/ Romansa / Hasrat Kakak Tiri / 117. Kunjungan Pertama

공유

117. Kunjungan Pertama

last update 게시일: 2026-05-31 23:12:44

Mobil hitam itu melaju membelah jalanan kota yang basah.

Lampu jalanan terlihat buram dari balik kaca depan.

Tanpa tujuan yang benar-benar jelas dalam benaknya.

Roy menyetir sendiri dengan sisa tenaga yang ia punya.

Tangannya mencengkeram setir terlalu kuat hingga otot lengannya menegang.

Ruas jarinya memucat, nyaris kehilangan warna kulit.

Lampu merah di persimpangan memaksanya berhenti sejenak.

Namun pikirannya tetap berlari kencang tanpa kendali.

Suara laki-laki di telepon tadi masih terngia
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Hasrat Kakak Tiri   144. Hanya Milik Kita

    "Apa itu?"Shana tidak langsung menjawab.Jemarinya saling bertaut gelisah di hadapan Arion."Aku takut... setelah aku memanggilnya Ayah."Arion menunggu."Roy bilang aku jangan dulu memberi tahu Alena tentang pertemuan kami."Arion sedikit mengernyit."Kenapa?""Katanya... belum waktunya."Shana menarik napas panjang."Dia bilang ada alasan mengapa keberadaanku selama ini tidak pernah diketahui Alena."Arion terdiam.Kalimat itu mengingatkannya pada percakapan dengan Laras.Juga pada nama Alena.Serta pernikahan yang terasa dipaksakan ke dalam hidupnya.Namun malam ini ia tidak ingin membawa semua persoalan itu ke hadapan Shana.Setidaknya tidak sekarang."Roy memberimu alasan?""Belum.""Dia hanya memintamu merahasiakannya?"Shana mengangguk.Arion berjalan menuju sofa.Ia duduk, lalu menepuk tempat kosong di sampingnya."Sini."Shana menurut.Ia duduk di samping Arion dengan jarak yang sangat dekat.Beberapa detik mereka hanya diam.Tidak ada suara notifikasi.Tidak ada telepon.Ti

  • Hasrat Kakak Tiri   144. Jangan Tinggalkan Aku

    Malam semakin larut.Apartemen itu akhirnya kembali sunyi.Lampu ruang makan masih menyala, menerangi dua piring nasi goreng yang tinggal separuh.Namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menikmati makanan itu.Arion masih berdiri kaku di dekat meja.Sementara Shana duduk di kursi, menatapnya dengan tatapan yang perlahan berubah hangat, namun dalam."Kak.""Hm?""Sejak tadi Kakak kelihatan seperti sedang memikul beban yang sangat berat."Arion terdiam sejenak.Ia menghela napas, menarik kursi di hadapan Shana, lalu duduk perlahan."Aku cuma sedang memikirkan banyak hal.""Apakah ada hubungannya dengan Ibuku?"Pertanyaan jujur itu membuat binar mata Arion berubah.Shana memperhatikan riak emosi di wajah pria itu."Aku tahu Ibu menemui Kakak tadi."Arion mengembuskan napas panjang."Tante Laras tidak bilang apa-apa yang buruk tentangmu.""Aku tidak bertanya soal itu."Shana tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana."Aku cuma ingin tahu... apa yang sebenarnya bikin Kakak

  • Hasrat Kakak Tiri   143. Umpan?

    Arion menyusuri jalanan kota menuju kedai teh yang disebutkan Laras.Pikiran Arion melayang pada sosok ayahnya.Mahendra bukan tipe pria yang akan bertindak kasar atau menggunakan ancaman terbuka.Ayahnya adalah seorang politikus kawakan.Ia ahli dalam membentuk persepsi, menggiring opini, dan membuat orang lain tunduk tanpa merasa dipaksa.Arion mengepalkan jemarinya di atas roda kemudi.Ia tahu betul, jika ayahnya ingin memisahkan dirinya dari Shana, pria tua itu tidak akan menyerangnya secara langsung.Ayahnya akan menyasar Shana—titik paling rapuh yang ingin ia lindungi.Di sebuah sudut kedai teh yang tertutup.Laras duduk menyendiri sambil meremas saputangan di tangannya.Pintu geser terbuka pelan, memperlihatkan sosok Arion yang melangkah masuk.Arion menarik kursi di hadapan ibu tirinya tanpa suara."Tante Laras."Laras mendongak, matanya yang sembap menatap Arion dengan raut penuh kecemasan."Terima kasih sudah mau datang, Arion."Arion tidak menyentuh cangkir teh di atas meja

