Home / Romansa / Hasrat Kakak Tiri / Bab 23. Tak Terelakkan

Share

Bab 23. Tak Terelakkan

last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-23 23:57:30

Suara “bip” pelan terdengar saat kartu kunci disentuhkan ke pintu.

Lampu indikator hijau menyala, diikuti suara mekanis kunci terbuka.

Arion mendorong pintu dengan gerakan yang tidak hanya malas, tapi ragu-ragu. Tubuhnya terasa berat, seolah setiap otot menolak masuk ke ruangan itu.

Kamar hotel itu tenang. Aroma pengharum ruangan yang lembut, khas hotel bintang empat, menyeruak, bercampur dengan udara dingin yang tajam dari pendingin ruangan yang sudah menyala.

Naya masuk lebih dulu, bergerak c
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Hasrat Kakak Tiri   150. Hanya Mimpi, Tapi...

    Roy dan Rina saling pandang.Teriakan itu terdengar begitu mendadak hingga keduanya sempat terpaku selama beberapa detik.“Alena!” seru Rina.Ia langsung berlari menuju kamar putrinya. Roy menyusul dari belakang dengan langkah cepat.Begitu sampai di depan pintu, Rina mengetuknya keras-keras.“Alena! Sayang, kamu kenapa?”Tidak ada jawaban.Rina kembali menggedor pintu.“Alena! Buka pintunya, Nak!”Roy ikut memanggil.“Alena! Kamu dengar Ayah? Jawab!”Keheningan dari dalam kamar membuat kecemasan mereka semakin menjadi-jadi.Rina menempelkan telinganya ke pintu, berusaha menangkap suara apa pun dari dalam.“Alena, tolong jawab Mama!”Tangannya mulai gemetar.Pikiran buruk bermunculan tanpa bisa ia kendalikan. Ia membayangkan putrinya jatuh sakit, terluka, atau mengalami sesuatu yang jauh lebih buruk.Roy mencoba memutar gagang pintu.Terkunci.“Alena!” panggilnya lebih keras.Ia mengetuk pintu sekali lagi, kali ini dengan kepalan tangan.“Buka pintunya, Nak!”Tetap tidak ada jawaban.

  • Hasrat Kakak Tiri   149. Regon?

    Tubuh Rina seketika kaku.Hanya sesaat.Tapi Roy melihatnya.Tatapan Rina berubah setelah mendengar nama itu. Wajahnya yang sejak tadi terlihat lelah kini semakin tegang. Tangannya bahkan tanpa sadar mencengkeram ujung bajunya sendiri.Rina perlahan mengangkat kepala."Kenapa kamu menanyakan nama itu?"Roy menatap lurus ke arahnya."Aku cuma ingin tahu.""Untuk apa?""Karena aku ingat sesuatu."Rina tidak berkata apa-apa.Roy menyimpan kembali ponselnya. Gerakannya tenang, seolah pembicaraan itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.Namun Rina tahu.Roy tidak pernah menyebut nama Regon tanpa alasan."Beberapa waktu lalu aku menemukan catatan lama."Rina menahan napas."Catatan apa?""Dokumen lama.""Dokumen tentang apa?""Tanah."Jantung Rina berdetak lebih cepat.Ia berusaha menyembunyikan perubahan wajahnya. Namun nama Regon dan kata tanah yang disebut berdekatan membuat pikirannya kembali kepada masa lalu yang selama puluhan tahun berusaha ia kubur.Roy tidak menyadarinya."At

  • Hasrat Kakak Tiri   148. Luka yang disimpan Rina

    Ibu jarinya menggantung di atas layar selama beberapa detik. Ada dorongan kuat untuk menekan tombol panggil. Sekadar memastikan perempuan itu baik-baik saja. Namun, ia menahannya. Jika orang-orang tadi tahu pasti posisinya malam ini... Besar kemungkinan sinyal dan jejak digitalnya pun sedang diawasi. Menghubungi Alena sekarang sama saja menyalakan tanda bahaya di tempat terang. Arka menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku mantel. ... Rina duduk sendirian. Di balkon kamar. Malam telah semakin tua. Tetapi ia belum berniat untuk beranjak masuk ke dalam. Udara terasa dingin menusuk kulit. Halaman di bawah sana hampir seluruhnya tenggelam dalam pekat. Hanya ada cahaya samar dari beberapa lampu taman. Yang membuat bayangan pepohonan bergerak pelan saat tertiup angin. Di genggamannya, secangkir teh telah mendingin sejak tadi. Sama sekali tidak disentuhnya. Pikirannya kembali kepada Alena. Kemudian bergeser kepada Arion. Dan malam ini, tanpa i

