Share

Bab 54. Penolakan

Author: Seaira
last update publish date: 2026-08-28 05:43:47

Sinta akhirnya pergi malam itu tanpa diantar siapa pun, meninggalkan rumah yang dipenuhi keheningan berat setelah pintu tertutup di belakangnya. Rama berdiri lama di ruang tamu, tidak berani menoleh ke arah Manisha yang masih berdiri kaku di sudut ruangan, matanya menatap kosong ke arah pintu yang baru saja tertutup.

"Sha," ucap Rama pelan, memecah keheningan yang menyesakkan itu.

"Aku mau tidur, Rama," jawab Manisha singkat, berbalik menuju tangga tanpa menunggu jawaban apa pun.

Keesokan pagin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 58. Kecemburuan

    Beberapa hari setelah insiden luka-luka Sinta, Surya mengambil keputusan untuk menempatkan Sinta di sebuah pavilion kecil yang masih satu kawasan dengan rumah utama keluarga Danudirja, beralasan keamanan yang lebih terjamin dengan pengawasan ketat dari tim keamanan keluarga."Ini sementara, Sha," ucap Rama suatu sore, ketika mengajak Manisha berjalan-jalan di taman rumah utama. "Sampai kondisinya lebih stabil dan situasi Yudha bisa ditangani.""Aku mengerti, Rama," jawab Manisha, meski hatinya masih menyimpan gejolak yang belum sepenuhnya reda sejak malam makan keluarga itu."Sha, aku mau minta tolong sesuatu.""Tolong apa?""Aku mau kamu ikut aku mengunjungi Sinta. Bukan buat apa-apa, hanya ... aku pengen kalian berdua bisa mengenal atau minimal saling menerima keberadaan masing-masing."Manisha menghentikan langkahnya, menatap Rama tidak percaya. "Kamu serius, Rama?""Aku tahu ini berat, Sha. Tapi aku capek liat kalian berdua terus-terusan bermusuhan. Aku pengen kita semua bisa hidu

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 57. Perhatian Yang Terbagi

    Sinta berdiri di ambang pintu, tubuhnya gemetar hebat, pipinya lebam kebiruan, sudut bibirnya sobek mengeluarkan sedikit darah yang sudah mengering. Lengan kanannya memerah, seperti bekas cengkeraman kuat, gaunnya kotor dan robek di beberapa bagian."Sinta!" Rama bergerak cepat, meninggalkan kursinya, berlari menghampiri sosok yang hampir ambruk itu."Astaga!" Arumi ikut berdiri, wajahnya pucat pasi melihat kondisi Sinta.Rama menangkap tubuh Sinta yang mulai limbung, membantunya duduk di kursi terdekat. "Sinta, kamu kenapa? Siapa yang melakukan ini ke kamu?""Ayahku," bisik Sinta, suaranya nyaris tidak terdengar, napasnya masih terengah. "Dia datang ke tempatku. Entah darimana dia tahu. Dia ... dia marah besar, bilang aku pengkhianat karena terima bantuan dari keluarga Danudirja."Manisha berdiri kaku di tempatnya, menyaksikan kepanikan yang mendadak menyelimuti ruang makan itu, dadanya sesak melihat betapa cepatnya perhatian semua orang, terutama Rama, teralih sepenuhnya pada Sinta.

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 56. Tamu Yang Tak Diundang

    Malam itu, keluarga besar Danudirja berkumpul di rumah utama untuk makan malam bersama. Sebuah tradisi bulanan yang sempat terbengkalai selama beberapa bulan terakhir akibat berbagai kekacauan yang melanda Rama dan Manisha. Meja makan panjang dipenuhi hidangan lengkap, aroma masakan khas keluarga menguar hangat memenuhi ruangan."Akhirnya kita bisa kumpul lagi seperti dulu," ucap Arumi, tersenyum sambil menyendokkan nasi ke piring Manisha. "Sha, kamu makin kurus, Nak. Ayo, makan yang banyak.""Terima kasih, Ma," jawab Manisha, mencoba tersenyum meski masih menyimpan kelelahan yang belum sepenuhnya hilang.Arkan dan Aryan, si kembar yang duduk berdampingan di seberang meja, saling melempar candaan seperti biasa. Mencoba mencairkan suasana yang masih terasa sedikit kaku sejak insiden beberapa minggu lalu."Kak Rama, katanya sempat drama besar-besaran, ya, di rumah?" celetuk Arkan, nyengir jahil."Arkan," tegur Leila sebagai anak pertama, memberi tatapan tajam pada adik bungsunya."Aku h

