MasukKedua mata Laura membulat sempurna, merasa ambigu dengan kata yang barusan David ucapkan.
“Melayani?” “Iya, seperti yang kita lakukan kemarin,” sahut David ringan. Kewaspadaannya menurun sehingga sedikit dorongan dari Laura membuat tubuh David menjauh dari tubuhnya. “Tidak!” Laura menolak tegas. “Aku adalah wanita bersuami. Mana mungkin melayani pria yang bukan suamiku!” Pria itu tertawa. “Memangnya kamu dianggap istri oleh Rendra?” Deg! Ucapan David bak busur panah yang menancap tepat di dada Laura. Memang selama ini Rendra tidak mau menyentuhnya, tapi itu semua karena Rendra sangat sibuk dan masih belum siap berhubungan intim. Suaminya berjanji akan mengajaknya bulan madu ke Eropa jika semua permasalahan di kantor selesai. “Itu … itu karena Mas Rendra sibuk dengan urusan kantor. Bukankah Paman yang tiba-tiba menyerahkan tanggung jawab perusahaan padanya?” ujar Laura sambil memalingkan wajah. “Wanita bodoh, mau saja dibohongi,” sinis David, membuat Laura geram. Wanita itu menatap David dengan tajam, memperingatkan David agar tidak bicara sembarangan. “Baiklah, tapi ingat tugas kamu sekarang harus melayani aku,” kata David mengingatkan. “Aku tidak mau.” Dengan tegas kembali Laura menolak. “Jika kamu tidak mau, maka aku akan memberitahu Rendra kalau istri tercintanya memohon padaku untuk disetubuhi.” Tubuh Laura terhuyung ke belakang, kakinya serasa tak mampu menumpu berat badannya sendiri. Laura menggeleng, memohon pada David agar tidak melakukan hal itu. “Jangan Paman, aku mohon. Selama ini Mas Rendra sangat baik padaku, aku tak tega menyakiti hatinya….” Air matanya merembes keluar, dadanya begitu sesak membayangkan jika suami tercintanya mengetahui apa yang telah dia lakukan semalam bersama pamannya. “Kenapa kamu begitu yakin jika Rendra tulus padamu?” Dengan yakin Laura mengangguk, “Karena dialah yang membantu aku dan keluargaku.” Itu benar. Rendra sudah sangat banyak membantunya selama ini. Laura berasal dari keluarga sederhana. Tadinya, ia bekerja di perusahaan milik David, lalu dekat dengan Rendra dan kemudian mereka menikah. Rendra begitu tulus. Pria itu menikahinya tanpa memandang statusnya yang jauh lebih rendah. Tapi mengapa justru David berpikir sebaliknya? Tangan David mengepal, tapi kemudian dia berucap lagi. “Aku tidak peduli dengan perasaan Rendra, karena yang aku pedulikan adalah diriku sendiri. Jadi pilihanmu hanya dua, melayaniku setiap hari atau melihat Rendra murka setelah tahu istrinya tidur dengan pamannya sendiri.” Laura terdiam di tempat. Kedua pilihan itu sama-sama menjerumuskannya ke neraka. Tanpa terasa, air mata kembali jatuh membasahi pipinya. “Hentikan tangismu, Laura. Aku tidak akan terpengaruh sedikit pun,” ujar pria itu dingin. Tak tahan mendengar tangisan Laura, David memutuskan keluar dari kamar. Tangis Laura semakin keras setelah kepergian David. Tentu dia tidak ingin melayani sang paman, tapi dia juga tidak ingin perbuatan hinanya diketahui oleh suaminya… yang mungkin berakibat fatal ke rumah tangga mereka. “Tuhan, apa yang harus aku lakukan?” Seharian itu Laura mengurung diri di kamar. Permintaan David benar-benar membuatnya tak ingin melakukan apapun hingga tak terasa hari sudah gelap. Segera dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena Rendra akan pulang. Tiga puluh menit kemudian, suaminya datang. Pria berkacamata itu berjalan mendekat ke arah Laura. “Sayang, ada Monica di bawah. Kamu buatkan minum ya, sekalian untuk Paman. Kami bertiga akan membahas masalah kantor.” Pria itu menjatuhkan kecupan di kening Laura. “Baik, Mas,” sahut Laura. Setelah memerintah istrinya, Rendra kembali keluar karena dia tidak ingin sekretaris serta pamannya lama menunggu. Meski ada pelayan, tapi Rendra lebih suka jika urusan