  • Hasrat Kakak Tiri   147. Sebuah Pesan

    Malam sudah lewat separuh.Arka memacu mobilnya menembus jalanan yang merenggang sepi.Sejak meninggalkan riuk pusat kota, kendaraan yang melintas bisa dihitung jari.Lampu-lampu pertokoan sudah padam.Menyisakan deretan penerangan jalan yang memantulkan bayang keemasannya di atas aspal basah.Arka sebenarnya bisa memilih jalur utama yang lebih ramah.Tapi malam ini energinya sudah terkuras habis.Ia memilih jalan pintas yang memorinya sudah di luar kepala.Lagu bersuara rendah terputar dari audio mobil.Tak benar-benar didengarnya.Sebelah tangannya menggenggam kemudi.Sementara matanya sesekali melirik layar ponsel di konsol tengah.Konsol itu sepi dari notifikasi.Percakapan telepon beberapa menit lalu masih menyisakan dengung tebal di kepalanya.Pikirannya tertinggal di sana.Mengunyah kata demi kata yang belum selesai diartikan.Saat mobilnya menyapu sebuah tikungan panjang yang diapit pepohonan rimbun...Sorot lampu tajam mendadak menusuk dari arah depan.Refleks, kaki Arka berp

  • Hasrat Kakak Tiri   146. Ketakutan Laras

    Sentuhan yang awalnya ragu-ragu karena beban pikiran perlahan berubah menjadi luapan emosi yang tertahan. Ciuman itu mendalam, menuntut, sarat akan ketakutan kehilangan dan keputusasaan yang tidak terucap. Shana menarik kerah kemeja Arion, merapatkan tubuh mereka tanpa jarak yang tersisa, sementara tangan Arion mencengkeram pinggangnya erat-erat, seolah ingin menyatukan raga mereka agar takdir atau siapa pun tidak bisa memisahkan.Nafas mereka memburu di ruang tamu yang mendadak terasa panas. Arion mengangkat Shana tanpa melepaskan pagutan bibir mereka, membuat kaki wanita melingkar di pinggangnya. Shana mendesah pelan saat punggungnya menabrak dinding dingin, kontras dengan panas tubuh Arion yang mendominasinya. Segala keraguan, bayang-bayang Alena, dan teka teki yang belum terjawab seolah lebur dalam sentuhan-sentuhan liar yang menuntut kepastian kenikmatan.Tangan Arion merayap masuk ke dalam pakaian Shana, meraba kulit halusnya dengan tergesa-gesa, membakar setiap jengkal tubuh ya

  • Hasrat Kakak Tiri   145. Ketakutan Shana

    Pagi itu terasa berbeda bagi Shana.Tidak ada suara drama dari televisi. Tidak ada musik dari ponselnya. Bahkan secangkir kopi yang biasanya ia habiskan sambil bercanda dengan Arion masih dibiarkan dingin di atas meja.Shana hanya duduk diam.Di hadapannya, Arion sedang membaca beberapa lembar catatan. Wajahnya serius seperti biasa, tetapi kali ini Shana tidak sedang memikirkan apa yang sedang dibaca Arion.Ia sedang memikirkan dirinya sendiri.Tentang hidupnya.Tentang hubungan mereka.Dan tentang satu pertanyaan yang sejak beberapa hari terakhir terus berputar di kepalanya.Sampai kapan mereka bisa hidup seperti ini?Shana akhirnya bersuara."Kak?.""Hm?""Kalau semua ini selesai..."Arion mengangkat wajah."Semua ini?""Masalah ayahmu. Alena. Ayahku. Semua."Arion menatapnya beberapa detik."Kita akan menyelesaikannya.""Aku bukan bertanya soal itu."Shana menarik napas."Aku bertanya tentang kita."Tangan Arion berhenti bergerak.Shana menundukkan kepala sebentar sebelum kembali m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status