang bener, sih. Cewek baik emang untuk cowok yang baik. Nggak mungkin cewek baik-baik mau sama cowok bajingan kayak kita-kita. Hahaha.”
“Stok cewek baik di dunia ini makin menipis. Andai aja si Roro mau sama aku, udah aku jadikan istri. Nggak perlu jadi pacar,” sahut Angga.
“Hahaha. Jangan ngimpi!”
((Bersambung ...))
Selamat datang di cerita terbaru aku ...!
Salam kenal dari Roro Ayu dan Ananda.
Mau tahu kekuatan cinta sejati yang diuji tiada henti dan bikin baper bertubi-tubi?
Baca terus cerita selanjutnya, ya!
Semoga menghibur dan menginspirasi ...!
Jangan lupa tinggalkan komentar biar author makin semangat nulisnya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
Ezra akhirnya tetap tidak bisa melihatku.Nenek berkata, "Aku sudah janji sama Farah. Dia bilang, dia nggak mau melihatmu lagi seumur hidup."Ketika semua kekuasaan dan statusnya dicabut, Ezra tidak kehilangan akal. Namun, pada saat mendengar kata-kata ini, Ezra benar-benar kehilangan kewarasannya.Dia memandang ke arah aula tempat jasadku terbaring dan berniat untuk menerobos masuk. Namun kali ini, bukan hanya Teddy, melainkan semua orang maju bersama untuk menahannya dan menjatuhkannya ke lantai.Ezra berteriak keras, "Farah! Kamu pasti belum mati! Kamu nggak mungkin mati! Aku nggak mengizinkanmu mati! Kenapa kamu mati?! Apa hakmu mati?!"Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Ezra.Dengan air mata yang tertahan, Nenek menggertakkan giginya sambil berkata, "Hak apa?! Dia itu manusia! Dia bukan milikmu!""Dulu, kamu menyembunyikan ketidakpuasanmu terlalu baik! Demi mewarisi Keluarga Tanoto, kamu berpura-pura mencintainya! Kamu menipunya!""Dia mencintaimu, itulah sebabnya dia b
"Mana mungkin?" Ezra membelalak tidak percaya. Dia mulai terbatuk sambil menutup mulutnya dengan tangan. Batuknya semakin keras, seolah paru-parunya akan keluar.Naila yang melihat kondisinya ini, langsung melangkah maju dan menepuk-nepuk bahunya dengan lembut untuk mencoba menenangkannya.Dia menatap Nenek dan menangis dengan suara serak, "Nenek! Anda ini nenek kandung Ezra. Kenapa Anda juga perlakukan Ezra begini! Dia nggak boleh terlalu emosional, paru-parunya nggak kuat."Sambil berkata demikian, dia berlutut untuk berpura-pura kasihan. "Suruh Farah keluar. Kalau dia benar-benar cemburu, aku bisa pergi. Asalkan Ezra baik-baik saja, aku rela melakukan apa saja."Air mata mengalir deras di wajah Naila. Bahkan di saat seperti ini, dia masih mencoba menggunakan citra diri yang penuh belas kasihan untuk menarik perhatian dan mencoba menunjukkan bahwa dia adalah satu-satunya yang benar-benar peduli pada Ezra.Nenek turun dari tangga dengan langkah tegas. Dia mengayunkan tangan dan member
Ketika Ezra yang kehilangan akal mengemudikan mobilnya dan menerobos gerbang besar Keluarga Tanoto untuk mencariku, Nenek sedang berlutut dan melantunkan doa untukku dan ibuku.Tubuhku yang tak bernyawa dan sisa tulang ibuku diletakkan di bawah patung doa.Mobil Ezra akhirnya berhenti di depan aula sembahyang. Airbag-nya meledak, tetapi kepalanya tetap penuh darah akibat benturan."Farah! Keluar kau sekarang juga!" Dia berteriak seperti anjing gila dan memekik di depan aula.Nenek hanya menghentikan lantunan doanya sebentar, jari-jarinya terus memutar tasbih dan melanjutkan doanya dengan ketulusan hati. Dia berharap aku dan ibuku bisa menuju kebahagiaan di alam baka.Sampai akhirnya, Naila mengemudikan mobil dan menyusul dari belakang. Dia turun dari mobil sambil berteriak, "Nenek, tolong jangan salahkan Ezra!"Saat itu, tasbih di tangan Nenek terputus. Butir-butir tasbihnya berjatuhan ke tanah dan bergulir ke segala arah."Berlutut!"Nenek berdiri dan membentak, "Cepat berlutut di dep
Aku tidak benar-benar pergi. Rohku melayang di udara, menyaksikan Nenek tidak sengaja menekan tombol untuk menjawab panggilan telepon karena terlalu sedih.Dari seberang sana, terdengar suara Ezra yang penuh amarah. "Farah! Kamu sembunyi di mana?! Apa kamu pikir bersembunyi seperti anjing bisa mengancamku?!""Katakan! Kamu pergi menemui Nenek, ya?! Apa kamu pikir dengan berlindung padanya, kamu bisa memaksaku? Kukasih tahu ya! Di rumah ini, sekarang akulah yang berkuasa!"Nenek terengah-engah karena emosi. Tubuhnya goyah, dia mundur sambil memegang dadanya dan ponselnya terjatuh ke lantai.Bunyi ponsel yang jatuh ke lantai semakin memicu amarah Ezra. Dia sepertinya mengira aku sedang mendiamkannya sebagai bentuk protes."Kenapa nggak bicara? Kamu sudah mati ya?"Mendengar kata-kata itu, aku tiba-tiba ingin memberitahunya. Benar, aku sudah mati. Bukankah sekarang kamu dan Naila bisa hidup bahagia bersama untuk selamanya?"Farah! Cepat bicara!" Ezra menggeram dengan marah. "Kukasih tahu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.