remeh begini Laura yang mengurusnya. Tak selang lama, Laura datang dengan membawa minuman. Melihat David, wanita itu menjadi sangat gugup. “Silakan diminum.” Buru-buru wanita itu kembali ke dapur. David tiba-tiba bangkit berdiri. “Aku ke toilet sebentar,” katanya, meninggalkan Rendra dan sekretarisnya. Alih-alih ke toilet, David berjalan ke arah dapur. Di sana, netra pria itu memutar mencari keberadaan Laura. “Di sana dia rupanya.” Kakinya melangkah mendekati Laura yang kini tengah mencuci piring. “Ada pelayan kenapa kamu mencuci piring sendiri?” Suara bariton David sontak membuat Laura terkejut. Dia menghentikan aktivitasnya, lalu menatap David dengan tatapan tajam. “Untuk apa Paman ke sini?” tanyanya ketus. Mendapati Laura yang tidak suka, David justru merapatkan tangan di pinggang istri keponakannya itu. Laura segera meronta dengan netra menoleh ke arah pintu, takut jika ada yang tiba-tiba masuk. “Paman tolong lepas! Kalau ada yang melihat kita bagaimana?” Laura sungguh ketakutan setengah mati, namun David terlihat santai. Raut wajah Laura benar-benar pucat… hingga hal tak terduga kembali terjadi. David menjatuhkan bibirnya di bibir Laura. Mata Laura terbelalak. Sekuat tenaga dia melepaskan diri, namun sia-sia belaka karena tenaga pamannya sangatlah kuat. “Laura?” Terdengar Rendra memanggilnya. Suara langkah kaki Rendra semakin dekat dengan dapur, tapi David masih belum melepaskannya. Sesaat kemudian, Rendra masuk ke dalam dapur. “Apa yang kalian lakukan?”"Dara," David menatap putrinya. "Papa tahu kamu pasti merasa berat harus jauh dari rumah. Tapi Papa bangga dengan pilihanmu. Kamu berani mengambil tantangan, berani keluar dari zona nyaman, dan yang paling penting, kamu punya suami yang sangat mencintai dan menjaga kamu dengan baik."Dara mengusap air matanya yang mulai menetes."Raymond," David beralih menatap menantunya. "Terima kasih sudah jaga Dara dengan baik. Papa percaya penuh sama kamu.""Terima kasih Pa," Raymond mengangguk sambil menggenggam tangan Dara."Erik," David menatap kakak iparnya. "Terima kasih sudah selalu support keluarga kami. Kamu seperti kakak sendiri buat aku.""Sama-sama," Erik tersenyum."Dan untuk semua yang ada disini," David mengangkat gelasnya lebih tinggi. "Mari kita bersyukur karena kita bisa berkumpul seperti ini. Kesehatan, kebahagiaan, dan cinta untuk kita semua. Cheers!""Cheers!" semua orang kompak mengangkat gelas mereka.Ting!Mereka makan dengan lahap sambil terus mengobrol dan tertawa. Suasan
Baik! Saya akan lanjutkan dan tutup cerita dengan adegan mereka berkumpul dan bahagia semua. Berikut BAB PENUTUP:BAB PENUTUP - PULANG KE RUMAHSetelah perjalanan panjang 14 jam, pesawat akhirnya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Dara yang sudah tidak sabar langsung berdiri begitu pesawat berhenti, meski pengumuman untuk tetap duduk masih terdengar."Sayang, duduk dulu," Raymond menarik Dara untuk duduk kembali. "Tunggu sampai boleh turun.""Aku tidak sabar Mas," Dara gelisah. "Mama Papa sudah nungguin.""Iya, tapi tetap harus sabar," Raymond tersenyum melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil.Begitu diperbolehkan turun, Dara langsung mengambil tas dan berjalan cepat keluar pesawat. Raymond mengikuti di belakang sambil tertawa melihat istrinya yang sangat bersemangat.Di area kedatangan internasional, Laura dan David sudah menunggu dengan wajah excited. Di samping mereka, Erik, Citra, Rara, dan Reyhan juga ikut datang menjemput."Disana!" Laura menunjuk begitu melih