  • Hasrat Kakak Tiri   142. Jejak yang Ditinggalkan

    Pagi datang tanpa membawa rasa tenang.Arion sudah duduk di depan meja kerjanya sejak fajar menyingsing.Di hadapannya, tiga lembar salinan dokumen dari map cokelat itu terbentang rapi.Ia memandangi stempel bank tua yang tercetak samar di sudut kanan bawah.Jemarinya mengetuk meja mahoni secara teratur.Ada rasa pusing yang perlahan menjalar di pangkal lehernya.Semakin ia meneliti alur angka di lembaran itu, semakin banyak lubang yang ia temukan.Aliran dana tersebut terlalu rapi untuk ukuran transaksi gelap di masa lalu.Seolah ada seseorang yang dengan sengaja melukis jejak itu agar mudah ditemukan puluhan tahun kemudian.Pintu kamar mandi terbuka pelan.Shana keluar dengan rambut yang masih basah terikat asal.Ia menatap Arion yang tampak sangat sibuk dengan tumpukan kertasnya."Kak Arion belum tidur sama sekali?"Arion refleks menutupi dokumen di mejanya dengan map kosong."Sudah tadi, sebentar."Shana berjalan mendekati meja kerja itu dengan langkah perlahan.Ia menyadari gerak

  • Hasrat Kakak Tiri   141. Layaknya Virus

    Langkah Arion menuruni tangga rumah utama terasa dingin dan berat.Map cokelat kusam di genggamannya terasa menekan, seolah berisi tumpukan batu.Di ujung tangga, Laras masih berdiri mematung.Wanita itu memandangi Arion dengan raut wajah yang sulit diartikan.Ada cemas, ada gelisah, namun ada pula penyesalan yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat."Arion..."Suara Laras memecah keheningan koridor.Arion menghentikan langkahnya, tanpa menoleh sepenuhnya."Tante belum tidur?"Laras melangkah mendekat, matanya sempat mengerling ke arah map cokelat di tangan Arion."Ayahmu... apa yang dia katakan padamu di dalam?"Arion memutar tubuhnya perlahan, menatap ibu tiri yang selama ini selalu bersikap lembut namun berjarak itu."Ayah meminta aku menjauhi Shana."Napas Laras tertahan sejenak."Lalu... apa jawabanmu?""Tante sendiri bagaimana?" tanya Arion balik, nadanya tetap tenang namun mengintimidasi."Apakah Tante juga setuju jika aku menjauhi Shana?"Laras membisu, jemarinya saling merema

  • Hasrat Kakak Tiri   140. Berkas yang Dipalsukan

    Roy masih menatap layar ponsel di genggamannya."Putrimu mulai bertanya."Tiga kata sederhana itu merayap lebih mengerikan daripada gertakan kematian mana pun yang pernah ia dengar.Cengkeraman jemarinya pada ponsel mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.Ia menyadari betul apa yang sedang berlangsung di balik layar.Ada tangan dingin yang sedang memainkan takdir mereka seperti bidak catur.Bukan cuma dirinya yang diseret.Bukan cuma Arion yang dijebak.Bukan cuma Shana yang diintai.Namun Laras juga sedang dijadikan umpan di tengah pusaran ini.Roy memejamkan mata rapat-rapat, mengusir denyut nyeri di kepalanya.Kilas memori kelam dari puluhan tahun lalu mendadak bangkit kembali.Malam itu.Malam ketika ia terpaksa melangkah pergi meninggalkan Laras yang sedang menggendong Shana,.Malam yang seumur hidupnya tak pernah benar-benar bisa ia maafkan.Namun sebelum penyesalan itu menariknya semakin dalam—ponselnya bergetar kembali dalam genggaman.TING!Sebuah notifikasi baru muncul.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status