MasukArka menarik tirai jendela perlahan. Kain berat itu bergeser, menutup pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang berkelap-kelip seperti sirkuit elektronik yang tak pernah tidur. Kota di luar menghilang, menyisakan pantulan samar lampu kamar di kaca—seperti dunia yang sengaja dipadamkan setengah hati. Di pantulan itu, ia melihat bayangannya sendiri: seorang pria yang selama ini membangun benteng begitu tinggi hingga ia sendiri lupa cara untuk keluar.Luna berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia tidak menyentuh. Tidak mendesak. Ia hanya hadir sebagai jangkar di tengah badai diam yang berkecamuk di kepala Arka. Kehadirannya tidak terasa seperti tuntutan, melainkan seperti sebuah undangan yang terbuka.“Kita bisa berhenti,” kata Luna pelan. Suaranya tidak mengandung keraguan, juga bukan sebuah tawaran terakhir yang penuh ancaman. Itu terdengar lebih seperti pengingat bahwa pintu di belakang mereka masih ada, tidak terkunci, dan Arka memegang kuncinya.Arka tidak langsung berbalik.
Lampu neon berkedip seperti denyut nadi yang kelelahan—dan Arka duduk tepat di tengahnya, tersenyum pada dunia yang tidak pernah ia anggap suci.“Minum?”Perempuan di sebelahnya mengangkat gelas, bibirnya mengilap oleh lampu biru-ungu pub. Namanya Luna—atau setidaknya itu nama yang ia pilih malam ini. Rambutnya jatuh malas di bahu, gaunnya terlalu tipis untuk cuaca, terlalu pas untuk niat.“Minum,” jawab Arka, menyentuhkan gelas tanpa melihat. Matanya tertuju ke layar ponsel di atas meja—mati. Tidak ada notifikasi. Belum.Musik berdentum. Bass menghajar dada. Di sini, semua suara terasa aman karena tak ada yang sungguh-sungguh mendengar.“Lo kelihatan nggak fokus,” kata Luna sambil mencondongkan tubuh. “Ada yang kepikiran?”Arka tertawa pendek. “Kebiasaan.”“Kebiasaan cowok-cowok kayak lo?” Luna menaikkan alis. “Datang ke pub, bawa masalah, pulang ninggalin jejak?”Arka akhirnya menoleh. Senyumnya tipis. “Gue nggak ninggalin jejak.”“Semua orang ninggalin,” Luna meneguk minumnya. “Cum
Tidak ada yang lebih melelahkan daripada pura-pura tidak menunggu, ketika jantungmu sudah tahu siapa yang berdiri di balik pintu.Tok. Tok. Tok.Shana menatap gagang pintu kamarnya seolah benda logam itu bisa membakar kulitnya. Suara ketukan itu tidak keras, bahkan cenderung ragu—dan justru keraguan itu yang terasa menyakitkan. Arion yang biasanya penuh kendali kini terdengar goyah.“Shana?” Suara Arion sedikit pecah, ada sisa serak yang ia coba sembunyikan. “Boleh aku masuk? Aku nggak bisa membiarkan ini menggantung sampai pagi.”Shana berdiri, jemarinya meremas pinggiran sweternya yang mulai longgar. Ia tidak takut pada kemarahan Arion. Ia takut pada kejujuran yang mungkin akan menghancurkan citra "kakak" yang selama ini ia peluk erat sebagai pelindung.“Masuk, Kak,” jawabnya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meskipun dadanya berdenyut.Pintu terbuka pelan. Arion tidak langsung masuk sepenuhnya. Ia berdiri di ambang pintu, bahunya merosot—tampak lebih tua dan lebih lelah dari
Di hari yang berbeda, Arka menyadari bahwa cinta bukanlah syarat mutlak baginya untuk menyukai seseorang. Cukup rasa ingin memiliki yang kuat. Kini, ia duduk di balkon rumahnya, memutar kembali ingatan saat ia berada di sudut belakang kelas siang itu; menggenggam ponsel dengan ekspresi yang terlalu tenang untuk sebuah rencana gelap yang sedang ia susun.Shana tertawa di depan.Bukan ke arahnya.Bukan ke siapa pun yang ia harapkan.Tawanya ringan, sopan, seperti biasa.Dan itu justru yang membuat Arka muak.“Lo sadar nggak sih,” gumamnya pelan, “kalau lo terlalu polos buat dunia yang salah?”Ia tahu.Sejak lama.Tentang Kakak tirinya.Tentang tatapan Shana yang selalu berubah ketika nama itu disebut.Tentang cara Shana menolak laki-laki lain—halus, sopan, tapi mutlak.Dan tentang Arion.Playboy kampus yang bahkan tidak perlu berusaha untuk membuat orang jatuh… lalu pergi.Arka tersenyum kecil.Bukan senyum senang.Senyum orang yang baru menemukan celah.“Kalau lo nggak bisa berhenti su
“Tenang… tenang,” katanya santai, seolah suasana barusan tidak setegang kabel listrik. “Kami cuma nganter durian.”Arion berkedip. “Durian…?”“Iya.” Ayahnya mengangkat sedikit plastik itu. “Tadi di jalan lihat orang jual durian Medan. Masih siang, tapi udah dibuka. Kata abang-abangnya manis.”Ibunya Shana tersenyum kecil. “Bapakmu ini, kalau ingat Shana sama kamu, bisa tiba-tiba belok.”Shana yang berdiri di ambang pintu kamarnya mengerjap.Durian?Semua ketegangan yang barusan menggumpal seperti benang kusut… mendadak ditarik sedikit longgar.“Masuk dulu, Om,” kata Shana sopan, melangkah ke depan. “Panas.”Ayah Arion tertawa pendek. “Nah, itu. Aku juga mikir gitu. Tadi baru dari sini beberapa jam lalu, tapi kok kepikiran lagi. Perut bapak nggak bisa bohong.”Arion menghela napas pelan.Bukan lega.Lebih ke… tertunda.Mereka masuk. Plastik durian diletakkan di meja makan. Bau khasnya langsung menyebar, memenuhi ruangan, menabrak sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya hilang.Naya
Suara lift berdenting pelan. Terlalu pelan untuk menandingi degup jantung Arion yang baru saja diserang Rika barusan. Ia tetap berdiri di ruang tamu, bahu naik-turun, tatapan kosong ke lantai, seperti seseorang yang baru saja diseret keluar dari mimpi buruk masa lalu… lalu dilempar ke mimpi buruk yang baru.Ia belum sempat memproses ucapan Rika—belum sempat memproses tatapan Shana tadi—ketika getaran ponselnya mengiris keheningan.Satu pesan.Pendek.Tapi mematikan.“Aku di bawah. Aku naik sekarang. Ada yang tertinggal.” — NayaArion langsung menegakkan tubuhnya.“Tidak. Tidak sekarang. Sial…”Ia menutup wajah dengan kedua tangan.“Kenapa semua orang harus muncul di hari yang sama?!”Pintu kamar Shana terbuka sedikit—hanya celah tipis.“Ka?”Arion kaget setengah mati. “Shana, jangan keluar dulu.”Shana melihat wajah Arion—masih kacau, masih tegang—dan meski gengsinya tinggi, instingnya tetap bekerja.“Kak… ada apa lagi?”“Pokoknya jangan keluar. Tolong.”Nada Arion rendah, hampir memo