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 55. Dilema

    Beberapa hari setelah kunjungan mendadak keluarga besar Danudirja, Manisha duduk sendirian di studio kecilnya, menatap kanvas kosong yang sudah lama tidak tersentuh kuas. Pikirannya melayang jauh, kembali pada masa-masa sebelum semua kekacauan ini dimulai, masa ketika ia masih menjadi guru dengan rutinitas sederhana namun penuh makna.Sore itu, ia memutuskan sesuatu. Ia menghubungi Adiwira, ayahnya, mengabarkan keinginan yang sudah lama terpendam."Ayah, aku mau balik mengajar lagi," ucap Manisha lewat telepon, suaranya penuh keyakinan yang sudah lama tidak ia rasakan."Mengajar, Sha? Kamu yakin?" Suara Adiwira terdengar ragu di seberang telepon. "Bukannya lebih baik kamu urus administrasi yayasan saja dulu? Lebih aman, tidak perlu berhadapan langsung dengan banyak orang.""Ayah, aku sudah lama tidak merasa jadi diri sendiri. Mengajar itu yang bikin aku merasa hidup, bukan cuma duduk di belakang meja mengurus berkas.""Ayah hanya khawatir soal keamanan kamu, Sha. Kamu tahu sendiri, si

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 54. Penolakan

    Sinta akhirnya pergi malam itu tanpa diantar siapa pun, meninggalkan rumah yang dipenuhi keheningan berat setelah pintu tertutup di belakangnya. Rama berdiri lama di ruang tamu, tidak berani menoleh ke arah Manisha yang masih berdiri kaku di sudut ruangan, matanya menatap kosong ke arah pintu yang baru saja tertutup."Sha," ucap Rama pelan, memecah keheningan yang menyesakkan itu."Aku mau tidur, Rama," jawab Manisha singkat, berbalik menuju tangga tanpa menunggu jawaban apa pun.Keesokan paginya, Rama bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan sendiri sebelum Bu Ratna sempat turun ke dapur, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia meletakkan semangkuk bubur kacang hijau hangat, kesukaan Manisha, di atas nampan, lengkap dengan secangkir teh melati yang selalu diminum Manisha setiap pagi."Sha, aku bawakan sarapan," ucap Rama, mengetuk pintu kamar tamu pelan.Tidak ada jawaban. Rama menunggu beberapa saat sebelum akhirnya mencoba membuka pintu itu perlahan, mendapati Manisha suda

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 53. Alasan

    Manisha berdiri mematung di ambang ruang tamu, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Sinta, perempuan yang semalam ia tinggalkan menangis di villa Puncak, kini berdiri di rumahnya sendiri, tanpa pemberitahuan apa pun."Kamu tahu alamat rumah ini dari mana?" tanya Manisha, suaranya dingin, jauh dari keramahan yang biasa ia tunjukkan pada tamu."Aku minta ke salah satu pengawal yang jaga di villa," jawab Sinta jujur. "Aku tahu ini lancang, tapi aku tidak bisa terus-terusan membiarkan ini menggantung tanpa penyelesaian.""Penyelesaian apa yang kamu maksud, Sinta?" Manisha melangkah maju, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Kamu pikir dengan datang ke sini, semua yang sudah terjadi bisa selesai begitu saja?""Bukan begitu maksudku, Manisha." Sinta menyeka air matanya kasar. "Aku ingin minta maaf, langsung, tatap muka. Aku tahu kata-kata tidak cukup, tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi."Rama berdiri di antara keduanya, wajahnya tegang, tidak yakin harus berpihak ke mana

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status