Perjalanan pulang ke apartemen sangat sunyi. Dara duduk di kursi depan sambil menatap keluar jendela dengan mata kosong.Raymond sesekali melirik Dara dengan khawatir. Istrinya bahkan tidak mengatakan sepatah kata pun sejak tadi.Sesampainya di apartemen, Dara langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri di ranjang. Dia menatap langit-langit dengan kosong.Raymond duduk di tepi ranjang dan mengelus rambut Dara."Sayang," Raymond bersuara lembut. "Kamu baik-baik saja?""Aku tidak tahu Mas," Dara menjawab dengan suara pelan. "Aku merasa kosong.""Aku tahu ini berat buat kamu," Raymond berbaring di samping Dara. "Tapi kamu harus kuat.""Aku lelah harus kuat terus Mas," Dara akhirnya menangis lagi. "Aku kangen Mama Papa. Aku kangen Rara. Aku kangen rumah."Raymond memeluk Dara dan membiarkan istrinya menangis di pelukannya. Hatinya terasa sakit melihat Dara seperti ini.Hari-hari berikutnya, Dara terlihat sangat lesu. Dia kuliah tapi tidak semangat. Dia makan tapi tidak nafsu. Dia tersenyu
Dua minggu setelah kepulangan keluarga Erik, tiba giliran Laura dan David yang harus kembali ke Indonesia. Mereka sudah di London selama hampir sebulan, dan sudah waktunya untuk pulang.Pagi itu, suasana di apartemen Raymond sangat hening. Laura sibuk mengemas barang-barangnya di kamar tamu dengan wajah yang terlihat sedih. David membantu merapikan koper sambil sesekali menghela nafas panjang.Dara duduk di pinggir ranjang sambil menatap Mama dan Papanya dengan mata yang berkaca-kaca."Ma," Dara bersuara dengan parau. "Mama yakin harus pulang hari ini?"Laura berhenti mengemas dan menatap putrinya. Dia langsung memeluk Dara dengan erat."Iya sayang," Laura menjawab dengan suara bergetar. "Mama dan Papa sudah hampir sebulan disini. Pekerjaan Papa menumpuk di Jakarta. Kita harus pulang.""Tapi," Dara menangis di pelukan Laura. "Aku belum siap ditinggal sendirian.""Kamu tidak sendirian sayang," David ikut mengelus punggung Dara. "Kamu ada Raymond.""Tapi beda Pa," Dara menggeleng. "Aku
"Good morning," sapanya dengan nada dingin."Good morning Dr. Anderson," semua mahasiswa menjawab serentak dengan suara lemah.Dr. Anderson menatap keliling kelas dengan tatapan yang membuat semua orang tidak nyaman. Dia pria paruh baya, tinggi, dengan kacamata berbingkai hitam. Wajahnya tegas dan terlihat sangat serius."Tugas yang saya berikan minggu lalu," Dr. Anderson mulai. "Harus dikumpulkan minggu depan. Tidak ada toleransi untuk terlambat. Kalau terlambat satu menit saja, nilai otomatis E."Semua mahasiswa menelan ludah."Dan," Dr. Anderson melanjutkan. "Saya tidak terima excuse apapun. Sakit, kecelakaan, atau bahkan meninggal dunia, tetap harus mengumpulkan tugas tepat waktu.""Meninggal dunia juga harus ngumpulin?" bisik Emma ke Dara."Kayaknya iya," bisik Dara balik sambil menahan tawa."Miss Dara," Dr. Anderson tiba-tiba memanggil.Dara langsung tegak di kursinya. "Yes, Dr. Anderson?""Apakah ada yang lucu?" tanya Dr. Anderson dengan nada datar."N-No sir," Dara tergagap.
Seminggu setelah kepulangan keluarga Erik, kehidupan Dara kembali normal. Kuliah, tugas, dan rutinitas sehari-hari kembali mengisi hari-harinya. Laura dan David masih tinggal di apartemen, menemani Dara selama mereka di London.Pagi itu, Dara bangun dengan wajah yang sudah cemberut. Raymond yang baru keluar dari kamar mandi langsung menyadari ada yang tidak beres dengan istrinya."Sayang, kenapa? Bangun tidur sudah cemberut begitu," Raymond duduk di tepi ranjang."Aku tidak mau kuliah," Dara menarik selimut menutupi kepalanya."Loh, kenapa?" Raymond menarik selimut Dara. "Biasanya kamu excited kalau mau kuliah.""Itu dulu," Dara keluar dari selimut dengan wajah kesal. "Sekarang aku punya dosen baru. Dosen killer!""Dosen killer?" Raymond menahan tawa. "Masa sih sekiller itu?""Mas tidak tahu!" Dara bangkit dari tidur dengan semangat protes. "Kemarin hari pertama dia ngajar, dia langsung kasih tugas lima! LIMA MAS! Untuk dikumpulkan minggu depan!""Lima tugas?" Raymond kali ini tidak b







